Upacara pemakaman Azyumardi Azra secara militer di Taman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata, Jakarta, Selasa (20/9) pagi. (Foto: Istimewa)

 


Ucapan ketika meletakkan jenazah Azyumardi Azra ke dalam kubur, ternyata bukan cara Islam, tapi justru rawan atau bahkan mengandung keyakinan kemusyrikan.

Saya Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia. Atas nama Negara, Bangsa, dan Tentara Nasional Indonesia. Dengan ini mempersembahkan ke persada Ibu Pertiwi, jiwa, raga, dan jasa-jasa almarhum,” ucap Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy dalam upacara pemakaman Prof Azyumardi Azra, di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan, pada Selasa (20/9/2022).

Untuk lebih jelasnya bahwa ucapan dalam meletakkan jenazah ke kubur macam itu bukan dari Islam, bahkan rawan atau justru mengandung kemusyrikan, silakan simak berikut ini.

 

Bukan dari Islam dan Rawan Kemusyrikan

Pertiwi atau Prithvi atau Pṛthvī atau Pṛthivī atau पृथ्वी (Sanskerta) adalah Ibu/Dewi Bumi.(keyakinan kemusyrikan)Dony Arif Wibowo

Dalam kehidupan di Indonesia sering berlangsung hal-hal yang rawan kemusyrikan, merusak aqidah Islam. Di antara contohnya, ungkapan dalam upacara penguburan mayit sering menggunakan kata-kata yang bukan dari Islam, bahkan rawan kemusyrikan. Misalnya menyebut kuburan sebagai tempat peristirahatan yang terakhir. Dan menguburnya dengan ungkapan menyerahkan kepada Ibu Pertiwi.

Perlu diyakini oleh setiap Muslim, bahwa kuburan bukan tempat peristirahatan yang terakhir, tetapi adalah alam barzakh. Di alam kubur itu ada fitnah kubur dan ada ni’mat kubur. Tergantung orangnya, termasuk yang mendapatkan fitnah/ adzab atau kah mendapatkan ni’mat kubur. Selanjutnya kelak dibangkitkan di hari qiyamat untuk menjalani aneka proses sehingga akhirnya masuk neraka atau masuk surga. Maka ungkapan tempat peristirahatan yang terakhir untuk menyebut kubur adalah ungkapan dari konsep kekafiran, yang tidak mengimani aqidah Islam. Maka wajib dihindari oleh setiap Muslim. Dan kalau itu merupakan ungkapan dalam upacara resmi, maka wajib dihapus.

Demikian pula ungkapan menyerahkan kepada Ibu Pertiwi. Lafal Ibu Pertiwi itu kalau dimaksudkan bermakna tanah, maka penyerahan jasad kepada tanah tidaklah tepat. Lebih tidak tepat lagi kalau Ibu Pertiwi dimaksudkan dari keyakinan kemusyrikan yang menganggap adanya sangyang ibu pertiwi. Itu jelas kemusyrikan yang merusak aqidah atau keyakinan Islam. Padahal dalam Islam sudah dituntun oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : إِذَا وَضَعْتُمْ مَوْتَاكُمْ فِي الْقَبْرِ ، فَقُولُوا : بِسْمِ اللهِ وَعَلَى مِلَّةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. (أحمد ، وابن حبان ، والطبرانى ، والحاكم ، والبيهقى)

Dari Ibnu Umar, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bersabda: Apabila kamu sekalian meletakkan mayitmu di kubur maka ucapkanlah: Dengan nama Allah dan atas agama Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam. (HR Ahmad, Ibnu Hibban, At-Thabrani, Al-Hakim, dan al-Baihaqi, berderajat hasan menurut Al-Albani).

Persoalannya bukan hanya masalah ucapan bismillah itu tadi, namun penyerahannya itu ketika tidak kepada Allah tetapi keada Ibu Pertiwi, maka jelas bukan keyakinan Islam. Karena Islam hanyalah menyerahkan mayat itu kepada Allah Ta’ala, bukan kepada tanah, walau dikuburnya di tanah. Karena matinya si Muslim bukan untuk tanah tetapi untuk Allah:

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (162) لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ  [الأنعام/162، 163]

  1. Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.
  2. Tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”.(QS Al-An’am: 162, 163).

Oleh karena itu, ungkapan penyerahan jenazah kepada ibu pertiwi yang sering diucapkan, ditulis dan diupacarakan di mana-mana itu wajib dihapus. Bila tidak, maka jelas rawan kemusyrikan.

***

Semoga ungkapan-ungkapan yang rawan kemusyrikan dan merusak aqidah yang selama ini berseliweran di masyarakat itu segera dihapus, sehingga Ummat Islam terhindar dari keyakinan batil yang membahayakan aqidahnya. Untuk menyimak lebih jauh masalah ini dapat dibaca di buku-buku Hartono Ahmad Jaiz, di antaranya dalam bab Perusakan Islam Lewat Bahasa

.

Posted on 13 Agustus 2017

by Nahimunkar.org

Posted on 19 Juni 2021

by Nahimunkar.org

***

Adapun berita pemakaman Azra silakan simak berikut ini.

***

Menko PMK Jadi Inspektur Upacara Pemakaman Ketua Dewan Pers Azyumardi Azra

 

*Kenang Almarhum Sebagai Orang Paling Serius

KEMENKO PMK — Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy menjadi inspektur upacara pemakaman cendekiawan muslim yang juga Ketua Dewan Pers Prof Azyumardi Azra, di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan, pada Selasa (20/9/2022). Selaku Inspektur Upacara, Menko PMK membacakan Apel Persada.

Saya Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia. Atas nama Negara, Bangsa, dan Tentara Nasional Indonesia. Dengan ini mempersembahkan ke persada Ibu Pertiwi, jiwa, raga, dan jasa-jasa almarhum,” ucap Muhadjir dalam upacara.

Upacara pemakaman berlangsung mulai pukul 09.00 WIB. Prosesi pemakaman secara militer itu berlangsung khidmat dan tertib. Almarhum Azyumardi Azra juga diberikan penghormatan terakhir ala militer. Mendiang dimakamkan di Blok Z Nomor 426 TMP.

Sejumlah tokoh besar turut hadir, di antaranya Wakil Presiden RI ke-10 dan 12 Jusuf Kalla, Kapolri Listyo Sigit Prabowo, Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Sa’adi, Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar, Kepala BNPT Boy Rafli Amar, Ketum Partai Demokrat Agus Harimukti Yudhoyono, Mantan Menteri Agama Lukman Hakim Syaifudin. Hadir pula sejumlah tokoh akademisi, rekan sejawat, sahabat, dan keluarga mendiang.

Seusai pemakaman, Muhadjir menyatakan bahwa dirinya memiliki hubungan yang sangat baik dengan mendiang. Dia mengaku sering bersinergi dan bertukar pikiran soal pengembangan perguruan tinggi ketika masih menjabat sebagai rektor, Muhadjir rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan Azyumardi Azra rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

“Kita sangat kehilangan atas kepergian beliau. Karena khazanah intelektual yang telah beliau bangun sangat bermakna sekali untuk kemajuan bangsa Indonesia khususnya di bidang ilmu-ilmu sosial, dan juga kebudayaan, plus keilmuan keislaman,” tutur Menko PMK.

Selain itu, Menko PMK mengungkapkan bahwa dirinya dan mendiang  juga memiliki latar belakang organisasi yang sama, yakni Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) dan juga Himpunan Indonesia untuk Pengembangan Ilmu-Ilmu Sosial (HIPIIS). 

Di HIPIIS, Menko PMK memiliki cerita menarik bersama mendiang. Dia sempat mengingatkan mendiang untuk mengambil giliran untuk menjabat sebagai Ketua Umum HIPIIS.

“Kebetulan saya sudah sempat menjadi ketua umum, dan mestinya tahun ini adalah giliran beliau Pak Azyumardi untuk menjabat sebagai Ketua HIPIIS. Bahkan saya sempat mengingatkan beliau, ‘hei gilirannya lho, gantian untuk menjabat sebagai ketua umum HIPIIS’. Beliau menjawab, ‘Insya Allah Pak Menko’,” ungkapnya.

“Tapi rupanya takdir sudah ditentukan, Allah lebih menentukan dari pada kita dan Mudah-mudahan beliau mendapatkan kedudukan mulia di sisi Allah SWT,” imbuh dia.

Selain itu, di mata Menko PMK, sosok Azyumardi Azra yang juga merupakan guru besar di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta adalah orang yang sangat serius. Dalam membahas persoalan apapun, kata Menko Muhadjir, mendiang selalu fokus untuk menyelesaikannya. 

“Prof Azyumardi Azra orang paling serius di dunia. Dia selalu fokus pada persoalan. Kalau diajak bicara pasti selalu berusaha untuk tidak menambah- menambah isu yang menjadi fokusnya. Dan itu saya kira amalan dari ajaran islam kita tidak boleh bicara percuma. Itu menjadi prinsip beliau,” ungkapnya.

Dia juga mengagumi mendiang sebagai sosok cendekiawan, budayawan, sejarawan, ahli ilmu sosial yang tersohor, dan reputasinya telah dikenal di ranah nasional dan internasional. Bahkan menurutnya, derajat keilmuan mendiang juga menjadikannya sebagai salah satu cendekiawan terbaik di Indonesia.

“Mudah-mudahan akan segera muncul Azyumardi muda yang kemampuannya setara bahkan melebihi beliau,” pungkasnya. 

Sebagai informasi, Prof Azyumardi Azra wafat di RS Serdang, Malaysia pada Minggu kemarin pada pukul 12:30 waktu setempat. Beliau sebelumnya sempat dirawat terlebih dahulu sejak Jumat 16 September, akibat gangguan kesehatan yang dialami saat melakukan kunjungan kerja ke Malaysia. 

Kontributor Foto:

Rendy Febrianto

Reporter:

Novrizaldi

https://www.kemenkopmk.go.id/menko-pmk-jadi-inspektur-upacara-pemakaman-ketua-dewan-pers-azyumardi-azra

20 Sep, 2022

(nahimunkar.org)