Ilustrasi : terselubung.in


Oleh : Dr. Slamet Muliono (Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya dan Direktur Puskip/Pusat Kajian Islam dan Pendidikan)

Salah satu butir kesepakatan dalam perjanjian Hudaibiyah adalah gencatan senjata antara kaum muslimin dan Quraisy selama 10 tahun. Gencatan senjata itu mengakhiri masa permusuhan, dan berubah menjadi masa damai. Masa damai ini benar-benar membawa keberkahan dan keuntungan bagi Islam. Di masa perdamaian itu, banyak para pembesar Quraisy yang masuk ke dalam Islam, di antaranya ‘Amr bin ‘Ash, Khalid bin Walid, Ikrimah bin Abu Jahal. Masa tenang itu benar-benar dimanfaatkan nabi untuk mengakselerasi gerakan dakwah Islam ke berbagai pihak di seluruh dunia, sehingga Islam sangat berwibawa dan agung di mata dunia.

Surat Menyurat kepada Raja-raja

Suasana tidak saling bermusuhan itu dimanfaatkan Nabi untuk menyebarkan dakwah Islam dengan mengirim surat ke raja-raja di seluruh dunia. Sepucuk surat itu dibawa oleh sahabat agung yang ditunjuk langsung oleh Nabi Muhammad untuk disampaikan kepada seorang raja. Di antara mereka ada yang menerima dakwah Islam, ada yang menolak tetapi tetap menghormati ajakan nabi, dan ada yang terang-terangan menolak dakwah nabi. Berikut ini akan dipaparkan sejarah pengiriman surat ajakan masuk Islam terhadap raja-raja.

Pertama, Najasyi, raja Habasyah. Nama aslinya Ashamah. Surat nabi dibawa oleh sahabat ‘Amr bin Dhamri bin Umayyah. Negeri Habasyah dipilih karena negara itu dipimpin oleh seorang raja yang adil dan memerintah dengan bijaksana. Ashamah memiliki orang tua yang berkedudukan sebagai raja. Saat memimpin, Ayah Ashamah pernah dikudeta sehingga lengser. Ashamah kemudian menyusun kekuatan, dan berhasil merebut kembali kekuasaan yang pernah dipimpin ayahnya. Sehingga Ashamah menjadi raja Habasyah. Saat menjadi raja, Najasyi bernadzar untuk tidak membiarkan kedzaliman di muka bumi ini. Najasyi sangat menghormati delegasi yang membawa surat itu dan menerima Islam sebagai agamanya. Dia meninggal dalam keadaan Islam, sehingga Nabi shalat ghaib begitu mendengar kematiannya.

Kedua, Al-Muqauqis, raja Mesir. Nama aslinya Juraij bin Maqta. Surat nabi dibawa oleh Hatib bin abi Balta’ah. Ketika menerima surat nabi, Al-Muqauqis menghormati surat nabi dan menyatakan bahwa agamanya lebih baik daripada agama Muhammad. Hatib bin Abi Balta’ah menyatakan bahwa Nasrani adalah agama yang lebih dekat dengan Islam. Dahulu  Taurat mengabarkan bahwa akan datang seorang yang bernama Isa. Demikian pula Isa juga mengabarkan bahwa akan datang seorang nabi yang membawa Islam dan bernama Muhammad. Meski tidak memeluk Islam, Al-Muqauqis memberi hadiah kepada utusan untuk disampaikan kepada Nabi, yakni dua wanita. Wanita pertama bernama Maria Qibthiyah, yang kemudian dinikahi nabi. Yang kedua bernama Sirrin yang kemudian dinikahi Hasan bin Tsabit (penyair nabi).

Ketiga, Kisra, raja Persia. Nama aslinya Heraklius. Surat dibawa Abdullah bin Hudzafah As-Sahmi. Begitu membawa surat ini, Kisra langsung menyobek-nyobek surat nabi. Dia merasa tersinggung dengan surat itu karena berbunyi “Surat dari Muhammad Rasul Allah. Kemudia dia mengatakan : “Seorang hamba miskin berani menaruh namanya mendahului namaku.”

Mendengar berita penyobekan surat itu, nabi berdoa “Mazzakallohu Mulkahu” (semoga Allah merobek-robek kerajaannya)” Setelah merobek-robek surat itu, Kisra memerintahkan gubernurnya yang ada di Yaman, Badzan untuk menangkap orang yang mengaku nabi. Badzan memerintahkan dua orang yang kuat untuk menjemputnya. Sesampai ketemu nabi, salah satu utusan itu menyampaikan maksud kedatangannya, yakni untuk melaksanakan perintah raja diraja kami (Kisra) yang memerintahkan kepada raja kami (Badzan) untuk menangkap orang yang mengaku Nabi. Mendengar hal itu, nabi menyatakan besok saja ketemu kembali. Esoknya nabi mengatakan bahwa raja diraja itu dibunuh anaknya sendiri (yang bernama Zirawaih). Anaknya membunuh ayahnya disebabkan karena kekalahannya saat perang dengan kerajaan Romawi. Sehingga anaknya harus mengambil alih kerajaannya dengan membunuh ayahnya. Kisah terbunuhnya Kisra itu dibawa oleh dua utusan itu untuk disampaikan Badzan. Di saat yang sama Badzan menerima perintah dari raja Zirawaih untuk tidak mengambil tindakan apapun terhadap Muhammad. Berita tentang kematian Kisra yang datang dari Nabi Muhammad inilah yang nantinya membuat Badzan masuk Islam, karena Muhammad benar-benar seorang nabi yang dibuktikan bisa mengetahui kematian Kisra sebelum dirinya.

Keempat, raja Romawi. Namanya Heraklius. Surat dibawa Dihyah Al-Kalbi, sahabat yang memiliki wajah yang tampan. Jika malaikat turun menyampaikan wahyu menyerupai dirinya. Heraklius pernah bermimpi bahwa kerajaannya akan runtuh oleh kaum yang berkhitan. Sehingga dia berupaya untuk mencari bangsa yang berkhitan. Ditemukannya bangsa Yahudi, karena mereka berkhitan sebagaimana bangsa Arab umumnya. Heraklius mencari kabar tentang kaum yang berkhitan. Kebetulan ada kafilah dagang dari bangsa Arab yang dipimpin Abu Sufyan. Lewat Abu Sufyan itulah dikorek tentang agama yang dibawa oleh Muhammad. Setelah bertanya jawab dengan Abu Sufyan tentang nasab, ajaran, pengikut, dan karateristik Muhammad, akhirnya Heraklius berkeyakinan bahwa andaikata keterangan Abu Sufyan itu benar, maka Muhammad akan menduduki dan merebut kerajaan Romawi ini. Namun sayang Heraklius tidak beriman kepada Muhammad karena lebih takut  kekuasaannya hilang, sehingga tetap memeluk agama Nasrani.

Konflik : Upaya Menghentikan Dakwah Islam

Terciptanya situasi damai merupakan salah satu butir perjanjian Hudaibiyah, dan hal itu sangat menguntungkan Islam. Islam akan sulit dihentikan laju perkembangannya ketika dalam keadaan damai. Manusia yang menggunakan akal pikirannya dengan cerdas dalam keadaan tenang, akan mudah menerima nilai-nilai Islam dengan mudah. Di era Khulafaur-Rasyidin Islam berkembang pesat, karena Islam dalam keadaan berkembang dan ekspansif. Islam mulai tersendat ketika Ali dalam perseteruan dengan Muawiyah karena persoalan politik. Namun di era pemerintahan Bani Umayyah, ketika situasi damai, Islam kembali berkembang pesat hingga menyebar hampir tiga perempat dunia.

Musuh-musuh Islam senantiasa menciptakan konflik di dalam tubuh umat Islam, sehingga di antara umat Islam terjadi peperangan dan konflik. Apa yang terjadi di dunia Islam, termasuk Indonesia, kelompok Islam direkayasa untuk konflik dan terpecah belah. Antar ormas Islam, ulama, partai politik dibuat saling hasut dan benci. Perkembangan dakwah yang meluas di pucuk-pucuk dan pinggiran desa, diisukan sebagai ajaran yang membahayakan Pancasila dan NKRI, sehingga antar kelompok Islam dibuat resah dan curiga. Maka di tubuh umat Islam terjadi kecurigaan dan permusuhan. Kekuatan umat Islam yang besar menjadi hilang pengaruhnya di tengah perkembangan kelompok minoritas non-muslim yang berkembang dengan pesat. Umat Islam tidak lagi fokus berdakwah dan bahkan tak berdaya menghadapi memerangi proyek pemurtadan. Di tubuh umat Islam sibuk untuk memerangi kelompok Islam yang diisukan kelompok yang membahayakan negara. Situasi yang kacau inilah yang membunuh dakwah Islam dan sulit untuk berkembang pesat.

Surabaya, 23 Agustus 2018

(nahimunkar.org)

(Dibaca 244 kali, 1 untuk hari ini)