Oleh Muhammad Faisal, SPd, M.MPd.

Saat ini dunia dilanda berbagai krisis, diantaranya adalah krisis moral dan krisis keyakinan. Ditambah lagi dengan maraknya Kristenisasi atau gerakan Pemurtadan di setiap lapisan masyarakat dengan selalu menggunakan berbagai cara agar orang yang diinginkan bisa murtad atau paling tidak keyakinannya goyah.
Ironisnya ummat Islam tidak sadar akan hal itu, dan mereka pun telah buta dengan janji (iming-iming) yang muluk-muluk.
Bila sudah murtad, maka mereka merasa benar dan yakin dengan agama baru mereka (Kristen).
Padahal agama selain Islam adalah sesat atau menyesatkan ataupun tidak pernah diajarkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu’ Alaihi wa Sallam.
Tentang kebenaran Islam dan sesatnya ajaran lain terdapat dalam firman Alloh Azza wa Jalla yang berbunyi: “ Sesungguhnya Agama yang diridhoi Alloh hanyalah Islam.” (QS. Ali-Imran: 19).
Lalu bagaimanakah langkah kita agar tidak menjadi sasaran Kristenisasi?
Maka yang harus dilakukan adalah:
1. Banyak mohon petunjuk Alloh, yaitu dengan cara memperbanyak ibadah dan berdo’a kepada-Nya. (Mereka berdo’a): “ Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia) “. (QS. Ali-Imran: 8).
2. Mempertebal keimanan dan keyakinan kita kepada Alloh yaitu dengan menambah pengetahuan kita tentang dienulloh (agama Allah Ta’ala), baik lewat membaca, mengaji maupun sekolah/kampus.
3. Mendekatkan diri kepada Alloh dan yakin kepada-Nya yaitu ajaran Islam (dienulloh) yang dibawa Muhammad Shallallahu’ Alaihi wa Sallam.
Kemudian karena lemahnya iman seseorang maka dengan mudah
Kristenisasi/Pemurtadan berjalan lancar, lalu bagaimana cara kita memerangi Kristenisasi? Kristenisasi dapat diperangi dengan cara berikut:
1. Merapatkan ukhuwah di antara ummat Islam. Kita sebagai ummat Islam harus memperkuat tali ukhuwah kita. Sebab jika ukhuwah kita terpecah-belah maka dengan mudah Kristenisasi masuk lewat celah tersebut. Saat ini ukhuwah kita masih kurang, karena mereka kurang sadar akan hadist Rasul yang isinya kurang lebih. “Muslim yang satu dengan yang lainnya bagaikan satu bangunan yang kuat dan kokoh “. (HR. Ahmad dan Tirmidzi dengan Isnad/Sanad Jayyid/baik).
2. Pembinaan mental spiritual di lingkungan masyarakat luas. Hal ini perlu diterapkan di setiap tempat dan waktu, sebab ini sangat penting untuk menghidari Kristenisasi.
3. Memperbanyak kegiatan atau pengajian-pengajian tentang bimbingan Tauhid.
4. Menanamkan Aqidah Islamiyyah kepada masyarakat luas khususnya yang Muslim dan Muslimah.
5. Dengan mengkaji isi Al-Qur’an dan Hadits dengan betul-betul sebab biasanya Kristenisasi berlangsung dengan cara memutar balikkan makna, pengertian atau isi dari ayat Al-Qur’an maupun Hadits.
Sekian, Semoga Himbauan/Peringatan ini dapat bermanfaat bagi Umat Islam dimanapun, Semoga Alloh meridhoi setiap langkah kita, Amien Ya Mujibas Saliem, Mari kita berlomba-lomba dalam kebajikan.

Catatan Tambahan

Hukum Menyekolahkan Anak ke Sekolah Kristen/Katolik

Soal : Assalamu’alaikum wr wb. Sekarang ini saya akan menyekolahkan anak-anak saya untuk tahun ajaran baru. Ada yang baru mau dimasukkan ke SLTP dan ada yang akan ke SMA (kini SMU). Saya merasa terpengaruh ungkapan teman, katanya anak-anaknya bisa pandai karena disekolahkan ke sekolah Kristen atau Katolik. Katanya, sekarang anak-anaknya disiplin dan pandai. Sedang setiap harinya juga masih mau shalat, hanya saja mesti selalu diingatkan. Padahal dulunya anak-anaknya itu rajin shalat dan mengaji, sekarang sudah jarang mengaji, dengan alasan banyak kesibukan sekolah. Tetapi, orang tua itu berkilah, walau demikian, ia upayakan dengan diadakan les privat agama Islam. Satu segi saya tertarik akan kedisiplinan dan kepandaian anak teman itu. Hanya saja saya khawatir, jangan-jangan nanti anak saya kalau saya sekolahkan ke sekolah non Islam seperti dia, akibatnya tidak taat agama (Islam) atau bahkan ganti agama. Bagaimana sebenarnya menurut Islam. Atas jawabannya saya sampaikan terimakasih. Wassalam.
Jawab: Wa‘alaikumussalam wr wb. Perlu diketahui, sekolah-sekolah Kristen atau Katolik diakui oleh pihak Departemen Pendidikan Nasional, sering tidak jujur dan mengkilahi Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional. Seperti yang pernah diungkapkan kepada para utusan KISDI (Komite Indonesia untuk Solidaritas Dunia Islam) April 1998 ketika mempersoalkan masalah “kecurangan mereka itu” kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Wiranto Arismunandar. Dijelaskan bahwa sekolah-sekolah Kristen sering menyodorkan blangko kepada wali murid untuk diisi bahwa wali murid merelakan anaknya disekolahkan di sekolah Kristen atau Katolik tanpa diberi pelajaran agama yang dipeluk si anak. Jadi anak-anak Muslim sama dengan “dipaksa” untuk membuat perjanjian rela tidak dididik pelajaran Agama Islam. Dengan demikian, pelajaran agama yang disampaikan pada murid hanya agama Kristen atau Katolik, sekalipun muridnya Muslim. Di samping pelajaran agama Kristen/Katolik itu disampaikan secara lisan, tidak mustahil diadakan praktek agama itu pula. Maka murtad lah si murid yang Muslim itu dari agamanya, Islam. Ketika ia mempraktekkan ibadah Kristen atau Katolik itu berarti ia sudah murtad secara perbuatan (fi’li), karena walau keadaannya karena terpaksa namun sebelumnya dia sudah ada perjanjian untuk patuh dan rela. Sedang kalau praktek ibadah itu diyakini kebenarannya pula maka sudah masuk ke murtad I’tiqadi (keyakinan) yaitu sebenarnya murtad. Dari kenyataan kasus ketidak jujuran yang telah diakui oleh pihak pemerintah seperti tersebut di atas, maka menyekolahkan anak Muslim ke sekolah Kristen atau Katolik hukumnya haram. Karena akan menjerumuskan anak untuk menjadi murtad. Sedang murtad itu justru lebih buruk dibanding kafir biasa.
Alloh Subhanahu wa Ta’ala mewajibkan umat Islam untuk menjaga diri dan keluarganya dari api neraka.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ(6).

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Alloh terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS At-Tahriim/ 66:6).

Di samping kenyataan tidak jujur alias curang seperti tersebut di atas, ada watak dasar dalam hati mereka yang sudah dijelaskan Alloh dalam Al-Quran, hingga kita perlu berhati-hati, karena memang mereka tetap akan berusaha memurtadkan kita dan keluarga/ anak-anak kita.

Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ(120).

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Alloh itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Alloh tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (QS Al-Baqarah/ 2:120).
Mengenai keinginan agar anak jadi disiplin dan pintar dengan disekolahkan ke sekolah Kristen atau Katolik, itu perlu diluruskan. Apakah tidak ada sekolah lain terutama sekolah Islam yang mendidik disiplin dan menjadikan pintar murid-muridnya? Kalau jarang adanya, maka justru menjadi kewajiban umat Islam untuk mengadakannya, di antaranya dengan memasukkan anak-anak Muslim ke sekolah Islam, hingga sekolahnya subur, dana menjadi cukup, gurunya terjamin, hingga akhirnya maju dengan baik. Sebaliknya, kalau anak-anak Muslim justru disekolahkan ke sekolah Kristen atau Katolik maka berarti Muslimin itu menyuburkan sekolah-sekolah yang justru memurtadkan anak-anak Muslim.

Jadi sama dengan mendanai pemurtadan. Seandainya sama sekali tidak ada sekolah selain Kristen dan Katolik yang bisa diharapkan mendidik anak-anak menjadi disiplin dan pintar pun masih tidak diperkenankan memilih ke sekolah yang memurtadkan itu. Karena, nilai kedisiplinan dan kepintaran itu menurut Islam hanya keduniaan yang nilainya kecil sekali dibanding akherat. Hingga orang yang lebih memilih dunia ketimbang akherat itu termasuk orang yang celaka.

فَأَمَّا مَنْ طَغَى(37). وَءَاثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا(38). فَإِنَّ الْجَحِيمَ هِيَ الْمَأْوَى 39

Adapun orang yang melampaui batas dan lebih mengutamakan kehidupan dunia maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggalnya. (QS An-Naazi’aat/ 79: 37-39).
Oleh karena itu di dalam kaidah ushul fiqh ditegaskan:

دَرْءُ الْمَفَاسِدِ مُقَدَّمٌ عَلَى جَلْبِ الْمَصَالِحِ

Dar’ul mafaasidi muqoddamun ‘alaa jalbil mashoolihi. (Menolak mafsadat/ kerusakan lebih didahulukan daripada menarik kemaslahatan/ kebaikan). Kerusakan yang paling fatal adalah kerusakan di akherat yaitu masuk neraka, maka jauh lebih harus dicegah. Sedang kerusakan di dunia saja harus dicegah, apalagi kerusakan di akherat.
Kesimpulan:
1. Menyekolahkan anak Muslim ke sekolah Kristen atau Katolik hukumnya haram berdasarkan ayat-ayat Al-Quran.
2. Menyekolahkan anak ke sekolah Kristen atau Katolik akan menyuburkan pemurtadan.
3 Menyekolahkan anak Muslim ke sekolah Kristen atau Katolik akan memiskinkan lembaga-lembaga pendidikan Islam dan memundurkannya.
4. Menyekolahkan anak Muslim ke sekolah Kristen atau Katolik akan mewariskan generasi murtad.
Wallahu a’lam.
(Fatwa haramnya menyekolahkan anak ke sekolah Kristen/ Katolik telah dikeluarkan oleh BKSPP (Badan Kerjasama Pondok Pesantren), Januari 1994, para ulama di Kudus Jawa Tengah, dan rekomendasi rapat kerja nasional (Rakernas) Majelis Ulama Indonesia (MUI) 24-26 November 1992. Lihat buku Bila Hak Muslimin Dirampas oleh H. Hartono Ahmad Jaiz, 1994, hal 42-47). (Sumber Pengasuh/Media Dakwah, Juni 1998).

Sekali lagi Tambahan

Hukum Berinteraksi (muamalah/bergaul) Dengan Orang Kafir

Syari’at Islam dengan kesempurnaannya telah menjelaskan tentang hukum bermuamalah/bergaul terhadap orang kafir dan batasan-batasannya.
Al-Allamah Syaikhuna ‘Abdul ‘Aziz bin Abdullah Ibnu Baz Rahimahullah (Syaikh Bin Baz)/Mantan Ketua Mufti Komisi Tetap Riset dan Fatwa-Al-Lajnah Da’imah Lil Buhust Al-Ilmiyyah wal Ifta’ di Indonesia setara MUI serta Mantan Ketua Ha’iah Kibarul Ulama/Ulama Besar Saudi Arabia menjelaskan bahwa setiap muslim wajib berlepas diri dari orang-orang musyrik (kafir) dan menampakkan kebencian kepada mereka karena Alloh Ta’ala. Namun, ia tidak boleh menyakiti, mencelakai, dan berbuat semena-mena terhadap mereka dengan cara yang tidak benar, khususnya dari jenis yang tidak memerangi kita (bukan kafir harbi). Meski demikian, tetap tidak boleh menjadikan mereka sebagai kawan dekat ataupun sebagai saudara. (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 6/420)
Di sisi lain (beliau) Bin Baz Rahimahullah juga mengingatkan bahwa setiap muslim wajib menampakkan sikap bara’ dari orang-orang musyrik (kafir) dan membencinya karena Alloh Ta’ala, namun tidak bolah menyakiti dan mencelakainya. Tidak boleh pula melampaui batas terhadapnya dengan cara yang tidak benar. Meski begitu, tetap tidak boleh menjadikan mereka sebagai teman dekat. Jika kebentulan bersama-sama mereka menyantap sebuah makanan tanpa adanya kedekatan, kecintaan, dan pembelaan, hal tersebut tidaklah mengapa. (Wajadilhum Billati Hiya Ahsan, hlm. 93-94)
Adapun berinteraksi/bergaul dengan orang kafir merupakan permasalahan tersendiri dalam Islam yang tidak ada kaitannya dengan kecintaan dan sikap setia kepada mereka. Namun, secara hukum asal berinteraksi dengan orang kafir karena suatu kebutuhan diperbolehkan dalam Islam tentunya dengan batasan-batasannya. Juga, lebih dari itu tidak ada dasar pengharamannya dari al-Qur’an dan as-Sunnah.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah menjelaskan bahwa secara hukum asal tidak diharamkan bagi semua manusia untuk melakukan interaksi/bergaul yang dibutuhkannya, melainkan jika ada dasar pengaramannya dari al-Qur’an dan as-Sunnah. (As-Siyasah asy-Syar’iyah, hlm. 155)
Maka dari itu, Alloh Ta’ala tidak melarang kaum muslimin untuk berbuat baik dan berlaku adil kepada orang kafir yang tidak menyakiti dan memerangi kaum muslimin. Alloh Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: ”Alloh tidak melarang kalian untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangi kalian karena agama dan tidak (pula) mengusir kalian dari negeri kalian. Sesungguhnya Alloh menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Al-Mumtahanah:8)
Al-Allamah Syaikhuna Prof. Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdullah al-Fauzan hafizhahullah (Penulis Kitab Al-Mulakhshash Al Fiqhiy/Anggota Komisi Tetap Riset dan Fatwa-Al-Lajnah Da’imah Lil Buhust Al-Ilmiyyah wal Ifta’ di Indonesia setara MUI, Anggota Ha’iah Kibarul Ulama Saudi Arabia, Pakar Fiqih dan Dunia KeIslaman) berkata: ”Maksud dari ayat ini adalah bahwa orang kafir yang tidak menyakiti kaum muslimin, tidak memerangi mereka dan tidak pula mengusir mereka dari negeri-negeri mereka, tidak mengapa bagi kaum muslimin membalas kebaikan tersebut dan berlaku adil dalam urusan duniawi, namun tidak mencintainya dalam hati. Karena yang disebutkan Alloh dalam firman-Nya adalah ”Untuk berbuat baik dan berlaku adil kepada mereka” bukan ”Bersikap setia dan mencintai mereka”. Maka dari itu, berinteraksi dan membalas kebaikan duniawi berbeda dengan kecintaan karena berinteraksi dan berbuat baik dapat menyebabkan ketertarikan kepada Islam, dan ini adalah bagian dari dakwah. Berbeda dengan kecintaan dan sikap setia, keduanua sarat akan persetujuan dan keridhaan terhadap orang kafir tersebut, dan ini tidak membuatnya tertarik dengan Islam.” (Al-Wala’ wal Bara’ fil Islam, Syaikh Al-Fauzan)

Dari penjelasan di atas bisa disimpulkan, bahwa bermuamalah dengan orang kafir hanya sebatas kebutuhan dan juga sebatas perkara duniawi, adapun perkara akhirat seperti hari raya agama, peribadatan dan lainnya, maka Islam membatasinya.

Hal yang sama juga dijelaskan oleh al-Allamah Syaikhuna Muhammad bin Shalih Ibnu al-‘Utsaimin Rahimahullah Mantan Anggota Komisi Tetap Riset dan Fatwa-Al-Lajnah Da’imah Lil Buhust Al-‘Ilmiyyah wal Ifta’ di Indonesia setara MUI, Mantan Anggota Ha’iah Kibarul Ulama Saudi Arabia, Pakar Fiqih dan Dunia KeIslaman). Beliau menegaskan bahwa persoalan ini termasuk persoalan yang cukup dalam dan riskan, terutama bagi para pemuda.
Sebagian mereka mengira bahwa segala sesuatu yang ada hubungannya dengan orang-orang kafir, berarti memberikan muwalah (kecintaan) kepada mereka, padahal tidak demikian. (Liqa’ al-Bab al-Maftuh, 3/466).

Wallohu a’lam bish-shawab. Barakallohu’ Fiikum.

Bumi Alloh Ta’ala, September 2014
Alfaqir ilalloh Azza wa Jalla,
Muhammad Faisal, SPd, M.MPd.
Seorang Hamba yang Mengharap Ridho RabbNya

(nahimunkar.com)

(Dibaca 809 kali, 1 untuk hari ini)