Ilustrasi

. 

  • … nilai-nilai Islam tergerus, sedang yang menonjol adalah budaya sinkretisme (kemusyrikan) yang bersumber dari agama yahudi dan nasrani.

Indonesia memasuki tahapan yang sangat berbahaya. Masuknya budaya barat atau budaya materialisme yang begitu masif. Lewat musik, film, makanan, dan agama. Semua membawa dampak yang sangat destruktif. Nilai-nilai luhur bangsa Indonesia, termasuk nilai-nilai Islam tergerus, dan yang menonjol budaya sinkretisme (syirik) yang bersumber dari agama yahudi dan nasrani.

Kristenisasi dan Yahudisasi terhadap bangsa Indonesia tidak perlu lagi lewat para pendeta, pastur, rabbi, tidak perlu datang ke rumah-rumah penduduk, sambil menjajakan al-kitab, tetapi sudah ada sarana yang menjadi agent yang sangat efektif mengubah prinsip dan keyakinan umat yaitu melui media.

Hanya dengan  waktu yang sangat singkat, bangsa Indonesia sudah berubah. Lihatlah kehidupan bangsa ini. Mereka tinggal namanya saja, bangsa Indonesia, tetapi karakter dasarnya dan perilakunya sudah berubah, dan mengcopy paste budaya barat, budaya yahudi dan nasrani.

Penjajah Belanda sudah pergi secara pisik dan mereka tidak lagi menguasai negara secara de fa cto dan de jure, tetapi para tokoh, pemimpin partai, dan pejabat publik, sejatinya mereka menjadi perpanjangan tangan para penjajah dengan melaksanakan agenda penjajah.

Inilah sorotan tajamnya.

***

Refleksi Akhir Tahun: Memasuki 2014 Dengan Wajah Muram

 

JAKARTA (voa-islam.com) – Tahun 2013 pergi meninggalkan kita dengan segala carut-marut. Bangsa Indonesia selama 2013 hanya disuguhi gambaran buram, dan tanpa sedikitpun dapat memberikan optimisme. Tentu, bagi bangsa Indonesia menjadi sangat sedih, ketika melihat segala lapisan tokoh publik, melakukan  “moral hazard” (kejahatan moral).

Para tokoh, pimpinan partai, dan penyelenggara negara tak satupun menunjukkan komitmen pada moralitas. Tidak ada yang bisa menjadi suri tauladan. Di mana-mana yang terjadi absurditas moral dari para tokoh, pimpinan partai, dan penyelenggara negara.

Semuanya terjebak dengan melakukan “moral hazard” (kejahatan moral). Korupsi yang sudah sistemik, hanyalah salah satu puncak gunung es. Korupsi yang dijalankan para tokoh, pimpinan partai, dan penyelenggara, hanyalah salah satu indikator, bahwa elite di negara ini, sudah mengidap penyakit “klaptokrasi” (maling).

Sekalipun bangsa Indonesia mayoritas beragama. Nilai-nilai agama yang mulia tidak mempengaruhi hidup mereka. Tidak ada atsarnya (bekasnya) di dalam kehidupan mereka. Mayoritas para tokoh, pimpinan partai, dan penyelenggara negara, (seplah) tidak sedikitpun percaya tentang  kehidupan akhirat, dan tentang adanya hari pembalasan (yaumul hisab).

Mereka berlomba-lomba dalam ta’awanu ‘alal ismi wal ‘udwan (tolong-menolong berbuat maksiat dan kejahatan), bukan ta’awanu alal birri wat taqwa (tolong menolong dalam kebaikan).

Ittijah atau orientasi mereka semata-mata hanyalah mencari kenikmatan kehidupan dunia. Berlomba-lomba mengejar materi dengan segala cara. Menghalalkan segala cara. Tidak ada yang menjadikan agama sebagai sandaran hidup mereka. Sehingga, tidak  ada batas tentang halal dan haram. Semua menjadi halal.

Tidak heran berbagai penyimpangan terus berlangsung. Karena mereka sudah tidak lagi memiliki restriksi (hambatan) dalam hidup mereka. Semuanya menjadi boleh. Ini faktor utama yang membuat bangsa dan negara ini bangkrut.

Di bidang Hukum

Kasus hukum menggambarkan yang menimpa tokoh, pimpinan partai dan penyelenggara negara sudah sangat sempurna.  Tokoh dan pimpinan partai politik sudah banyak yang menjadi tersangka, dan bahkan sudah mendapatkan vonis pengadilan. Korupsi sudah menyentuh penyelenggara negara, dan yang menjadi lambang negara, seperti Mahkamah Konstitusi (MK), dan terbongkarnya kasus sogok dalam kaitannya dengan Ketua MK Akil Mochtar, menunjukkan bahwa para elite Indonesia sudah sangat bobrok.

Di bidang Politik

Sudah sangat jelas para tokoh, pimpinan partai pollitik, dan gerakan politik, sudah menunjukkan bahwa mereka semua hanyalah para pengejar kekuasaan, dan dengan janji-janji kosong, dan tidak pernah ditepati oleh mereka. Janji merek akan mensejahterakan rakyat, tetapi kenyataannya hanyalah mereka sendiri yang sejahtera.

Rakyat dibiarkan tanpa adanya kehidupan yang layak. Pantas kalau ada yang mengatakan, pemerintah bukan membinasakan “kemiskinan”, tetapi membinakan “orang miskin”.

Janji-jani mereka saat berkampanye semua tak ada yang dipenuhi dan ditepati. Janji tinggal janji. Mereka hanyalah kumpulan “tukang tipu” rakyat. Bukan para pembela dan pelindung rakyat. Sekarang, mulai Januari 2014 ini, kampanye sudah dimulai lagi, dan akan diulangi janji-janji palsu ditebarkan kepada rakyat.

Peluang terjadinya konflik sosial di masyarakat dampak dari pemilu 2014, peluangnya sangat besar. Perebutan kekuasaan semakin mendorong terjadinya konflik diantara kekuatan-kekuatan partai. Termasuk adanya skenario  yang menginginkan Indonesia terpecah-pecah. Termasuk Papua sedang memperjuangkan diri bebas dari Indonesia dan merdeka, melalui PBB, d New York.

Di bidang Ekonomi 

Rakyat menjerit dengan terus melangitnya harga-harga kebutuhan  pokok rakyat. Betapa beratnnya kehidupan rakyat sekarang ini. Pendapatan mereka tidak pernah berubah. Tetapi, semua kebutuhan pokok naik. Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar, semakin menyengsarakan rakyat. Karena ekonomi Indonesia tergantung kepada fihak asing.

Sejak reformasi  dan Indonesia masuk ke dalam rezim perdagangan bebas, dan Indonesia menandatangani perjanjian liberalisasi perdagangan seperti APEC, NAFTA, dan WTO,  maka Indonesia sudah menjadi jajahan asing. Indonesia sudah tidak memiliki lagi kedaulatan, dan tidak mampu lagi melindungi kepentingan nasional mereka, termasuk petani.

Sekarang, semua asset negara dan sumber daya alam (SDA) sudah menjadi milik asing. Sektor perbankan yang menjadi tulang punggung ekonomi nasional, sudah 60 persen menjadi milik asing.

Di bidang Budaya 

Indonesia memasuki tahapan yang sangat berbahaya. Masuknya budaya barat atau budaya materialisme yang begitu masif. Lewat musik, film, makanan, dan agama. Semua membawa dampak yang sangat destruktif. Nilai-nilai luhur bangsa Indonesia, termasuk nilai-nilai Islam tergerus, dan yang menonjol budaya sinkretisme (syirik) yang bersumber dari agama yahudi dan nasrani.

Kristenisasi

Inilah sisi-sisi yang sangat menghancurkan bangsa Indonesia. Kristenisasi dan Yahudisasi terhadap bangsa Indonesia tidak perlu lagi lewat para pendeta, pastur, rabbi, tidak perlu datang ke rumah-rumah penduduk, sambil menjajakan al-kitab, tetapi sudah ada sarana yang menjadi agent yang sangat efektif mengubah prinsip dan keyakinan umat yaitu melui media.

Hanya dengan  waktu yang sangat singkat, bangsa Indonesia sudah berubah. Lihatlah kehidupan bangsa ini. Mereka tinggal namanya saja, bangsa Indonesia, tetapi karakter dasarnya dan perilakunya sudah berubah, dan mengcopy paste budaya barat, budaya yahudi dan nasrani.

Sebagai catatan penting di Indonesia sekarang ini, di mana Kristenisasi bukan hanya melanda kaum  pinggiran, dan sering menjadi target  kristenisasi. Seperti orang-orang yang miskin dan bodoh, dan tidak berpendidikan, serta penduduk jauh dari kota-kota besar. Tetapi, sasaran kristenisasi sudah menjangkau kalangan terdidik.

Modus yang sekarang menjadi trend di kalangan orang terdidik dan berada, di mana mereka pura-pura masuk Islam, melalui prosesi pernikahan, dan sesudah itu mereka kemudian kembali ke agama mereka. Kasus di kalangan artis di ibukota Jakarta, menggambarkan sebuah modus yang dilakukan oleh kalangan nasrani dalam menjalankan misi mereka mengembangkan agama mereka.

Penjajah Belanda sudah pergi secara pisik dan mereka tidak lagi menguasai negara secara de fa cto dan de jure, tetapi para tokoh, pemimpin partai, dan pejabat publik, sejatinya mereka menjadi perpanjangan tangan para penjajah dengan melaksanakan agenda penjajah. Wallahu a’lam. *mashadi. voa-islam.com Selasa, 28 Safar 1435 H / 31 Desember 2013 10:38 wib

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.863 kali, 1 untuk hari ini)