Ilustrasi : abana online


Oleh : Dr. Slamet Muliono (Dosen UIN Sunan Ampel dan Direktur PUSKIP/Pusat Kajian Islam & Pendidikan)

Tidak bisa dipungkiri bahwa perang Mu’tah tercatat sebagai tinta sejarah sebagai perang yang membelalakkan dunia. Perang ini layak disebut sebagai peperangan yang tidak akan terjadi lagi, karena dalam peperangan itu pasukan kaum muslimin, dengan jumlah yang sedikit berhadapan dengan sekutu Romawi yang berjumlah hampir 70 kali lipat. Dalam peperangan itu kaum muslimin bukan hanya berhasil melawan kekuatan besar sebuah negara adidaya, tetapi  berhasil mengecilkan nyali musuh-musuh Islam. Betapa tidak, waktu itu bangsa Arab dikenal sebagai bangsa yang tak memiliki harga diri di mata bangsa Romawi. Namun kali ini, dengan keberanian dan keperkasaannya melawan imperium Romawi. Implikasi dari perang Mu’tah itu, kaum muslimin naik pamornya, dan semakin diperhitungkan kekuatannya karena berani melawan kekuatan yang selama ini mencengkeramnya.

Hudaibiyah : Gerakan Dakwah

Perang Mu’tah tidak bisa dilepaskan dengan efek positif dari perjanjian Hudaibiyah. Butir perjanjian Hudaiyah bersepakat tidak saling perang selama 10 tahun antara kaum muslimin dan kafir Quraisy. Kondisi yang aman dimaksimalkan Nabi untuk berdakwah dengan mengirim surat kepada raja-raja untuk mengajak masuk Islam. Dalam kondisi damai itu, jumlah kaum muslimin bertambah, dan Nabi berhasil membereskan duri-duri yang menghalangi dakwah Islam.

Perang Mu’tah dilatarbelakangi oleh terbunuhnya Harits bin Umair Al-Azdi yang mengirim surat dari nabi kepada raja Busyro, Surahbil Al-Ghassanin. Surat Nabi itu  mengajak raja Busyro masuk Islam. Bukannya menerima Islam tetapi justru membunuh utusan itu. Pembunuhan terhadap utusan merupakan ajakan untuk berperang. Nabi kemudian mengirim pasukan dengan menunjuk tiga panglima, yakni Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abi Thalib, dan Abdullah bin Rawahah. Tidak pernah dalam sebuah peperangan hingga nabi menetapkan 3 panglima sekaligus.

Sebelum pasukan pergi berperang, Nabi berpesan kepada pasukan untuk mengerti rambu-rambu dalam perang, di antaranya larangan membunuh anak-anak, perempuan dan laki-laki tua, tidak boleh memotong pepohonan, tidak boleh membunuh orang yang sedang beribadah di dalam gereja, dan larangan untuk merobohkan bangunan. Hal ini sebagai bukti bahwa perang tidak bersifat brutal dan menghalalkan segala cara dengan melakukan pemusnahan dan pembunuhan terhadap lawan.

Dalam peperangan itu kaum  muslimin berjumlah 3.000 orang, sementara pihak lawan berjumlah 200.000 pasukan. Romawi mengirim 100.000 pasukan dan ditambah lagi oleh bantuan dari suku-suku sekutu Romawi sebanyak 100.000. Sehingga total pasukan Romawi dengan kekuatan lengkap, seperti pedang, baju besi, tameng berhadapan dengan kaum muslimin yang hanya berjumlah 3.000 dengan peralatan sederhana.

Ketika melihat kekuatan musuh yang demikian besar, sebagian pasukan mengusulkan untuk meminta bantuan Nabi agar mengirim bala bantuan. Tetapi Abdullah bin Rawahah berhasil meyakinkan pasukannya bahwa tidak perlu meminta bantuan untuk siap mati syahid dan menang menjadi mulia. Peperangan berlangsung sengit dimana pasukan kaum muslimin maju dipimpin oleh Zaid bin Haritsah. Zaid bin Haritsah berperang dan maju dengan gagah berani sehingga menembus pasukan musuh dan berhasil membunuh lawan. Namun dia harus mati syahid karena jumlah musuh yang amat besar.

Terbunuhnya Zaid diambil alih benderanya oleh Ja’far bin Abdul Muthalib. Ja’far berperang seperti burung elang dan berhasil masuk dan membunuh pasukan lawan. Kekuatan lawan yang demikian besar berhasil mematahkan perlawanan Ja’far, sehingga dia terbunuh syahid. Abdullah bin bin umar menceritakan bahwa Ja’far terbunuh dengan 90 tusukan. Semua tusukan menembus bagian depan fisiknya. Hal ini menunjukkan kepahlawanan Ja’far yang berani berhadapan dengan lawan. Terbunuhnya Ja’far diawali dengan terputusnya lengan kanannya. Kemudian bendera dipegang dengan tangan kirinya, namun tangan kirinya berhasil ditebas lawannya hingga putus, sehingga benderanya didekapnya. Namun akhirnya musuh berhasil mengakhiri hidup Ja’far. Setelah terbunuhnya Ja’far, bendera dipegang oleh Abdullah bin Rawahah. Abdullah bin Rawahah mengadakan perlawanan yang demikian gigih dan maksimal hingga dia terbunuh secara syahid.

Terbunuhnya Abdullah bin Rawahah membuat Khalid bin Walid mengambil alih bendera itu. Khalid berperang dengan taktik yang jitu berhasil mengadakan perlawanan, hingga 9 pedangnya patah dan rusak. Perlawanan Khalid demikian luar biasa, hingga dia berhasil menyisihkan pasukannya dan berhasil mundur sehingga meminimalisir jumlah korban. Korban di kalangan kaum muslimin hanya 14 tetapi pasukan musuh banyak terbunuh.

Ketika di Madinah, nabi menceritakan kejadian perang Mu’tah itu secara detail, mulai dari kepemimpinan Zaid bin Haritsah yang gagah berani hingga terbunuh, hingga beralih bendera ke tangan Ja’far sampai terbunuhnya Abdullah bin Rawahah dan beralihnya ke tangan Khalid.

Perang Mu’tah dan Jatuhnya Mental Musuh

Berakhirnya perang Mu’tah membuat nama Islam dan bangsa Arab menjadi terangkat. Pamor Islam menjadi terangkat dan ditakuti oleh lawan. Hal ini terbukti ketika pasca perang banyak suku-suku yang berbondong-bondong masuk Islam. Mereka demikian kagum dengan kekuatan dan keberanian umat Islam. Betapa tidak, Romawi saja dilawan dan berhasil melakukan perlawanan demikian gigih. Berarti kekuatan Islam perlu diperhitungkan dan hal ini menarik hati sebagian dari mereka untuk memeluk Islam.

Keberanian dan kepahlawanan para sahabat dalam perang Mu’tah benar-benar membuat kafir Quraisy heran dan seperti tak percaya. Hal ini karena, di samping jumlah kaum muslimin yang masih sedikit, dan Quraisy mengetahui betul kekuatan kaum muslimin, tetapi Romawi berani dilawannya.

Kekuatan kaum muslimin yang demikian kokoh inilah yang mendorong tersebarnya Islam ke seluruh dunia. Perang Mu’tah benar-benar memberi modal dan spirit umat Islam untuk menjadi bangsa yang besar dan berpengaruh di dunia. Kekuatan Islam itu semakin dianggap besar dan sangat diperhitungkan oleh musuh, ketika wafat mengutus Usamah untuk berangkat melawan Romawi.

Surabaya, 20 September 2018

(nahimunkar.org)

(Dibaca 5.708 kali, 1 untuk hari ini)