• “Saya pernah mendapati jamaah Tarekat yang biasa berpuasa terlebih dahulu hingga 2 hari atau lebih, mereka menentukan awal Ramadhan dengan menutup kepala ketua kelompoknya dengan sorban kemudian jika mata yang ditutupinya itu melihat hilal, maka esok harinya mulai puasa, jika belum terlihat maka belum puasa, jelas metode seperti ini menyesatkan umat,” kata Wamenag.

  waspada aliran sesat

Aliran sesat cukup subur di Indonesia

JAKARTA (gemaislam) – Perbedaan penentuan awal Ramadhan kerap terjadi di negeri ini. Bukan hanya antara Muhammadiyah dengan pemerintah, tetapi banyak kelompok  lainnya yang sebenarnya lebih mendahului beberapa hari.

Terkait hal itu, Wakil Menteri Agama RI, Prof. DR. Nasaruddin Umar mengatakan bahwa semua kelompok yang berbeda dalam penetapan awal Ramadhan dan hari raya itu berlindung dibawah payung Hak Asasi.

“Seperti kelompok Tarekat, mereka biasa melakukan puasa dan hari raya lebih dahulu dari pemerintah bahkan sampai 2 hari atau lebih, itu dilindungi oleh hak asasi,” kata Nasaruddin disela-sela acara pelepasan Da’i Ramadhan ke seluruh pelosok tanah air di kantor Atase Kedubes Arab Saudi, Jalan Banyumas, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (4/7).

Meski demikian, Nasaruddin menilai bahwa keputusan yang dilakukan oleh Jamaah Tarekat itu adalah sebuah penyesatan.

“Saya pernah mendapati jamaah Tarekat yang biasa berpuasa terlebih dahulu hingga 2 hari atau lebih, mereka menentukan awal Ramadhan dengan menutup kepala ketua kelompoknya dengan sorban kemudian jika mata yang ditutupinya itu melihat hilal, maka esok harinya mulai puasa, jika belum terlihat maka belum puasa, jelas metode seperti ini menyesatkan umat,” katanya./ Written by Admin Gema

***

110 Da’I selama Ramadhan

Sebanyak 110 orang da’i dikirim ke seluruh pelosok tanah air seperti kepulauan Mentawai, Maluku, Kalimantan, Aceh, Papua dan lainnya. Mereka berdakwah selama bulan Ramadhan. Kegiatan ini didanai oleh pemerintah Arab Saudi bekerjasama dengan Kementrian Agama RI. Setiap da’i ditanggung biaya akomodasi dan transportasinya. Tak hanya itu, ditempat dakwahnya nanti mereka diberi tugas untuk melakukan buka puasa bersama dengan warga setempat dan pembagian kurma serta mushaf Al Quran. Da’i yang terpilih ini telah melalui beberapa seleksi, seperti menguasai bahasa Arab, hafal minimal 6 juz Al Quran dan mengerti ilmu syari’ah. Mereka berasal dari perguruan tinggi Islam ternama seperti LIPIA Jakarta, UIN, PTIQ, bahkan ada yang dari Universitas Islam Madinah.

“Seorang da’i harus melakukan dakwah dengan metode Rasul yaitu dengan cara lembut dan nasihat yang baik,” kata Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia, Musthafa bin Ibrahim Al Mubarok saat melepas para da’i yang akan disebar ke seluruh pelosok tanah air, di kantor atase agama Kedubes Arab Saudi, Jakarta, Kamis (4/7). Written by Admin Gema

***

KAMIS, 19 JULI 2012

Promosi Gratis Tarekat Tiap Ramadhan

 an nadzir

An-Nadzir, aneh

Indonesia (lasdipo.com)- Tarekat Naqsabandiyah di Padang, Sumatera Barat, sudah memulai puasa Ramadan, Rabu (187).

Tarekat ini selalu memulai puasa lebih awal dari jadwal yang ditetapkan pemerintah. Selasa malam, Naqsabandiyah sudah memulai salat tarawih berjamaah di musala Baitul Makmur dan Surau Buluah di Pasar Baru, Kecamatan Pauh, Padang. “Kita selalu berpedoman pada hisab munjit untuk memulai puasa,” kata Sekretaris Naqsabandiyah Sumatera Barat, Edizon Revindo.

Penentuan awal Ramadan tahun ini ditetapkan pekan kemarin melalui sidang para pemimpin Naqsabandiyah. Kalender berdasarkan hisab munjit ini juga diperkuat dengan melihat bulan pada pertengahan bulan Sya’ban.

Diperkirakan, ada 8.000 jamaah tarekat ini di Sumbar. Mereka tersebar di sejumlah daerah seperti Solok, Kabupaten Pesisir Selatan, Padang, dan Kabupaten Solok Selatan. Ajaran Tarekat Naqsabandiyah masuk ke Pauh, Padang, sejak awal abad ke-19. Dibawa oleh Maulana Syekh H Muhammad Thaib bin Ismail.

Beda Naqsabandiyah, beda lagi An-Nadzir 

Jamaah An-Nadzir di Mawang Kec. Bontomarannu Gowa mulai melaksanakan puasa Ramadhan Kamis (19/7). An-Nadzir beranggapan 1 Ramadan jatuh pada 19 Juli. Menurut pemimpin An-Nadzir, Lukman menjelaskan ada beberapa indikator yang dapat dilihat untuk mengetahui awal puasa atau 1 Ramadan. Salah satunya adalah melihat atau mengintai bulan.

“Melihat bulan pada bulan Syaban sangat penting untuk mengetahui kapan berakhirnya bulan ini, itu juga pertanda dimulainya bulan Ramadan,” ujar Lukman. “Dari purnama malam 15 itulah kita mulai menghitung hingga ke-27 malam. Selebihnya yang tiga hari kita ikuti, itulah indikator 1 Ramadan,” imbuhnya. Lukman mengatakan, hari ini berdasarkan penghitungan tim Rukyat An-Nadzir antara pukul 09.00 – 11.00 Wita, terdapat 54 menit jeda antara bulan terbenam dan munculnya Fajar, jika dibagi dua 27 menit. Jika selisihnya 10 menit maka itu pertanda mulai 1 Ramadan.

“Untuk lebih meyakinkan lagi, kita bisa melihat air pasang naik dan pasang turun. Jika anda perhatikan, hari ini adalah puncaknya pasang surut terjadi,” jelasnya. Dia juga mengatakan, pada bulan Juli ini hanya sampai 29 hari saja, tidak sampai 30 hari.

Khalif Tudzkar (Selisihilah, maka kamu akan diingat) 

 waspada aliran sesat

 Aliran sesat cukup subur di Indonesia

Pepatah Arab ini tampaknya benar-benar dipegang oleh aliran-aliran nyleneh di Indonesia. Untuk lebih dikenal, lakukanlah hal yang berbeda, spektakuler dan mengherankan. Tak peduli aksi itu bertentangan dengan islam ataukah tidak. An-Nadzir identik dengan pria wajah lokal berambut pirang yang mengenakan pakaian serba hitam dan bersurban hitam. Padahal tak ada nash yang mensunnahkan pria berpakaian hitam.

Alasan Tarekat Naqsyabandiyah dan An-Nadzir amat mengherankan. Selain tidak sesuai tuntutan Rasulullah dalam menentukan awal Ramadhan, alasan mereka pun tak masuk akal. Entah wangsit dan bisikan dari mana mereka menganut metode itu. (adnan nafisa/lasdipo.com)

Diposkan oleh Laskar Diponegoro di 7/19/2012 02:59:00 PM

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.244 kali, 1 untuk hari ini)