بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Ibadah haji adalah ibadah yang sangat tinggi nilainya dalam Islam. Bahkan termasuk dalam rukun Islam yang lima, wajib dllaksanakan bagi yang mampu dan ada jalannya. Sedang bagi Muslimah, ibadah haji itu merupakan jihadnya wanita Muslimah. Sehingga muslimin dan muslimat yang berhaji itu dipanggil dengan sebutan yang mulia yakni tamu-tamu Allah, dhuyufur Rahman.

Di dalam Islam, memuliakan tamu adalah erat kaitannya dengan keimanan. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sabdakan: “Siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia memuliakan tamunya. “  Apalagi dalam hal ini yang kita bicarakan adalah tamu-tamu Allah yaitu jamaah haji.

Tahun 2012/ 1443H ini khabarnya Indonesia tidak mendapatkan tambahan quota, yang dipatok setiap seribu orang penduduk diperkenankan satu orang untuk berhaji. Tahun-tahun kemarin  khabarnya Indonesia masih mendapatkan tambahan quota. Itupun calon jamaah haji yang menunggu antrian, sudah mendaftar dan setor uang namun harus mengantri sangat banyak. Hingga khabarnya sampai harus menunggu bertahun-tahun.

Di saat jatah tidak ditambah, sedang yang mengantri untuk berangkat haji makin banyak, tahu-tahu apa yang disebut rombongan Amirul Haj mencapai 11-an orang. Padahal penyelenggaraan haji yang dulu-dulu, lebih-lebih di zaman Presiden Soeharto dan jumlah jamaah haji belum sampai mencapi batas quota, yang namanya Amirul Haj itu ya hanya dengan wakilnya. Dua orang cukup. Padahal di belakang itu tidak ada yang lagi mengantri. Lha sekarang, kenapa harus sampai 11-an  orang?

Pertanyaannya, apakah itu tidak “memakai” jatah yang seharusnya digunakan oleh yang sedang antri untuk berangkat haji? Kalau itu misalnya jatah lain, bukankah dapat dihadiahkan kepada mereka yang sedang mengantri, sehingga orang tua renta ataupun nenek-nenek yang sudah sangat kangen untuk mencium Hajar Aswad di Tanah Suci  Makkah dapat merasakan ni’matnya beribadah di sana?

Betapa mulianya seandainya 11 jatah itu diberikan kepada mereka yang sudah sangat merindukan Ka’bah itu. Namun apa hendak dikata. Tetesan air mata orang-orang tua renta yang sedang mengantri itu belum tentu terpikirkan oleh yang punya kebijakan. Maka terjadilah apa yang terjadi. Keputusan pun dibuatnya.

Yang lebih menyakitkan hati lagi, kenapa di antara yang 11 orang yang diangkat jadi anggota Amirul Haj itu adalah pentolan aliran sesat LDII, Prof. Drs.  Ir.Abdullah Syam Msc, yang jelas-jelas  terbukti masih merupakan keyakinan aliran sesat Islam Jamaah yang telah dilarang oleh Jaksa Agung tahun 1971. Pentolan aliran sesat itupun keyakinannya adalah menganggap ibadah selain golongannya itu walau sesuai qur’an dan hadits namun tetap tidak sah, dan akan masuk neraka. Hal tu sebagaimana dibuktikan oleh FRIH (Forum Ruju’ ilal Haq) bersama para tokoh dalam pernyataan penolakan mereka terhadap diangkatnya pentolan aliran sesat LDII itu sebagai anggota Amirul Haj 1433H/ 2012. Di antaranya ditulis sebagai berikuut:

       Bapak Abdullah Syam adalah warga IJ (Islam Jamaah) yang masih menggandrungi ajaran H. Nurhasan contohnya pada acara CAI 2011 ( Cinta Alam Indonesia , organisasi generasi penerus IJ ) di Wonosalam Jombang  Jatim, beliau mengatakan di depan peserta CAI diantaranya seperti ini  : ” memperkuat ijtihad nasehat bapak imam kita, ….mengepolkan ajaran  qu’ran hadits jamaah yang dibawa H. Nurhasan Al Ubaidah , beruntung jadi jamaah karena ibadahnya pasti diterima kalau salah diampuni. Sedangkan orang luar IJ walaupun ibadahnya sudah benar  secara teori parktek sesuai qur’an hadits tapi tidak berjamaah ( menjadi jamaah IJ ) maka ibadahnya tidak diterima dan matinya masuk neraka ….” (nahimunkar.com, Pernyataan Sikap FRIH dan Sejumlah Tokoh Mengenai Masalah Ketua Umum LDII Diangkat Jadi Anggota Amirul Haj 1433H/ 2012, https://www.nahimunkar.org/17461/pernyataan-sikap-frih-dan-sejumlah-tokoh-mengenai-masalah-ketua-umum-ldii-diangkat-ja).

Manusia bisa salah dan lupa. Kebijakan pun demikian pula. Namun manusia juga bisa sengaja menyakiti dan mendhalimi. Bahkan mumpung kuasa pun bisa menggunakan aji mumpung. Alangkah lebih sakitnya lagi bila persoalan ini masih ditambah pula dengan sikap yang disengaja demikian. Semoga saja tidak.

Bagi orang yang masih beriman, tentu sangat hati-hati bila mengambil kebijakan untuk masyarakat. Apalagi mengenai ibadah, mengenai hak orang, mengenai haq dan batil, kebenaran dan kesesatan; maka perlu sangat waspada dan hati-hati. Bila tidak, maka akan jatuh kepada pembelaan terhadap kebatilan dan pelaksanaan kedhaliman. Yang hal itu apalagi menyangkut ibadah haji, maka kemarahan manusia dan murka Allah Ta’ala pun sudah jelas tersedia.

Dalam hal kedhaliman, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah want-wanti:

وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللهِ حِجَابٌ.

“…dan takutlah kepada do’anya orang yang teraniaya, sesungguhnya antara do’a mereka dengan Allah tidak ada penghalang.’ (hadits Muttafaq ‘alaih)

Dalam pelaksanaan, kalau kita baca di antara penguasa yang shaleh zaman dulu, ketika dia membagikan minyak wangi kepada masyarakat saja tidak berani mengoles-oleskan tangannya ke bajunya, karena takut mendhalimi hak masyarakat.

Berkaca pada hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu, maka sekiranya 11 orang yang diangkat sebagai anggota Amirul Haj itu menggunakan hak Ummat Islam yang antri, maka selayaknya dibatalkan semua. Dan diberikan kepada yang lebih berhak.

Paling kurang adalah membatalkan pentolan aliran sesat LDII itu dari diangkatnya sebagai anggota Amiru Haj.

Jalan keluar sebenarnya masih terbuka luas. Entah kesombongan, keangkuhan dan penolakan terhadap kebenaran akan bersemayam di hati atau dapat dicairkan dan dibuang jauh-jauh.

Seandainya tetap mengikuti kesombongan, keangkuhan dan aji mumpung, maka hanya ada ucapan merintih sambil meneteskan air mata: “penyelenggara Haji, jangan sakiti kami…”

Selanjutnya, doa tamu-tamu Allah dan Ummat Islam yang didhalimi, jelas telah dijanjikan untuk dikabulkan, tanpa ada penghalangnya antara yang didhalimi dengan Allah Yang Maha dahsyat siksanya.

Ilustrasi thawaf di Ka’bah/ bb.webpusat.com

(nahimunkar.com)

(Dibaca 332 kali, 1 untuk hari ini)