Seorang penyair dari komunitas Salihara, Sitok Srengenge, terjerat kasus perkosaan. Mahasiswi Universitas Indonesia (UI), sebagai korbannya. Sontak, jagat sastra dibuat kaget. Penyair yang seharusnya menjaga sopan satun dan adat, ternyata menjadi sosok yang tak beradab. Publikpun marah. Lontaran-lontaran kekesalan publik membuncah di berbagai sosial media, khususnya twitter. Tak terelakkan juga, Teater Salihara, rumah seni dan sastra tempat sang penyair bekerja dan beraktivitas dinilai sebagai “Rumah Mesum”, sebuah olok-olok pedas untuk komunitas itu.

Sementara, Tempo. Koran yang dekat dengan sang penyair, mencoba membela habis-habisan. Menyiarkan berita dengan judul “Sitok Dituduh Hamili Mahasiswi, Istri Tetap Setia” (30/11). Dalam berita itu dikutip penyataan istrinya “Sebagai istri yang mencintai dia, saya akan terus ada di sampingnya,”. Juga pernyataan Sitok yang mengklarifikasi kabar bahwa dia tidak memerkosa tapi dilakukan atas dasar suka sama suka. Dalam berita itu tak ada kata “Memerkosa” yang ada “Perbuatan tidak menyenangkan”.

Tentu saja, usaha demikian, tanpa dibantu teori dan analisis media sekalipun publik sudah tahu ke mana arah beritanya. Tempo, mencoba untuk memutar isu, mengalihkan pembicaraan dari kasus perkosaan menjadi kesetiaan seorang istri, juga mencoba mengaburkan kasus, bukan perkosaan, tetapi hubungan wajar suka sama suka yang tak perlu terlalu dipermasalahkan, apalagi dihubungkan dengan Salihara, tempatnya bekerja.

Upaya pembelaan ala Tempo tak berjalan mulus. BEM FIB UI mengeluarkan pernyataan sikap yang menyatakan bahwa Sitok Srengenge telah melakukan pemerkosaan dengan intimidasi mental. Teror dimulai dengan meraba tubuh korban pada perempuan lugu dan belum pernah pacaran tersebut. Pertemuan lanjutan, dengan bujuk rayu, akhrnya perkosaan terjadi. Ketika usia kehamilan 4 bulan korban coba menghubungi Sitok tapi sulit, yang menjadikan korban melakukan beberapa kali percobaan bunuh diri.

BEM FIB UI menilai perbuatan pidana asusila serta sikap tidak bertanggungjawab yang dilakukan oleh Sitok karena melukai moral, hak perempuan, masyarakat seni budaya, dan integritas pelaku sebagai seorang seniman yang sejatinya menjadi teladan dan paham akan budaya Indonesia. BEM FIB UI mendukung segala bentuk perlawanan yang dilakukan oleh korban sebagai gerakan moral penyadaran agar tidak ada lagi korban dari kasus serupa di kemudian hari.

Jadi, apa yang dilakukan Tempo, atau pembela-pembela kebobrokan laku yang dilakukan aktivis Salihara adalah sebuah pengkhianatan dan kemunafikan sekaligus. Fakta harus berbicara, dan kebobrokan pemikiran, sikap, mental serta laku orang-orang Salihara harus dikupas habis agar publik tak tertipu nama besar “Rumah Budaya Salihara” yang sejatinya justru “Mengangkangi Peradaban”.  (Yons Achmad/Wasathon.com)  Ditulis : Yons Achmad,  01 Desember 2013 | 11:57

http://wasathon.com/humaniora/view/2013/12/01/penyair-salihara-tempo-dan-pembela-kasus-perkosaan

(nahimunkar.com)

(Dibaca 936 kali, 1 untuk hari ini)