Sumber foto : Alfian Risfil/TeropongSenayan

Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Hafid Abbas


JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) – Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Hafid Abbas menilai, penggusuran yang dilakukan di Jakarta sangat tidak manusiawi. Bahkan, boleh dibilang prosesnya paling parah sejak Indonesia merdeka.

“Menurut kami, proses penggusuran di Jakarta ini paling parah sejak Indonesia merdeka,” ujar Hafid di kantor Komnas HAM‎, Jakarta, Kamis (15/9/2016).‎

Karenanya, Hafid meminta agar Pemda DKI segera menghentikan cara-cara frontal dan kasar serta memperlakukan korban penggusuran dengan manusiawi.

“Tidak ada yang lebih tinggi dari pada ‎kamanusiaan. Kita wajib menjunjung tinggi dan menghormati manusia,” pesan Hafid.

Dia menyayangkan terjadinya bentrokan antara aparat dan warga di hampir seluruh penggusuran.‎ Dia juga mengkritik kebijakan Pemprov DKI saat ini dalam hal proses dan teknis penggusuran. Menurut dia, kasus seperti Kampug Akuarium, Waduk Pluit, penggusuran di Pinangsia, termasuk Ria Rio, sangat parah. ‎

Menurutnya, penggusuran dengan dalih pembangunan tetapi mengabaikan hak kemanusiaan dan keadilan merupakan kejahatan sosial.‎

Hafid tak menampik, bahwa penertiban di hampir semua kota diperbolehkan. Akan tetapi, seharusnya, masyarakat yang sudah bertahun-tahun menempati tanah tersebut harus dibantu dan keberlangsungan hidup selanjutnya dijamin lebih baik.

“Selalu saya bilang, kenapa Pemda DKI tidak mau mencontoh Bu Risma (Wali Kota Surabaya)?. Mereka (korban penggusuran) ini kan warga negara yang miskin. Pemerintah seharusnya membantu, bukan malah memberangus dengan kejam, dan melanggar hak-hak dasar masyarakat. Tidak bisa seperti itu,” papar Hafid. (plt)

Sumber: teropongsenayan.com/Alfian Risfil Auton/Kamis, 15 Sep 2016

***

Ada Hadits Ancaman bagi Pembela Umara’ yang Zalim

pemimpin1

by nahimunkar.com, Mar 25th, 2015

Ada kesan, kerasnya tuduhan terhadap siapa saja yang dianggap sangat bersalah karena mengkritik kezaliman pemimpin padahal kezalimannya itu terhadap Islam, sedang Islam itu ya’lu wala yu’la, tingginya melebihi kehormatan siapapun, maka semestinya Islam itulah yang dibela, namun sebagian manusia justru membela kehormatan manusia itu setinggi-tingginya hingga mengecam pengkritiknya setajam-tajamnya dikaitkan dengan Zulkhuwaisirah segala; maka dikhawatirkan perbuatan itu justru termasuk membela kezaliman. Itupun kezaliman terhadap Islam.

Oleh karena itu, seharusnya manusia ini menyadari, perbuatan yang sudah tegas-tegas ancamannya itulah yang mesti dihindari. Bukan malah dilakoni sambil mengecam sekeras-kerasnya terhadap siapapun yang belum tentu perbuatan mengkritiknya demi ketinggian Islam itu terkena ancaman nas.

Inilah di antara ancaman yang perlu disadari.

***

Hadits tentang Para Pemimpin yang Bohong

عَنْ كَعْبِ بْنِ عُجْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ ، قَالَ : خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , فَقَالَ : ” إِنَّهُ سَيَكُونُ عَلَيْكُمْ بَعْدِي أُمَرَاءٌ فَمَنْ دَخَلَ عَلَيْهِمْ فَصَدَّقَهُمْ بِكَذِبِهمْ وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهمْ ، فَلَيْسُ مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُ ، وَلَيْسَ بِوَارِدٍ عَلَيَّ حَوْضِي ، وَمَنْ لَمْ يُصَدِّقْهُمْ بِكَذِبِهمْ وَلَمْ يُعِنْهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ ، فَهُوَ مِنِّي وَأَنَا مِنْهُ وَسَيَرِدُ عَلَيَّ الْحَوْضَ ” ، هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ ، أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ ، عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ الْقَطَّانِ ، عَنْ سُفْيَانَ الثَّوْرِيِّ ، فَوَقَعَ لَنَا بَدَلًا عَالِيًا ، وَأَخْرَجَهُ النَّسَائِيُّ ، عَنْ عَمْرِو بْنِ عَلِيٍّ ، عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ

سَتَكُونُ بَعْدِي أُمَرَاءُ ، مَنْ دَخَلَ عَلَيْهِمْ فَصَدَّقَهُمْ بِكَذِبِهِمْ ، وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ ، فَلَيْسَ مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُ ، وَلَيْسَ يَرِدُ عَلَيَّ الْحَوْضَ ، وَمَنْ لَمْ يَدْخُلْ عَلَيْهِمْ ، وَلَمْ يُصَدِّقْهُمْ بِكَذِبِهِمْ ، وَلَمْ يُعِنْهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ ، فَهُوَ مِنِّي وَأَنَا مِنْهُ ، وَسَيَرِدُ عَلَيَّ الْحَوْضَ.

(النسائى في كتاب الإمارة).

Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi wa Sallambersabda: “Akan ada setelah (wafat)ku (nanti) umaro’ –para amir/pemimpin—(yang bohong). Barangsiapa masuk pada mereka lalu membenarkan (menyetujui) kebohongan mereka dan membantu/mendukung kedhaliman mereka maka dia bukan dari golonganku dan aku bukan dari golongannya, dan dia tidak (punya bagian untuk) mendatangi telaga (di hari kiamat). Dan barangsiapa yang tidak masuk pada mereka (umaro’ bohong) itu, dan tidak membenarkan kebohongan mereka, dan (juga) tidak mendukung kedhaliman mereka, maka dia adalah dari golonganku, dan aku dari golongannya, dan ia akan mendatangi telaga (di hari kiamat). (Hadits Shahih riwayat Ahmad dan An-Nasaa’i dalam kitab Al-Imaroh).

(nahimunkar.com)

(Dibaca 241 kali, 1 untuk hari ini)