NEW DEHLI, INDIA – Penulis sekuler Bangladesh Taslima Nasrin mengatakan hari Rabu (3/5/2015) dia telah pergi meninggalkan rumahnya di India ke Amerika Serikat setelah menerima ancaman pembunuhan dari kelompok Islamis yang berada balik pembunuhan para blogger atheis di negara asalnya baru-baru ini.

Nasrin, yang melarikan diri ke Eropa pada tahun 1994 setelah protes terhadap karyanya oleh kelompok Islamis dan sekarang tinggal di New Delhi, memposting di Twitter bahwa ia tidak merasa aman di ibukota India.

“Terancam oleh Islamis yang membunuh blogger atheis di B’desh. Khawatir,” dia mentweet. “Akan kembali ketika merasa aman.”

Nasrin, 52 tahun, mengatakan ia telah meminta pertemuan dengan Menteri Dalam Negeri India Rajnath Singh setelah menerima ancaman pembunuhan tersebut, tetapi malangnya, tidak menerima tanggapan.

Langkah itu muncul beberapa pekan setelah penyerang bertopeng memukuli hingga mati blogger atheis Ananta Bijoy Das di Bangladesh, insiden ketiga dari serangan mematikan sejenis yang dituduhkan kepada kelompok Islamis sejak Februari.

Das telah menulis sebuah puisi yang memuji Nasrin, yang meninggalkan negara berpenduduk mayoritas Muslim itu setelah dia melakukan penghujatan dalam novelnya berjudul “lajja” (Malu), yang menggambarkan penganiayaan terhadap sebuah keluarga Hindu.

Bangladesh adalah negara yang secara resmi berfaham sekuler meski lebih dari 90 persen dari 160 juta penduduknya beragama Islam.

Negara ini telah melihat peningkatan serangan oleh kelompok Islamis terhadap para penista agama dalam beberapa tahun terakhir.

Sejak 2013 setidaknya lima blogger atheis telah diserang oleh Islamis setelah kelompok garis keras, Hefazat-e-Islam, secara publik meminta eksekusi terhadap orang-orang ateis yang mengorganisir protes massa menentang kebangkitan politik Islam.

Setelah meninggalkan Bangladesh, Nasreen menghabiskan satu dekade di Eropa dan Amerika Serikat sebelum India memberikan padanya izin tinggal sementara pada tahun 2004.

Ginekolog yang berubah menjadi penulis memegang kewarganegaraan Swedia tapi dia telah lama mencari tempat tinggal permanen di India, yang ia gambarkan sebagai “rumah budaya nya”. (st/AFP) (voa-islam.com) Rabu, 15 Sya’ban 1436 H / 3 Juni 2015 17:05 wib.

***

Setahun yang lalu, wanita penghujat Islam itu sudah diprotes keras kedatangannya di India.

Inilah beritanya.

***

Muslim India Memprotes Pemberian Visa Penulis Anti-Islam

Posted on Aug 18th, 2014

by nahimunkar.com

Nasreen

KOLKATA– Para tokoh Muslim di India telah menyuarakan kemarahan terhadap pemerintah India terkait pemberian visa bagi penulis anti-Islam, wanita asal Bangladesh Taslima Nasrin yang diasingkan.

“Bertentangan dengan praktek di India, dia mendapatkan izin tinggal yang tengah diperpanjang secara teratur,” kata Zafarul-Islam Khan, presiden nasional dari All India Muslim Majlis-e-Mushawarat (AIMM), kepada OnIslam.net.

“Sulit untuk memahami dan merasionalkan mengapa golongan kelas penguasa India, yang mencakup atas Kongres dan BJP, sangat tertarik untuk memberikan perlindungan bagi seseorang yang menjadi buronan hukum di negaranya sendiri,” tambahnya.

Khan adalah salah satu dari Muslim India yang marah dan menolak keputusan terbaru pemerintah itu untuk memberikan Nasrin izin tinggal dalam jangka waktu yang lama.

Nasrin, seorang dokter yang kemudian menjadi penulis, melarikan diri dari Bangladesh pada 1994 setelah novelnya “Lajja” dilarang beredar karena tuduhan menyerukan perubahan pada Al-Qur’an.

Setelah menghabiskan 11 tahun di Eropa dan AS, Nasrin mencari perlindungan ke India pada 2004. Dia tinggal di Kolkata pada 2005, sebuah lingkungan yang penduduknya berasal dari etnis Bengali.

Namun setelah beberapa koran berbahasa India dan Urdu pada 2007 menerbitkan terjemahan bagian otobiografi Nasrin yang kontroversi berjudul “Dwikahandito”, yang mana dikatakan memfitnah karakter Nabi Muhammad (shalallahu ‘alayhi wa sallam), Muslim India mulai bangkit menentangnya.

Pemberian visa Nasrin telah menjadi perdebatan sengit di India, kemarahan umat Islam kian menjadi setelah mengeti dalam negeri India Rajnath Singh berjanji akan memberikan Nasrin izin tinggal selama 50 tahun.

“Saya merasa ada yang aneh bahwa kelas penguasa yang sama, yang bersemangat menawarkan perlindungan bagi orang asing, tidak peduli untuk melindungi salah satu seniman terbesar, MF Husain, yang dipaksa untuk hidup di pengasingan oleh para preman Hindutva dan telah meninggal dunia di negeri yang asing,” kata Khan. (siraaj/arrahmah.com) SiraajAhad, 22 Syawwal 1435 H / 17 Agustus 2014 21:36

(nahimunkar.com)

(Dibaca 580 kali, 1 untuk hari ini)