NUSANEWS – Program Manajer Animal Friend Jogja (AFJ), Angelina Pane mengatakan, fenomena perdagangan daging anjing di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) saat ini masih terjadi.

“Tentu karena ada permintaan pasti ada suplai. Pangandaran merupakan suplai terbesar di Jogja dan skalanya sangat masif,” katanya, di sela acara perayaan Hari Pahlawan.

Lanjut dia, perdagangan daging anjing di Jogja, hanya akan mengancam DIY yang sudah lama menjadi daerah bebas rabies. Citra Jogja pun, yang dikenal sebagai kota batik, bakpia, ataupun kota pelajar bisa memudar.

Angelina mengatakan keprihatinannya berawal dari pertanyaan setiap teman yang dartang ke Jogja, ‘beli sengsu (tongseng anjing) di mana’.

Menurutnya, perlakuan terhadap anjing saat proses dijadikan sebagai konsumsi begitu kejam. Serta jauh dari kata beradab. “Kami mengajak masyarakat untuk menjadi pahlawan bagi satwa,” tegasnya.

Terlebih, lanjutnya, pada 2020 Pemerintah Indonesia mencanangkan agar Indonesia bebas dari penyakit rabies. Sementara saat ini sudah 2018, dan perdagangan daging anjing itu masih ada.

SUMBER © NUSANEWS.ID

(nahimunkar.org)

(Dibaca 1.498 kali, 1 untuk hari ini)