JAKARTA,– Berapa waktu terakhir ini kasus-kasus penyerangan terhadap para ustad dan ulama kembali terjadi. Seperti di Tangerang dan Batam. Publik banyak yang pesimistis dengan tertangkapnya beberapa pelaku yang ada. Sebagian dinyatakan gila dan alasan kejiwaan dari pelakunya. Bagiamana tanggapan dari pengamat Intelijen, Soeripto tentang hal ini.

“Mereka yang melakukan penyerangan ini bukan didoktrin seperti orang waras, tetapi direkayasa suasana kejiwaannya dan disentuh sisi emosinya. Maka operasi penyerangan seperti itu bisa mengunakan orang gila yang dimaksud,” ungkap pengamat Intelijen, Soeripto.

Lebih lanjut dirinya juga mengatakan adapun orang gila yang akan dioperasikan ini sebelumnya dipelajari dulu dimana sisi emosinya tersentuh. Termasuk dipelajari kapan orang gila ini mudah terpancing yang bertindak agresif dan kapan dia tenang.

“Sehingga orang gila ini pun bisa untuk dioperasikan. Karena sudah dipelajari dulu sisi emosinya, kemudian disentuh sisi emosinya itu hingga kemudian siap dioperasikan,” kata mantan staf Kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara (Bakin) tahun 1967-1970 ini.

Soeripto kemudian menyebutkan sebagai contoh kasus pembunuhan Presiden Amerika, Jhon F Kennedy. Pelaku pembunuhan Kennedy itu latar belakang kejiwaannya tidak stabil. Namun pelaku bisa membunuh Presiden AS tersebut.

Lebih lanjut dirinya juga menjelaskan kalau secara nalar orang waras memang tidak bisa diterima. Bagaimana mungkin orang gila bisa menentukan targetnya. Tetapi dirinya menjelaskan kalau dalam dunia intelijen kemampuan observasi dan identifikasi orang dengan tepat itu bisa. Selanjutnya barulah mereka diprogram.

“Mereka ini sudah dipelajari dulu sebelumnya setelah itu mereka diprogram dan dioperasikan. Ketika dioperasikan ternyata bisa berjalan beriringan di berbagai daerah, itu artinya jaringannya berjalan baik, tutur Soeripto pada Rabu, (21/2/2018).

Jadi menurut dirinya kalau ada kasus-kasus penyerangan para ustadz dan para ulama secara berturut-turut serta terjadi di beberapa tempat. Tidak mungkin itu hanya kebetulan. “Pasti ada skenario dan rekayasa didalamnya,” tandas Soeripto.

Adapun operasi yang mengunakan orang gila ini disebut operasi intelijen tertutup. Mereka yang bisa melakukannya adalah yang punya keahlian dan pengetahuan untuk melakukan operasi intelijen tertutup.

“Walau benar secara medis penyerang didiagnosa gila. Tapi ingat dia bisa direkayasa melakukan penyerangan kepada target tertentu. Kalo dalam analisa deduktif spekulatif saya itu pasti ada yang ngerjain atau ada yang merekayasa,” tandasnya

Dirinya juga menjelaskan kalau hal itu bukan berarti dirinya menyebut adanya keterlibatan intelijen disini. “Tapi mereka yang mengoperasikan ini, bisa jadi memiliki kemampuan intelijen dan kemampuan operasi tertutup,” tegasnya.

Adapun tujuan dari operasi ini tentu saja untuk memberikan rasa kepanikan dan ketakutan di dalam masyarakat. Sebab menurutnya dulu pun pernah terjadi. Jadi ini bukanlah hal aneh dan bukan hal yang belum terjadi.

Panjimas.com, 23 Sep 2021

***

Hati-hati, Doa Buruk Umat Islam yang Dizalimi

Posted on 30 Oktober 2019

by Nahimunkar.org

Hati-hati, Doa Buruk Umat Islam yang Dizalimi

Terhadap yang bicara agama, namun muatannya menjerumuskan sekali, bila sampai ada yang mendoakan buruk, bagaimana ya.

Umat Islam merasa agamanya diselewengkan (hingga kalau mengikutinya bisa sesat jauh, bahkan bisa murtad), namun suara umat Islam belum tentu digubris, berarti Umat Islam dizalimi.

***

Pada dasarnya, dibolehkan bagi orang yang dizalimi dan dianiaya untuk membela dirinya, salah satu bentuknya adalah dengan mendoakan keburukan atas orang yang menzaliminya.

Allah Ta’ala berfirman,

لَا يُحِبُّ اللَّهُ الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلَّا مَنْ ظُلِمَ وَكَانَ اللَّهُ سَمِيعًا عَلِيمًا
“Allah tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Nisa’: 148)

Ibnu Abbas berkata tentang ayat ini: “Allah tidak suka seseorang mendoakan keburukan untuk selainnya, kecuali ia dalam keadaan dizalimi. Allah memberikan keringanan baginya untuk mendoakan keburukan atas orang yang menzaliminya. Dan itu ditunjukkan oleh firman-Nya, “Kecuali oleh orang yang dianiaya.” (namun), jika bersabar maka itu lebih baik baginya. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir terhadap ayat di atas)

Firman Allah yang lain,

وَلَمَنِ انْتَصَرَ بَعْدَ ظُلْمِهِ فَأُولَئِكَ مَا عَلَيْهِمْ مِنْ سَبِيلٍ
“Dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada suatu dosa pun atas mereka.” (QS. Al-Syuura: 41)

. . . dibolehkan bagi orang yang dizalimi dan dianiaya untuk membela dirinya salah satu bentuknya adalah dengan mendoakan keburukan atas orang yang menzaliminya. . .

Namun, apakah ini yang terbaik baginya? Tidak. Jika ia membalas kepada orang yang menzaliminya dengan doa keburukan, maka ia tidak mendapat apa-apa karena ia telah mendapatkan apa yang ia inginkan (kepuasan).

Berbeda jika doanya dengan niatan agar orang-orang tidak lagi menderita akibat kejahatannya, maka ia mendapat pahala dengannya. Terlebih jika niatnya untuk menghilangkan kezaliman, menegakkan syariat Allah dan hukum-Nya, maka pahala yang didapatkannya lebih banyak./ voa-islam.com

***

Kalau mendokan buruk ke orang yang menzalimi kita, sebaiknya diniatkan agar hilang kezalimannya, dan agar Umat Islam tidak terzalimi lagi hingga dapat beribadah kepada Allah Ta’ala dengan khusyu’, dan beraktivitas dengan tenang.

***

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam mendo’akan para pemimpin:

اللَّهُمَّ مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ هَذِهِ أُمَّتِي شَيْئاً فَرَفَقَ بِهِمْ، فَارْفُقْ بِهِ. وَمَنْ شَقَّ عَلَيْهَا فَاشْفُقْ عَلَيْهِ. رواه مسلم.

“Yaa Allah, siapa saja yang memimpin/mengurus urusan umatku ini, yang kemudian ia menyayangi mereka, maka sayangilah ia. Dan siapa saja yang menyusahkan mereka, maka SUSAHKANLAH DIA”. (HR. Imam Muslim).

Ilustrasi/ Annas Indonesia

(nahimunkar.org)

 

 

(Dibaca 121 kali, 1 untuk hari ini)