Ilustrasi/ foto beritalive.com


Tahun baru Imlek bagi Cina sangat kental dengan kepercayaan tentang nasib keberuntungan mereka dikaitkan dengan apa yang mereka sebut shio. Tahun 2019 mereka sebut tahun babi tanah, sedang babi  dianggap simbol atau lambang harta atau kekayaan.

Juga ada pantangan-pantangannya.

Pantangan saat memasuki tahun baru imlek 2019 (tahun babi)

Pada saat perayaan Tahun Baru Imlek, orang-orang China memiliki kepercayaan tentang aktivitas yang dianggap tabu untuk dilakukan. Banyak kata-kata buruk seperti “kematian”, “hancur”, “membunuh”, “hantu” dan “penyakit” atau “sakit” dilarang untuk diucapkan. Menangis, mencuci, meminjam dan minum obat juga dianggap tidak beruntung./ lihat www.wikipedia.web.id

Demikian sekilas tentang tahun baru Imlek dan kepercayaan mereka (orang Cina) terhadapnya.

Pandangan Islam mengenai kepercayaan nasib

Umat Islam telah memiliki pedoman berupa Al-Qur’an dan Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di dalamnya ada larangan paling keras yaitu kemusyrikan, menyekutukan Allah Ta’ala alias membuat tandingan dengan selain-Nya. Hingga dapat mengeluarkan pelakunya dari Islam menjadi kafir-musyrik. Ancamannya sangat keras.

Perlu sekali diyakini bahwa yang menentukan nasib manusia itu hanya Allah Ta’ala, dan itu merupakan hal ghaib. Terhadap hal ghaib ini manusia tidak boleh meyakini kecuali ada landasan dari wahyu Allah, atau Ayat dan hadits. Ketika meyakini selain Allah ada yang menentukan nasib manusia, maka itu telah membuat tandingan terhadap Allah Ta’ala. Demikian pula bila meyakini ada hal2 yang diyakini menentukan nasib manusia (seperti tahun/ waktu diakitkan dengan simbol2 babi dan sebagainya lalu diyakini) tanpa ada keterangan wahyu dari Allah Ta’ala, maka keyakinan itu batil, bahkan termasuk menyekutukan Allah, membuat tandingan untuk Allah. Itulah kemusyrikan, dosa paling besar.

Demikian pula  ketika orang meminta perlindungan (dengan berdoa atau menyembah, atau mengadakan pantangan demi menghamba) kepada selain Allah untuk dientaskan atau dicegah dari nasib sial dan sebagainya, maka berarti orang itu telah membuat tandingan terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala. (Karena yang berhak disembah dan dimintai tolong dengan berdoa padanya serta mampu mengentas nasib dan mencegahnya dari bahaya itu hanya Allah Ta’ala). Itulah kemusyrikan besar (syirik akbar), dosa paling besar yang tidak diampuni oleh Allah Ta’ala bila sampai meninggal tidak bertaubat, dapat mengeluarkan pelakunya dari Islam, segala amal kebaikannya hapus, dan tempatnya di neraka kekal.

Allah Ta’ala berfirman:

وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” [Al-An’am: 88]

Juga firman Allah Ta’ala,

لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ

“Jika kamu mempersekutukan Allah, niscaya akan terhapuslah amalanmu.” [Az-Zumar: 65]

إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang lalim itu seorang penolong pun.” [Al-Maidah: 72]

Selengkapnya dapat dibaca di sini:

https://www.nahimunkar.org/awas-islam-nusantara-mengembalikan-kepada-kemusyrikan-2/

Allah Tidak meridhoi kekufuran – kemusyrikan

Jadi kepercayaan kemusyrikan -karena meyakini nasibnya tergantung tahun dan shio mereka, bukan tergantung Allah Ta’ala, maka mengucapkan selamat untuk tahun baru Imlek mereka, tentu saja sama dengan meridhoi kemusyrikan mereka. Sedangkan Allah Ta’ala jelas tidak ridho kepada kekufuran.

وَلَا يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ

dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya [Az-Zumar:7]

Haram Ucapkan Selamat Berkaitan dengan Hari Raya Kekafiran

Posisinya setara dengan ucapan selamat kepada yang sujud kepada berhala.

Dalam hal mengucapkan selamat berkaitan dengan hari-hari besar orang kafir saja dinilai setara dengan mengucapi selamat kepada orang yang sujud kepada berhala. Apalagi menjadi penyelenggara acara perayaan orang kafir. Ibn al-Qayyim sampai menyatakan bahwa mengucapkan selamat kepada orang-orang Kafir berkenaan dengan perayaan hari-hari besar keagamaan mereka haram dan posisinya demikian (setara dengan ucapannya terhadap perbuatan sujud terhadap Salib bahkan lebih besar dari itu dosanya di sisi Allah. Dan itu lebih amat dimurkai dibanding memberikan selamat atas minum-minum khamar, membunuh jiwa, melakukan perzinaan dan sebagainya), karena hal itu mengandung persetujuan terhadap syi’ar-syi’ar kekufuran yang mereka lakukan dan meridhai hal itu dilakukan mereka sekalipun dirinya sendiri tidak rela terhadap kekufuran itu, akan tetapi adalah HARAM bagi seorang Muslim meridhai syi’ar-syi’ar kekufuran atau mengucapkan selamat kepada orang lain berkenaan dengannya, karena Allah Ta’ala tidak meridhai hal itu,sebagaimana dalam firman-Nya,

إِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنْكُمْ وَلَا يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ وَإِنْ تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْ

“Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu.”[Az-Zumar:7].( Fatwa Syeikh ‘Utsaimin Tentang Hukum Ucapan Happy Christmas [Selamat Natal] By nahimunkar.com on 21 December 2009,

Jangan sampai umat Islam mengabaikan hal yang prinsip ini. Karena akan dapat menggelincirkan ke kepercayaan batil bahkan kemusyrikan yang akan menjerumuskan ke neraka selama-lamanya. Sedang Islam tidak mengenal toleransi dalam hal aqidah keyakinan. Sebab Allah Ta’ala telah menegaskan:

لَكُمۡ دِينُكُمۡ وَلِيَ دِينِ  ٦ [ الـكافرون:6-6]

Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku”. [Al Kafirun:6]

Untuk kalian orang-orang kafir – non Muslim-  agama kalian, dan untukkulah agamaku (Islam).

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ  ١٠٢ [ آل عمران:102-102]

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. [Al ‘Imran:102]

Oleh Hartono Ahmad Jaiz

(nahimunkar.org)

(Dibaca 414 kali, 1 untuk hari ini)