.

  • MUI Prihatin, Deklarasikan Gerakan Nasional Perbaikan Akhlak Bangsa

Samai (46), pria paedofil pelaku sodomi terhadap ratusan bocah, mengaku telah menyodomi 100 bocah di Tegal. “Sudah 100 anak, Mas,” tutur manusia bejat dari Desa Lebaksiu Lor, Kecamatan Lebaksiu, Kabupaten Tegal, ini.

“Awalnya, sewaktu kecil, persisnya saat berusia delapan tahun, saya juga menjadi korban sodomi,” tutur Samai.

Manusia bejat lainnya, AS alias Emon, Raja Sodomi Asal Sukabumi Catat 120 Korban di Buku Hariannya

Inilah beritanya.

***

Raja Sodomi Asal Sukabumi Catat 120 Korban di Buku Hariannya

Kamis, 8 Mei 2014 13:48

 raja sodomi asal Sukabumi, AS alias Emon (ist)

108Jakarta.com – Tersangka pelaku kejahatan seksual pada anak-anak, raja sodomi asal Sukabumi, AS alias Emon, mencatat nama 120 anak di buku hariannya.

“Emon menulis di dua halaman tersebut ada 120 anak dengan rincian 100 nama anak di halaman pertama dan 20 anak di halaman kedua,” kata Kepala Kepolisian Resor Sukabumi Kota AKBP Hari Santoso kepada wartawan, Kamis.

“Nama-nama anak yang tercantum dalam buku harian Emon tersebut diduga adalah korban kejahatan seksual yang dilakukan oleh tersangka,” katanya.

Hari mengatakan polisi mencocokkan nama-nama anak yang dilaporkan sebagai korban kejahatan Emon dalam Berita Acara Pemeriksaan dengan nama-nama anak di buku harian Emon dan sekitar 70 persennya bersesuaian.

Polisi masih mempelajari buku harian Emon untuk mengetahui kemungkinan ada korban baru yang belum melapor karena sampai sekarang baru 120 anak yang dilaporkan menjadi korban.

“Maka dari itu, kami mengimbau kepada orang tua maupun anak yang belum melapor agar segera melapor untuk segera ditindak lanjuti seperti mendapatkan pelayanan medis baik kejiwaannya maupun fisiknya. Selain itu bisa mempercepat proses penyelidikan dan penyidikan kasus ini agar tersangka bisa segera disidangkan,” tambahnya.

Hari menjelaskan pula bahwa menurut hasil penyelidikan sementara korban kejahatan seksual Emon yang sudah melapor ada 114 anak dan 22 di antaranya menjadi korban sodomi predator seksual anak-anak itu.

(108CSR.com)

 ***

Pria Paedofil Pemangsa 100 Anak Ditangkap

May 12, 2014

SLAWI | Dikonews –

Samai (46), pria paedofil pelaku sodomi terhadap ratusan bocah, akhirnya ditangkap aparat Polres Tegal.

“Pelaku sudah kami tangkap, selanjutnya akan diproses secara hukum. Untuk korbannya, sementara ini yang sudah melapor mencapai ratusan bocah,” ungkap Kepala Polres Tegal Ajun Komisaris Besar Tommy Wibisono.
Samai mengaku telah menyodomi 100 bocah di Tegal. “Sudah 100 anak, Mas,” tutur warga Desa Lebaksiu Lor, Kecamatan Lebaksiu, Kabupaten Tegal, ini.

Samai mengakui memiliki orientasi seksual tersendiri, yakni menyukai anak kecil. Orientasi seksual seperti itu sudah ia rasakan sejak masa remaja.

“Awalnya, sewaktu kecil, persisnya saat berusia delapan tahun, saya juga menjadi korban sodomi,” tutur Samai.

Akibat pengalaman pahit masa kecilnya itulah, Samai mengaku menyukai anak kecil secara seksual.
(Kom)dikonews.com

***

MUI: Deklarasi Gerakan Nasional Perbaikan Akhlak Bangsa

Kondisi akhlak bangsa Indonesia saat ini dalam situasi darurat. Hal ini ditandai dengan fakta dekadensi moral di segala bidang kehidupan. Mencermati semakin meningkatnya penyimpangan perilaku seks, kekerasan terhadap anak, mudahnya menghilangkan nyawa manusia tak bersalahsemakin maraknya peredaran narkoba di sekolah, keluarga dan masyarakat.
Dengan ini, Majelis Ulama Indonesia bersama Ormas-ormas Islam dan elemen bangsa lainnya menyatakan sikap sebagai berikut:

1. Perlu didorong penegakan hukum yang tegas dan konsisten pada setiap pelanggaran terhadap regulasi yang terkait pembinaan akhlak dan karakter, seperti UU Pornografi. UU Pers, dan UU Penyiaran, UU Informatika dan Transaksi Elektronik, UU Sisdiknas.

2. Segera Revisi UU Perlindungan Anak untuk meningkatkan rasa aman terhadap anak-anak Indonesia dan meningkatkan efek jera kepada setiap pelaku kejahatan anak.

3.Revitalisasi Pendidikan Parenting (Parenting Education) Berbasis Agama. Agar anak-anak Indonesia merasakan pentingnya bimbingan agama dari kedua orangtuanya sehingga anak-anak Indonesia terhindar dari polusi perilaku amoral di lingkungan luar.

4.Perlu dilakukan pengawasan, pembinaan, dan pendampingan terhadap konten media massa, baik elektronik, cetak, dan cyber media, yang berpotensi merusak akhlak dan karakter yang terdapat pada program hiburan yang bermuatan pornografi dan kekerasan dengan mengedepankan fungsi pers nasional, yang tidak hanya sebagai wahana hiburan, tapi juga sebagai wahana pendidikan, informasi, dan kontrol social.

5. Perlu dikembangkan kebijakan yang memberi stimulasi tumbuhnya model-model keteladanan peran pembinaan akhlak oleh perbagai pemangku kepentingan: model keluarga teladan Pembina akhlak, model sekolah teladan Pembina akhlak, mdel media teladan pembangun akhlak bangsa, model LSM teladan pembina karakter dan lain sebagainya, dengan cara memberi mereka apresiasi periodik.

6. Perlu adanya penguatan institusi penjaga akhlak di setiap struktur masyarakat agar proses habituasi akhlak mulia berjalan lebih cepat dan kontinyu pada masyarakat birokrasi , masyarakat profesi, ,masyarakat pendidikan, masyarakat politik, dan masyarakat sipil.

7. Revitalisasi orientasi pembeajaran akhlak berbasis Pancasila dan Agama. Diperlukan kebijakan dan komitmen untuk mengembangkan orientasi pembelajaran yang berbasis pemahaman yang tepat tentang hubungan Pancasila dan Agama dalam konteks pembinaan akhlak da karakter bangsa. Pancasila harus dipahami sebagai rumusan nilai yang digali dari nilai-nilai agama dan adat bangsa Indonesia yang luhur.

Dewan Pimpinan
Majelis Ulama Indonesia

Ketua Umum                                                                                             Wakil Sekretaris Jenderal

Prof. Dr. H. M. Din Syamsuddin, MA.                                              Dr. H. Noor Achmad

Press Release/ http://mui.or.id, Jakarta, 13 Mei 2014

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.367 kali, 1 untuk hari ini)