Mengulangi shalat berjama’ah di satu masjid meliputi 6 keadaan, yaitu:

[1] Shalat berjama’ah diulang dalam satu masjid karena tidak ada imam tetap, hukumnya BOLEH.

[2] Shalat berjama’ah diulang dalam satu masjid dan ada imam tetap, akan tetapi masjidnya sempit tidak menampung semua jama’ah, hukumnya BOLEH.

[3] Shalat berjama’ah diulang dalam satu masjid bersama imam tidak tetap, setelah selesainya shalat imam yang tetap. Terdapat 3 pendapat ulama dalam kasus semacam ini:

1. TIDAK BOLEH sama sekali, agar orang-orang tidak santai dalam menghadiri shalat berjama’ah bersama imam tetap. Ini pandangan Sufyan ats-Tsauri, Ibnul Mubarak, asy-Syafi’i, Abu Hanifah, Malik, Ahmad dan lainnya.

2. BOLEH jika masing-masing jama’ah independen. Sebagaimana riwayat Abu Sa’id bahwa ada seorang lelaki masuk masjid sedangkan Rasulullah dan para sahabat sudah shalat. Rasulullah bersabda: “Siapa yang mau bersedekah pada orang ini lalu shalat bersamanya?” Lalu ada seorang yang berdiri dan shalat bersamanya. [H.R. Abu Daud, at-Tirmidzy dan Ahmad]. Ini pendapat sejumlah ulama dari kalangan sahabat, juga Tabi’in, juga beberapa ulama Syafi’iyyah dan merupakan madzhab Zhahiriyyah.

3. Dirinci: BOLEH kecuali di tiga masjid: Makkah, Madinah dan al-Aqsha.

Yang shahih adalah pendapat kedua (b), yaitu BOLEH tanpa membedakan antara tiga masjid dengan yang lainnya karena zahirnya peristiwa di hadits terjadi di masjid Nabi. Wallahu a’lam.

[4] Shalat berjama’ah kedua di masjid yang sama pada saat yang sama pula. Hukumnya MAKRUH.

[5] Shalat berjama’ah kedua di mushalla-mushalla kecil di pinggir jalan dalam pasar atau pusat perbelanjaan (termasuk juga mushalla terminal, stasiun dll – tambahan dari Hasan). Hukumnya BOLEH, sekalipun ada jama’ah kedua, ketiga, dan seterusnya. Dalam kondisi seperti ini sulit mengatur karena jama’ah shalat datang silih berganti.

[6] Imam mengulangi shalatnya bersama jama’ah. Hukumnya HARAM.

=============================

Ditulis ulang dari kitab “Fiqh Shalat Berjama’ah” karya Syaikh Shalih as-Sadlan (terjemahan) cetakan Pustaka as-Sunnah, dengan sedikit pengubahan dan pengurangan untuk meringkas. Semoga bermanfaat. Silakan disebarkan.

Via FB Hasan Al-Jaizy Al-Jaizy

 (nahimunkar.com)

(Dibaca 1.134 kali, 1 untuk hari ini)