Perincian Berhukum dengan 

Selain Hukum Allah 


Oleh: Ma’ali Asy-Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alu syaikh 

(Diterjemahkan oleh: Muhammad Rizal) 

shorturl.at/iCLZ6

{أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلَالًا بَعِيدًا} [النساء: 60]

“Tidakkah engkau (Muhammad) memperhatikan orang-orang yang mengaku  bahwa mereka telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada  apa yang diturunkan sebelummu? Tetapi mereka masih menginginkan berhakim  kepada thaghut, padahal mereka telah diperintahkan untuk kufur kepada thaghut  itu. Dan setan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) kesesatan yang sejauh jauhnya.” [An-Nisa’: 60] 

********************************** 

Masalah ini ‒Yaitu masalah Tahākum (berhakim) kepada selain syari’at  Allah‒ merupakan salah satu masalah yang banyak kerancuan di dalamnya,  khususnya bagi para pemuda di negeri ini dan selainnya. Di antara kerancuannya  adalah: Mereka (awamm dan penuntut ilmu) menjadikan masalah “Masalah  hukum dan Tahākum itu satu”, maksudnya, mereka menjadikannya sebagai satu  bentuk, padahal bentuknya berbeda. 

Di antara bentuknya adalah: Bahwa ada Tasyrī’ (legislasi) untuk Taqnīn  (kodifikasi hukum) yang independen, sebanding dengan hukum Allah, yaitu  Undang-Undang Buatan independen yang diberlakukan (disyari’atkan). Pengodifikasian ini statusnya adalah kufur, dan pembuatnya, yaitu legislator dan yang mengesahkannya, menjadikan legislasi ini dinisbatkan padanya yang mana dia  membuat keputusan hukum berdasarkan hukum-hukum tersebut. Legislator ini  kafir, dan kekafirannya zhahir (jelas), karena dia menjadikan dirinya sendiri  sebagai Thaghut, kemudian menyeru manusia untuk menyembahnya, dan dia ridha  dalam hal ibadah ketaatan.

Lalu ada orang yang berhukum dengan kodifikasi ini ‒ini perihal kedua‒.  

Jadi ada: 

1. Legislator 

2. Orang yang berhukum dengannya (Undang-Undang Buatan) 3. Orang yang Tahākum (berhakim) dengannya (Undang-Undang Buatan) 4. Orang yang menjadikannya di negerinya, yaitu bagian dari negara. Inilah  perihal yang keempat. 

Maka kita mempunyai empat perihal (pembahasan). 

1. LEGISLATOR 

Legislator dan orang yang menaatinya dalam menjadikan yang halal menjadi  haram dan yang haram menjadi halal serta berlawanan dengan syari’at Allah;  Orang ini kafir, dan orang yang menaatinya dalam hal tersebut, sungguh dia telah  menjadikannya Tuhan selain Allah. 

2. ORANG YANG BERHUKUM DENGAN UNDANG-UNDANG BUATAN 

Dan Hākim (orang yang memutuskan hukum) dengan legislasi tersebut, ada  perinciannya: 

Jika menghakimi sekali atau dua kali atau lebih dari itu, dan bukan suatu  kebiasaan baginya, sedangkan dia mengetahui bahwa itu adalah maksiat  ‒maksudnya Qādhi (hakim) yang menghakimi‒ dia mengetahui bahwa itu adalah maksiat dan malah menghakiminya dengan selain syari’at Allah, maka  hukumnya seperti pelaku dosa, dan dia tidak kafir sampai dia menghalalkan  (istihlāl). Oleh karenanya kamu dapati sebagian ulama mengatakan:  “Berhukum dengan selain syari’at Allah, maka dia tidak kafir kecuali jika menghalalkan“, ini benar, tetapi hal ini tidak diturunkan (diberlakukan) pada kodifikasi dan legislasi. Maka hakim (yang berbuat demikian sebagaimana ucapan Ibnu Abbas: “Bukan kufur yang mereka (Khawarij) maksudkan, itu adalah Kufrun duna kufr“, yaitu barangsiapa yang menghakimi  satu perkara atau dua perkara dengan hawa nafsunya dengan selain syari’at Allah, sedangkan dia mengetahui bahwa itu adalah maksiat dan dia tidak  menghalalkan, inilah Kufrun duna kufr

Adapun hakim yang sama sekali tidak berhukum dengan syari’at Allah, dan  selalu berhukum serta mengharuskan orang-orang (berhukum) dengan selain syari’at Allah, di antara para ulama ada yang berkata: Dia kafir  mutlak, seperti kekafiran orang yang mengesahkan Undang-Undang  Buatan; Karena Allah berfirman: 

يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ

 
 

“Mereka menginginkan berhakim kepada thaghut” 

Maka orang yang berhukum dengan selain syari’at Allah secara mutlak,  berarti menjadikan hukum itu sebagai Thaghut. 

وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ

“Padahal mereka telah diperintahkan untuk kufur kepada thaghut itu”  [An-Nisa’: 60] 

Dan di antara ulama ada yang berkata: “Bahkan semacam ini, dia tidak kafir sampai dia menghalalkan“; Karena terkadang dia melakukan hal tersebut dan berhukum dengannya, sementara dia sendiri meyakini (bahwa itu maksiat), maka dia hukumnya seperti pecandu maksiat yang tidak bertaubat dari perbuatan tersebut. Pendapat pertama, yaitu orang yang selalu berhukum dengan selain syari’at Allah dan mengharuskan orang-orang (berhukum) dengan selain syari’at Allah,  maka dia kafir, menurutku ini benar, dan itu adalah pendapat kakekku Asy-Syaikh  

Muhammad bin Ibrahim V
di dalam risalahnya “Tahkīm Al-Qawānīn“. Karena  sebenarnya dia tidak menampakkan isi hati yang kufur kepada Thaghut, sebaliknya  dia menampakkan pengagungan kepada Undang-Undang Buatan dan pengagungan hukum dengan Undang-Undang Buatan

3. ORANG YANG BER-TAHĀKUM (BERHAKIM) DENGAN UNDANG-UNDANG  BUATAN 

Perihal ketiga adalah orang yang ber- Tahākum (berhakim), perihal pertama  adalah legislator, perihal kedua adalah Hākim (orang yang memutuskan hukum). Perihal ketiga adalah orang-orang yang berhakim yaitu orang yang dia dan lawan seterunya menempuh untuk berhakim kepada undang-undang buatan. Ini juga ada  perinciannya: 

(Pertama): Jika dia menginginkan berhakim kepadanya dengan sungguh sungguh, dan memandang bahwa menempuh hukum dengannya diper- bolehkan serta ingin berhakim kepada Thaghut, tanpa membencinya, maka  ini juga kafir. Karena dia masuk dalam ayat ini, tidak akan terkumpul  ‒sebagaimana kata para ulama‒ irādat (kemauan, keinginan) berhakim  kepada Thaghut bersamaan dengan iman kepada Allah, bahkan dia menafi kan ini. Allah berfirman: 

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ

“Tidakkah engkau memperhatikan orang-orang yang mengaku”. [An-Nisa’: 60] 

Kedua: Dia tidak ingin berhakim, tetapi dia malah berhakim, entah terpaksa  melakukannya, sebagaimana terjadi di negara lain, bahwa dia memaksa  lawan seterunya (untuk mediasi) kepada Ahli hukum atau kepada hakim yang  berhukum dengan Undang-Undang Buatan, atau dia mengetahui bahwa  kebenaran yang berada di pihaknya itu ada pada syari’at, lantas menyerah kan urusannya kepada seorang hakim yang memakai Undang-Undang  Buatan yang diketahui sesuai dengan hukum syar’i, maka orang ini menyerahkan urusannya dalam menggugat lawan seterunya kepada hakim yang  memakai Undang-Undang Buatan yang diketahui bahwa syari’at dapat memberi kebenaran di pihaknya, dan Undang-Undang Buatan itu sesuai dengan  syari’at, ini juga sah menurutku, boleh. Dan sebagian para ulama berpendapat: “Dia meninggalkannya walaupun kebenaran di pihaknya“, Allah  menyifati orang-orang munafik dengan firman-Nya: 

{ وَإِنْ يَكُنْ لَهُمُ الْحَقُّ يَأْتُوا إِلَيْهِ مُذْعِنِينَ} [النور: 49]

“Tetapi, jika kebenaran di pihak mereka, mereka datang kepadanya (Rasul)  dengan patuh.” [An-Nur: 49] (Silakan lihat ayat sebelumnya: dari 46-48).  

(Ketiga) Maka orang yang memandang bahwa kebenaran yang berpihak  padanya ada dalam syari’at, dan dia tidak membolehkan menyerahkan  urusannya kepada selain syari’at, kecuali menyangkut apa yang telah Allah  syari’atkan untuknya, maka dia tidak masuk dalam hal irādat (kemauan,  keinginan) berhakim kepada Thaghut, berarti dia tidak sudi, akan tetapi dia menggugat berhukum kepada syari’at, yang telah diketahui bahwa syari’at memutuskan hukum untuknya, berarti dia menjadikan hukum Undang Undang Buatan sebagai wasilah hak/kebenaran yang sesuai syari’at yang  ditetapkan untuknya. Inilah tiga keadaan. 

4. NEGARA YANG BERHUKUM DENGAN SELAIN HUKUM ALLAH 

Perihal keempat adalah perihal daulah/negara yang berhukum dengan selain  syari’at, berhukum dengan Undang-Undang Buatan. Negara-negara yang berhukum dengan Undang-Undang Buatan, juga berdasarkan ucapan Asy-Syaikh  Muhammad bin Ibrahim, dan rincian ucapan tentang persoalan ini dalam fatwa fatwanya, atau kesimpulan ucapannya, bahwa kufur kepada Undang-Undang  Buatan adalah Fardhu (wajib). 

Adapun Tahkīm kepada Undang-Undang Buatan di negara-negara yang jika  masih samar dan jarang (Undang-Undang Buatan), berarti negerinya adalah negeri  Islam, yakni negaranya adalah Daulah Islam, dan perkara tersebut hukumnya  seperti kesyirikan-kesyirikan yang terdapat di negeri tersebut. Beliau berkata: “Jika  perkara tersebut nampak merajalela, berarti Dār-nya adalah Dār Kufr“, yakni  negaranya adalah Daulah Kufr. Jadi, hukum bagi negara (yang terdapat Undang Undang Buatan) mengacu pada perincian: 

Jika Tahkīm kepada Undang-Undang Buatan itu sedikit dan samar, maka  hukumnya seperti termasuk negara-negara yang terdapat kezhaliman, atau  dosa dan maksiat, atau nampak sebagian kesyirikan di negara-negara  tersebut. 

Apabila perkara tersebut nampak merajalela ‒”nampak, lawannya adalah  samar” dan “merajalela, lawannya adalah sedikit”‒, Beliau berkata: “Berarti  Dār-nya adalah Dār Kufr“. 

Perincian ini benar; Karena kita ketahui bahwa di negara-negara Islam sana  ada perundang-undangan yang tidak sesuai dengan syari’at Allah, sedangkan para  ulama zaman dahulu tidak menghukumi Dār tersebut sebagai Dār Kufr dan tidak  menghukumi negara-negara tersebut sebagai negara-negara Kufriyyah, itu karena  kesyirikan mempunyai pengaruh pada Dār. Jika kita katakan Dār, maksudnya adalah Daulah (negara). Jadi, apabila (Tahkīm kepada Undang-Undang Buatan)  nampak merajalela, berarti negaranya adalah Daulah Kufr. Apabila sedikit dan samar, atau nampak sedikit namun segera diingkari, berarti negerinya adalah negeri  Islam dan Dār-nya adalah Dār Islām, serta negaranya adalah Daulah Islam

Perincian ini konteksnya jelas, terkumpul semua pendapat para ulama, dan  kamu tidak akan dapati pertentangan antara pendapat ulama yang satu dan  lainnya, sehingga masalah ini tidak samar lagi. إن شاء الله تعالى

 


Keterangan menurut KBBI: 

Legislasi : Pembuatan undang-undang. 

Legislator : Pembuat undang-undang. 

Kodifikasi : Penggolongan hukum dan undang-undang berdasarkan asas-asas tertentu   dalam buku undang-undang yang baku.

Syaikh Shalih bin ‘Abdul ‘Aziz alu Syaikh

shorturl.at/iCLZ6

 

Kiriman akun fb

Khoirul Hsn

 

***

 

كلام العلامة صالح آل الشيخ في” تحكيم القوانين


قال فضيلة الشيخ العلامة صالح بن عبد العزيز آل الشيخ في شرحه على “كتاب التوحيد“: في باب قول تعالىالم تر إلى الذين يزعمون أنهم آمنوا بما أنزل اليك وما أنزل من قبلك يريدون أن يتحاكموا إلى الطاغوت الآيات

هذه المسألة وهي مسألة التحاكم إلى غير شرع الله من المسائل التي يقع فيها خلط كثير خاصة عند الشباب؛ وذلك في هذه البلاد وفي غيرها، وهي من أسباب تفرّق المسلمين؛ لأن نظر الناس فيها لم يكن واحدا.
والواجب أن يتحرّ طالب العلم ما دلت عليه الأدلة وما بيَّن العلماء من معاني تلك الأدلة وما فقهوه من أصول الشرع والتوحيد وما بينوه في تلك المسائل.
ومن أوجه الخلط في ذلك أنهم جعلوا المسألة في مسألة الحكم والتحاكم واحدة؛ يعني جعلوها صورة واحدة، وهي متعددة الصور:
فمِن صورها أن يكون هناك تشريع لتقنين مستقل يضاهى به حكم الله جل وعلا؛ يعني قانون مستقل يشرَّع، هذا التقنين من حيث وَضْعُه كفر، والواضع له -يعني المشرِّع، والسَّان لذلك، وجاعل هذا التشريع منسوبا إليه- وهو الذي حكم بهذه الأحكام، هذا المشرِّع كافر، وكفره ظاهر؛ لأنه جعل نفسه طاغوتا فدعا الناس إلى عبادته وهو راض -عبادة الطاعة-.
وهناك من يحكم بهذا التقنين، هذه الحالة الثانية.
فالمشرِّع حالة
ومن يحكم بذلك التشريع حالة.
ومن يتحاكم إليه حالة.
ومن يجعله في بلده -من جهة الدول- هذه حالة رابعة.
وصارت عندنا الأحوال أربعة.
المشرِّع ومن أطاعه في جعل الحلال حراما والحرام حلالا ومناقضة شرع الله هذا كافر، ومن أطاعه في ذلك فقد اتخذه ربا من دون الله.
والحاكم بذلك التشريع فيه تفصيل:
فإن حكم مرة أو مرتين أو أكثر من ذلك، ولم يكن ذلك ديدنا له، وهو يعلم أنه عاص؛ يعني من جهة القاضي الذي حكم يعلم أنه عاص وحكم بغير شرع الله، فهذا له حكم أمثاله من أهل الذنوب، ولا يكفَّر حتى يستحل، ولهذا تجد أن بعض أهل العلم يقول: الحكم بغير شرع الله لا يكفر به إلا إذا استحل. فهذا صحيح؛ ولكن لا تنزل هذه الحالة على حالة التقنين والتشريع، فالحاكم كما قال ابن عباس: كفر دون كفر ليس الذي يذهبون إليه، هو كفر دون كفر؛يعني من حكم في مسألة، أو في مسألتين بهواه بغير شرع الله، وهو يعلم أنه عاص ولم يستحل، هذا كفر دون كفر.
أما الحاكم الذي لا يحكم بشرع الله بتاتا، ويحكم دائما ويلزم الناس بغير شرع الله، فهذا:
 من أهل العلم من قال يكفر مطلقا ككفر الذي سنّ القانون؛ لأن الله جل وعلا قال (يريدون أن يتحاكموا إلى الطاغوت) فجعل الذي يحكم بغير شرع الله مطلقا جعله طاغوتا، وقال (وقد أمروا أن يكفروا به).
ومن أهل العلم من قال: حتى هذا النوع لا يكفر حتى يستحل؛ لأنه قد يعمل ذلك ويحكم وهو في نفسه عاصي، فله حكم أمثاله من المدمنين على المعصية الذين لم يتوبوا منها.
والقول الأول من أن الذي يحكم دائما بغير شرع الله ويُلزم الناس بغير شرع الله أنه كافر هو الصحيح عندي، وهو قول الجد الشيخ محمد بن إبراهيم رحمه الله في رسالة تحكيم القوانين؛ لأنه لا يصدر في الواقع من قلبٍ قد كفر بالطاغوت؛ بل لا يصدر إلا ممن عظّم القانون وعظم الحكم بالقانون.
الحال الثالثة حال المتحاكم, الحالة الأولى -ذكرنا- حال المشرِّع، الحال الثاني حال الحاكم.
 الحال الثالثة حال المتحاكم؛ يعني الذي يذهب هو وخصمه ويتحاكمون إلى قانون، فهذا فيه تفصيل أيضا وهو:
إن كان يريد التحاكم له رغبة في ذلك ويرى أن الحكم بذلك سائغ وهو يريد أن يتحاكم إلى الطاغوت ولا يكره ذلك، فهذا كافر أيضا؛ لأنه داخل في هذه الآية، ولا يجتمع ذلك كما قال العلماء إرادة التحاكم إلى الطاغوت مع الإيمان بالله؛ بل هذا ينفي هذا والله جل وعلا قال الم تر إلى الذين يزعمون ).
الحالة الثانية أنه لا يريد التحاكم؛ ولكنه حاكم إما بإجباره على ذلك كما يحصل في البلاد الأخرى أنه يجبر أن يحضر مع خصمه إلى قاض يحكم بالقانون، أو أنه علم أن الحق له في الشرع، فرفع الأمر إلى القاضي في القانون لعلمه أنه يوافق حكم الشرع، فهذا الذي رفع أمره في الدعوة على خصمه إلى قاض قانوني لعلمه أن الشرع يعطيه حقه وأن القانون وافق الشرع في ذلك:
فهذا الأصح أيضا عندي أنه جائز.
وبعض أهل العلم يقول يشركه ولو كان الحق له.
والله جل وعلا وصف المنافقين بقوله ﴿وَإِن يَّكُنْ لَهُم الحَقّ يَأْتُوا إِلَيْهِ مُذْعِنِينَ﴾[النور:49]، فالذي يرى أن الحق ثبت له في الشرع وما أجاز لنفسه أن يترافع إلى غير الشرع إلا لأنه يأتيه ما جعله الله جل وعلا له مشروعا، فهذا لا يدخل في إرادة التحاكم إلى الطاغوت، فهو كاره ولكنه حاكم إلى الشرع، فعلم أن الشرع يحكم له فجعل الحكم الذي عند القانوني جعله وسيلة لإيصال الحق الذي ثبت له شرعا إليه
هذه ثلاث أحوال.
 الحال الرابع حال الدولة التي تحكم بغير الشرع؛ تحكم بالقانون, الدول التي تحكم بالقانون أيضا بحسب كلام الشيخ محمد بن إبراهيم وتفصيل الكلام في هذه المسألة في فتاويه قال أو مقتضى كلامه وحاصله: أن الكفر  بالقانون فرض، وأن تحكيم القانون في الدول:
إن كان خفيا نادرا فالأرض أرض إسلام؛ يعني الدولة دولة إسلام، فيكون له حكم أمثاله من الشِّركيات التي تكون له في الأرض.
قال: إن كان ظاهرا فاشيا فالدار دار كفر؛ يعني الدولة دولة كفر.
فيصبح الحكم على الدولة راجع إلى هذا التفصيل:
إن كان تحكيم القانون قليلا وخفيا، فهذا لها حكم أمثاله من الدول الظالمة أو التي لها ذنوب وعصيان، وظهور أو وجود بعض الشركيات في دولتها.
وإن كان ظاهرا فاشيا -الظهور يضاده الخفاء والفشو يضاده القلة- قال: فالدار دار كفر.
وهذا التفصيل هو الصحيح؛ لأننا نعلم أنه في دول الإسلام صار هناك تشريعات غير موافقة لشرع الله جل وعلا، والعلماء في الأزمنة الأولى ما حكموا على الدار بأنها دار كفر ولا على تلك الدول بأنها دول كفرية؛ ذلك لأن الشرك له أثر على الدار -إذا قلنا الدار يعني الدولة- فمتى كان ظاهرا فاشيا فالدولة دولة كفر، ومتى كان قليلا ظاهرا وينكر فالأرض أرض إسلام والدار دار إسلام، وبالتالي فالدولة دولة إسلام.

وهذا التفصيل يتضح به هذا المقام، وبه تجمع بين كلام العلماء، ولا تجد مضادة بين قول عالم وعالم، ولا تشتبه المسألة إن شاء الله تعالى

***

2-وقال الشيخ صالح في درسه نواقض “الإيمان عند أهل السنة والجماعة وضوابط ذلك“:

هناك المشرع هذه حالة، السانّ القوانين، وهناك المطيع؛ المطيع لهذا المشرع،المشرع له حكم، المشرع كافر سواء استحل ما استحل المشرع الذي جعل نفسهمضاهيا لله جل وعلا في حق التشريع وسنّ قوانين وضعية، سنها قوانين وضعيةمناقضة لشرع الله جل وعلا فهذا كافر“.

 

https://www.djelfa.info/vb/showthread.php?t=586816

 

Video:

 

https://www.youtube.com/watch?v=8X_Xz-9PAew

 

***

Umat Islam Indonesia Resah karena Zina dan Homosex Diputuskan MK Tak Bisa Dipidanakan, Gempa pun Menggoncang di Mana-mana (Arsip)

Posted on 19 Oktober 2018

by Nahimunkar.org

by Nahimunkar.org, 16 Desember 2017

Ya, Baru Saja Umat Islam Indonesia Resah karena Zina dan Homosex Diputuskan MK Tak Bisa Dipidanakan, Gempa pun Menggoncang di Mana-mana di tengah malam, Jumat (15/12) sekitar pukul 23.47 WIB.

Teriakan Allahuakbar Allahuakbar dari ratusan masyarakat di wilayah Dayeuhklot Kabupaten Bandung. Hampir semua warga berhamburan keluar rumah, karena gempa telah terjadi selama 1 menit, pada Jumat (15/12) sekitar pukul 23.47 WIB, tulis http://jabarekspres.com.

Pusat gempa bumi telah terditeksi BKMG disejumlah wilayah, yakni di Tasikmalaya Jawa Barat, DIY, dan Jawa Tengah dengan kekuatan 7.5 SR, lokasi 8.03 Lintang Selatan (LS), 108.04BT, kedalaman 105 KM.

Humas Basarnas Jawa Barat, Joshua Banjarnahor mengatakan, pusat gempa terjadi di laut 43 km barat daya Tasikmalaya. “Kami masih terus memantau di lapangan dan berkoordinasi terus dengan BMKG dan pihak terkait,” kata Joshua.

Dia pun mengungkapkan, Tim Rescue mulai di stand bykan beserta potensi SAR yang berada di Tasik, Pangandaran juga Garut. Menurut informasi yang didapat, sejumlah fasilitas publik mengalami kerusakan, seperti samsat Pangandaran, RS Guntur Garut, Masjid kubang Tasik, Pesantren Darul Ulum ciamis. Serta rumah warga yang berada di pangandaran dan Tasikmalaya pun banyak yang mengalami kerusakan.

“Kami telah menghimbau, khusus masyarakat sekitar pantai selatan Jawa Barat. Agar menjauh dari pantai. Jika potensi tsunami sudah berakhir, akan kita sampaikan info nya. Sekitar 2 jam yang akan datang. Untuk kita smua juga kita waspada berita hoax” pungkasnya.

Laporan : Yulli S Yulianti

Editor: Igun Gunawan/jabarekspres.com

***

DATA KERUSAKAN AKIBAT GEMPA TASIKMALAYA


Sejumlah bangunan di beberapa wilayah rusak akibat guncangan gempa yang terjadi di Tasikmalaya. Tidak hanya bangunan, ada warga yang meninggal dan luka-luka.

Berikut ulasan data akibat gempa Tasikmalaya :

– Di Kabupaten Pangandaran terdapat tiga rumah rusak berat dan tiga rumah rusak ringan. Beberapa kerusakan rumah di Kecamatan Cimerak, Kecamatan Pangandaran dan Kecamatan Sidamulih.

– Di Desa Gunungsari Kecamatan Sadananya Kabupaten Ciamis, terdapat beberapa rumah ambruk dan rusak. Satu orang meninggal dunia bernama Dede Lutfi (62) dan dua luka-luka tertimpa bangunan roboh.

– Di Banyumas terdapat enam rumah rusak berat dan kerusakan di RSUD Banyumas, tembok retak dan pasien dievakuasi ke luar bangunan.

– Di Kebumen terdapat dua orang luka-luka tertimpa rumah roboh.

– Di Kecamatan Ajibarang Banyumas terdapat satu rumah roboh.

– Di Kota Pekalongan terdapat satu orang luka-luka tertimpa bangunan roboh.


Ilustrasi. Foto/ dok. net

Akibat peringatan dini tsunami, menyebabkan masyarakat panik dan berhamburan ke luar rumah dan segera mengungsi mencari tempat yang aman yang lebih tinggi. Kemacetan terjadi di banyak tempat. BPBD meminta masyarakat mengungsi dengan tenang.

“Pusdalops BNPB terus memantau perkembangan dampak gempa dan peringantan dini tsunami. Tidak adanya bunyi tsunami di Samudera Hindia menyebabkan tidak ada kepastian, apakah ada tsunami atau tidak. Peringatan dini tsunami dari BMKG didasarkan pada analisis pemodelan. Oleh karena itu petugas BPBD dan relawan memantau tanda-tanda tsunami di pantai di tenpat yang aman. Dilaporkan air laut di pantai Pacitan surut sehingga masyarakat di sekitar pantai mengungsi,” terang Sutopo./timeline.co.id   Di Desember 16, 2017  

***

Entah apa yang akan ditimpakan ke negeri ini, karena keadaannya sudah begini, menurut seorang doktor yang menggeluti ilmu Al-Qur’an dalam keprihatinannya:

LGBT dilegalkan, PKI dianggap sesuai dg Pancasila, aliran kepercayaan disamakan dg Agama, ulama dikriminalisasikan, iman dg Allah dan akherat dianggap ramalan, semua dilakukan penguasa atas nama pancasila dan undang undang dasar 45, adakah ksatria, adakah nasionalis sejati, adakah mujahid sejati, kepemimpinan Indonesia hari berganti kepada Para Pencinta Kebenaran Sejati.

Via FB Mu’inudinillah Basri

https://www.nahimunkar.org/umat-islam-indonesia-resah-karena-zina-dan-homosex-diputuskan-mk-tak-bisa-dipidanakan-gempa-pun-menggoncang-di-mana-mana-arsip/

 

***

TIGA bulan Jalankan Hukum Allah, Brunei Temukan Ladang Gas Untuk 70 Tahun


Posted on 4 Maret 2016

by Nahimunkar.org

 


BRUNEI  – Subhanallah. Tiga bulan berselang setelah menerapkan hukum Allah (hudud) dengan izin Allah Brunei menemukan cadangan gas yang sangat signifikan untuk 70 tahun. Kerajaan Brunei Kecil di pulau Borneo pada hari Selasa (22/10/13) memutuskan untuk menerapkan Syari’at Islam di negaranya oleh Sulthan Hassanal Bolkiah ini.

Dalam pernyataan resminya, Sulthan Hassanal Bolkiah mengatakan bahwa ratifikasi hukum pidana Islam yang baru akan diberlakukan secara bertahap selama 6 bulan mendatang. Teks undang-undang baru, yang selama bertahun-tahun didiskusikan, itu adalah memotong tangan pencuri, mencambuk pemabuk dan rajam untuk pezina.

“Hukum baru ini dalam masa implementasi sebagai wujud menjalankan kewajiban kita terhadap Allah” tutur Sulthan.

Penduduk Brunai mencapai 400 ribu jiwa. 67% penduduknya beragama Islam, 13% beragama Budha dan 10% Kristen serta 10 % lain-lain.

Sulthan Hassanal Bolkiah mencoba menerapkan Syari’at Islam semenjak tahun 1996.

Kerajaan Brunei Kecil di pulau Borneo pada hari Selasa (22/10/13) memutuskan untuk menerapkan Syari’at Islam di negaranya.

Sulthan Hassanal Bolkiah, salah satu orang berpengaruh di dunia, dalam pernyataan resminya mengatakan bahwa ratifikasi hukum pidana Islam yang baru akan diberlakukan secara bertahap selama 6 bulan mendatang.

Teks undang-undang baru, yang selama bertahun-tahun didiskusikan, itu adalah memotong tangan pencuri, mencambuk pemabuk dan rajam untuk pezina.

“Hukum bari ini dalam masa implementasi sebagai wujud menjalankan kewajiban kita terhadap Allah” tutur Sulthan.

Penduduk Brunai mencapai 400 ribu jiwa. 67% penduduknya beragama Islam, 13% beragama Budha dan 10% Kristen serta 10 % lain-lain.

Sari’at Islam tidak diterpkan kecuali untuk muslimin. Brunei bersandar pada dua sitem hukum, pertama sipil dan kedua Islam. Sulthan Hassanal Bolkiah mencoba menerapkan Syari’at Islam semenjak tahun 1996.[usamah/dbs]

Tiga bulan berselang, tepatnya Januari 2014 ini, sebuah penemuan gas besar telah dibuat oleh Petronas di perairan perbatasan maritim bersama oleh Brunei dan Malaysia dengan produksi berpotensi dimulai pada kuartal pertama 2014, media Malaysia melaporkan kemarin.

Perdana Menteri Malaysia Najib Razak seperti dikutip The New Straits Times mengatakan bahwa penemuan di Blok CA2, akan dapat memenuhi kebutuhan Brunei LNG. Laporan itu menambahkan bahwa Najib digambarkan menemukan sebagai penemuan yang ‘signifikan’ dan disinyalir gas dapat mencukupi kebutuhan hingga 70 tahun kedepan.

Sementara itu The Star Online melaporkan bahwa Najib mengatakan dalam konferensi pers setelah Konsultasi Tahunan ke-17 Brunei – Malaysia Leaders yang diadakan Yang Mulia Sultan dan Yang DiPertuan of Brunei bahwa cadangan minyak dan gas yang besar telah ditemukan di baru bidang eksplorasi wilayah Sarawak – Brunei – Sabah.

Perdana menteri Malaysia dilaporkan mengucapkan terima kasih Yang Mulia untuk konsultasi dan menekankan bahwa pengaturan komersial mencapai dalam eksplorasi dan eksploitasi minyak dan gas adalah salah satu hasil yang paling penting dari pertemuan tersebut.

Perjanjian ini akan membuka jalan bagi kedua pihak untuk menyelesaikan sejumlah isu yang berkaitan dengan perkembangan masa depan mendatang.

Maha Benar Allah dengan segala firman-NYa..

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS: Al-A’raf Ayat: 96)

أَفَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَن يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا بَيَاتاً وَهُمْ نَآئِمُونَ

“Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur?” (Qs. Al-A’raf: 97)

أَوَ أَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَن يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا ضُحًى وَهُمْ يَلْعَبُونَ

“Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain?” (Qs. Al-A’raf: 98)

أَفَأَمِنُواْ مَكْرَ اللّهِ فَلاَ يَأْمَنُ مَكْرَ اللّهِ إِلاَّ الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ

“Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (Qs. Al-A’raf: 99)

Pelajaran untuk kita

Ibnu Katsir rahimahullahu berkata, “Allah berfirman mengabarkan betapa sedikitnya keimanan para penduduk negeri yang menjadi tempat diutusnya para rasul. Sebagaimana firman Allah

فَلَوْلا كَانَتْ قَرْيَةٌ آمَنَتْ فَنَفَعَهَا إِيمَانُهَا إِلا قَوْمَ يُونُسَ لَمَّا آمَنُوا كَشَفْنَا عَنْهُمْ عَذَابَ الْخِزْيِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَتَّعْنَاهُمْ إِلَى حِينٍ

‘Dan mengapa tidak ada (penduduk) suatu kota yang beriman lalu imannya itu bermanfaat kepadanya, selain kaum Yunus? Tatkala mereka (kaum Yunus itu) beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka hingga waktu tertentu.’ (Qs. Yunus: 98)” (Tafsir Ibnu Katsir, juz 3, hlm. 450)

Syekh As-Sa’di menjelaskan tafsir surat Al-A’raf:96—99 ini secara terperinci, dalam Taisir Karimir Rahman, hlm. 298. Mari kita renungi bersama.

“Ketika Allah Ta’ala menyebutkan bahwa orang yang mendustakan para rasul diuji dengan kemalangan, (musibah) itu merupakan nasihat sekaligus peringatan; mereka diuji dengan kesenangan sebagai istidraj dan makar (dari Allah). Disebutkan bahwa seandainya para penduduk negeri tersebut menyimpan iman dalam hati mereka dengan penuh kejujuran, niscaya amal perbuatan mereka akan membenarkan (baca: membuktikan) kejujuran tersebut.

Allah juga menumbuhkan – untuk mereka – segala tetumbuhan dari bumi yang menjadi sumber penghasilan mereka dan menjadi sumber pakan hewan ternak mereka. Dalam tanah yang subur terdapat mata pencaharian, dalam keberlimpahan terdapat rezeki, tanpa perlu merasakan kesusahan dan keletihan, tanpa perlu bekerja keras dan tanpa mengalami kepayahan. Meski demikian, mereka tidak beriman dan tidak bertakwa.

فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

‘… Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.’ (Qs. Al-A’raf: 96)

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut, yang disebabkan oleh perbuatan tangan manusia, supaya Allah membuat mereka merasakan sebagian (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).’ (Q.s. Ar-Rum:41).

Selain penjelasan tersebut, Syekh As-Sa’di juga menyebutkan tafsir untuk beberapa penggalan dari surat Al-A’raf, ayat 96—99,

  • “Tidakkah penduduk negeri itu beriman”; yang dimaksud (“penduduk negeri” dalam ayat tersebut) adalah ‘ para pendusta’, berdasarkan indikasi rangkaian kata (setelahnya) “akan datangnya siksa dari Kami”, yaitu ‘azab yang pedih’;
  • “Di malam hari, saat mereka sedang tidur”, yaitu ‘saat mereka lengah, terpedaya, dan sedang beristirahat’;
  • “Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain?”, maksudnya ‘apa gerangan hal yang membuat mereka merasa aman, padahal mereka telah melakukan berbagai faktor penyebab yang bisa mendatangkan bencana itu; mereka telah melakukan dosa-dosa yang sangat buruk, sehingga bagaimana mungkin mereka tidak diganjar dengan kebinasaan setelahnya?’;
  • “Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)?” maksudnya ‘ketika mereka dilenakan dari arah yang tidak mereka duga, dan Allah menyiksa mereka; sesungguhnya, tipu daya Allah begitu kuat’;
  • “Tiada yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi”, maksudnya ‘maka sesungguhnya, orang yang merasa aman dari makar Allah adalah orang yang tidak membenarkan adanya balasan atas amalan yang telah dikerjakan. Dia juga tidak beriman dengan penuh kesungguhan kepada para rasul. Ayat yang mula ini menakut-nakuti secara umum, agar hendaknya para hamba tidak merasa aman dengan keimanan yang dimilikinya.
    Akan tetapi, mereka senantiasa takut dan khawatir jika dirinya didera ujian yang dapat memberangus imannya. Juga, hendaklah dia senantiasa berdoa dengan mengatakan, ‘Wahai Dzat yang membolak-balik hati, tetapkanlah hatiku di atas agamamu,’ serta hendaknya dia beramal dan berusaha dengan menempuh setiap sebab yang memungkinkan dirinya terbebas dari keburukan ketika datangnya fitnah (ujian). Oleh karena itu, seorang hamba –walau dia telah sampai pada kondisi (keimanan)-nya saat ini– tak ada kepastian bahwa dia akan selamat.

Allah tidak pernah zalim

إِنَّ اللّهَ لاَ يَظْلِمُ النَّاسَ شَيْئاً وَلَـكِنَّ النَّاسَ أَنفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

“Sesungguhnya Allah tidak berbuat zalim kepada manusia sedikit pun. Akan tetapi, manusia itulah yang berbuat zalim kepada diri mereka sendiri.” (Qs. Yunus: 44)

وَآتَاكُم مِّن كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ وَإِن تَعُدُّواْ نِعْمَتَ اللّهِ لاَ تُحْصُوهَا إِنَّ الإِنسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ

“Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala hal yang kamu mohon kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya, manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (Qs. Ibrahim: 34)

وَأَنذِرِ النَّاسَ يَوْمَ يَأْتِيهِمُ الْعَذَابُ فَيَقُولُ الَّذِينَ ظَلَمُواْ رَبَّنَا أَخِّرْنَا إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ نُّجِبْ دَعْوَتَكَ وَنَتَّبِعِ الرُّسُلَ أَوَلَمْ تَكُونُواْ أَقْسَمْتُم مِّن قَبْلُ مَا لَكُم مِّن زَوَالٍ

Dan berikanlah peringatan kepada manusia terhadap hari (yang pada waktu itu) azab datang kepada mereka, maka orang-orang yang zalim berkata, ‘Ya Tuhan kami, beri tangguhlah kami (kembalikanlah kami ke dunia) walaupun dalam waktu yang sedikit, niscaya kami akan mematuhi seruan-Mu dan akan mengikuti rasul-rasul.’ (Dikatakan kepada mereka), ‘Bukankah kamu telah bersumpah dahulu (di dunia) bahwa sekali-kali kamu tidak akan binasa?’” (Qs. Ibrahim: 44)

رُّسُلاً مُّبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ لِئَلاَّ يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ وَكَانَ اللّهُ عَزِيزاً حَكِيماً

“(Kami utus mereka) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, supaya tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan Allah itu Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (Qs. An-Nisa’: 165)

Wahai orang yang berani melawan Allah, lawanlah jika engkau yakin kuasa ada di tanganmu!

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يُجَادِلُونَ فِي آيَاتِ اللَّهِ أَنَّى يُصْرَفُونَ

“Apakah kamu tidak melihat orang-orang yang membantah ayat-ayat Allah? Bagaimanakah mereka dapat dipalingkan?” (Qs. Al-Mu’min: 69)

Sungguh sayang, ternyata perlawananmu terhadap Rabb semesta alam tak ‘kan membuahkan kemenangan. Sudah banyak para pembangkang di masa lalu yang mencobanya, namun buktinya mereka selalu gagal bahkan mustahil memenangkannya.

وَالَّذِينَ يُحَاجُّونَ فِي اللَّهِ مِن بَعْدِ مَا اسْتُجِيبَ لَهُ حُجَّتُهُمْ دَاحِضَةٌ عِندَ رَبِّهِمْ وَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ

“Dan orang-orang yang membantah (agama) Allah sesudah agama itu diterima, bantahan mereka itu sia-sia saja di sisi Tuhan mereka. Mereka mendapat kemurkaan (Allah) dan bagi mereka azab yang sangat keras.” (Qs. Asy-Syura: 16)

وَقَوْمَ نُوحٍ لَّمَّا كَذَّبُوا الرُّسُلَ أَغْرَقْنَاهُمْ وَجَعَلْنَاهُمْ لِلنَّاسِ آيَةً وَأَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ عَذَاباً أَلِيماً

“Dan (telah Kami binasakan) kaum Nuh tatkala mereka mendustakan rasul-rasul. Kami tenggelamkan mereka dan Kami jadikan (kisah) mereka itu pelajaran bagi manusia. Dan Kami telah menyediakan azab yang pedih bagi orang-orang zalim.” (Qs. Al-Furqan: 37)

Betapa pendek ingatan kita

Adakah yang masih ingat suara air bah Tsunami Aceh yang meluap dan menerabas benda-benda mati dan makhluk hidup yang dilaluinya?
Adakah yang masih ingat hiruk-pikuk orang-orang yang sibuk menyelamatkan diri dari bencana meletusnya Gunung Merapi?
Adakah yang masih ingat guncangan gempa Wasior yang membuat segalanya porak-poranda?
Adakah yang masih ingat keterpurukan Jepang selepas gempa yang dahsyat?
Adakah yang masih ingat ketidakberdayaan manusia melawan badai katrina dan badai irene di Amerika Serikat?
Sungguh sering ingatan kita yang begitu pendek membuat kita pilu bukan main di suatu saat.
Lalu, tak berselang lama setelah itu, mulailah lagi tawa kita membahana dan kelalaian kita menari-nari.

Sungguh, hanya orang-orang yang senantiasa mengingat Allah yang selalu waspada di setiap jengkal hidupnya.

Kita takut, kita berharap

Maksud kandungan ayat tersebut (surat Al-A’raf: 96—99 diatas) adalah bahwa seorang hamba wajib merasa takut kepada Allah, bersegera menuju Allah dengan penuh rasa harap dan cemas. Jika dia melihat dosa-dosanya dan ancaman Allah dan siksa-Nya yang pedih maka dia akan tunduk dan merasa takut. Jika dia melihat sikap-sikapnya yang berlebihan, baik yang umum maupun yang khusus, maka dia akan memohon kepada Allah –dengan penuh harap dan sungguh berhasrat– agar semua sikapnya itu berkenaan dimaafkan (oleh Allah, pen.). (Al-Qaul As-Sadid Syarh Kitabut Tauhid, juz 1, hlm. 124)

Jika dia diberi taufik untuk taat dengan mengharap ridha Rabb-nya maka nikmat tersebut menjadi sempurna dengan diterimanya amalan ketaatan itu. Dirinya takut jikalau amalannya itu ditolak, dia juga takut jika amalannya itu kurang sempurna. Jika dia bermaksiat, dia menggantungkan harap agar sekiranya Rabb-nya berkenan menerima taubatnya dan berkenan menghapusnya.

Dirinya takut – karena sebab kelemahan taubatnya dan kelemahan perhatiannya akan dosa – bahwa dosa itu akan menimbulkan hukuman baginya. Adapun saat nikmat dan kemudahan datang, dia berharap kepada Allah agar mengekalkannya dan menambahnya serta melimpahkan taufik kepadanya untuk bersyukur. Dirinya pun takut jika nikmat taufik itu memudar jika dia ingkar nikmat. (Al-Qaul As-Sadid Syarh Kitabut Tauhid, juz 1, hlm. 124)

Di waktu ada kejadian yang tidak disukainya dan terjadi musibah yang menimpanya, dia berharap kepada Allah agar mengangkat kesukaran tersebut dan dia menanti kelapangan yang akan menguapkan kesukaran tadi. Jiwanya juga berharap Allah mengaruniakan pahala atas musibah tersebut ketika dia melaluinya dengan penuh kesabaran. Dia takut bila dua musibah (yaitu musibah di dunia dan di akhirat, pen.) berkumpul maka akan lenyaplah pahala yang begitu dicintainya serta terjadilah peristiwa yang dibenci, jika dia tidak menjalankan kesabaran yang wajib. (Al-Qaul As-Sadid Syarh Kitabut Tauhid, juz 1, hlm. 124)

Bagi Anda yang merasa aman dari makar Allah, hati-hatilah dari dua sebab yang membinasakan:

Pertama:berpaling dari agama dan syariat

Seorang hamba berpaling dari agama dan lalai dari mengenal Rabb-nya serta lalai dari mengetahui hak-hak orang lain atas harta yang dimilikinya, dan dia bermudah-mudah atas hal tersebut. Karenanya, dia akan senantiasa menjadi orang yang berpaling lagi lalai dan menyepelekan kewajiban, “tekun dan sabar” mengerjakan perbuatan-perbuatan haram, hingga rasa takut kepada Allah akhirnya lenyap dari hatinya dan tak ada lagi sedikit pun iman yang tersisa di hatinya, karena iman itu mengandung rasa takut kepada Allah serta takut akan azab-Nya di dunia maupun di akhirat.

Kedua: Beribadah didasari atas kebodohan

Hamba tersebut beribadah dengan bekal kejahilan, kagum terhadap dirinya, dan tertipu oleh amalannya. Sebagai akibatnya, dia senantiasa hidup dalam kejahilan hingga dia menyimpulkan sendiri baik-buruk amalannya dan sirna pula rasa takut akan hisab amal tersebut.
Menurutnya, dia memiliki kedudukan yang mulia di sisi Allah sehingga dia akan aman dari makar Allah, padahal sebenarnya dia benar-benar buta akan dirinya yang lemah dan hina. Berawal dari ini semua, hamba tersebut menelantarkan dirinya dan mendirikan penghalang antara dirinya dengan hidayah taufik, karena dia sendirilah yang telah berbuat dosa.

Dengan perincian ini, telah diketahui betapa agung perkara ini (rasa takut dan harap kepada Allah, pen.) untuk (menyempurnakan) tauhid seseorang. (Al-Qaul As-Sadid Syarh Kitabut Tauhid, juz 1, jlm. 126)

Ayat-ayat Allah telah disampaikan. Semoga banyak hati yang terbuka untuk menerima kebenaran, menjauhi kelalaian, menghindari dosa dan kemaksiatan, serta sibuk menambah amalan kebajikan untuk bekal kehidupan yang tiada akan ada penghujungnya kelak. [Voa-Islam]

sumber: sumatranew.blogspot.co.id

https://www.nahimunkar.org/tiga-bulan-jalankan-hukum-allah-brunei-temukan-ladang-gas-70-tahun/

 

(nahimunkar.org)

(Dibaca 278 kali, 1 untuk hari ini)