.

Pekerja media sosial yang merupakan bagian dari tim sukses salah satu bakal calon presiden tertentu tidak dapat dianggap remeh, karena harus mampu menyeimbangkan pemberitaan yang beredar di masyarakat.

Atas dasar itulah, perekrutan pekerja di sosial media menetapkan syarat minimal telah menempuh pendidikan SMA.

Setidaknya itu yang ditemukan dari pekerja sosial media salah satu bakal calon presiden yang namanya digadang-gadang akan berlaga dalam pemilu presiden 9 Juli mendatang.

“Karena jawaban-jawabannya (di sosial media) harus berbobot. Ada mahasiswa ada juga sarjana,” jelas salah seorang pekerja sosial media salah satu capres saat berbincang dengan Rakyat Merdeka Online, Selasa malam (6/5).

Ketika direkrut ia mengaku mendapat infromasi dari rekannya.

“Dikabari teman ada lowongan, kasih CV, wawancara. Tidak ada yang khusus, yang pasti harus bisa pegang sosial media, internet,” lanjut mahasiswa sebuah universitas ini, yang memiliki 15 akun palsu di twitter, facebook dan email ini untuk membela sang capres

Ia juga menyebut bahwa dirinya dikontrak untuk menjadi pekerja sosial media hingga perhelatan pemilu presiden. Namun, ia menegaskan bahwa dirinya tidak dijanjikan apapun bila calon yang dikampanyekannya tersebut memenangkan pemilu. [ysa]

Laporan: Ruslan Tambak,  Rabu, 07 Mei 2014 , 11:38:00 WIB

Sumber:  RMOL.

***

 

Pasukan Nasi Bungkus.

Akhir akhir ini sering kita dengar dan baca tentang sebutan “pasukan nasi bungkus”. Satu sebutan untuk sekelompok orang yang diberi sebingkisan “nasi bungkus” alias bayaran untuk satu pekerjaan ringan, yaitu menggugah informasi atau opini positif tentang satu figur capres, atau menyerang balik setiap orang yang berkomentar negatif tentang “tuan mereka”.
Sobat, mungkin bagi banyak orang berprofesi sebagai ” pasukan nasi bungkus” adalah hal sepele alias oke oke saja. Padahal tidaklah demikian, karena ketahuilah bahwa setiap ucapan, komentar dan sikap kita pastilah kita pertanggung jawabkan di hadapan Allah Azza wa Jalla.
Bila informasi positif yang berfungsi sebagai rekomendasi ini salah maka itu adalah bentuk dari pengkhianatan. Dan bila benar, maka rekomendasi model “nasi bungkus” alias komersial seperti ini adalah perbuatan nista, dan keji karena tidak dilandasi dari ketulusan hati, namun karena adanya pamprih. Dengan demikian, dapat ditebak bila ada pembawa ” nasi bungkus” yang lebih besar niscaya mereka segera berbalik arah.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ شَفَعَ لِأَحَدٍ شَفَاعَةً فَأَهْدَى لَهُ هَدِيَّةً عَلَيْهَا فَقَبِلَهَا فَقَدْ أَتَى بَابًا عَظِيمًا مِنْ أَبْوَابِ الرِّبَا

Barang siapa memberi rekomendasi kepada seseorang lalu orang itu memberinya suatu hadiah, dan iapun menerimanya, maka ia telah memasuki satu pintu besar dari sekian banyak dari pintu pintu riba. ( Ahmad dan lainnya)*
Semoga Allah Azza wa Jalla melindungi kita dari perilaku keji yang memperbudakkan diri kepada materi, sehingga tidak berada di barisan “pasukan nasi bungkus”

By: Ustadz Dr. Muhammad Arifin

* رواه الإمام أحمد 5/261 وهو في صحيح الجامع 6292.سنن أبي داود (3541) وحسنه الألباني صحيح أبي داود (3025)

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.201 kali, 1 untuk hari ini)