Tak ubahnya mereka itu seperti Abrahah yang berambisi menghancurkan Ka’bah, akibatnya harus berhadapan dengan Alloh Ta’ala.

Anehnya, Pada tanggal 19 agustus 2015 Kementerian Agama melalui  Direktorat Jenderal Pendidikan Islam dalam surat edaran mereka bernomor : Dj.I/Dt.I.IV/1/PP.00.9/3012 /2015, menjanjikan program bantuan Rp 50.000.000 bagi setiap penulis yang mundukung Islam Nusantara.

sur

Inilah sorotannya.

***

Bendera Islam Nusantara Semakin Berkibar

Oleh : Yusuf Utsman Baisa

Bendera Islam Nusantara yang diusung oleh kaum liberalis semakin berkibar karena mendapat dukungan yang semakin luas, baik dari tokoh-tokoh liberal secara individual ataupun dari lembaga swasta dan pemerintah yang semakin dikuasai oleh kalangan liberalis.

Perhelatan besar muktamar NU telah behasil merenggut perhatian banyak orang, karena dipenuhi dengan hal-hal yang kontroversial, bahkan menjadi ajang perebutan kepentingan politik dengan menggunakan cara-cara yang tidak islamy, sehingga membuat Gus Sholah – sebagai tokoh besar mereka saat ini – menangis dalam meratapi kenyataan yang mengenaskan ini.

Hal yang paling mengejutkan pada muktamar NU kali ini adalah, diusungnya bendera Islam Nusantara secara terang-terangan sebagai icon besar-besaran mereka.

Ternyata fenomena ini berlanjut terus sampai kepada aksi kalangan liberalis yang sedang menjadi para pejabat penting di Kementerian Agama Pusat.

Pada tanggal 19 agustus 2015 Kementerian Agama melalui  Direktorat Jenderal Pendidikan Islam dalam surat edaran mereka bernomor : Dj.I/Dt.I.IV/1/PP.00.9/3012 /2015, menjanjikan program bantuan Rp 50.000.000 bagi setiap penulis yang mundukung Islam Nusantara.

Hal ini menandakan betapa kuatnya pengaruh kalangan liberalis di kalangan NU dan di Kementerian Agama, sehingga mereka berani dengan tegar dan terang-terangan mendukung konsep Islam Liberal yang sangat mengancam kemurnian ajaran Islam ini.

Semestinya mereka bersikap bijak dan proporsional dan tidak gegabah seperti itu, karena mereka adalah kalangan intelektual yang mengerti betul kemana arah dari konsep “Islam Nusantara”, atau minimal mereka menunggu sampai jadi jelas apa yang dimaui? dan apa yang dimaksudkan dengan “Islam Nusantara”?.

Secara esensial pengamalan Islam pada sebuah komunitas – di Indonesia misalnya – akan memaknai dua hal yaitu pengamalan idiologi atau pengamalan budaya.

Islam sebagai konsep idiologi tentunya tidak bisa dinusantarakan, karena datang dari Alloh dan RosulNya, bukan buatan manusia yang bisa dinamai “budaya”.

Ajaran Islam adalah dien – yang dibahasa indonesiakan jadi agama – sudah pasti tidak bisa disamakan dengan budaya, karena budaya adalah adat istiadat dan peradaban yang dihasilkan oleh akal-budi manusia.

Orang yang ikut-ikutan kepada pemahaman para orientalis barat akan menganggap agama adalah kultur (culture) yang artinya budaya. 

Justru disinilah letak persimpangan jalan dalam permasalahan ini, dimana muslimin meyakini bahwa ajaran Islam landasannya adalah wahyu yang mampu mengantarkan manusia kepada “kebenaran mutlak”.

Sementara kalangan liberalis berpegang teguh dengan keyakinan para filsuf yang menganggap tidak ada “kebenaran mutlak”, sehingga yang ada hanyalah pendapat dan penilaian yang bisa benar dan bisan pula salah (relative).

Kebenaran ajaran Islam dijamin dengan harta dan nyawa kaum muslimin di seluruh dunia, mereka siap menjadi korban dalam menjamin kebenaran Islam.

Kekuatan kebenaran ajaran Islam melebihi putusan majelis hakim di Pengadilan dan melebihi kata mufakat yang terbit pada sidang DPR dan MPR.

Landasan kebenaran Islam yang pertama adalah Kitab Alloh yang terjaga kesuciaannya hingga hari ini, tidak ada turut campur manusia ke dalamnya.

Landasan kebenaran Islam yang kedua adalah Al-Hadits yang ungkapannya datang dari Rosululloh sebagai manusia yang telah terbukti amanah dan kejujurannya, namun makna dan maksudnya datang dari Alloh yang selalu menjaga dan melindunginya.

Landasan kebenaran Islam yang ketiga adalah Ijmak atau kesepakatan para  Ulama Mujtahidin, dimana tidak mungkin mereka bersepakat dalam kesesatan dan kesalahan.

Landasan kebenaran Islam yang keempat adalah hasil ijtihadnya Para Ulama yang memenuhi syarat untuk berijtihad, sehingga ilmu dan hikmah mereka dinilai mampu mendekati dan menyerupai kebenaran pada Kitab Alloh, Al-Hadits dan Ijmak para Ulama.

Keempat landasan inilah yang menjadikan Islam mampu mempersatukan muslimin dalam hal-hal yang prinsip (Ushul) dan mengantarkan mereka kapada kesadaran yang tinggi dalam menanggapi perbedaan pendapat dalam cabang-cabang permasalahan (Furu’).

Sementara Islam Nusantara tidak memiliki Landasan Kebenaran yang sedemikian ketatnya, konsepnya semata-mata berpijak kepada budaya pada suatu komunitas, salah satunya adalah Nusantara, sehingga akan berbeda dengan Islam di Timur Tengah dan lain-lainnya.

Tak ubahnya mereka itu seperti Abrahah yang berambisi menghancurkan Ka’bah, akibatnya harus berhadapan dengan Alloh Taala.

Begitupula ajaran Islam inipun adalah milik Alloh yang dijaga dan dilindungi olehNya, maka kaum liberalispun mesti berhadapan dengan Alloh yang sangat mengetahui kelemahan mereka.*

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.084 kali, 1 untuk hari ini)