Oleh: Ahsanul Huda

Karena lemahnya Aqidah Islam iyah yang menghujam hati kita,karena sedikitnya ilmu agama kita dan juga kerena pandainya agen-agen syaitan mengemas produk yang mereka tawarkan dan penampilan Islam i yang mereka tampakkan serta maraknya media-media masa yang mengiklankan mereka,maka banyak sekali masyarakat Islam  yang tertipu dan terpedaya. Sihir yang mereka tawarkan dianggap karamah, kesesatan mereka dianggap ketaatan, penyimpangan mereka dianggap wajar dan suatu keharusan, keanehan mereka dianggap suatu keistimewaan.

Dan yang lebih naif lagi, figur yang dinilai wali atau ulama oleh masyarakat malah digeneralisir keberadaan mereka dan mengatakan kepada orang-orang awam bahwa, ”Kita tidak layak untuk menilai mereka atau mengoreksinya, karena maqomnya (levelnya)berbeda, mereka sudah ma’rifat sementara kita masih syari’at. ”Memang kalau kita pribadi tidak layak untuk menilai mereka. Tetapi parameter penilaian disini adalah syari’at Islam .

Dapat dianalogikan syariat adalah mikroskop yang akan menguak virus-virus dan bakteri-bakteri kesesatan mereka (yang mengaku ulama , kiai atau orang yang mengaku punya karamah). Syariat adalah barometer akan seberapa jauh penyimpangan mereka dengan keanehan-keanehan yang mereka miliki. Dan teladan terbaik serta figur hidup yang kita jadikan cermin dalam pengamalan syariat Islam  adalah Rasulullah. Sufyan Ats-Tsauri berkata, ”Tidak dianggap suatu perkataan kecuali bila dibuktikan dengan perbuatan.”

Perkataan dan perbuatan tidak dianggap benar bila tidak dibarengi dengan niat yang benar. Perkataan, perbuatan dan niat tidak bisa dianggap lurus dan benar bila tidak sesuai dengan sunnah Rasulullah.”[1]

Untuk lebih jelasnya, marilah kita simak perbedaan antara karamah dan sihir. Agar kita tidak tertipu oleh syetan dari jin atau syetan dari manusia. Tidak mudah tergoda oleh penampilan dan kemasan. Tidak mudah tergiur oleh gencarnya iklan dan bujuk rayuan. Covernya Islam i tapi isinya syirik. Slogannya rahmani tapi cara dan aktifitasnya syaitani. Diantara perbedaannya adalah sebagai berikut :

a. Karamah dari Allah Sedangkan Sihir dari Syetan

Ketika Nabi Zakaria as. bertanya kepada Maryam tentang makanan yang selalu tersedia di mihrabnya, Maryam menjawab,”Makanan itu dari sisi Allah. ” Sedangkan kita mengetahui bahwa Maryam bukanlah seorang Rasul atau Nabi, sehingga hal yang luar biasa itu kita ketegorikan sebagai mukjizat. Tapi itulah karamah yang diberikan Allah kepada sosok perempuan yang suci, Ibu dari Nabi Isa as.

Kisah serupa namun berbeda pernah dialami oleh al-Hallaj atau al Husein bin Mansur seorang sufi bersama sekelompok pengikutnya,ketika mereka meminta makanan manisan, maka Al-Hallaj bangkit dan pergi kesuatu tempat yang tidak jauh, dan tidak beberapa lama kemudian ia kembali dengan membawa nampan yang penuh manisan. Tetapi akhirnya terkuak bahwa nampan yang penuh manisan itu adalah hasil curian Jin (syetan) dari sebuah warung permen di Yaman. Begitulah cerita sihir yang diklaim pengikut Al-Hallaj sebagai karamah seperti yang diceritakan Ibnu Taimiah dalam Majmu Fatawa dipermulaan jilid 35.

Ibnu Taimiyah menjelaskan, ”Orang-orang sesat lagi bid’ah yakni syeikh-syeikh yang diyakini mencapai tahap makrifat yang memiliki kezuhudan dan ketaatan semu yang menyimpang dari ajaran agama,yang memiliki beberapa kelebihan dan keajaiban, seperti dapat mengabarkan tentang berita-berita ghaib dan lain-lain-mereka itu sering berkunjung ketempat-tempat syaitan. Disana mereka akan ditemui oleh syaitan untuk menyampaikan beberapa hal, sebagaimana ia melakukannya terhadap para tukang sihir. Terkadang juga setan itu menampakkan dirinya kepada para walinya itu dengan menjelmakan dirinya menjadi seseorang,baik orang yang dijelmakannya itu masih hidup atau telah meninggal dunia. Lalu para walinya itu menyangka diri orang itu sesungguhnya.”

Laits bin Sa’ad ra seorang tabi’in, mengatakan:

إِذَا رَأَيْتُمُ الرَّجُلَ يَطِيْرُ فِي الْهَوَاءِ وَيَمْشِيْ عَلَى الْمَاءِ، فَلاَ تَغْتَرُّوْا بِهِ حَتىَّ تُعْرَضُوْا أَمْرَهُ عَلَى الْكِتَابِ وَالسُّنَةِ

 “Jika kalian menyaksiakan seseorang bisa berjalan di atas air, jangan terperdaya dengannya sehingga kalian mencocokkannya dengan al-Qur’an dan as-Sunnah.”

Ketika ucapan ini sampai ke telinga Imam asy-Syafi’i ra, beliau memberikan komentar, “Bukan hanya itu, semoga Allah merahmati beliau, bahkan seandainya kalian bisa melihat seseorang bisa berjalan di atas bara api atau melayang di udara, janganlah terkecoh olehnya, sehingga kalian cocokkan keadaannya dengan al-Qur’an dan as-Sunnah.”

Disebutkan pula bahwa Imam asy-Syafi’i berkata: “Jika kalian melihat seseorang berjalan di atas air dan terbang di udara, tapi dia menyelisihi sunnah, maka ketahuilah kesaktian itu berasal dari syetan.”

Imam Thahawi berkata : “Kita tidak mempercayai (ucapan) dukun maupun peramal, demikian juga setiap orang yang mengakui sesuatu yang menyelisihi Al-Kitab dan As-Sunnah serta Ijma’ kaum muslimin.[2]

b. Karamah tidak terjadi pada diri orang fasik. Sementara sihir, tak akan terjadi kecuali dari orang fasik.

Karenanya Nabi yang ada padanya mu’jizat merupakan sebaik-baik manusia dalam hal pertumbuhanya, kelahiranya, keistimewaanya, akhlaqnya, kejujuranya, tingkah lakunya, amanatnya, karamahnya, dan kesantunanya. Dan jauh dari segala budi pekerti yang rendah, bohong dan penipuan. Sebaliknya tukang sihir bertolak belakang dari sifat-sifat terpuji ini. Tak akan anda temukan di tempat, kecuali ia dibenci, hina dan rendah di kalangan manusia. Sementara kawan-kawan dan pengikutnya adalah orang-orang rusak.

Ibnu Taimiyah berkata; Tukang-tukang sihir, peramal, dukun dan orang-orang yang berpengaruh sungguh sangat menakuti ilmu kezuhudan dan ibadah, namun mereka namun mereka tak beriman kepada risalah yang di bawa para Rasul, dan tidak membenarkan berita yang mereka bawa, dan tidak mentaati apa yang mereka perintahkan.

Ibnu Khaldun mengatakan; Tukang sihir tak akan terjadi padanya kebaikan dan tidak dipergunakan dalam bidang-bidang kebaikan, sementara pemilik karamah, tak terjadi daripadanya keburukan dan tidak di pergunakan dalam lahan-lahan keburukan. Seolah-olah keduanya dalam dua kutub yang berlawanan dalam keaslian fitrahnya. Dan Allah memberi petunjuk pada siapapun yang ia kehendaki dan Dia Maha Kuat lagi Mah Perkasa, yang tiada Rabb selain-Nya.

c. Bahwasanya karamah tidak mungkin bisa dibinasakan, sementara sihir bisa dibinasakan.

Bisa jadi sihir itu dibinasakan oleh tukang sihir sekelasnya atau yang lebih seniaor darinya, ini terjadi dengan peperangan atau perkelahian antara tukang-tukang sihir mereka dan syetan-syetan mereka. Atau bisa juga dibinasakan oleh orang-orang yang bertakwa dan beriman dengan keyakinan yang telah Allah berikan kepad mereka, dan dengan bacaan-bacaan mereka dengan Al-Qur’anul Karim, do’a-do’a dan dzikir-dzikir.

Pernah terjadi suatu kali orang-orang bertakwa mendatangi tukang-tukang sihir, lantas membaca ayat kursi, maka tukang-tukang sihir itu sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa. Pernah sebagian tukang sihir tersebut terbang keangkasa, namun tatkala sebagian orang bertakwa tersebut berdo’a dan berdzikir kepada Allah, maka apa yang dikendarainya jatuh.

Ibnu Khaldun menyebutkan: Bahwasanya bendera Kisra sering di kenal dengan nama Zarkasyan Kaweyan yang terdiri dari 100 lajur dan ditenun dengan Emas dalam backgroun orbit angkasa, sesuai anjuran para normal, tukang-tukang ramal menyakini bahwasanya logo benderanya adalah sumber kemenangan dalam peperangan, dan pasukan yang membawanya sama sekali tidak akan terpukul.

Akan tetapi bendera perng ini ternyata ambruk dalam perang Qadisiyah sebagaimana gugurnya panglima Persia Rustum sedang benderanya robek-robek di comberan. Sihir yang merasuki bendera ini mau melawan kekuatan Ilahi yang terdapat dalam keimanan sahabat Rasulullah saw dan konsistensinya mereka dengan kalimatullah. Maka rontoklah buhul-buhul sihir, dan tidak kuat dihadapan rombongan iman, dan binasalah apa yang mereka lakukan.[3]

d. Karamah Tidak Dapat Dipelajari Sedangkan Sihir Bisa Dipelajari.

Karomah menurut bahasa ialah meliputi segala kemampuan luar biasa. Menurut bahasa lazim di kalangan Imam terdahulu, seperti Imam Ahmad bin Hambal dan lainya mereka menamakannya “Ayat” (tanda kekuasaan Allah I). Akan tetapi di kalangan muta’akhirin membedakan antara keduanya. Mereka menjadikan mu’jizat untuk Nabi sedangkan karomah untuk para wali. Keduanya itu mempunyai kesamaan yaitu kejadian yang luar biasa di lura kebiasaan.[4]

Sedangkan menurut istilah karamah adalah kejadian diluar kebiasaan yang Allah anugerahkan kepada seorang hamba tanpa disertai pengakuan (pemiliknya) sebagai seorang nabi, tidak memiliki pendahuluan tertentu berupa doa, bacaan, ataupun dzikir khusus, yang terjadi pada seorang hamba yang shalih, baik dia mengetahui terjadinya (karamah tersebut) ataupun tidak, dalam rangka mengokohkan hamba tersebut dan agamanya. [5]

Dalam lembaran sirah kehidupan suri tauladan kita Rasulullah, tidaklah kita baca bahwa Rasulullah mempelajari karamah atau mengajarkan pada para sahabatnya ilmu-ilmu kebatinan dan ilmu kesaktian hingga para sahabat menjadi sakti mandraguna hingga mempunyai ilmu kebal, dapat menghilang, dapat terbang dan lain sebagainya hingga ketika berperang melawan orang-orang kafir selalu menang. Karena memang karamah adalah hadiah langsung dari Allah yang diberikan kepada hamba-Nya yang sholih.

Sihir secara bahasa berarti sesuatu yang halus dan lembut sebabnya. Disebut sihir karena ia terjadi dengan perkara yang tersembunyi  yang tidak terjangkau oleh penglihatan manusia. Sedangkan menurut syariat sihir adalah ‘azimah, ruqyah, buhulan (tali), ucapan, obat-obatan dan asap.[6]

Menurut imam Al-Marazi yang dimaksud dengan sihir adalah semua perkara yang terjadi dengan pertolongan jampian-jampian atau dengan perbuatan-perbuatan tertentu sehingga dia mampu melakukan apa saja yang dikehendaki. Dengan demikian kalau ada lembaga atau instansi yang mengajarkan ilmu-ilmu karamah dengan bacaan-bacaan dan melalui metode-metode tertentu kepada murid-muridnya itu merupakan kesalahan yang menyimpang dari pengertian karamah itu sendiri. Ada di antara masyarakat kita yang belajar ilmu karamah dengan cara-cara yang seakan-akan Islam i. Seperti puasa dengan jumlah bilangan hari atau dengan wirid dan doa tertentu dalam hitungan ratusan bahkan ribuan. Bahkan ada yang memburu karamah dengan bermeditasi dan bertapa ditempat-tempat yang dikeramatkan dalam istilah ilmu meditasi memiliki medan energi prana atau spiritual yang besar. Yang lebih naif lagi, dalam menjalankan ritualitas tersebut mereka melakukan bid’ah dan bahkan mengabaikan perintah-perintah Allah yang wajib atau yang sunah.

Jika dengan metode pembelajaran tersebut mereka mendapatkan sesuatu yang luar biasa maka bisa dipastikan itu adalah sihir dan syetanlah yang menjadi maha guru mereka. Allah memberitahukan hal tersebut dengan firman-Nya:

وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُو الشَّيَاطِينُ عَلَى مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَكِنَّ الشَّيَطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ

“Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syetan-syetan pada masa kerajaan Nabi Sulaiman (mereka mengatakan bahwa Nabi Sulaiman melakukan sihir).Sedangkan Sulaiman bersih dari kekafiran, tetapi Syetan-syetan itulah yang kafir (melakukan sihir)dan mengingkari,yang mengajarkan sihir kepada orang banyak.”(QS.Al-Baqarah:102)

Kelebihan yang diambil dengan cara mempelajarinya atau mencarinya dengan metode atau cara-cara yang aneh maka bisa dipastikan itu bukanlah karamah, tetapi sihir.

e. Karamah Tidak Dapat Ditransfer Sedangkan Sihir Dapat Ditransfer.

Karamah termasuk sesuatu yang tidak bisa dipindahkan ke orang lain, baik secara kontak langsung atau tidak langsung, jarak dekat atau jarak jauh, karena karamah itu milik Allah yang hanya diberikan pada hamba-hamba-Nya yang shalih. Tetapi sebaliknya ilmu sihir bisa ditransfer ke orang lain, baik dengan jarak dekat ataupun jauh.

Bahkan mereka sekarang memanfaatkan teknologi internet untuk mentransfer sihir itu keberbagai daerah,negara bahkan benua. Perhatikan juga iklan provokatif yang ada disalah satu majalah seperti, ”Transfer ilmu hikmah. Inginkah anda mempunyai kemampuan supanatural yang mengagumkan? Anda bisa menembus dimensi astral khodam jin,malaikat. Dalam tingkat lanjut anda dapat menguasai karamah para wali dan kyai-kyai sakti.”

Kita tidak tahu persis,sudah berapa puluh ribu orang yang tertipu dengan iklan tersebut atau yang senada dengannya. Padahal kita tidak pernah mendengar Rasulullah dan para sahabatnya mentransfer karamah satu sama lainnya. Jadi jelas bagi kita kalau ada karamah yang bisa ditransfer kesana kemari adalah sihir. Dan sihir bukanlah karamah dalam terminologi syariat Islam .

Sihir tidak akan diperoleh kecuali dengan cara syirik dan mendekatkan diri dengan ruh-ruh jahat dengan sesuatu yang disenanginya, serta mendapatkan khidmah (pelayananya) dengan menyekutukan kepada Allah. Karena itu pembawa syari’at menyebutkan bersamaan dengan syirik.[7] Nabi saw bersabda:

اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا هُنَّ قَالَ الشِّرْكُ بِاللَّهِ وَالسِّحْرُ وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَكْلُ الرِّبَا وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ الْغَافِلَاتِ

“ Jauhilah tujuh perkara yang membawa kepada kehancuran. Para sahabat bertanya, Apakah ketujuh perkara itu? Beliau menjawab yaitu: Syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yan diharamkan Allah kecuai dengan sebab yang dibenarkan agama, memakan riba, memakan harta anak yatim, membelot dalam peperangan dan melontarkan tuduhan zina terhadap wanita-wanita mukminah yang terjaga dari perbuatan dosa dan tidak tahu menahu tentangnya” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ibnu Khaldun menyebutkan; Bahwasanya manusia tidak akan menjadi tukang sihir kecuali dengan latihan-latihan. Dan latiahan-latihan sihir keseluruhanya dilakukan dengan menghadap falak, bintang-bintang, alam ketinggian, dan syetang dengan barbagai bentuk pengagungan, ibadah, tunduk dan taat. Dengan demikian ia telah menghadap dan sujud  kepada selain Allah.[8]

f. Karamah Tidak Dapat Diwariskan Sedangkan Sihir Bisa Diwariskan.

Karena karamah itu bukan harta ataupun benda yang bisa dimiliki, ia merupakan pemberian Allah seketika itu juga. Maka ia tidak dapat diwariskan kepada siapapun, dan karena tidak ada ritual khusus atau cara khusus untuk mendapatkannya. Maka karamah tidak dapat ditelusuri untuk menemukannya kembali.  Juga tidak dapat ditapaktilasi untuk mewarisinya jika seseorang itu meninggal. Hal ini berbeda dengan sihir atau ilmu-ilmu kanuragan yang pada hakekatnya merupakan tipu daya syetan. Bisa saya berikan contoh nyata pada suatu daerah di Jawa ada seorang tokoh paranormal yang sangat terkenal sakti, ketika sakratul maut ia menjulurkan lidahnya, keluar buih atau muntahan pada mulutnya. Maka jika ingin mendapatkan kesaktiannya, keluarganya atau orang lain dapat langsung mewarisi kesaktiannya hanya dengan menjilat lidah, buih ataupun muntahan pada saat paranormal itu sedang sekarat atau pada saat ia telah meninggal.

Contoh lain lagi ada suatu perguruan aliran kebatinan Senggoropati yang sengaja pergi bermeditasi atau bertapa kemakam-makam wali-wali, tokoh-tokoh sakti yang telah meninggal lalu melakukan ritual-ritual tertentu untuk bertemu roh para wali atau tokoh sakti tersebut dan dengan melakukan penarikan dengan kekuatan jurus ilmu tenaga dalam yang katanya untuk mendapatkan sima ghaib (pancaran aura energi kesaktian orang yang telah meninggal) dan mendapatkan karamah seperti karamah-karamah wali ataupun tokoh-tokoh sakti yang telah meninggal.

Jangankan ada prosesi pewarisan (pengalihan hak milik) tanpa itupun Jin berusaha untuk dimiliki oleh keturunan sang dukun agar bisa mendapatkan korban yang lebih banyak dan melanggengkan pengaruhnya kepada anak manusia. Tim Ruqyah Majalah Ghaib sering mendapatkan pengaduan kasus semacam ini. Karena keturunan dukun itu tidak mau menerima warisan itu maka kehidupannya diganggu ketenangannya diteror bahkan sampai tahap gangguan fisik yang menyakitkan.

g. Karamah Tidak Dapat Didemonstrasikan Sedangkan Sihir Dapat Didemonstrasikan.

Kita tidak pernah mendengar riwayat atau membaca sirah kehidupan Rasulullah bahwa Rasulullah dangan para sahabatnya mempersiapkan diri, latihan jurus tenaga dalam atau berkemas-kemas untuk pertunjukan kesaktian atau kehebatan ilmu kedigdayaan. Entah itu untuk penggalangan dana atau hiburan ataupun menjadikannya sebagai sarana da’wah. Sebagaimana dalih yang dikemukakan para pendekar “karamah” dan akrobatik-akrobatik sihir bahkan bisa saya beri contoh nyata; ada suatu organisasi kepemudaan yang menunjukkan ilmu kesaktian yang dipersiapkan dan didemonstrasikan untuk persiapan membela tokoh tertentu dengan menyebut dirinya pasukan berani mati yang disiarkan di berbagai media masa dengan mendemonstrasikan kesaktian mereka setelah diisi seorang kyai melalui atraksi kekebalan ataupun atraksi demonstrasi pukulan jarak jauh.Walaupun pada akhirnya mereka tunggang langgang lari tidak bisa menggunakan ilmu mereka ketika dikejar dan menghadapi takbir Allahuakbar dari para anggota Laskar Jihad.

Memang Khalid bin Walid pernah melakukan sesuatu yang spektakuler, itupun terpaksa dan bukan dipersiapkan terlebih dahulu tetapi spontanitas. Selanjutnya Khalid bin Walid tidak pernah mempertunjukkan kembali kejadian tersebut yaitu meminum racun waktu dia dan pasukannya mengepung benteng musuh. Pimpinan mereka berkata, ”Kami tidak akan menyerah sebelum kamu meminum racun. ”Khalid pun lalu meminumnya dan dia tetap segar bugar dengan idzin Allah.

Maka dari itulah, apabila ada seseorang yang tampak darinya sesuatu yang luar biasa, lalu yang bersangkutan berusaha menampilkan kembali atau memamerkan kepada khalayak ramai, maka bisa dipastikan itu adalah sihir bukan karamah. Apalagi kalau hal tersebut dijadikan sebagai obyek bisnis atau mesin pencetak uang.

Ibnu Qayyim mengatakan; Tak diragukan, bahwasanya tukang sihir bisa melakukan atraksi berbagai macam, terkadang ia bertindak pada diri orang yang memandang dan perasaanya, sehingga ia melihat suatu benda yang berbeda dengan hakekat sebenarnya, dan terkadang bertindak pada benda-benda yang dipandang dengan roh-roh satanisme sehingga ia bisa bertindak lewat perantaranya. Beliau juga menolak dengan tegas bahwasanya sihir tukang-tukang sihir Fir’aun adalah sekedar tipu daya ilmiah yang mereka ciptakan. [9]

h. Karamah Tidak Dapat Diprediksi Kedatangannya Sedangkan Sihir Dapat Diprediksi.

Karamah hanya diberikan kepada hamba-hamba Allah yang beriman dan bertaqwa. Namun realitasnya tidak semua orang mukmin yang bertaqwa mendapatkan karamah dari Allah. Oleh karena itu kita tidak bisa mengatakan jika seseorang beriman dan memperbanyak ibadahnya kepada Allah, itu sebagai tanda bahwa orang tersebut akan mendapatkan karamah. Apalagi cuma dengan puasa dengan puasa beberapa hari atau shalat seribu rakaat atau wirid doa sekian puluh ribu kali pasti akan mendapatkan karamah. Itu semua merupakan doktrin yang tidak berdasar pada dalil syariat.

Berbeda halnya dengan sihir, bila seseorang melakukan ritualitas tertentu seperti yang bisa saya contohkan setelah mendapatkan inisiasi Reiki maka bisa dipastikan dia bisa mengalirkan Reiki seketika itu juga, setelah berpuasa mutih patigeni lalu ia kebal, pemujaan dengan mengabdikan diri pada jin. Contohnya adalah dengan memberikan sesajen pada jin penguasa daerah setempat sebelum acara kuda lumping berlangsung maka bisa dipastikan para pemain kuda lumping akan mendapat bantuan jin ketika memakan beling,atau melecehkan ayat-ayat Al-Qur’an atau menjadikannya sebagai pijakan sandal menuju toilet dan sejenisnya. Maka hampir bisa dipastikan jin akan bersenang hati dan bergegas menuruti permintaan orang tersebut.Hal itu dilakukannya untuk melangengkan kesyirikan dan kesesatan pelaku.

Sekaligus sebagai bentuk tipu daya bagi pelaku-pelaku bid’ah yang akhirnya berdalih bahwa apa yang dilakukannya juga diterima dan dikabulkan Allah. Memang kalaupun pelaku-pelaku sihir sukses dalam menjalankan misinya, semua itu berkat idzin Allah. Tapi karena cara dan kinerjanya tidak sesuai dengan syariat, maka Allah tidak akan meridoinya. Bahkan perbuatan mereka akan mendapatkan laknat dari Allah.

Jadi jangan heran jika ada seseorang bermeditasi atau bertapa digunung, goa, hutan, tempat-tempat ibadah selama beberapa minggu seperti bisa saya contohkan Dr.Mikao Usui yang bermeditasi di gunung Kurama selama 21 hari mendapatkan kemampuan Reiki atau pun para ahli Yoga yang melakukan ritual-ritual shirsasana (meditasi dengan pose-pose tubuh tertentu) bisa mendapatkan kemampuan-kemampuan ajaib. Atau juga pergi berguru pada perguruan-perguruan kedigdayaan dengan menjalani ritualitas yang tidak pernah bahkan bertentangan dengan apa yang telah diajarkan Rasulullah, lalu mendapatkan keajaiban dan keanehan, karena itu adalah hasil karya syetan dan teman-temannya.

i. Karamah Terjadi Tidak Berulang-ulang Sedangkan Sihir Dapat Diulang-ulang.

Kita pernah mendengar karamah-karamah yang dimiliki oleh beberapa sahabat, Seperti Salman al-Farisi makan dipiring, lalu piring itu bertasbih. Usaid bin Hudhair saat keluar dari majlis Rasulullah ada cahaya yang meneranginya. Amir bin Fuhairah mati syahid jasadnya terangkat kelangit dan masih banyak lagi yang lainnya. Kalau kita perhatikan, peristiwa tersebut hanya sekali yang terjadi pada diri mereka dan tidak bisa dipelajari bahkan diturunkan pada sahabat lainnya. Kalaupun berulang seperti yang dialami Maryam, Ibunya Nabi Isa itu terjadi beberapa hari saja sebelum mempunyai anak,setelah itu tidak kita dengar dia selalu mendapatkan jatah makanan itu lagi.

Lainnya dengan sihir, si tukang sihir terus bisa mengulangi atraksi-atraksi sihirnya, selama “upeti”yang disetorkan kepada jin pelayanannya jalan terus baik disadari contohnya adalah dengan memberikan sesaji, perbuatan yang selalu menjurus pada kesyirikan dan dosa besar lainnya ataupun tidak disadari oleh dia seperti dengan tetap membaca amalan-amalan bid’ah, dengan latihan-latihan khusus (meditasi, menyalurkan Reiki, latihan tenaga dalam dan lain sebagainya) yang sama sekali tidak disyariahkan yang kesemuanya itu pasti menjurus pada kesyirikan.

Tetapi jika sang dukun, paranormal membelot dan mengingkari kesepakatan yang sudah disepakati dengan jin maka jin itu akan berbalik meneror si tukang sihir dan menyakitinya, bahkan obyek sasaranya bukan merupakan cuma dia, biasanya merembet ke istri dan anak keturunannya serta keluarga yang lain. Itulah jahadnya jin (syetan). Sehingga orang yang terlanjur berprofesi sebagai dukun atau tukang sihir akan sulit dan berat dari belenggu syaitan dan jaring-jaringnya. Disamping dia harus menanggung resiko yang begitu mengerikan dan fatal.

Sedangkan dalam hal yang biasanya tidak disadari orang yang mempelajari sihir seperti membaca amalan-amalan tertentu yang menggunakan ayat-ayat Al-Quran atau bacaan-bacaan lain untuk tujuan yang tidak disyariahkan akan mendapatkan ketidak tenangan dalam hidupnya.

j. Karamah Hanya Dimiliki Orang Shalih Sedangkan Sihir Dimiliki Orang Munafik, Fasik dan Kafir.

Imam Nawawi mendefinisikan orang yang shalih adalah orang yang selalu melaksanakan kewajibannya pada Allah dan menunaikan kewajibannya pada sesama manusia dengan baik. Imam al-Haramain mengutip adanya ijma (kesepakatan ulama) bahwa sihir tidak akan muncul dari orang yang shalih fasik sedangkan karamah tidak akan muncul dari orang yang fasik (pendosa). Akan tetapi karamah itu kadang muncul sesuai kondisi seseorang. Jika karamah itu diberikan pada saat kondisi iman seseorang itu melamah maka ia akan memperkokoh imannya. Orang yang lebih sempurna iman dan ketaqwaannya tidak akan mencari karamah apalagi “karamah” yang diperjual belikan karena ia sudah merasa cukup atas apa yang sudah dimilikinya, yaitu kedekatan Allah Yang Maha Perkasa dengannya dan senantiasa melindunginya.

Maka dari itu orang-orang yang pernah mendapatkan karamah tidak akan gentar bila bertemu orang-orang shalih sepertinya berbeda sekali dengan para paranormal atau orang yang mengaku punya kemampuan ghaib jika mendekati orang benar-benar shalih dan lurus akidahnya maka mereka akan menyingkir tidak mau bertemu dan bertukar pikiran dengan berbagai macam alasan.

Apalagi jika orang-orang yang shalih itu berhadapan dengan tukang-tukang sihir, mereka tidak akan bergeming atau ciut nyalinya. Sebaliknya tukang-tukang sihir itu kalau bertemu dan berhadapan dengan orang-orang shalih yang lurus akidahnya, mereka akan takut,gemetar dan gentar. Takut dan khawatir kalau ilmunya atau jin yang setia membantunya kabur,sehingga sihirnya luntur dan sirna.

Menurut Syaikhul Islam  Ibnu Taimiyyah; karamah secara dzatnya tidak memberikan keutamaan sedikitpun pada pemiliknya. Dan barangsiapa diberi sikap istiqamah dalam beribadah lebih baik daripada diberi karamah.”

Abu Ali al-Jurjani ra berkata;

كُنْ طَالِباً لِلاِسْتِقَامَةِ لَا طَالِباً لِلِكَرَامَةِ فَإِنَّ نَفْسَكَ مُتَحَرِّكَةٌ فِي طَلَبِ الْكَرَامَةِ وَرَبُّكَ يَطْلُبُ مِنْكَ الاِسْتِقَامَةِ

“Jadilah pencari keistiqamahan dan jangan-lah jadi pencari karamah. Maka sesungguhnya jiwamu bergerak (berusaha) mencari karamah sedangkan Tuhanmu menuntut darimu keistiqamahan.”[10]

Berkata Syaikh as-Sahrawandi: “Apa yang disebutkan beliau ini adalah asas yang agung dan besar maknanya, suatu rahasia di mana kebanyakan para ahli suluk (orang yang memiliki keutamaan budi pekerti) dan para pengikutnya tidak mampu mengetahui hakikatnya. Hal itu karena para mujtahid dan ahli ibadah telah mendengar dari orang-orang shalih terdahulu tentang apa yang akan diberikan kepada mereka berupa karamah dan hal-hal luar biasa. Maka jiwa mereka senantiasa ingin mendapatkan hal seperti itu, serta menginginkan diberikan hal serupa.”[11]

k. Karamah Tidak Dapat Diperjual-belikan Sedangkan Sihir Dapat Diperjual-belikan

Kalau kita memperhatikan media-media cetak, terutama yang berkaitan dengan mistik,maka anda akan menjumpai beraneka macam iklan yang menawarkan sihir berkedok karamah atau ilmu kesaktian.Ada yang memakai kata karamah, keramat, pembukaan, inisiasi, pengisian, tenaga dalam, ilmu kontak, aji kesaktian, kedigdayaan, pembersihan atau pembukaan aura,benda-benda supranatural. Ada yang terus terang mencantumkan label harganya yang diperhalus bahasanya dengan kata mahar, infaq, ongkos kirim atau pengganti puasa tirakat. Kalau kita mendapatkan karamah yang diobral maka pastilah itu adalah sihir.

Karamah itu bukanlah benda atau barang yang bisa dijadikan hak milik atau hak paten, dan juga bukan objek dagangan yang menjadikan income yang menggiurkan. Jual beli dalam hal ini syarat dengan penipuan dan penyesatan.Karena konsumen digiring kepada kemusyrikan dan pendangkalan akidah dan tawakal kepada Allah. Bahkan bisa jadi si konsumen akan dibawa kepada “penduaan”Allah seperti pemasukan ajaran-ajaran yang bertentangan dengan prinsip ketauhidan dan penujaan kepada syaitan beserta balatentaranya. Maka dari itulah, hindari transaksi-transaksi-transaksi yang berkaitan dengan ilmu atau benda “keramat”,sebelum anda merugi dunia akherat.

Kesimpulan akhir dari pembahasan diatas jika mereka katakan bahwa Reiki, latihan tenaga dalam, bermeditasi, sebagai sarana untuk mendapatkan karomah dari Allah adalah salah besar. Sebab karomah tidaklah bisa didapatkan dari suatu hal yang jelas-jelas bathil dan karomah itu sendiri tidak bisa direncanakan untuk mendapatkannya. Walaupun dengan ibadah yang sesuai tuntunan Islam  sekalipun kita janganlah mencari karamah tetapi harus istiqomah untuk mendapatkan ridho dari Allah.

Berkata Abu Ali Al-Jauzaja’i : “Jadilah engkau orang yang mencari keistiqomahan, jangan menjadi pencari karomah. Sesungguhnya jiwamu bergerak (berusaha) dalam mencari karomah padahal Rob engkau mencari keistiqomahanmu”.

Berkata Syaikh As-Sahrwardi : ”Ucapan ini adalah prinsip yang agung dalam perkara ini, karena sesungguhnya banyak mujtahid dan ahli ibadah mendengar salaf yang sholih, telah diberi karomah-karomah dan hal-hal yang luar biasa sehingga jiwa-jiwa mereka (para ahli ibadah itu) senantiasa mencari sesuatu dari hal itu (karomah tersebut), dan mereka ingin diberikan sedikit dari hal itu, dan mungkin diantara mereka ada yang hatinya frustasi dalam keadaan menuduh dirinya bahwa amal ibadahnya tidak sah karena tidak mendapatkan karomah. Kalau mereka mengetahui rahasia hal itu (yaitu Allah tidak menuntut para hambanya untuk memperoleh karomah, tetapi yang Allah inginkan para hambanya beristiqomah) tentu perkara ini (mencari karomah) adalah perkara yang rendah bagi mereka.”

Akhirnya, janganlah anda mudah terpesona dan terpedaya dengan tawaran untuk menjadi orang sakti yang instan, orang ahli pengobatan dadakan. Karena sihir bukanlah karamah,dan sihirlah yang banyak gentayangan pada saat dewasa ini. Waspadalah, jangan kita gadaikan iman dengan kesaktian yang menjurus pada kekufuran.

Daftar Pustaka:

  1. Talbis Iblis karya Ibnu Jauzy
  2. Aqidah Thahawiyah karya Al-Imam Al-Qadhi ali bin Ali bin Muhammad bin Abi Al-Izz Ad-Dimasyqi
  3. Para Normal dan Totalitas Penyembuhan Islam karya Dr. Umar Sulaiman Al-Asqor
  4. Kitab Tauhid 3 karya Dr. Shalih Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan
  5. Syarah Kitab Al-Fiqhul Akbar karya Abu Hanifah Syaikh Mula Ali Al-Qari Al-Hanafi
  6. Mukjizat dan karamah para wali karya Ibnu Taimiyyah
  7. Syarhu Al Aqidah Al Wasithiyah karya Asy Syaikh Ibnu Utsaimin

[1] Ibnu Jauzy, Talbis Iblis, hal. 16

[2] Al-Imam Al-Qadhi ali bin Ali bin Muhammad bin Abi Al-Izz Ad-Dimasyqi, Aqidah Thahawiyah, hal 809

[3] Dr. Umar Sulaiman Al-Asqor, Para Normal dan Totalitas Penyembuhan Islam , hal. 88-95

[4] Al-Imam Al-Qadhi ali bin Ali bin Muhammad bin Abi Al-Izz Ad-Dimasyqi, Aqidah Thahawiyah hal. 346

[5] Syarhu Ushulil I’tiqad 9/15 dan Syarhu Al Aqidah Al Wasithiyah 2/298 karya Asy Syaikh Ibnu Utsaimin

[6] Dr. Shalih Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan, Kitab Tauhid 3, hal 35

[7] Ibid, hal. 35

[8] Dr. Umar Sulaiman Al-Asqor, Para Normal dan Totalitas Penyembuhan Islam , hal. 224

[9] Ibid, hal. 169

[10] Abu Hanifah Syaikh Mula Ali Al-Qari Al-Hanafi, Syarah Kitab Al-Fiqhul Akbar, hlm: 132.

[11] Ibnu taimiyyah, Mukjizat dan karamah para wali,  Hal: 40.

almujaddid2010.blogspot.co.id Diposting oleh Ahsanul Huda Kamis, 06 Mei 2010

(nahimunkar.org)

(Dibaca 6.153 kali, 1 untuk hari ini)