Banyak yang masih salah menafsirkan makna ujian, adzab dan istidraj dari sudut pandang musibah. Tigal hal tersebut sebenarnya memiliki arti yang jauh berbeda, dan menimpa orang yang berbeda juga meskipun sama-sama terkena musibah.

Berikut ini perbedaan antara ujian, adzab dan istidraj yang lebih rinci lagi. Bacalah dengan sepenuh hati, dan pikirkan kamu masuk yang mana?

1. Ujian

Ujian merupakan musibah yang menimpa orang-orang yang beriman dan rajin beribadah. Ujian bertujuan untuk menguji ke istiqomahanmu dan menguatkan keyakinanmu. Dalam Al-Quran, Allah berfirman bahwa kita jangan mengaku dulu beriman sebelum kita diberikan ujian yang berat, seperti kurangnya harta, takut akan kelaparan, fitnahan, cacian, makian dan sebagainya.

Agar lulus dalam ujian yang diberikan Allah, kita harus ikhlas menerimanya dan sabar serta tawakal dalam menjalani semua ujian tersebut. Meskipun sangat berat, tapi kita tidak meninggalkan ibadah dan justru kita semakin giat lagi beribadahnya. Kita juga tidak boleh kesal ketika menerima ujian dan seharusnya bersyukur karena Allah masih menganggap kita sebagai hambaNya dengan cara diberikan ujian. Tapi jika sebaliknya, kita jadi tidak beribadah dan ingkar ketika mendapatkan ujian, berarti kita gagal.

2. Adzab

Adzab merupakan musibah yang menimpa orang-orang yang selalu melalaikan kewajibannya dalam beribadah kepada Allah. Tujuannya yaitu sebagai peringatan agar kita mau bertobat dan kembali lagi beribadah kepadaNya.

Jadi ketika kamu sedang rajin-rajinnya maksiat, tidak beribadah, lalu datang musibah, jangan sebut itu ujian, tapi itu adalah adzab sekaligus peringatan buat kamu. Masih untung kalau kamu diberi kesempatan hidup karena masih ada waktu untuk memperbaiki diri, tapi jika sudah tidak diberi kesempatan lagi, bagaimana nasib kita kelak di akhirat nanti. Namun ada kesamaan antara adzab dan ujian, yaitu dua hal ini sama-sama bentuk kasih sayang Allah kepada kita agar selalu senantiasa beribadah kepadaNya dan jangan pernah melupakanNya.

Bayangkan saja jika kamu sedang melakukan maksiat lalu malaikat Izrail menjemput, tentu kamu akan jadi golongan orang yang celaka. Tapi karena Allah Maha Penyayang dan Maha Pengampun, Allah memberikan kamu peringatan dengan memberikan musibah agar kamu bertobat. Apakah itu bukan kasih sayang?

3. Istidraj

Tidak pernah sholat, zakat dan melakukan kewajiban lainnya, tapi segala urusannya lancar-lancar saja, rezeki lancar, usaha semakin maju, tidak ada beban dilihat dari sudut pandang iman, maka kemungkinan besar orang seperti itu terkena istidraj. Tujuan istidraj yaitu untuk memberikan adzab yang pedih kelak di hari pembalasan.

Istidraj hanya diberikan kepada orang-orang yang sudah mengunci hatinya dan yang terlalu gila mencintai dunia ini. Allah biarkan mereka terumbang-ambing dalam kesesatan yang nyata agar mereka celaka dan melalaikan urusan ibadah karena terlalu sibuk mengurus urusan dunia.

Kenapa Allah membiarkan hal itu? Allah sudah berulang kali memberikan peringatan kepada mereka melalui musibah, namun mereka tetap menutup mata hatinya dan enggan menerima kebenaran. Akibat dosa-dosanya yang besar, mereka secara tidak sadar telah mengunci hatinya sendiri dari hidayah Allah. Mereka dibiarkan mendapatkan kesenangan dunia dan hingga akhir hayatnya mereka tetap tenggelam dalam perbuatan dosa.

Begitulah sedikit perbedaan antara ujian, adzab dan istidraj. Jika kamu sudah paham, kamu termasuk golongan yang mana, orang yang diberikan ujian, adzab atau istidraj?

Sumber :  wowmenariknya.com

***

Makna Istidraj

Pertanyaan:
Assalamu’alaikum. Ustadz bisa tolong jelaskan seperti apa istidraj itu? Syukron Ustadz. Wassalamu’alaikum

Dari: Annisa

Jawaban:

Wa’alaikumussalam

Makna istidraj:
Dari Ubah bin Amir radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا رَأَيْتَ اللَّهَ تَعَالى يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا مَا يُحِبُّ وَهُوَ مُقِيمٌ عَلَى مَعَاصِيهِ فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِنْهُ اسْتِدْرَاجٌ

Apabila Anda melihat Allah memberikan kenikmatan dunia kepada seorang hamba, sementara dia masih bergelimang dengan maksiat, maka itu hakikatnya adalah istidraj dari Allah.”

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca firman Allah,

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ

Tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al-An’am: 44)
(HR. Ahmad, no.17349, Thabrani dalam Al-Kabir, no.913, dan disahihkan Al-Albani dalam As-Shahihah, no. 414).

Istidraj secara bahasa diambil dari kata da-ra-ja (Arab: درج ) yang artinya naik dari satu tingkatan ke tingkatan selanjutnya. Sementara istidraj dari Allah kepada hamba dipahami sebagai ‘hukuman’ yang diberikan sedikit demi sedikit dan tidak diberikan langsung. Allah biarkan orang ini dan tidak disegerakan adzabnya. Allah berfirman,

سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لاَ يَعْلَمُونَ

Nanti Kami akan menghukum mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui.” (QS. Al-Qalam: 44)
(Al-Mu’jam Al-Lughah Al-Arabiyah, kata: da-ra-ja).

Semua tindakan maksiat yang Allah balas dengan nikmat, dan Allah membuat dia lupa untuk beristighfar, sehingga dia semakin dekat dengan adzab sedikit demi sedikit, selanjutnya Allah berikan semua hukumannya, itulah istidraj. Allah a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)
Artikel www.KonsultasiSyariah.com

(nahimunkar.org)

(Dibaca 2.766 kali, 55 untuk hari ini)