Ilustrasi/ foto newsdetikcom

.

 

 

Sejak Awal Ahok Khawatir, kalau jadi Gubernur DKI Jakarta menggantikan Jokowi akan seperti Kasus Lurah Lenteng Agung, Susan Jasmine Zulkifli yang ditolak warga karena beragama Kristen namun memimpin daerah mayoritas Islam. Apa yang dikhawatirkan Ahok itu kini sudah mulai santer, bahkan ditambah dengan sikap Ahok yang dinilai arogan bahkan dusta. (lihat artikel Ahok Bohong dan Tak Suka Ada Kolom Agama di KTP? – di nahimunkar.com)

  • Saat mendengar Ahok marah-marah soal hibah bus dari salah satu pengusaha, putera mantan Gubernur Jakarta Ali Sadikin mengurungkan niatnya mendukung Ahok.
  • Dia mempunyai kesan, Ahok lebih membela pengusaha. Padahal kan ada aturannya.
  •  Suara dari ormas Islam di antaranya: Banyak yang sangat benci dengan gaya kepemimpin Ahok yang arogan. Pernyataannya selalu menyakitkan bagi  telinga orang Islam. Tak ada yang mengenakkan.
  • Misalnya, soal lokalisasi pelacuran, bersikeras ingin tetap melakukan lokalisasi pelacuran, dan selalu mengatakan, Indonesia ini bukan negara ‘agama’. Tentu, maksudnya Indonesia bukan negara Islam, itu sikap Ahok.
  • Sosok Ahok harus diperhatikan karena secara proporsional tidak bisa mewakili masyarakat Jakarta. Sangat tidak proporsional. Masa’ minoritas Cina di Jakarta harus menjadi gubernur. Bisa dibayangkan bagaimana kebijakan yang akan diambil nanti? Sudah ada preseden, di mana Lenteng Agung, mayoritas Muslim, Ahok mengangkat Lurah, perempuan beragama Kristen. Ini sudah sangat jelas-jelas arogansi Ahok.

Inilah beritanya.

***

Anak Ali Sadikin Tak Setuju Ahok Jadi Gubernur

 

Jakarta – Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Boy Bernadi Sadikin  meminta  wartawan bertanya kepada warga apakah setuju Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok menjadi gubernur menggantikan Joko Widodo. “Kalau saya pribadi tidak setuju, karena tempramentalnya yang seperti itu,” kata Boy, Kamis, 13 Maret 2014.

Boy mengaku dulu memang setuju dan sangat mendukung Ahok sebagai Gubernur Jakarta apabila Jokowi maju dalam pemilihan presiden 2014. Namun, saat mendengar Ahok marah-marah soal hibah bus dari salah satu pengusaha, putera mantan Gubernur Jakarta Ali Sadikin ini mengurungkan niatnya mendukung Ahok. (Baca: Ahok Marah, Jokowi Siap Datangi Sopir Angkot)

Dia mempunyai kesan, Ahok lebih membela pengusaha. Padahal kan ada aturannya, katanya,  jika memang hibah ya pengusaha tidak perlu minta embel-embel promosi iklan di bus yang diberikan kepada pemerintah provinsi.

Boy Sadikin merupakan  Ketua Tim Kampanye Jokowi-Basuki sewaktu memenangkan pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jakarta tahun 2012. / tempo.co, reza aditya Kamis, 13 Maret 2014 | 22:50 WIB

***

Senin, 15 Jumadil Awwal 1435 H / 17 Maret 2014 08:01 wib

Kalau Ahok Menjadi Gubernur Harus Jihad

JAKARTA (voa-islam.com) – Banyak yang sangat benci dengan gaya kepemimpin Ahok yang arogan. Pernyataannya selalu menyakitkan bagi  telinga orang Islam. Tak ada yang mengenakkan.

Misalnya, soal lokalisasi pelacuran, bersikeras ingin tetap melakukan lokalisasi pelacuran, dan selalu mengatakan, Indonesia ini bukan negara ‘agama’. Tentu, maksudnya Indonesia bukan negara Islam, itu sikap Ahok.

Front Pembela Islam (FPI) terang-terangan menolak jika Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok sampai menggantikan Joko Widodo (Jokowi) sebagai orang nomor satu di ibu kota. Sekretaris Dewan Pimpinan Daerah (DPD) FPI DKI Jakarta Ustad Novel Bamu’min menegaskan FPI akan menekan keras Jokowi agar tidak meninggalkan kursi gubernurnya terkait maju dalam pemilihan presiden 2014.

Bagi FPI sosok Ahok harus diperhatikan karena dianggapnya tidak bisa mewakili masyarakat Jakarta. Sangat tidak proporsional. Minoritas Cina di Jakarta harus menjadi gubernur. Bisa dibayangkan bagaimana kebijakan yang akan diambil nanti? Sudah ada preseden, di mana Lenteng Agung, mayoritas Muslim, Ahok mengangkat Lurah, perempuan beragama Kristen. Ini sudah sangat jelas-jelas arogansi Ahok.

Dalam memimpin Jakarta, Novel menegaskan, seharusnya ada asas proporsional yang menyesuaikan kondisi mayoritas masyarakat.  “Kayak di Bali, Gubernurnya orang Bali dan agamanya sesuai penduduk mayoritas. Begitupun Manokwari yang putra daerah dan sama dengan mayoritas. Ahok enggak bisa wakilin Jakarta,” kata Novel kepada detikcom, Selasa (12/03/2014), ketika dimintai tanggapannya ihwal bila Jokowi mundur.

Menurut Humas Lembaga Dakwah Front Dewan Pimpinan Pusat FPI ini, karakter Ahok harus dilihat secara obyektif. Sikap dan gaya bicara Ahok yang ceplas ceplos di depan orang banyak, dinilai FPI, selama ini tidak mencerminkan sebagai pemimpin daerah setingkat Jakarta. 

Akibat ucapannya, sejumlah pihak termasuk FPI beberapa kali tersinggung. Novel pun berharap kalau memang Jokowi mundur demi capres, Ahok tidak mutlak langsung menggantikannya. “Makanya kami ingin ada formula undang-undang baru yang mengatur soal ini. Ahok ini arogan. Kalau Ahok naik, kami bakal perang dan demo itu balai kota,” sebut Novel.

Bahkan,saat berlangsung pengajian ‘Politik Islam’ di Masjid Agung al-Azhar, hari Ahad, 16/3/2014, kemarin, seorang ibu, bernama Elma, dengan nada yang sangat geram, mengomentari jika nanti Ahok menggantikan Jokowi, menyerukan jihad melawan Ahok, tegasnya.

Ini menampakan kekecawaan sebagian masyarakat Jakarta, terhadap perilaku Ahok, yang akan menjadi ‘majikan’ rakyat Jakarta. Perlu diingat Jakarta ini, dibebaskan dari penjajah Belanda dan Portugis, bukanlah oleh leluhur dan teman-teman Ahok, tetapi sekarang menguasai Jakarta, dan akan menjadikan budak dan kuli kaum pribumi dan Muslim.

Orang-orang Cina kalau berkuasa bakal tidak ada lagi toleransi, walaupun mereka sekarang bicara toleransi. Di negeri Cina, Muslim di Xinjiang dan Uighur dibantai, dan diberangus, tidak puasa, pergi haji, dan melakukan ibadah lainnya. Itulah aslinya kelompok Cina,  yang memang ideologi anti agama alias komunis. (afgh/dbs/voa-islam.com).

***

Tahun lalu Ahok sudah khawatir bila ditinggalkan Jokowi. Inilah beritanya.

***

Ini Alasan Ahok Menolak Posisi DKI-1

Created on Thursday, 29 August 2013 08:52 Published Date

Jakarta, GATRAnews – Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki T Purnama mengaku belum siap jika harus ditinggal Joko Widodo nyapres di 2014 mendatang. Ternyata alasaan enggan ditinggal bos-nya tersebut simpel saja.

“Saya belum siap pindah kantor ke bawah (ruang gubernur). Di sini (ruang wakil gubernur) lebih enak lihat Monas. Kalau orang kampung musti lihat Monas terus, di bawah itu gak lihat,” canda Ahok, demikian ia biasa disapa, di Balaikota Jakarta, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Rabu (26/8).

Alasan lain, jika dirinya menjadi gubernur dikhawatirkan seperti kejadian Lurah Lenteng Agung, Susan Jasmine Zulkifli, malah menimpa dirinya. Bakalan ada petisi untuk menolak politisi Partai Gerindra ini menjadi DKI-1. Petisi tersebut menyatakan menolak karena sang lurah berasal dari agama tertentu. Kasus tersebut kini sedang diatasi aparat setempat karena ditenggarai ditunggangi pihak yang tidak bertanggung jawab.

  (*/Zak) 

 ***

Di Indonesia ada semacam nasihat, yang dikenal dengan ungkapan “jas merah”  jangan sampai melupakan sejarah. Sedangkan sejarah Cina Indonesia adalah seperti ini:

Kejamnya Milisi Cina Indonesia ‘Po An Tui’ Terhadap Kaum Pribumi

  • Bukti nyata Cina Indonesia antek penjajah
  • Sekarang, para anak keturunan dan anak cucu laskar PO AN TUI telah berkuasa dan menguasai Indonesia, kemudian memperbudak dan menjadikan kaum pribumi sebagai kuli di negerinya sendiri. Kejahatan mereka tidak kalah hebatnya, saat di zaman Belanda terhadap pribumi. Asset ekonomi Indonesia sudah digenggam anak keturunan laskar PO AN TUI.

 .

 Milisi Cina Indonesia yang dikenal sebagai ‘Po An Tui’ yang dibentuk oleh Administrasi Belanda untuk membantu mereka melawan Pejuang Indonesia. Beberapa unit (seperti di Jawa Tengah) Laskar Cina Indonesia  ini terlibat dalam Agresi, dan beberapa dugaan mereka melakukan kejahatan perang dengan membunuh POW (tawanan perang) di Temanggung./ militaryphotos.net/forums

JAKARTA– Laskar PO AN TUI, adalah satuan bersenjata orang-orang Cina di Indonesia yang loyal kepada Belanda.. Inilah fakta sejarah tak pernah terungkap selama ini dikalangan pribumi.

Tugas laskar Po An Tui selain menjadi mata-mata juga untuk meneror pejuang pribumi. Kehadiran serta sepak terjangnya yang terkenal kejam menjadi salah satu penyebab pejuang Islam sangat membenci etnis Cina, dan sebaliknya etnis Cinapun antipati terhadap para pejuang Islam.

Aksi Po An Tui itu tergolong kejam bahkan lebih kejam dibanding dengan tentara Belanda.

Sayangnya, dalam penulisan sejarah, keberadaan dan kejahatan serta tindak-tanduk laskar Po An Tui cenderung diabaikan. Ada upaya sistematis untuk menghilangkan fakta sejarah ini.

Mengapa Westerling setelah menebar teror di Bandung dan berniat membunuh Menteri Pertahanan Sri Sultan Hamengku Buwono IX berhasil kabur ke Singapura?

Jenderal TNI (Purn) Abdul Haris Nasution yang kala itu menjabat KSAD (Kepala Staf Angkatan Darat) dalam bukunya “Memenuhi Panggilan Tugas,” mengisahkan bahwa, setelah menebar teror di Bandung, dan jadi buronan pasukan Siliwangi Westerling berhasil lolos ke Jakarta.

Tapi persembunyiannya di Jakarta (Tanjung Priok) akhirnya berhasil diendus oleh satuan CPM dari KMKBDR (Komando Militer Kota Besar Djakarta Raja), khususnya sub KMK Tanjung Priok.

Westerling pun tertangkap. Namun, saat hendak digelandang ke KMK, secara tiba-tiba Westerling dan ajudannya memberondong satuan CPM, dan melarikan diri ke aeah Zandvoort (pantai Sampur).

Di pantai itu telah menunggu sebuah pesawat Catalina yang kemudian membawa Westerling kabur ke Singapura. Mudahnya Westerling kabur ke Singapura, karena ia memiliki hubungan istimewa dengan Laskar PO AN TUI. Dimasa Perang Kemerdekaan laskar ini mendapat pasokan senjata dari Singapura.

Laskar PO AN TUI, adalah satuan bersenjata orang-orang Cina di Indonesia yang loyal kepada Belanda. .

Tugas laskar Po An Tui selain menjadi mata-mata juga untuk meneror pejuang pribumi. Kehadiran serta sepak terjangnya yang terkenal kejam menjadi salah satu penyebab pejuang membenci etnis Cina dan etnis Cina pun antipati terhadap para pejuang.

Sebagai mata-mata, anggota laskar Po An Tui selalu mengamat-amati kegiatan para pejuang. Akibatnya gerak-gerik dan markas pejuang dapat diketahui. Setelah markas para pejuang diketahui, Belanda melakukan serangan gabungan dengan Inggris terhadap markas para pejuang.

Laskar Po An Tui tidak hanya terdapat di Jakarta, tapi juga di Medan, Surabaya dan kota-kota lainnya. Aksi Po An Tui itu tergolong kejam bahkan lebih kejam dibanding dengan tentara Belanda.

Di Bandung, laskar Po An Tui aktif membantu NICA (Nederland Indische Civil Administration) menebar teror terhadap para pejuang, seperti pembunuhan, penculikan, pemerkosaan, dan penjarahan. Teror itu bertujuan agar pribumi segera pindah ke Bandung Selatan dan tidak mendukung RI.

Sayangnya, dalam penulisan sejarah, keberadaan dan tindak tanduk laskar Po An Tui cenderung diabaikan. Ada upaya sistematis untuk menghilangkan fakta sejarah ini. Mungkin tujuannya agar bangsa ini tidak mengetahui sejarah. Tapi para pejuang yang pernah menderita kekejamannya tentu tidak dapat melupakannya.

Menurut salah seorang putera pejuang kemerdekaan RI, masalah kekejaman Po An Tui sempat disinggung dalam persidangan Konstituante di tahun 1950-an. Ia menulis salinan penggalan pidato seorang pejuang yang menjadi anggota Konstituante.

Pidato yang disampaikan oleh Mado Miharna (organisasi Persatuan Rakyat Desa) di hadapan Sidang Pleno Konstituante tahun 1959 adalah sebagai berikut:

Saudara Ketua dan Madjelis Konstituante jang terhormat, dalam rangka pemandangan umum;

Saudara Ketua, bagi seluruh pedjuang bangsa Indonesia jang mengikuti dan mengalami pahit-getirnja perdjuangan sedjak Proklamasi 1945, lebih-lebih tentunja bagi perintis-perintis kemerdekaan bangsa, melihat keadaan dan penderitaan masjarakat dewasa ini, pasti akan sedih, sedih karena ini bukanlah tudjuan kita, bukan masjarakat sematjam sekarang jang kita idam-idamkan.

Seluruh lapisan masjarakat telah berdjuang tetapi baru beberapa gelintir orang-orang sadja jang senang. Beribu-ribu pedjuang kita dibunuh, tetapi golongan pembunuh jang menikmati keuntungan.

Para pedjuang kita ditangkap dan disiksa, tetapi hasilnja golongan jang menangkapi dan menjiksa para pedjuang masih berkuasa.

Pao An Tui sementara dari golongan Tionghoa jang membantu aktif tentara Belanda jang telah membunuh, membakar, menangkapi anak-anak buah kami, sampai sekarang masih bergelandangan, bukan sadja masih bergelandangan, tetapi berkuasa dan menguasai segala sektor penghidupan rakjat.

Golongan Po An Tui jang telah dengan kedjamnja membunuh dan membakar para pedjuang kemerdekaan termasuk anak-anak buah kami, karena mereka tidak mengungsi dan terus berada di kota bersama Belanda, mendadak menjadi kaja, sesudah Belanda tidak ada mereka menduduki bekas tempat Belanda.

“Inilah bukan bajangan, bukan impian, tetapi kenjataan, lihatlah sadja di Bandung” …. (Pidato yang disampaikan oleh Mado Miharna –organisasi Persatuan Rakyat Desa– di hadapan Sidang Pleno Konstituante, waktu itu (1959).

Sekarang, para anak keturunan dan anak cucu laskar PO AN TUI telah berkuasa dan menguasai Indonesia, kemudian memperbudak dan menjadikan kaum pribumi sebagai kuli di negerinya sendiri. Kejahatan mereka tidak kalah hebatnya, saat di zaman Belanda terhadap pribumi. Asset ekonomi Indonesia sudah digenggam anak keturunan laskar PO AN TUI.

Anak keturunan laskar PO AN TUI sudah masuk di ranah politik, seperti sekarang Hary Tanoe yang menjadi Cawapres Partai Hanura, di Kalimantan Barat menjadi Gubernur, di DKI ada Ahok, dan sangat arogan. Padahal, mereka dahulunya kaki tangan penjajah Belanda dan Jepang.  Sadarlah wahai kaum pribumi.  voa-islam.com /mh/nahimunkar. Selasa, 19 Rabiul Awwal 1435 H / 17 Desember 2013 08:49 wib

(Senyum Syuhada 3 jam yang lalu komen di fp nahimunkar.com pada judul https://www.nahimunkar.org/ahok-bohong-dan-tak-suka-ada-kolom-agama-di-ktp/#ixzz2ncVZ2Jtj )

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.569 kali, 1 untuk hari ini)