Umat Islam tak bisa melupakan peristiwa mencekam yang dialami Ustadz Abdul Somad, saat berdakwah ke pulau Bali.

Sejumlah oknum Ormas yang mengatasnamakan masyarakat bali, seperti Laskar Bali, Garda Nasional Patriot Indonesia (GanasPati), Patriot Garda Nusantara (PGN) dan Perguruan Silat Sandhi Murti, diduga melakukan tindakan inteloran. Mereka diduga melakukan persekusi terhadap Ustadz Abdul Somad (UAS) pada Jumat (8/12/2017) lalu, di hotel Aston, Denpasar, Bali.

Sekelompok orang merangsek memasuki hotel tempat Ustadz Somad menginap. Bahkan ada di antara mereka yang diduga membawa senjata tajam, serta mencaci maki ulama pakar hadits, lulusan Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir dan Darul Hadits Maroko tersebut.

Kemudian, Pusat Hak Asasi Muslim Indonesia (PUSHAMI), melaporkan tujuh orang yang diduga menjadi biang keladi dugaan persekusi terhadap Ustadz Abdul Somad. Salah satu di antaranya, I Ketut Ismaya Jaya, yang merupakan Sekjen Laskar Bali.

Ditangkap dan Jadi Tersangka Melawan Pejabat Pemerintah

I Ketut Ismaya kini menjadi tersangka dan dijebloskan ke dalam penjara. Meski bukan tersangka  kasus persekusi Ustadz Somad, Ismaya ditangkap dalam kasus lain.

Tersangka Ismaya dan dua anggota ormas S dan G dituding melawan pejabat pemerintah, sebagaimana diatur dalam Pasal 211, 212, 214 KUHP dan atau pasal 351 KUHP dan atau pasal 335 KUHP.

Pengenaan pasal itu terkait aksi protes Ismaya yang membawa belasan anggota salah satu ormas di Bali ke kantor Satpol PP Provinsi Bali di Jalan DI Panjaitan Denpasar Timur, Senin (13/8) pagi. Mereka memprotes penurunan baliho Keris, milik calon DPD RI Ketut Putra Ismaya di Jalan Cok Agung Tresna Dentim.

Kedatangan belasan ormas ini diwarnai aksi kekerasan yang dilakukan seorang oknum ormas kepada anggota Satpol PP, berinisial MB.

“Penahanan ini sudah bagian dari pertimbangan penyidik. Soal penahanan nya di Brimob yang pasti supaya aman ditahan disana. Karena dia kan pimpinan preman jadi kalo dia ditahan disana tidak ada anak buahnya yang berani datang kesana,” ujar salah seorang penyidik yang tidak mau disebutkan namanya itu.

Tindakan tegas aparat keamanan untuk membersihkan Bali dari aksi premanisme. Saat ini tersangka Ismaya yang juga salah satu calon anggota DPD Bali itu sudah mendekam di balik jeruji besi Rutan Brimob Bali seperti yang disampaikan oleh Kasatreskrim Polresta Denpasar Kompol Wayan Arta Ariawan pada Jumat (24/8).

“Itu bagian dari pertimbangan penyidik,” ungkapnya.

Sementara itu, usai deklarasi No Narkoba dan No Premanisme, Kapolda Bali Irjen Pol. Dr. Petrus Reinhard Golose menyinggung penangkapkan calon anggota DPD Bali yang juga petinggi ormas, Is. “Kemarin (belum lama ini) ada gangguan terhadap salah satu institusi pemerintah (Kantor Satpol PP Bali-red), langsung saya perintah tangkap. Kita asingkan dia sekarang sesuai dasar hukum yang berlaku,” ungkapnya, Sabtu (1/9).

Ditanya soal tersangka Is, lulusan Akpol 1988 ini mengatakan masih dipenjara. “Nangis-nangis di penjara,” kata mantan Wakil Direktur II/Ekonomi dan Khusus Badan Reserse Kriminal Polri. [AW/Edi, Balipost, Balipuspa, dbs]/ panjimas.com, 3 Sep 2018.

***

Berita tersebut mengingatkan Umat Islam adanya kasus yang beritanya ramai beberapa waktu lalu.

***

Ujaran Kebencian hingga Penodaan Agama Menjerat Arya Wedakarna

Posted on 24 Desember 2017 – by Nahimunkar.com

Foto: Postingan Arya Wedakarna

KIBLAT.NET, Denpasar- Anggota DPD RI Dapil Bali, I Gusti Ngurah Arya Wedakarna dilaporkan secara khusus oleh Putu K Muliastawa. Polda Bali telah menerima Laporan Polisi Nomer LP/506/XII/2017/SPKT sejak tanggal 20 Desember 2017 lalu.

Koordinator Tim Advokasi Forum Peduli Ustadz Abdul Somad (TA-FPUAS),  Zulfikar Ramli ,S.H, M.HUM menjelaskan bahwa pelaporan tersebut berkaitan dengan insiden persekusi yang dialami oleh Ustadz Abdul Somad saat berdakwah di Bali. Arya Wedakarna diduga kuat menjadi provokator massa melalui postingannya di FP Facebook pada 1 Desember 2017.

“Alasan Laporan Polisi Arya Wedakarna dilakukan secara khusus, untuk memaksimalkan proses penyelidikan dan penyidikan serta mempercepat proses hukum atas Arya Weda Karna dan kasusnya segera dibawa ke pengadilan,” tegas Zulfikar pada Ahad (24/12/2017) kepada Kiblat.net.

Dalam postingan tersebut Arya menegaskan menolak kedatangan UAS ke Bali saat safari dakwah pada 8 Desember 2017. Ia pun menguploud foto Ustadz Abdul Somad dengan tagar yang berbunyi “tolak pendukung khilafah dan anti Pancasila masuk Bali.”

Zulfikar menegaskan bahwa hal tersebut menjurus pada tindak pidana berupa ujaran kebencian kepada orang lain berdasarkan diskriminasi SARA di Media sosial. Arya pun dilaporkan dengan sejumlah pasal, mulai dari ujaran kebencian, ITE hingga penodaan agama.

Diantaranya, Pasal 28 ayat (2) Jo. Pasal 45a ayat (2) UU No. 19 Tahun 2016 Perubahan atas UU No 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dan atau Pasal 16 UU No 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis dan Pasal 160 KUHP dan atau Pasal 156 KUHP dan atau Pasal 156a KUHP.

Selain itu, Zulfikar juga meminta agar semua pihak dapat menghormati proses hukum yang berlangsung. Sehingga tidak ada yang mengintervensi proses penyelidikan dan penyidikan yang saat ini sedang di tangani Polda Bali.

“Walaupun langit ini runtuh sekalipun hukum harus tetap ditegakkan,” tutupnya.

Reporter: Syafi’i Iskandar
Editor: Jon Muhammad

Sumber : kiblat.net

(nahimunkar.org)

(Dibaca 7.136 kali, 1 untuk hari ini)