Ilustrasi : Kajian Islam Online


Ada hal penting yang harus dibangun di kalangan Umat Islam sekarang ini, yaitu meyakini dan merasakan adanya izzah Islam, ketinggian Islam, kemuliaan Islam, dan kewibawaan Islam. Sehingga sebagai orang Islam ketika membawakan diri sebagai muslim itu bukan bersikap ingah-ingih tidak percaya diri atas Islamnya. Karena Allah telah menegaskan dengan Firman-Nya:

{ وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ } [آل عمران: 139]

Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman [Al ‘Imran139]

Contoh yang gampang: Ketika seorang Muslim berpidao di depan umum, sudah mengucapkan salam Islam assalaamu ’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh, itu sudah salam paling top. Karena itu salam berupa penghormatan dan doa dalam Islam. Sedang Islam itu ya’luu walaa yu’laa, unggul dan tidak diungguli. Sehingga tidak perlu lagi merasa rendah diri atau bahkan bersalah ketika mencukupkan salam Islam yang berisi penghormatan dan doa keberkahan Allah itu.

Ini yang perlu dibangun pada setiap Muslim, yaitu ‘izzah Islam, ketinggian, kemuliaan, dan wibawa Islam yang senantiasa kita yakini.

Ketika izzah Islam itu telah tercabut dari dada-dada kaum Muslimin, maka berubah menjadi muslim-muslim yang rendah diri di depan siapa saja, kecuali di depan muslim yang jadi plerokan nya (musuhnya). Itu dua kesalahan. Di depan orang yang tidak terlekati izzah Islam (tidak berkeyakinan Islam), malah merasa rendah diri, tapi di depan Muslim yang pada aslinya terlekat izzah Islam, malah berani mentang-mentang bahkan nantangin, kadang-kadang. Sambil berkomplot dengan bithonah min dunikum dan kaum walan tardho lagi. Betapa terbaliknya, dan betapa memprihatinkannya. Apa tidak ingat akherat, kalau begitu. Padahal contoh dari Nabi dan para sahabatnya yang bahkan dipuji oleh Allah Ta’ala adalah asyiddaau ‘alal kuffar, dan saling kasih sayang sesama Muslimin.

{مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا} [الفتح: 29]

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku´ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar [Al Fath29]

Demikianlah sikap seharusnya bagi setiap muslim. Karena contohnya yang dipuji oleh Allah Ta’ala adalah: Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.(QS Al-fath:29)

Sangat disayangkan, kini gejalanya justru terbalik. Bermesraan dengan kafirin, namun plerokan (musuhan) dengan sesama Muslimin. Sikap kebalik-balik ini perlu sekali diluruskan, agar tidak semakin kebablasan. Ketika kebablasan, maka bisa-bisa terjerumus kepada perilaku salah yang sangat fatal. Di antaranya saking tidak percaya dirinya di atas izzah Islam, maka sudah mengucapkan salam Islam (yang itu nilainya tertinggi), masih dioplos dengan salam-salam (keyakinan) lain yang bahkan mengandung kemusyrikan. Karena salam-salam (keyakinan) lain itu punya makna khusus yang kental dengan keyakinan di luar Islam, yang itu menurut Islam jelas fasid.

Semoga saja dengan adanya peringatan-peringatan yang membangkitkan semangat pentingnya membina izzah Islam pada sikap dan mental Umat Islam semacam ini, umat Islam terhindar dari segala keminderan diri, hingga percaya diri atas izzah Islamnya, dan tidak terjerumus pada kesalahan-kesalahan yang tidak perlu apalagi sangat fatal seperti kemusyrikan dan semacamnya.

Aamiin ya Rabbal ’alamiin.

Oleh Hartono Ahmad Jaiz

(nahimunkar.org)