Spanduk Perayaan Natal Partai PKB  di Jakarta 2013/ Foto Ling-Ling Lia 4 Desember  2013

 

Bagaimana itu? PKB, Partai yang didirikan oleh para kyai NU kok malah menyelenggarakan ritual kekafiran?
Partai ‘Islam’ ikut ngerayain Natal. Innaa lillaahi wa Innaa ilaihi raaji’uun

 PKB yang dideklarasikan oleh lima Kyai NU (Nahdlatul Ulama) 23 Juli 1998, kini bukan hanya berbasa basi mengucapi selamat natal, namun justru menyelenggarakan perayaan natal.

Spanduk yang terpampang di jalan raya dapat dibaca jelas, perayaan kaum kafir namun diadakan oleh partai PKB yang didirikan oleh para kyai NU itu dilaksanakan di Graha Bethel Jl Ahmad Yani Kav 65 Cempaka Putih (By Pass) Jakarta Pusat, Kamis 05 Des 2013 pukul 18.30. Pembicaranya adalah Pendeta Gilbert Lumoindong, S.Th.

 

PKB dan Lima Kyai NU

PKB2Deklarator Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

5 deklarator PKB: KH.Ilyas ruhyat, KH. Abdurrahman Wahid(Gus Dur), KH. Munasir Ali, KH.Muhith Muzadi dan KH.Musthofa Bisri @LanangSejati9

Dari lima kyai deklarator PKB tampaknya yang masih hidup hanya KH.Mustofa Bisri (Gus Mus, baju hitam) mertua dedengkot liberal Ulil Abshar Abadalla. Sang Kyai yang foto-fotonya mengesankan sebagai perokok berat itu dikenal gigih dalam membela aliran murtad yakni Ahmadiyah. (lihat artikel   Ngawurnya A. Mustofa Bisri dalam Membela Ahmadiyah By nahimunkar.com on 30 April 200 https://www.nahimunkar.org/ngawurnya-a-mustofa-bisri/).

Deklarator lainnya, empat kyai NU sudah meningga semua, yaitu:  KH.Ilyas Ruhyat, KH. Abdurrahman Wahid(Gus Dur), KH. Munasir Ali, KH.Muhith Muzadi (abang Hasyim Muzadi).


Bagaimana itu? Partai yang didirikan para kyai NU kok malah menyelenggarakan ritual kekafiran?

Di dunia ini kita perlu waspada. Belum tentu yang diprakarsai oleh para kyai NU merupakan hal yang sesuai dengan Islam. Makanya Islam tidak menyuruh untuk mengikuti para kyai tetapi agar mengikuti Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala menegaskan:

{قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ (31) قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْكَافِرِينَ } [آل عمران: 31، 32]

31. Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

32. Katakanlah: “Ta’atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir”. (QS Ali ‘Imran/3: 31-32).

Walaupun suatu perkumpulan didirikan oleh para kyai, namun ketika ada kemaksiatan besar seperti kontes missworld justru mereka bela, bahkan sampai menyelenggarakan upacara ritual Kristen segala, maka sudah jelas tidak mengikuti jalan orang mukmin. Bahkan sudah jelas menentang Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam.

وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَآءَتْ مَصِيرًا

Dan barangsiapa menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya. dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali. (Q.S an-Nisaa` : 115).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Sesungguhnya, keduanya itu (yaitu menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Pen.) saling berkaitan. Semua orang yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, berarti dia mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin. Dan semua orang yang mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, berarti dia menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya.” (Majmu’ Fatawa, 7/38).

Disamping itu ada peringatan keras pula dari Rasulullah shallalahu alaihi wa sallam.,

Peringatan keras tentang menjual agama demi meraih sejumput harta dunia

Dalam hadits telah ada peringatan.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا

Bersegeralah melakukan amalan sholih sebelum datang fitnah (musibah) seperti potongan malam yang gelap. Yaitu seseorang pada waktu pagi dalam keadaan beriman dan di sore hari dalam keadaan kafir. Ada pula yang sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari dalam keadaan kafir. Ia menjual agamanya dengan (sejumput) harta dari dunia” (HR. Muslim no. 118).

Setara dengan ucapan selamat kepada yang sujud kepada berhala

Dalam hal mengucapkan selamat berkaitan dengan hari-hari besar orang kafir saja dinilai setara dengan mengucapi selamat kepada orang yang sujud kepada berhala. Apalagi menjadi penyelenggara acara perayaan orang kafir. Ibn al-Qayyim sampai menyatakan bahwa mengucapkan selamat kepada orang-orang Kafir berkenaan dengan perayaan hari-hari besar keagamaan mereka haram dan posisinya demikian (setara dengan ucapannya terhadap perbuatan sujud terhadap Salib bahkan lebih besar dari itu dosanya di sisi Allah. Dan itu lebih amat dimurkai dibanding memberikan selamat atas minum-minum khamar, membunuh jiwa, melakukan perzinaan dan sebagainya), karena hal itu mengandung persetujuan terhadap syi’ar-syi’ar kekufuran yang mereka lakukan dan meridhai hal itu dilakukan mereka sekalipun dirinya sendiri tidak rela terhadap kekufuran itu, akan tetapi adalah HARAM bagi seorang Muslim meridhai syi’ar-syi’ar kekufuran atau mengucapkan selamat kepada orang lain berkenaan dengannya, karena Allah Ta’ala tidak meridhai hal itu,sebagaimana dalam firman-Nya,

إِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنْكُمْ وَلَا يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ وَإِنْ تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْ

“Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu.”[Az-Zumar:7].( Fatwa Syeikh ‘Utsaimin Tentang Hukum Ucapan Happy Christmas [Selamat Natal] By nahimunkar.com on 21 December 2009, https://www.nahimunkar.org/fatwa-syeikh-utsaimin-tentang-hukum-ucapan-happy-christmas-selamat-natal-2/ ).

Bagaimana pula bila mereka itu tercatat sebagai orang-orang yang tergabung dalam penyembahan berhala seperti dalam hadits ini?

وَلاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَلْحَقَ قَبَائِلُ مِنْ أُمَّتِى بِالْمُشْرِكِينَ وَحَتَّى تُعبَد الأَوْثَان

َ“…Kiamat tidak akan terjadi hingga sekelompok kabilah dari umatku mengikuti orang-orang musyrik dan sampai-sampai berhala pun disembah…” (Shahih Ibni Hibban Juz XVI hal. 209 no. 7237 dan hal. 220 no. 7238 Juz XXX no. 7361 hal 6, Syu’aib al-Arnauth berkata, “Sanad-sanadnya shahih sesuai dengan syarat Muslim)

Ancaman bagi orang yang musyrik dan sampai mati belum bertaubat.

Badrul Tamam seorang penulis di laman voaislam.com mengemukakan ayat-ayat.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

 “Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Al-Zumar: 65)

Khitab ayat ini ditujukan kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, hamba pilihan Allah yang paling dicintai oleh-Nya. Jika beliau sampai berbuat syirik, maka tidak ada ampun bagi beliau. Semua amal-amal shalih yang sudah dikerjakannya akan terhapus dan harus merasakan azab dahsyat di akhirat. Lalu bagaimana kalau yang berbuat syirik adalah orang yang derajatnya di bawah beliau?

Tentang haramnya seorang musyrik masuk surga dijelaskan oleh firman Allah,

إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang lalim itu seorang penolong pun.” (QS. Al-Maidah: 72)

Imam Ibnu Katsir berkata dalam menafsirkan ayat, “(maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka), maksudnya: sungguh Allah mengharuskan neraka baginya dan mengharamkan surga atasnya.”

Tentang dalil tidak adanya ampunan untuk orang musyrik di akhirat ditunjukkan firman Allah Ta’ala,

 إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.  Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. Al-Nisa’: 48)

Perlu dipahami, ayat-ayat di atas yang menerangkan ancaman perbuatan syirik berlaku di akhriat. Yakni orang yang bertemu Allah Ta’ala dengan membawa dosa syirik dan belum bertaubat darinya, maka ia tidak akan disucikan, tidak diampuni dosa dan kesalahannya, dan diharamkan atasnya masuk surga sehingga ia kekal di neraka.

Umat Islam perlu waspada, semakin banyak propaganda yang menyeret ke neraka jahannam. Dan itu sudah diingatkan dalam hadits, disebut dengan

 دُعَاةٌ إِلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا

para da’i (penyeru) kepada pintu-pintu neraka jahannam. Maka barangsiapa yang memenuhi panggilan mereka, niscaya mereka akan mencampakkannya ke dalam neraka jahannam itu.” (Hadits Shohiih Riwayat Imam Al Bukhoori no: 3606)

(nahimunkar.com)

(Dibaca 7.042 kali, 1 untuk hari ini)