Mantan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari yang mengenakan rompi tahanan duduk di mobil tahanan usai diperiksa penyidik di Gedung KPK, Jakarta, Senin (24/10). Menkes periode 2004-2009 itu ditahan KPK karena diduga korupsi pengadaan alat kesehatan untuk kebutuhan pusat penanggulangan krisis Departemen Kesehatan dari dana DIPA (Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran), revisi APBN Pusat Penanggulangan Krisis Departemen Kesehatan tahun anggaran 2007. ANTARA FOTO/Reno Esnir/aww/16.


Lingkarannews.com Jakarta- Apa yang terjadi pada diri mantan Mneteri Kesehatan adalah sebuah upaya pembunuhan karakter sesuai pesanan pihak Asing

Pengamat Intelejen Sofjan Lubis mengatakan “Negeri ini sudah ‘kelewat batas’, melakukan konspirasi atas pesanan asing karena alasan sang mantan menteri telah banyak melukai pihak pihak kapitalis dalam bidang kesehatan dunia di WHO dan Namru amerika

Kisah sang Menteri berawal dari ketika Siti Fadilah Supari melarang semua rumah sakit di Indonesia untuk mengirimkan sampel virus flu burung ke laboratorium Namru. Sebab, kontrak kerjasama dengan Namru telah berakhir sejak Desember 2005.

Siti Fadilah mengatakan dirinya keberadaan Namru-2 mengganggu kedaulatan Indonesia. Sebab, pusat penelitian itu meneliti virus yang dilakukan Angkatan Laut AS. “Saya tidak akan rela kalau di wilayah yang berdaulat ini ada penelitian tapi ada militernya, tapi kok tidak jelas. Mudah-mudahan tidak terjadi lagi,” harapnya..

Pakar intelijen Laksamana Muda (Purn) Subardo tetap meyakini keberadaan laboratorium medis milik angkatan laut AS, The U.S. Naval Medical Research Unit Two (NAMRU-2) merupakan alat intelijen AS. Hal ini diyakini Subardo berdasarkan penilaiannya selama lebih dari 30 tahun bekerja di bidang intelijen serta pernah menjabat sebagai Kepala Lembaga Sandi Negara (Lemsaneg) tahun 1986-1998.

Kisah pun berlanjut ketika banyak negara (termasuk Indonesia) dilanda bencana virus Flu Burung. WHO mewajibkan negara-negara yang menderita virus Flu Burung untuk menyerahkan virusnya ke laboratorium mereka.

Namun anehnya, hasil penelitian dari virus tidak diberikan kepada negara penderita (affected countries). Tiba-tiba vaksinnya sudah ada dan dijual secara komersial. Vietnam, contohnya, memiliki banyak penderita penyakit Flu Burung. Vietnam pun memberikan sampel virusnya ke WHO. Tidak ada vaksin yang didapat malah terpaksa untuk membeli vaksin Flu Burung dari salah satu perusahaan farmasi AS dengan harga mahal. Darimana vaksin itu berasal kalau bukan dari sampel virus flu burung Vietnam?

Ibu Menteri mencium aroma kapitalistik dari negara-negara maju, sebut saja, Amerika Serikat. Jelas saja ini akan sangat merugikan Indonesia dan negara-negara berkembang lainnya apabila memberikan virus Flu Burung namun tidak mendapatkan vaksinnya.

Ada dugaan kalau WHO justru menjual kembali virus itu kepada perusahaan farmasi AS untuk dibuatkan vaksinnya yang akan dijual secara komersial kepada negara-negara yang menderita pandemi Flu Burung.

Hal ini semakin jelas ketika pihak WHO yang diwakili Dr. Heyman mendatangi Ibu Menteri Kesehatan memaksa Ibu Siti Fadilah untuk memberikan sampel virus Flu Burung Indonesia kepada WHO. Dari hasil sebuah penelitian, virus Flu Burung ala Indonesia memiliki tingkat keganasan yang sangat tinggi.

Vaksin flu burung yang sudah ada waktu itu tidak mampu mengatasi virus Flu Burung ala Indonesia. Ibu Menteri Kesehatan menyadari bahwa virus Flu Burung ala Indonesia yang sangat dibutuhkan WHO adalah sebuah bargaining power untuk mereformasi WHO yang tidak adil dan menguntungkan AS saja.

Tindakan dan aksi seorang Siti Fadhillah Supari telah mendunia, namun kini semua itu harus terbayar oleh antek antek asing di negeri ini, melalui tangan tangan nya di KPK

Dengan menahan tangisnya, karena dikhianati bangsanya sendiri, seorang Siti Fadhilah Supari akhirnya kemarin (senin 24/10/2016) ditangkap KPK

Siti Fadilah terlihat berusaha menahan agar air matanya tidak jatuh saat berbicara kepada pers.

Siti Fadilah yang sudah mengenakan rompi ‘Tahanan KPK’ mengaku sebagai pihak yang dikriminalisasi pada kasus tersebut.

Siti Fadilah membantah pernah menerima uang haram dalam bentuk Mandiri Travellers Cheque (MTC) seperti yang dituduhkan kepada dirinya.

Apalagi, Siti Fadilah mengaku hari ini diperiksa hanya sebatas konfirmasi.

“Tidak ditanya apa-apa. Cuma ditanya kenal ini sama kenal ini tidak. (kemudian) kok ditahan. Belum sampai pada pokok perkara. Saya merasa ini tidak adil,” kata Siti Fadilah saat hendak digelandang ke mobil tahanan, Jakarta, Senin (24/10/2016).

Dimanakah Keadilan di Negeri ini kawan?

Adityawarman @aditnamasaya

Sumber: http://lingkarannews.com/ October 25, 2016

***

Dijebloskan ke Penjara, Siti Fadilah Sebut Nama Jokowi

siti-fadilah

Siti Fadilah Supari (Rangga Tranggana)

Jakarta – Mantan Menteri Kesehatan, Siti Fadilah Supari menyebut nama Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) saat akan digelandang ke jeruji besi. Siti meminta Jokowi untuk bersikap adil.

“Akhirnya saya selama lima tahun ditunjukkan dengan hukum yang sangat tidak adil. Pak Jokowi saya harap adil menegakkan hukum dengan betul-betul,” kata Siti saat diboyong ke mobil tahanan, di gedung KPK, Jakarta, Senin (24/10).

Siti ditahan usai menjalani pemeriksaan dalam kapasitasnya sebagai tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan alat kesehatan (alkes) untuk kebutuhan pusat penanggulangan krisis Departemen Kesehatan dari dana Daftar Isian Pelaksana Anggaran (DIPA) Revisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara tahun anggaran 2007.

Siti yang tampak mengenakan kemeja batik hijau dan berbalut rompi tahanan KPK diketahui Keluar ruang pemeriksaan sekitar pukul 15.35 WIB.

Selain tak adil, Siti menganggap kasus dan penahanan dirinya hanya menjadi pengalihan isu. Menurutnya, masih banyak kasus-kasus yang lebih besar ketimbang kasus yang menjeratnya sebagai tersangka.

“Banyak kasus yang berat-berat malah dibiarkan. Sedangkan saya yang sebetulnya tidak bersalah harus ditahan dan harus bersalah. Ini tidak adil. Ini betul-betul dikriminalisasi. Janganlah kasus ini untuk menutupi kasus yang lebih besar. Jangan pengalihan isu memakai isu saya,” ucap Siti dengan suara yang terdengar sengau menahan tangis.

Terlebih, sambung Siti, dirinya tidak dikonfirmasi mengenai substansi kasus dalam pemeriksaan hari ini. Menurut Siti, dirinya hanya dikonfirmasi penyidik mengenai sejumlah nama.

“Tidak ditanya apa-apa. Cuma ditanya kenal ini, sama kenal ini atau tidak, kok ditahan. Belum sampai pada pokok perkara. Saya merasa ini sangat tidak adil,” terang Siti.

Siti dalam kesempatan ini membantah terlibat kasus dugaan korupsi alkes. Dia juga merasa tidak pernah menerima Mandiri Traveller’s Cheque (MTC) senilai Rp 1,275 miliar.

Tak hanya itu, Siti juga mengklaim kasus yang menjeratnya tak terkait dengan dakwaan milik terdakwa Ratna Dewi Umar. Siti dalam dakwaan disebutkan, mengarahkan agar pengadaan alat kesehatan flu burung tahun 2006 dilakukan dengan metode penunjukan langsung dan Bambang Rudijanto Tanoesudibjo (PT Prasasti Mitra) sebagai pelaksana proyek.

“Saya tidak menerima dan tidak ada yang dituduh sebagai pemberi. Kemudian tidak ada juga bukti saya menerima, siapa yang memberi, kapan dan dimana. Tidak ada hubungannya (dengan dakwaan Ratna Umar Dewi). Saya ditahan (kasus) tahun 2007 itu kasusnya pak Rustam (Rustam Syarifudin Pakaya),” tandas Siti.

Sumber: jurnas.com/Rangga Tranggana/24 Okt 2016

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.886 kali, 1 untuk hari ini)