.

Setelah memerangi dua Nabi Palsu, kini masyarakat Gunung Bunder Bogor dihadapkan maraknya kemaksiatan di kawasan yang memiliki pemandangan indah itu, maka harus diberantas.
Diadakanlah tabligh akbar. Menariknya, acara tabligh Akbar dikemas dalam bentuk pengajian kitab membahas ayat dan hadits seputar nahi munkar dalam kitab shahih bukhari dan tafsir jalalain. Jamaah yang hadirpun membawa kitab-kitab tersebut layaknya seorang santri sedang belajar di Pesantren.

 

Inilah beritanya.

***

 

Semangat Nahi Munkar Warga Gunung Bunder

Sabtu, 14/12/2013 07:00:53 | syaiful falah

Jamaah Masjid Al-KhaiJamaah masjid al Khaer Gunung Bunder Bogor

Bogor (SI Online) – Setelah memerangi dua nabi Palsu, kini masyarakat gunung Bunder dihadapkan maraknya kemaksiatan di kawasan yang memiliki pemandangan indah itu.

Ahmad Mosadeq, nama yang santer karena mengaku dirinya nabi, status “kenabiannya” ia dapatkan setelah mendapat “wahyu” di Gunung Bunder Kabupaten Bogor sekitar tahun 2000an. Di tempat yang sama, tahun lalu (2012) muncul juga Maulana Malik Ibrahim yang ikut-ikutan menjadi “nabi”, kebetulan dalam kasus ini wartawan Suara Islam bergabung dengan tim APK (Antisipasi Pemurtadan dan Kristenisasi) menangani masalah penodaan agama ini dan kami ungkap di SI Online. Beritanya bisa dilihat di link ini ( http://www.suara-islam.com/read/index/4232/Ssstttt-…Ada-Nabi-Baru-di-Gunung-Malang-Bogor )

Beberapa hari kemudian, salah seorang ustadz di Gunung Bunder menghubungi redaksi SI Online dan mengatakan, “Alhamdulillah setelah diberitakan oleh SI Online, itu si nabi palsu sekarang sudah kabur ketakutan dan dua orang pengikutnya minta dihapus fotonya yang dimuat di SI Online karena sudah menyatakan tobat”.

Kini, setelah dua kasus penodaan agama tersebut selesai, masyarakat Gunung Bunder dihadapkan dengan maraknya kemaksiatan di kawasan yang memiliki pemandangan indah itu. Wargapun bertekad akan menjaga kawasannya dari para pezina dan pemabuk yang sebagian besar dilakukan para wisatawan yang datang ke kawasan tersebut.

Pada Ahad (8/12/2013) lalu, ratusan warga gunung Bunder berkumpul mengikuti tabligh akbar di Masjid al Khaer. Acara yang digagas oleh para pengurus Forum Silaturahmi Umat (Format) dan Badan Koordinasi Pondok Pesantrean Seluruh Indonesia (BKPPSI) Bogor tersebut menghadirkan para kiyai kharismatik di Bogor.

Ketua Panitia Ustaz Kuding mengajak jamaah untuk bersatu dan semangat dalam ber amar makruf nahi munkar. “Kita harus punya nyali agar berani memberantas kemunkaran. Mari satukan niat kita, jangan takut melawan kemunkaran, hidup itu untuk berjuang, kalaupun harus mati insya Allah mati syahid, ” tegas ustaz Kuding.

Senada dengan ustaz Kuding, ketua BKPPSI KH. Bahrudin Subhki  menjelaskan bahwa umat Islam akan menjadi umat terbaik jika melakukan aktivitas amar makruf nahi munkar.

Dengan mudah ia mengibaratkan umat Islam harus seperti ikan di laut. “Ikan dilaut tidak asin, tetapi ikan di mangkuk harus digarami dulu biar asin. Kenapa ikan dilaut tidak asin dalam air yang asin? Karena ikannya hidup. Karena itu umat Islam harus “hidup” agar tidak mudah diasini walaupun berada di laut,” papar Kyai Bahrudin.

Apa yang dikatakan ustaz Kuding dan Kyai Bahrudin Subhki didukung penuh oleh kepala desa gunung Bunder, kepada warganya ia berpesan bahwa pegunungan yang indah ciptaan Allah harus dimanfaatkan dengan kegiatan positif jangan dirusak dengan kemaksiatan.

Selain ketua BKPPSI dan kepala desa gunung Bunder, hadir pula Ustaz Yusuf Supendi, KH. Qodamul Qudus, dan KH Dodong Burhanudin. Menariknya, acara tabligh Akbar dikemas dalam bentuk pengajian kitab membahas ayat dan hadits seputar nahi munkar dalam kitab shahih bukhari dan tafsir jalalain. Jamaah yang hadirpun membawa kitab-kitab tersebut layaknya seorang santri sedang belajar di Pesantren.

red: syaiful/ si online

(nahimunkar.com)

(Dibaca 4.251 kali, 1 untuk hari ini)