Ketika seorang ‘awam’ (sudah bertahun ngaji) mendapatkan penyebutan pembagian bid’ah semisal: bid’ah haqiqiyyah dan idhafiyyah, bid’ah i’tiqadiyyah dan amaliyyah, bid’ah kulliyyah dan juz’iyyah, dan beragam taqsimat lainnya, maka hendaknya dia tidak menuding pemateri: membingungkan umat.

Yang bingung perlu ditanya, ‘kenapa antum bingung?’

Jawab orang bingung, ‘Ustadznya membingungkan umat.’

Kebingungan itu bukan karena ustadznya membingungkan, melainkan karena situnya yang kurang porsi belajarnya. Itu dibahas di beberapa kitab ulama Ahlus Sunnah. Istilah dan pembagian semisal itu cukup exist di beberapa kitab manhaj yang penjabarannya cukup rinci.

Belum pernah mendengar apalagi mempelajarinya, bukan berarti istilah dan pembagian itu salah. Inilah bukti betulnya kalimat:

المرء عدو ما يجهل

“Seseorang itu (senantiasa) memusuhi (hal) yang dia tidak ketahui.”

Lebih miris jika rekan yang bersikap semisal ini, selalu bersikap cukup tegas bahkan kadang keras perihal manhaj. Sekalinya disuguhi suatu perkara yang ia masih bodoh tentangnya, langsung tancap gas menghakimi.

Sekian wujud manusia, berpikir bahwa ‘jika aku sudah rajin bicara dan mengingatkan orang akan manhaj Salaf, maka aku adalah orang yang pintar akan hal itu.’ (tidak terucap namun tingkahnya sekian)

Sebagian juga ada yang bersikap: ‘selama ada dai/individu yang keras dalam memerangi syirik dan bid’ah, maka mesti ia benar (atau lebih benar.’ Singkatnya: ‘siapa yang terkesan keras kekokohannya, maka ia benar.’ (tidak terucap namun tingkahnya sekian)

Maka saudaraku, jika belum memahami istilah, pembagian dan suatu materi, sewajarnya belajar dulu. Ketahui dulu sebelum menghakimi. Kalau beragama dan bermanhaj yang penting kencang dulu suaranya, periksa yuk hati masing-masing.

Karena di antara fitnah mengerikan yang takutnya terjadi di kita: kita ini lantang membela manhaj Salaf, bukan semata ingin membela agama Allah dan sunnah Rasulullah, melainkan karena ingin dikenal kokoh, berilmu, tegas, ikut ustadz kibar, dan seterusnya dari dunia. Kita sepakat bahwa syubhat itu halus menyambar. Tapi kita sering lalai atau belum tahu bahwa syubhat hawa nafsu itu bisa lebih halus daripada syubhat materi hizbiyyah, atau Jahmiyyah. Ia bisa bertempat tinggal di hati sejak sekian lama.

Oleh Hasan Al-Jaizy Al-Jaizy

(nahimunkar.com)

(Dibaca 743 kali, 2 untuk hari ini)