Sumber foto : Istimewa


JAKARTA) – Pengamat Politik dari AEPI Salamudin Daeng mengaku tidak sepakat dengan langkah pemerintah yang akan menjual jalan tol ke pihak swasta.

“Tol dibangun dengan uang negara. Pemerintah melalui APBN membiayai pembangunan tol. Dengan demikian tol sebetulnya adalah milik rakyat. Tol yang dibangun dengan dana pajak tidak boleh disewakan kepada rakyat,” tandas Salamudin pada wartawan di Jakarta, Kamis (09/11/2017).

Tak hanya itu, jelas dia, tol dibangun dengan utang BUMN dalam jumlah besar. Sampai saat ini BUMN adalah aset negara. BUMN adalah milik rakyat.

“Namun belakangan ini BUMN menjadi bancakan oligarki penguasa. Mereka memperalat BUMN untuk mendapatkan proyek. Proyek-proyek yang dikerjakan BUMN adalah proyek dengan biaya super mahal,” katanya.

Sebagai contoh, terang dia, biaya pembangunan tol Becakayu adalah Rp. 7,2 triliun, panjang 21 km, harga per meter Rp. 350 juta.

“Harga tol termahal di seluruh dunia dan mungkin akhirat,” selorohnya.

Yang aneh, kata dia, dana dari APBN disebut sebagai penerimaan (revenue) perusahaan BUMN padahal itu adalah utang BUMN kepada rakyat.

“Lalu dilanjutkan dengan kontrak pembangunan jalan tol dengan pemerintah. Lalu dibuatlah tol dengan harga super mahal. Paling mahal sedunia, tanpa amdal, tanpa studi kelayakan, yang penting buat. Toh uang rakyat yang dipakai, begitu pikiran licik penguasa,” tandasnya.

“Akibatnya utang BUMN membengkak. Sampai dengan Juli 2017 posisi utang 4 BUMN infrastruktur amat mengkhawatirkan,” bebernya.

“Itulah mengapa? utang BUMN pembuat jalan tol yang mendapat PMN melambung setinggi langit. Tapi jalan tol satu persatu dikuasai taipan dan asing. Ini skandal murahan sekte pemburu harta. Penjualan jalan tol kepada Taipan swasta dan asing adalah skandal yang dipikirkan dan dorancang sejak awal. Ini adalah kejahatan terhadap konstitusi dan rakyat,” pungkasnya. (icl)

Oleh Syamsul Bachtiar  / teropongsenayan.com

***

Baru Diresmikan, Tol Becakayu Bakal Langsung Dijual, Anda Minat?

 

Jalan Tol Becakayu rute Jakasampurna-Kampung Melayu

BEKASI – Presiden Joko Widodo telah meresmikan Tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu (Becakayu) seksi 1B dan 1C. Meski baru diresmikan, jalan tol tersebut akan langsung dijual.

Direktur Utama PT Waskita Karya Tbk M Choliq mengatakan, penjualan tol Becakayu ini sebagai cara Perseroan untuk mendapatkan dana segar, yang kemudian akan digunakan untuk membangun sejumlah ruas tol lainnya yang tengah dan akan dibangun Waskita.

“Ruas tol Becakayu kalau ada yang minat, cocok harganya, saya jual. Langsung dijual,” katanya usai peresmian tol Becakayu di Bekasi, Jumat (3/11/2017).

Choliq mengaku, sudah ada sejumlah investor yang berminat membeli ruas jalan tol sepanjang 8,26 kilometer tersebut. Jalan tol itu mulai dioperasikan Sabtu (4/11/2017) besok.

“Ada BUMN, ada swasta. Ada dalam negeri, dan ada luar negeri, dari Malaysia dan Australia,” kata Choliq.

Berbeda dengan sekuritisasi, dalam hal ini penjualan tol artinya Waskita akan melepas kepemilikan saham yang ada pada PT Kresna Kusuma Dyandra Marga (KKDM).

Lewat skema ini, terangnya, perseroan berharap bisa mengurangi rasio pinjaman terhadap modal yang dimiliki sehingga bisa tetap sehat dalam menjalankan proyek-proyek yang dimiliki.

“Kalau pinjaman kan salah satu sumber. Rasio antara pinjaman dengan modal sendiri enggak boleh terlalu tinggi. Kalau saya tetap ingin tumbuh besar dan bangun banyak, maka perlu duit banyak. Sekuritisasi itu kan utang, padahal harus dijaga perbandingan utang dengan modal sendiri,” ungkapnya.

Dalam proyek ini, PT Waskita Karya (Persero) Tbk menjadi kontraktor sekaligus investor. Adapun pengoperasian Tol Becakayu sendiri akan dilakukan oleh PT Kresna Kusuma Dyandra Marga (KKDM).

Waskita Karya sendiri saat ini sebagai pemegang saham mayoritas KKDM dengan porsi mencapai 98 persen, sedangkan sisanya dimiliki oleh PT Jasa Marga (Persero) Tbk.(yn)

Oleh Ferdiansyah / teropongsenayan.com

(nahimunkar.org)

(Dibaca 1.884 kali, 1 untuk hari ini)