. 

  • Perdukunan dan hal-hal yang berbau takhayul akan mendapatkan larangan dari pemerintah India. Sebaliknya, di Indonesia justru marak, perdukunan ada di mana-mana lebih-lebih ketika menjelang pemilihan umum dan sebagainya. Banyak orang yang mengaku beragama Islam namun larinya ke dukun, bukan ke Allah Ta’ala. Ini sangat memprihatinkan, lebih-lebih di negeri yang jumlah umat Islamnya terbesar di dunia. Namun para dukun justru jadi rujukan, hingga mereka pun tidak malu-malu pasang tarif.
  • Tarif yang dipasang Rosyadi seorang penjaja klenik perdukunan seperti berikut: Rp 1 triliun untuk seorang capres, calon gubernur minimal Rp 5 miliar, untuk bupati atau wali kota harus disediakan Rp 2 miliar. Untuk caleg tingkat kabupaten/kota mencapai Rp 100 juta, tingkat provinsi Rp 200 juta dan untuk DPR pusat dapat mencapai Rp 300 juta.
  • Publikasi perdukunan ini begitu mudah terlihat, baik melalui media televisi maupun koran. Ujung-ujungnya, orang yang datang kepada dukun akan meminta-minta kepada selain Allah yang Maha Kuasa. Itu dosa besar dan wajib diberantas..Karena telah diancam oleh Nabi Muhammad shallalahu ‘alaihi wa sallam dengan keras:

 « مَنْ أَتَى عَرَّافًا أَوْ كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ » صلى الله عليه وسلم.

“Barangsiapa yang mendatangi ‘arraaf (tukang ramal) atau dukun, lalu membenarkan apa yang dikatakannya; sungguh ia telah kafir dengan apa yang diturunkan kepada Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam”.    (Diriwayatkan oleh Ahmad (2/429), Abu Dawud (no. 3904), dan Al-Haakim (1/8), dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu – dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahiihul-Jami’(no. 5939).)

” مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ يَوْمًا “

“Barangsiapa yang mendatangi ‘arraf (tukang ramal) untuk menanyakan sesuatu hal, lalu ia membenarkan (apa yang dikatakan)-nya; maka tidak akan diterima shalatnya selama empat puluh hari”.    (Diriwayatkan oleh Ahmad (4/68, 5/380) dan Muslim (no. 2230), dari sebagian istri Nabishallallaahu ‘alaihi wa sallam).

Inilah berita dan ulasannya dalam tuntunan Islam.

***

India Sudah Larang Perdukunan, Indonesia Kapan?

BOMBAY (gemaislam) – Aktivitas perdukunan dan hal-hal yang berbau takhayul akan mendapatkan larangan dari pemerintah India. Larangan ini dikeluarkan menyusul maraknya perdukunan berkedok pengobatan, termasuk adanya syarat pengorbanan jiwa manusia.

Dalam peraturan yang dikeluarkan negara bagian Maharashtra, penegak hukum akan menindak para dukun yang menyebarkan penyesatan agama dan takhayul, termasuk penipuan dan melukai para pengikutnya. Maharashtra adalah negara bagian pertama yang menerapkan peraturan anti-perdukunan di India. Di negara ini, dukun dan orang yang dianggap suci menuai popularitas dan menangguk keuntungan hingga jutaan rupee.

UU ini dikeluarkan menyusul penangkapan enam orang yang telah memenggal seorang wanita berusia 50 tahun dalam ritual di pinggiran kota Mumbai, Maharashtra. Saat itu korban mendatangi seorang dukun yang dianggap suci untuk menyembuhkan penyakit anaknya, demikian seperti ditulis arabnews yang dikutip dari viva, Selasa (17/12).

Tapi bukannya mendapat pengobatan, ibu tersebut malah dipenggal kepalanya oleh pengikut dukun ini yang meyakini bahwa cara ini ampuh mengobati penyakit mereka. Kepalanya lantas dilemparkan dari atas jembatan.

 

Perdukunan di Indonesia kapan dilarang?

Kalau India telah mengeluarkan UU anti perdukunan, lantas bagaimana dengan Indonesia?. Di negeri ini, selain yang terang-terangan mengaku dukun, ada pula yang masih malu-malu mengakui “kedukunannya”. Dukun yang sudah terang-terangan ini biasanya berbaju gelap, dengan tempat praktek yang penuh dengan asap dan dupa serta senjata-senjata kuno lainnya.

Selain dukun terang, ada pula yang membawa-bawa nama agama. Dukun model begini terkadang berbalut busana agamis dan menjadi rujukan dalam banyak hal. Panggilan “ustad” dan “kyai” tak jarang disematkan pada penganut ajaran sesat ini. Pesugihan, kekuasaan, kecantikan, cinta dan pengobatan menjadi alasan ramainya pondok “Mbah Dukun”.

Pasiennya pun banyak, mulai dari orang biasa hingga orang luar biasa. Ironisnya lagi, publikasi perdukunan di negeri ini begitu mudah terlihat, baik melalui media televisi maupun koran. Ujung-ujungnya, orang yang datang kepada dukun akan meminta-minta kepada selain Allah yang Maha Kuasa. (arc) gemaislam.com/ Written by Admin Gema 18 des 2013

***

Jelang Pemilu 2014, Dukun Politik Kian Marak

Ahad, 11 Muharram 1435H / November 17, 2013

Shoutussalam.com – Menjelang pesta demokrasi 2014, jasa konsultasi calon legislatif kian marak. Tarifnya pun relatif mahal. Berbagai macam cara dilakukan oleh para caleg termasuk juga konsultannya untuk mencari peluang dan keuntungan. Namun yang paling menarik adalah maraknya dukun politik. Bahkan ada dukun yang memasang tarif satu triliun untuk capres.

Desembriar Rosyadi, salah satu penjaja jasa klenik politik ini membuka lapaknya bagi caleg dari tingkat kabupaten/kota hingga capres. Ia pun mematok tarif tanpa nego yang bervariasi sesuai dengan fitur yang diambil. ”Kalau ditawar berarti dia (pengguna jasanya) enggak percaya, enggak serius, jadi buat apa diteruskan kalau awalnya enggak percaya,” kata Rosyadi. Pria yang memakai embel-embel beberapa gelar akademis ini juga menggunakan jasa notaris. ”Enggak ada tipu-tipu, uangnya nanti dikasih ke notaris. Kalau dia jadi, uangnya buat saya. Kalau gak jadi silakan ambil ke notaris,” jelasnya.

Berbeda dengan Rosyadi yang bergaya ustadz, paranormal gondrong yang juga selebritis, Ki Joko Bodo juga menawarkan hal serupa. Pria brewokan yang pernah membuat boyband ini mengaku saat musim pesta politik demokrasi macam ini, banyak caleg hingga capres mendatanginya. Berderet-deret mobil mewah kerap menyambangi padepokannya di Lubang Buaya.  “Yang penting datang dulu saja ke rumah. Isi formulir lalu konsultasi sama saya,” kata pria berambut gondrong ini.

Tarif yang dipasang Rosyadi seperti berikut: Rp 1 triliun untuk seorang capres, calon gubernur minimal Rp 5 miliar, untuk bupati atau wali kota harus disediakan Rp 2 miliar. Untuk caleg tingkat kabupaten/kota mencapai Rp 100 juta, tingkat provinsi Rp 200 juta dan untuk DPR pusat dapat mencapai Rp 300 juta.

[sksd/dbs]

***

Tanya – Jawab ‘Aqidah Seputar Hukum Perdukunan, Ilmu Perbintangan (Tanjiim), dan Thiyarah

 

  1. 181.    Apa hukum praktek perdukunan (kuhaan) ?

Jawab :

Dukun termasuk bagian dari thaghut, yaitu mereka adalah para pemimpin dari kalangan syaithan yang mewahyukan kepada para dukun, sebagaimana firman Allah ta’ala :

وَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَيُوحُونَ إِلَى أَوْلِيَائِهِمْ

“Sesungguhnya setan itu membisikkan kepada kawan-kawannya”.[1]

Mereka turun kepada para dukun tersebut dan menyampaikan kalimat-kalimat yang didengar (dari langit) dengan menambah kedustaan bersamanya seratus kedustaan, sebagaimana firman Allah ta’ala :

هَلْ أُنَبِّئُكُمْ عَلَى مَنْ تَنَزَّلُ الشَّيَاطِينُ * تَنَزَّلُ عَلَى كُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٍ *يُلْقُونَ السَّمْعَ وَأَكْثَرُهُمْ كَاذِبُونَ

“Apakah akan Aku beritakan kepadamu, kepada siapa setan-setan itu turun? Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta lagi yang banyak dosa, mereka menghadapkan pendengaran (kepada setan) itu, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang pendusta”.[2]

Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda dalam hadits wahyu :

فيسمعها مسترق السمع ومسترق هكذا بعضه فوق بعض فيلقيها إلى من تحته ثم يلقيها الآخر إلى من تحته حتى يلقيها على لسان الساحر أو الكاهن فربما أدركه الشهاب قبل أن يلقيها وربما ألقاها قبل أن يدركه فيكذب معها مائة كذبة

“Maka syaithan-syaithan pencuri berita itu mendengarnya. Keadaan para syaithan pencuri berita seperti ini : sebagian mereka di atas sebagian yang lain. Maka ketika para syaithan berita (yang di atas) mendengar kalimat (firman) itu, disampaikanlah kepada yang di bawahnya, kemudian disampaikan lagi kepada yang di bawahnya. Demikian seterusnya hingga sampai ke mulut tukang sihir atau dukun. Akan tetapi syaithan pencuri berita itu terkena syihab (meteor) sebelum sempat menyampaikan kalimat (firman) tersebut, dan kadangkala sudah sempat menyampaikannya sebelum terkena syihab; lalu dengan satu kalimat yang didengarnya itulah mereka membumbui dengan seratus kedustaan”.[3]

  1. 182.    Apa hukum membenarkan perkataan dukun ?

Jawab :

Allah ta’ala telah berfirman :

قُلْ لا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ الْغَيْبَ إِلا اللَّهُ

Katakanlah: “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah”.[4]

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لا يَعْلَمُهَا إِلا هُوَ

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri”.[5]

أَمْ عِنْدَهُمُ الْغَيْبُ فَهُمْ يَكْتُبُونَ

“Apakah ada pada sisi mereka pengetahuan tentang yang gaib lalu mereka menuliskannya?”.[6]

أَعِنْدَهُ عِلْمُ الْغَيْبِ فَهُوَ يَرَى

“Apakah dia mempunyai pengetahuan tentang yang gaib sehingga dia mengetahui (apa yang dikatakan)?”.[7]

وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ

“Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”.[8]

Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda :

« مَنْ أَتَى عَرَّافًا أَوْ كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ » صلى الله عليه وسلم.

“Barangsiapa yang mendatangi ‘arraaf (tukang ramal) atau dukun, lalu membenarkan apa yang dikatakannya; sungguh ia telah kafir dengan apa yang diturunkan kepada Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam”.[9]

” مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ يَوْمًا “

“Barangsiapa yang mendatangi ‘arraf (tukang ramal) untuk menanyakan sesuatu hal, lalu ia membenarkan (apa yang dikatakan)-nya; maka tidak akan diterima shalatnya selama empat puluh hari”.[10]

  1. 183.    Apa hukum tanjiim (ramalan bintang) ?

Jawab :

Allah ta’ala telah berfirman :

وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ النُّجُومَ لِتَهْتَدُوا بِهَا فِي ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ

“Dan Dia-lah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut”.[11]

وَلَقَدْ زَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ وَجَعَلْنَاهَا رُجُومًا لِلشَّيَاطِينِ

“Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar setan”.[12]

وَالنُّجُومُ مُسَخَّرَاتٌ بِأَمْرِهِ

“Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya”.[13]

Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

من اقتبس شعبة من النجوم فقد اقتبس شعبة من السحر زاد ما زاد

“Barangsiapa mengambil salah satu cabang dari ilmu nujum (perbintangan), sungguh ia telah mengambil salah satu cabang dari ilmu sihir. Semakin bertambah ilmu nujum itu, maka semakin bertambah pula sihir yang ia pelajari”.[14]

إنما أخاف على أمتي التصديق بالنجوم والتكذيب بالقدر وحيف الأئمة

“Sesungguhnya yang aku takutkan dari umatku hanyalah membenarkan ramalan bintang, mendustakan takdir, dan kesewenang-wenangan para penguasa/pemimpin”.[15]

Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma berkata mengenai satu kaum yang sedang menulis riwayat Abu Jaad sambil melihat/memperhatikan bintang :

ما أرى من فعل ذلك له عند الله من خلاق

“Aku tidak pernah melihat orang yang berbuat tersebut di sisi Allah selama ini”.

Qatadah rahimahullahu ta’ala berkata :

خلق الله هذه النجوم لثلاث : زِنة للسماء، ورجومًا للشياطين، وعلامات يُهتدى بها، فمن تأول فيها غير ذلك فقد أخطأ حظه وأضاع نفسه وتكلف ما لا علم له به.

“Allah telah menciptakan bintang untuk tiga hal : perhiasan langit, pelempar syaithan-syaithan, dan sebagai tanda bagi orang (tersesat) yang ditunjuki dengannya. Barangsiapa yang menta’wilkan selain dari ketiga hal tersebut, maka ia telah keliru, merusak diri, dan memperberat-berat terhadap apa yang ia tidak mempuyai pengetahuan tentangnya”.

  1. 184.    Apa hukum menisbatkan turunnya hujan kepada bintang-bintang ?

Jawab :

Allah ta’ala telah berfirman :

وَتَجْعَلُونَ رِزْقَكُمْ أَنَّكُمْ تُكَذِّبُونَ

“Kamu (mengganti) rezeki (yang Allah berikan) dengan mendustakan (Allah)”.[16]

Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

أربع في أمتي أمر الجاهلية لا يتركوهن : الفخر بالأحساب والطعن في الأنساب والاستسقاء بالأنواء والنياحة

“Empat perkara yang terdapat pada umatku yang termasuk perbuatan Jahiliyyah, yang tidak ditinggalkan oleh mereka : membanggakan kebesaran leluhur, mencela keturunan, menisbbatkan turunnya hujan kepada bintang-bintang, dan niyahah (meratap mayit)”.[17]

قال الله تعالى : أصبح من عبادي مؤمن بي وكافر فأما من قال مطرنا بفضل الله ورحمته فذلك مؤمن بي وكافر بالكواكب، وأما من قال : مطرنا بنواء كذا وكذا فذلك كافر بي مؤمن بالكواكب.

“Allah ta’ala telah berfirman : ‘Pagi hari ini di antara hamba-hamba-Ku ada yang beriman dan ada pula yang kafir. Adapun orang yang mengatakan : ‘Telah turun hujan kepada kita berkat karunia dan rahmat Allah’, maka dia adalah orang yang beriman kepada-Ku dan kafir kepada bintang. Adapun orang yang mengatakan : ‘Telah turun hujan kepada kami karena bintang ini dan itu’, maka dia adalah orang yang kafir kepada-Ku dan beriman kepada bintang”.[18]

  1. 185.    Apa hukum thiyarah (merasa sial) dan apa-apa yang terkait dengannya ?

Jawab :

Allah ta’ala telah berfirman :

أَلا إِنَّمَا طَائِرُهُمْ عِنْدَ اللَّهِ

“Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah”.[19]

Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda :

لا عدوى ولا طيرة ولا هامة ولا صفر

“Tidak ada ‘adwaa (penularan penyakit), thiyarah, haammah, dan shafar”.[20]

Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :

الطيرة شرك الطيرة شرك

“Thiyarah itu syirik, thiyarah itu syirik”.

Dari Ibnu Mas’ud secara marfu’ :

الطيرة شرك – ثلاثًا – وما منا إلا ولكن الله يذهبه بالتوكل

“Thiyarah itu syirik – beliau mengatakan tiga kali – tidak ada seorang pun dari kita kecuali (telah terjadi dalam dirinya sesuatu dari hal itu), namun Allah menghilangkannya dengan tawakkal”.[21]

إنما الطيرة ما أمضاك أو ردك

“Sesungguhnya thiyarah itu hanyalah yang menjadikan engkau terus melangkah atau mengurungkan niatmu”.[22]

Dan diriwayatkan oleh Ahmad dari hadits ‘Abdullah bin ‘Amr :

من ردته الطير عن حاجته فقد أشرك. قالوا : فما كفاره ذلك ؟ قال : أن تقول : اللهم لا خير إلا خيرك ولا طير إلا طيرك ولا إله غيرك

“Barangsiapa yang mengurungkan hajatnya karena tathayyur, maka ia telah berbuat syirik”. Para shahabat bertanya : “Lantas, apa kafarah (penghapus)-nya ?”. Maka beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “(Hendaknya engkau mengucapkan) : Ya Allah, tidak ada kebaikan kecuali kebaikan yang datang dari-Mu, tidak ada kesialan kecuali kesialan yang datang dari-Mu, dan tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau”.[23]

Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

أصدقها الفأل ولا ترد مسلمًا فإذا رأى أحدكم ما يكره فليقل : اللهم لا يأتي بالحسنات إلا أنت ولا يدفع السيئات إلا أنت ولا حول ولا قوة إلا بك

“Yang paling benar adalah fa’l, dan tathayyur (anggapan sial) itu tidak boleh menghalangi seorang muslim (untuk melakukan sesuatu). Apabila salah seorang di antara kalian melihat sesuatu hal yang tidak disukai, hendaklah ia mengatakan : ‘Ya Allah, tidak ada yang mendatangkan kebaikan kecuali Engkau, tidak ada yang dapat menolak keburukan kecuali Engkau, serta tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Engkau”.[24]

[Diambil oleh Abu Al-Jauzaa’ Al-Wonogiriy dari kitab yang berjudul : 200 Suaal wa Jawaab fil-‘Aqiidah oleh Asy-Syaikh Haafidh bin Ahmad Al-Hakamiy, hal. 180 – 184, takhrij : Hilmiy bin Isma’il Ar-Rasyiidiy; Daarul-‘Aqiidah, Cet. 1/1419 H – dengan sedikit perubahan dan tambahan].

Diposkan oleh Abu Al-Jauzaa’ : di 07.58
Label: ‘Aqidah

http://abul-jauzaa.blogspot.com/2009/06/tanya-jawab-aqidah-seputar-hukum.html


[1]     QS. Al-An’aam : 121.

[2]     QS. Asy-Syu’araa’ : 221-223.

[3]     Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaaq (no. 20347), Ahmad (6/87), Al-Bukhariy (no. 3210, 5762, 6213, 7561), Muslim (no. 2228), Ibnu Hibbaan (no. 3136), Al-Baihaqiy (8/138), dan Al-Baghawiy (no. 3258), dari ‘Aisyah radliyallaahu ‘anhaa.

[4]     QS. An-Naml : 65.

[5]     QS. Al-An’aam : 59.

[6]     QS. Ath-Thuur : 41.

[7]     QS. An-Najm : 35.

[8]     QS. Al-Baqarah : 216, 232.

[9]     Diriwayatkan oleh Ahmad (2/429), Abu Dawud (no. 3904), dan Al-Haakim (1/8), dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu – dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahiihul-Jami’(no. 5939).

[10]    Diriwayatkan oleh Ahmad (4/68, 5/380) dan Muslim (no. 2230), dari sebagian istri Nabishallallaahu ‘alaihi wa sallam.

[11]    QS. Al-An’aam : 97.

[12]    QS. Al-Mulk : 5.

[13]    QS. An-Nahl : 12.

[14]    Shahih – Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 3905), Ibnu Majah (no. 3726), dan Ahmad (1/227, 311). Hadits tersebut terdapat dalam Silsilah Ash-Shahiihah (no. 793) dan Shahiihul-Jaami’ (no. 6074).

[15]    Diriwayatkan oleh ‘Abdun bin Humaid (1/428) dari Rajaa’ bin Haiwah secara mursal. Diriwayatkan pula oleh Ibnu ‘Asaakir dari Abu Mihshan secara marfu’ :

إنما أخاف على أمتي ثلاثًا : حيف الأئمة، وإيمانًا بالنجوم، وتكذيبًا بالقدر

“Sesungguhnya yang aku takutkan dari umatku hanyalah dalam tiga perkara : Kesewenang-wenangan para penguasa/pemimpin, mempercayai ramalan bintang, dan mendustai takdir”.

Diriwayatkan juga oleh Ibnu ‘Abdil-Barr dalam Al-‘Ilm (2/39) dengan sanad dla’if (lemah), dan ia mempunyai syawaahid dari hadits Abu Dardaa’, Anas, dan Jaabir. Lihat Ash-Shahiihah (no. 1127) dan Shahiihul-Jaami’ (no. 214-215).

[16]    QS. Al-Waaqi’ah : 82.

[17]    Diriwayatkan oleh Ahmad (5/342-343) dan Muslim (no. 943) dari Abu Musa Al-Asy’ariyradliyallaahu ‘anhu.

[18]    Diriwayatkan oleh Malik (1/192), Ahmad (4/117), Al-Bukhariy (no. 846, 1038, 4147, 7503), Muslim (no. 71), Abu ‘Awaanah (1/26), Abu Dawud (no. 3906), dan An-Nasa’iy (3/165); dari Zaid, dari Khaalid Al-Juhhaniy.

[19]    QS. Al-A’raaf : 131.

[20]    Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaaq (no. 19507), Ahmad (2/267), Al-Bukhariy (no. 5717, 5770, 5775), dan Muslim (no. 2220); dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu.

Makna ‘tidak ada shafar’ adalah : kelaparan : yaitu binatang yang ada di perut, sejenis cacing. Mereka (masyarakar ‘Arab) dulu berkeyakinan bahwa di dalam perut terdapat satu hewan yang menyebabkan rasa lapar yang terkadang dapat membunuh orangnya. Masyarakat ‘Arab melihat bahwa ia lebih berbahaya/menular dibandingkan kudis. Maka keyakinan itu kemudian dibatalkan oleh Islam.

Ada pendapat lain bahwa yang dimaksud shafar adalah bukan Shafar. Masyarakat ‘Arab dulu menganggap sial bulan Shafar, dan kemudian Islam datang untuk membatalkannya.

Makna al-haammah adalah : sejenis burung dimana masyarakat ‘Arab dulu meyakini kemalangan akan menimpanya atau datangnya kematian baginya/anggota keluarganya jika ia bertengger di rumahnya atau mendengar suaranya. Islam datang untuk membatalkannya.

[21]    Diriwayatkan Ahmad (1/389, 438, 440), Al-Bukhari dalam Al-Adabul-Mufrad (no. 909), Abu Dawud (no. 3910), At-Tirmidzi (no. 1614), Ibnu Majah (no. 3538), Ath-Thahawiy dalam Asy-Syarh (4/312) dan Al-Musykil (1/358), dan Ath-Thayalisiy (no. 356); dan ia merupakan hadits shahih.

[22]    Diriwayatkan oleh Ahmad (1/213) dari Ibnu ‘Ulaatsah, dari Maslamah Al-Juhhaniy, dari Al-Fadhl bin Al-‘Abbaas. Ibnu ‘Ulaatsah adalah Muhammad bin ‘Abdillah yang statusnya diperselisihkan. Al-Haafidh berkata : “Shaduuq, kadang salah” ; yaitu ia dla’if (lemah) jika bersendirian (dalam periwayatan) – seperti dalam riwayat ini. Oleh karena itu, sanad hadits ini adalah dla’ifWallaahu a’lam.

[23]    Diriwayatkan oleh Ahmad (2/220), Ibnus-Sunniy (no. 287), Ibnu Wahb dalam Jaami’-nya (no. 656, 657, 659, 660); dari Ibnu ‘Amr. Dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahiihah (no. 1065).

[24]    Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 3919) dari Ahmad Al-Qurasyiy. Di-dla’if-kan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Dla’iif Abi Dawud (no. 843) dan Al-Misykah (no. 4591).

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.855 kali, 1 untuk hari ini)