Mengiringi 17-an Agustus/ Peringatan Hari Kemerdekaan RI, kalau pemerintah memunculkan hasil OTT (Operasi Tangkap Tangan) baru terutama dari kelompok ‘Saya Indonesia Saya Pancasila’, lalu dimasukkan tahanan, dan diumumkan, maka mungkin rakyat akan mengenang 17-an tahun ini cukup istimewa.

Kenapa istimewa? Karena di antaranya di medsos beredar begini:







Enung Nurhayati

12 Agustus pukul 08.40

Yg terhormat prof Mahfud MD..

SELURUH INDONESIA KECOLONGAN..Org org yg sok pancasilais..padahal dia MALING..eehh RAMPOG./ via fb Enung Nurhayati

***

 

Tapi kalau hanya (tanggal 16 Agustus-nya) mau ngumumin akan pindah ke ‘ibukota baru’ yang menelan biaya 466 triliun rupiah, ya… hanya jadi ingat, ide pemindahan ibukota ke Palangkaraya Kalimantan adalah dari pentolan PKI bernama Semaun.https://www.nahimunkar.org/ide-pemindahan-ibukota-ke…/

 

Ide Pemindahan Ibukota ke Palangkaraya dari Tokoh PKI Semaun

 

Tokoh PKI Semaun (atas) dan Jembatan Kahayan di Palangkaraya, Kalimantan Tengah


Nama Palangkaraya mendadak moncer seiring dengan ide pemindahan ibukota negara dari Jakarta oleh Presiden Jokowi. Gagasan ini sudah ada sejak zaman Soekarno. Juga sempat mencuat di era SBY. Menariknya, orang yang menyarankan pemindahan ibukota kepada Soekarno adalah tokoh PKI bernama Semaun.

Fakta ini terungkap dalam tulisan Eko Sulistyo dalam Koran Sindo, Senin, 17 April 2017. Eko adalah Deputi Komunikasi Politik dan Diseminasi Informasi Kantor Staf Presiden. Menurut Eko, Semaun adalah konseptor yang terlibat dalam pembangunan tata ruang kota-kota satelit Uni Soviet di wilayah Asia Tengah.

Dia menyarankan Kalimantan dijadikan pertimbangan karena sebagai pulau terbesar di Indonesia dan letaknya di tengah-tengah gugus pulau Indonesia. Di samping itu untuk menghilangkan sentralistik Jawa yang telah menimbulkan ketidakpuasan dan pergolakan daerah seperti PRRI/Permesta.

Presiden Soekarno lalu mempelajari soal Kalimantan, setahun setelah ide pemindahan tersebut disampaikan Semaun. Lalu diambil sebuah keputusan dengan cara yang unik. Pada suatu malam,  Soekarno mengambil mangkok putih di depan peta besar Kalimantan. Kemudian menaruh mangkok itu ke tengah-tengah peta. Soekarno lalu berkata di hadapan semua orang, “Itu Ibu kota RI!” sambil menunjuk satu peta di tepi sungai Kahayan.

Eko melanjutkan dalam tulisannya, ada empat pertimbangan yang melatarbelakangi Presiden Jokowi mengeluarkan wacana pemindahan ini. Pertama, perlunya pemerataan perekonomian antara Pulau Jawa dengan pulau lain dan mencegah kosentrasi pembangunan di satu wilayah. Jika pusat pemerintahan dipindahkan, maka akan menumbuhkan pusat ekonomi dan pertumbuhan baru di sekitarnya.

Kedua, kota Palangkaraya di Kalimantan tidak terancam oleh gempa bumi. Karena bukan merupakan jalur gunung berapi ‘ring of fire’ seperti melewati Pulau Jawa. 

Ketiga, tersedianya tanah luas yang dikuasai negara dan statusnya jelas sehingga tidak perlu ada proses pembebasan tanah. Bahkan Gubernur Kalimantan Tengah, Sugianto Sabran telah menyiapkan lahan seluas 500.000 hektare untuk memfasilitasi pemindahan ini. 

Keempat, Jakarta sudah terlalu padat dan kemacetan yang sudah parah.

Semaun adalah tokoh PKI. Dia merupakan ketua umum pertama partai komunis tersebut yang didirikan pada Mei 1921. (Kur/Wajada)
www.wajada.net
Erwyn Kurniawan 22.10  

***

Gini Mau Diampuni! Pengakuan Siti Melihat Kekejaman PKI Sembelih Ayahnya Dengan Pisau Kurang Tajam dan Dimasukkan ke Lubang Beserta Warga Lain


Posted on 3 Juni 2016


ilustrasi


Siti Asyiah saat ini sudah tidak bisa berbicara dengan jelas karena faktor usia.

Putra pertama Siti, Sobri Irsjadi (65), memperkirakan usia ibundanya itu adalah sekitar 85 tahun.

Walaupun sudah tergolong uzur, Siti masih mampu menuturkan nasib tragis yang menimpa keluarganya di kabupaten Ngawi, Jawa Timur, pada September 1948, saat Partai Komunis Indonesia (PKI) melakukan pemberontakan.

Siti mengingat umurnya saat itu sekitar 18 tahun. Sebelum tragedi berlamgsung, ia tinggal di rumah orangtua angkatnya, di desa Kerambe kabupaten Magetan.

Ayahnya saat itu adalah Haji Dimyati, aktivis Masyumi yang juga merupakan seorang penghulu.

Saat anggota PKI melakukan pemberontakan untuk menguasai Madiun dan mendirikan Republik Indonesia Soviet, kabupaten Ngawi yang lokasinya sekitar 35 Kilometer, ikut dijadikan saaaran.

Tokoh Islam di desa Kerambe pun ikut jadi sasaran.

“Bapak saya mengungsi, lari ke kecamatan Widodaren, bersama putra-putranya,” kata Siti saat ditemui di sela-sela simposium yang bertajuk “Mengamankan Pancasila dari Ancaman Kebangkitan Partai Komunis Indonesia dan Ideologi Lain,” di Balai Kartini, Jakarta Selatan, Kamis (2/6/2016).

Ia sendiri tidak sampai mengungsi jauh dari rumah, Siti hanya mengungsi ke rumah tetangga.

Karena mengungsi ke rumah tetangga, ia bisa menyaksikan bagaimana para pendukung PKI yang membakar rumahnya dan menjarah segala harta keluarga.

“Itu (kejadiannya) kami baru sehari mengungsi,” ujar Siti dalam bahasa Jawa halus.

Walaupun sudah mengungsi jauh, PKI tetap memburu Haji Dimyati dan sejumlah tokoh lainnya.

Mereka kemudian mengirimkan salah seorang kenalan sang penghulu, untuk membujuknya pulang.

Yang ia tahu saat itu Haji Dimyati diberitahu bahwa desa sudah aman, dan para antek PKI sudah pergi.

Akhirnya orang yang dicari-cari PKI itu tertipu, dan maupulang. Sesampainya di kampung halaman, Haji Dimyati langsung diamankan ke markas PKI di desa tersebut.

Sehari setelah ditahan, Haji Dimyati bersama seorang warga Kerambe lainnya,dieksekusi di lubang yang sama. Keduanya dibunuh dengan cara disembelih, lalu dikubur di lubang yang sama.

Sedianya di lubang tersebut ada tiga orang yang dieksekusi, satu orang lagi yang seharusnya ikut disembelih oleh Haji Dimyati adalah sang kepala desa.

Namun saat itu kepaka desa Kerambe meminta disembelih dengan pisau yang tajam.

PKI mau memenuhi permintaan tersebut, dengan mengupayakan alat potong yang lebih baik. Alhasil sang kepala desa tidak ikut dieksekusi bareng Haji Dimyati.

Ia diagendakan di sembelih di tidak di hari yang sama.

Sebelum sang kepala desa disembelih, pasukan dari Pangdam Diponegoro keburu datang dan membebaskan kabupaten Ngawi, beruntung sang kepala desa batal dieksekusi.

Siti akhirnya mengetahui nasib bapaknya itu dari sang kepala desa, setelah PKI ditumpas.

sumber : bangkapos/suaranews.com

(nahimunkar.org)

***

Dan kalau isi pidato resmi dibuka dengan salam oplosan yakni salam Islam -Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh- disertai salam-salam agama lain, maka bisa merusak iman menurut Islam.

This post was published to Nahimunkar.org at 1:09:39 PM 8/14/2019

Peringatan Hari Kemerdekaan, OTT, Ide Pemindahan Ibu Kota ke Palangkaraya dari Tokoh PKI Semaun, dan Pidato dengan Salam Oplosan Merusak Iman

 

 

Category    Headline

 

Umat Islam wajib menjaga imannya, jangan sampai tercampuri kemusyrikan.

Di antaranya kemusyrikan itu belakangan ini dikemas dalam pidato, pakai ucapan salam yang dicampur-campur bagai salam oplosan. Yaitu mengucapkan salam Islam, -Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh-, tapi kemudian mengucapkan pula salam2 dari agama2 lain. Padahal salam Hindu pada hakekatnya mengandung ketuhanan Hindu yang bermuatan mengutuk Allah Ta’ala sebagai Tuhan pemecah belah (manusia dipecah menjadi Mukmin dan Kafir). Itu bisa mengakibatkan Muslim pelakunya (yang mengucapkan Salam Islam disertai salam2 agama lain itu) jadi murtad alias batal keislamannya. Karena meyakini Allah Ta’ala namun sekaligus juga mengutuknya pakai salam agama lain. Maka setiap Muslim wajib menghindari ucapan salam oplosan yang sangat merusak keimanan Islam itu.
Sebentar lagi akan ada pidato2 resmi/ kenegaraan seputar Hari Kemerdekaan Indonesia. Tanggal 16 Agustus katanya akan ada pidato resmi bahkan akan mengumumkan apa yang disebut ‘ibu kota baru’ (kalau ibukota agar dipindah ke Palangkaraya itu idenya dari pentolan PKI, Semaun
https://www.nahimunkar.org/ide-pemindahan-ibukota-ke-palangkaraya-dari-tokoh-pki-semaun/ ). Pemindahan ibukota itu menelan biaya 446 triliun rupiah (ada pejabat yang bilang, dari pemerintah sekitar 30-an triliun. Sedang lainnya dari…).

Juga mungkin ada pidato2 resmi hari2 berikutnya. Jangan sampai salam oplosan yang merusak Iman Islam itu diucapkan lagi oleh siapapun yang mengaku dirinya Muslim. Karena sangat membahayakan keimanan pengucapnya, dan sangat berdosa besar.

Bila itu ditiru oleh orang-orang yang meneladaninya, maka akan merusak keimanan penirunya pula, sedang orang yang ditiru itu akan mendapatkan dosa pula, tanpa berkurang dari dosa penirunya. Bahkan sampai yang ditiru itu suah meninggal sekalipun, bila salam oplosan itu masih ditirukan orang (dan yang ditiru itu belum mengumumkan dicabutnya salam oplosan yang pernah dia ucapkan di depan umum hingga ditiru orang itu), maka dosanya akan tetap mengalir pula. Na’udzubillahi min dzalik (kami berlindung kepada Allah dari hal yang demikian).


Lewat tulisan ini diperingatkan, jangan sampai Umat Islam terseret atau kecipratan salam2 oplosan yang sangat membahayakan iman itu. Bila sudah diperingatkan seperti ini, namun tetap ngotot, wallahu a’lam apakah bisa dikategorikan penodaan agama atau tidak, yang penting Umat Islam wajib menjaga imannya dari gempuran manusia2 yang menjajakan kemusyrikan dan lainnya yang merusak Iman Islam.
Silakan simak artikel ini.

***

 

Musibah Agama! Salam Islam Dilanjutkan dengan Salam Agama-Agama Lain


Foto ytb

Astaghfirullah. Capres 01 Jokowi dan Capres 02 Prabowo sama-sama mengucapkan salam Islam (Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh) lalu dilanjutkan dengan salam-salam agama-agama lain. Itu berlangsung dalam debat kelima Pilpres 2019 di Hotel Sultan, Jakarta, Sabtu malam (13/4/2019).

Mereka sama-sama orang Islam. Perlu diketahui benar-benar, Salam dalam Islam itu termasuk doa. Doa itu ibadah. Sedangkan dalam Islam sudah jelas melarang mencampur ibadah dengan ritual agama lain. Ditegaskan, ibadah itu haram dicampur atau disertai ritual agama-agama lain. Karena telah ditegaskan dalam QS Al-Kafirun: 6.

لَكُمۡ دِينُكُمۡ وَلِيَ دِينِ ٦ [ الـكافرون:6-6]

6. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku”. [Al Kafirun:6]

Dengan demikian, mengucapkan salam Islam, lalu dilanjutkan dengan salam agama-agama lain itu jelas-jelas melanggar. Bahkan dapat menjadikan pelakunya murtad alias keluar dari Islam, membatalkan syahadat. Karena sama dengan mengikrarkan ketuhanan agama lain yang otomatis kontradiksi dengan Syahadat. Ini berlaku bagi setiap Muslim, tanpa terkecuali capres maupun presiden.

Ini musibah agama!

Ini biangnya. Nasaruddin Umar imam besar Masjid Istiqlal Jakarta berdoa untuk membuka debat kelima (terakhir) capres cawapres 2019. Nasaruddin Umar imam besar Masjid Istiqlal Jakarta mengucapkan salam Islam (Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh), lalu dilanjutkan dengan salam-salam agama-agama lain dan bahkan aliran kepercayaan. ini di antara biangnya, karena telah diketahui, Nasaruddin Umar Menyamakan konsep Asmaul Husna dalam Islam dengan doktrin ketuhanan Trinitas dalam Kristen. Maka dia pantas untuk bertanggung jawab atas musibah agama, dua capres (Jokowi dan Prabowo) pun kemudian mengucapkan salam Islam disertai salam-salam agama-agama lain.

***

Bisa Murtad dan Musyrik! Mengucapkan Salam Islam Disertai Salam Agama Lain

Posted on 30 Oktober 2014

by Nahimunkar.com


Presiden Joko Widodo (ANTARA/Yudhi Mahatma) dalam acara pelantikan yang digelar di Gedung MPR, Senayan, Jakarta, Senin (20/10/2014). Jokowi pidato sejak 11.40 WIB sampai 11.50 WIB. Ia membuka pidatonya dan menyampaikan salam menurut 4 agama: Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Salam Damai Sejahtera untuk kita semua, Om Swastiastu, Namo Buddhaya.

  • Salam Oplosan Mencopot Iman, Miras Oplosan Mencopot Nyawa.
  • Salam Oplosan, Haram! Dapat Membatalkan Iman bagi Muslim. Lebih dahsyat bahayanya dibanding miras oplosan yang dapat mengakibatkan copotnya nyawa.
  • Islam jelas bertuhan satu, ditegaskan dalam Al-Qur’an Surat Al-Ikhlas. Dalam bahasa lain disebut monotheisme. Sedang monothetisme itu sangat dikecam oleh Hindu.

Kaum Hindu juga sangat membanggakan konsep Tuhan mereka yang bersifat pantheistik dan bukan monotheistik. Lebih jauh buku karya Ngakan Made Madrasuta berjudul “Tuhan, Agama dan Negara” (Media Hindu, 2010) menyatakan: “Monotheisme mengajarkan kebencian dan kekerasan, memecah belah manusia ke dalam apartheid orang beriman versus orang kafir. Tuhan pemecah belah. Pantheisme mengajarkan hal-hal sebaliknya; penghormatan terhadap seluruh makhluk hidup, semua manusia adalah satu keluarga, ahimsa, welas asih, Tuhan pemersatu.” (hal. 214).
Oleh karena itu, orang Islam yang mengucapkan salam Hindu, Om Swastiastu (yang itu kental dengan ketuhanan Hindu) maka dapat mengeluarkannya dari Islam alias bisa murtad dan musyrik. Na’udzubillahi min dzalik! Bila meninggal dalam keadaan tetap belum bertaubat, bila terhitung musyrik, maka haram masuk surga, dan kekal di nereka. Na’udzubillahi min dzalik!

{إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ} [المائدة: 72]

Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (QS Al-Maaidah: 72).

Walaupun sama-sama sangat berbahaya antara salam oplosan dengan miras oplosan, namun sejatinya lebih berbahaya salam oplosan, karena jatuhnya ke syirik, menyekutukan Allah Ta’ala dengan lainnya, yang itu dosa paling besar dan tidak diampuni bila meninggal dalam keadaan belum bertaubat.

***

Kita masih ingat saat kemarin di gedung perwakilan rakyat, seorang penguasa yang baru dilantik dan memberikan pidato perdananya. Ia membuka pidatonya dan menyampaikan salam menurut 4 agama: Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Salam Damai Sejahtera untuk kita semua, Om Swastiastu, Namo Buddhaya.
Tindakan pejabat tinggi Indonesia dalam mengucapkan salam dalam berbagai versi agama itu sudah seringkali terdengar. Bagi kaum Hindu, “Om Swastyastu” memang ucapan ibadah dalam agama Hindu.
Dr. Adian Husaini, dalam Catatan Akhir Pekan-nya di Hidayatullah Online, 12 November 2012, menyebutkan bahwa Seorang Hindu menjelaskan tentang makna Om Swastyastu sebagai berikut:
“Salam Om Swastyastu yang ditampilkan dalam bahasa Sansekerta dipadukan dari tiga kata yaitu: Om, swasti dan astu. Istilah Om ini merupakan istilah sakral sebagai sebutan atau seruan pada Tuhan Yang Mahaesa. Om adalah seruan yang tertua kepada Tuhan dalam Hindu. Setelah zaman Puranalah Tuhan Yang Mahaesa itu diseru dengan ribuan nama. Kata Om sebagai seruan suci kepada Tuhan yang memiliki tiga fungsi kemahakuasaan Tuhan. Tiga fungsi itu adalah, mencipta, memelihara dan mengakhiri segala ciptaan-Nya di alam ini. Mengucapkan Om itu artinya seruan untuk memanjatkan doa atau puja dan puji pada Tuhan. Dalam Bhagawad Gita kata Om ini dinyatakan sebagai simbol untuk memanjatkan doa pada Tuhan. Karena itu mengucapkan Om dengan sepenuh hati berarti kita memanjatkan doa pada Tuhan yang artinya ya Tuhan.
Setelah mengucapkan Om dilanjutkan dengan kata swasti. Dalam bahasa Sansekerta kata swasti artinya selamat atau bahagia, sejahtera. Dari kata inilah muncul istilah swastika, simbol agama Hindu yang universal. Kata swastika itu bermakna sebagai keadaan yang bahagia atau keselamatan yang langgeng sebagai tujuan beragama Hindu. Lambang swastika itu sebagai visualisasi dari dinamika kehidupan alam semesta yang memberikan kebahagiaan yang langgeng.” (http://www.mail-archive.com/hindu-dharma@itb.ac.id/msg07018.html).

Itulah penjelasan Hindu tentang ucapan salam khas Hindu, “Om Swastyastu”. Dari penjelasan itu tampak, bahwa ungkapan salam Hindu itu sangat terkait erat dengan konsep Tuhan dan sembahyang dalam agama Hindu. Jadi, kata “Om” dalam agama Hindu berarti “Ya Tuhan”.
Dalam buku kecil berjudul “Sembahyang, Tuntunan Bagi Umat Hindu” karya Jro Mangku I Wayan Sumerta (Denpasar: CV Dharma Duta, 2007), disebutkan sejumlah contoh doa dalam agama Hindu yang diawali dengan kata “Om”, seperti doa sebelum mandi: “OM, gangga di gangga prama gangga suke ya namah swaha”.
Meskipun sama-sama menyatakan bertuhan SATU, agama-agama memiliki konsep Tuhan yang berbeda-beda tentang “Yang Satu” itu. Kaum Hindu, misalnya, mempunyai konsep dan juga sebutan-sebutan untuk Tuhan mereka secara khas. Dalam buku karya Ngakan Made Madrasuta berjudul “Tuhan, Agama dan Negara” (Media Hindu, 2010), dijelaskan perbedaan konsep Tuhan antara Hindu, Kristen, Yahudi, dan Islam. Tentu saja penjelasan itu dalam perspektif Hindu. Menurut penulis buku ini, Tuhan dalam agama Hindu, yakni Sang Hyang Widhi tidak dapat disebut “Allah”. Disimpulkan oleh penulis buku ini: “Membangun toleransi bukan dengan mencampuradukkan pemahaman tentang Tuhan, tetapi sebaliknya justru dengan mengakui perbedaan itu. Dalam pengertian ini, Krishna bukan Kristus, Sang Hyang Widhi bukan Allah!” (hal. 33).
Misalnya, tentang perbedaan antara Kristus dan Krishna dijelaskan: “Ingat Hindu tidak percaya akan dosa asal, tidak percaya dengan Adam dan Hawa, dan Krishna juga tidak mati di kayu salib. Krishna datang ke dunia sebagai Avatara, bukan untuk menebus dosa, tetapi untuk menegaskan kembali jalan menuju moksha (empat yoga itu) terutama karma yoga. Jadi manusia sendiri harus aktif untuk memperoleh keselamatannya. Tidak perlu akal yang terlalu kritis untuk membedakan misi keberadaan Kristus dengan Krishna di dunia ini.” (hal. 31).
Kaum Hindu juga sangat membanggakan konsep Tuhan mereka yang bersifat pantheistik dan bukan monotheistik. Lebih jauh buku terbitan Media Hindu ini menyatakan:

“Monotheisme mengajarkan kebencian dan kekerasan, memecah belah manusia ke dalam apartheid orang beriman versus orang kafir. Tuhan pemecah belah. Pantheisme mengajarkan hal-hal sebaliknya; penghormatan terhadap seluruh makhluk hidup, semua manusia adalah satu keluarga, ahimsa, welas asih, Tuhan pemersatu.” (hal. 214).

Untuk membanggakan agama Hindu sebagai agama yang lebih hebat dari agama Yahudi, Kristen, dan Islam, buku ini juga memberikan gambaran yang tidak sepenuhnya benar tentang ajaran Islam. Dalam bab berjudul “Agama-agama Langit Kualitasnya Jauh di Bawah Hindu” ditulis ungkapan-ungkapan sebagai berikut: “Hakikat manusia adalah dosa (Yahudi/Kristen) atau budak Allah (Islam). Artinya agama-agama ini memandang manusia secara sangat negatif. Untuk membuat manusia tetap percaya kepada Tuhan dan agennya dan taat beribadah, ia terus diancam dengan kiamat, siksa neraka bahkan termasuk pembunuhan di dunia ini. Di samping itu, agar manusia terus memerlukan Tuhan, Tuhan menciptakan dan memelihara setan untuk menggoda manusia.

Sebagai budak manusia tidak memiliki kebebasan. Hidupnya ditentukan secara sepihak dan sewenang-wenang oleh Tuhannya, pemilik budak-budak itu. Karena Tuhan bermukim jauh di langit, kekuasaan Tuhan itu didelegasikan atau diasumsikan oleh para agennya, apakah dengan sebutan nabi, rasul, sultan, atau paus. Kebebasannya digantungkan pada seorang tokoh pendiri agama. Kematian Yesus menyelamatkan semua pengikutnya. Muhammad, pada waktu Pengadilan Akhir, merekomendasikan siapa dari pengikutnya masuk sorga atau neraka, dan Allah hanya mengikuti rekomendasi itu. Keselamatan mereka semata-mata karena iman. Bukan karena perbuatannya. Etika tidak perlu. Ini tentu saja merupakan ketidakadilan rangkap dua…
Tujuan tertinggi manusia menurut agama-agama ini adalah sorga di mana mereka hidup abadi dengan badannya, yang berasal dari badan yang hina, tempat pencabulan, kata Paulus, salah satu pendiri agama Kristen. Bahkan di dalam sorga salah satu agama ini, dijelaskan secara rinci bagaimana hidup untuk memenuhi nafsu birahinya, terutama seks, tanpa batas. Sorga menjadi tempat pesta orgi yang menjijikkan.” (hal. 217-218).

Itulah pandangan Hindu yang pada realitasnya tidak bisa disatukan dengan konsep tauhid dalam Islam. Sehingga mengucapkan salam “Om Swastyastu” adalah tidak diperbolehkan. Selain itu, salam “Om Swastyastu” juga merupakan syiar agama lain yang mana umat Islam diharamkan untuk menyebarkannya.
Mengucap salam “Om Swastyastu” yang merupakan ciri khas keagamaan Hindu merupakan bentuk tasyabbuh bil kufar yang haram.
Dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad 2: 50 dan Abu Daud no. 4031)

Lantas, bagaimana hukum mengucapkan salam “Assalamu’alaikum” untuk sekelompok orang yang terdiri dari orang Islam dan non Islam?

وعن أُسَامَة – رضي الله عنه – : أنَّ النَّبيَّ – صلى الله عليه وسلم – مَرَّ عَلَى مَجْلِسٍ فِيهِ أخْلاَطٌ مِنَ المُسْلِمِينَ وَالمُشْرِكينَ – عَبَدَة الأَوْثَانِ – واليَهُودِ فَسَلَّمَ عَلَيْهِم النبيُّ- صلى الله عليه وسلم –

Dari Usamah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati suatu majelis yang di situ bercampur antara muslim, orang musyrik -penyembah berhala-, dan orang Yahudi. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi salam kepada mereka. (HR. Bukhari no. 6254 dan Muslim no. 1798).
Imam Nawawi rahimahullah menyebutkan disunnahkan jika melewati majelis yang bercampur antara Muslim dan non Muslim untuk tetap mengucapkan salam untuk maksud umum dengan diniatkan salam tersebut untuk Muslim. (Al Adzkar, hal. 464).
Nah, bagaimana jika terhadap orang non Islam yang di situ tidak ada orang Islamnya sama sekali? Bolehkah memberi salam, “Assalamu’alaikum”?
Imam Ibnul Qayyim dalam kitab Zadul Ma’ad jilid 2 halaman 424 menuliskan bahwa sebagian ulama membolehkan untuk mendahului non muslim dalam memberi salam demi kemashlahatan yang kuat dan nyata amat diperlukan, atau karena kwatir dari ulah non muslim itu, atau karena adanya hubungan kekerabatan dengan mereka. Atau karena sebab-sebab lain yang seperti itu.
Imam Al-Qurtubi menyebutkan nama beberapa ulama salaf yang membolehkan memberi salam kepada non Muslim. Di anataranya Ibnu Mas’ud, Al-Hasan Al-Bashri, An-Nakhai, dan ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz. Ibnu Hajar Al-‘Asqalani menyebutkan di dalam kitabnya Fathul Bari bahwa Abu Umamah dan Ibnu Uyainah berpendapat sedemikian.
Sementara itu, ulama lain menyatakan tidak boleh memberi salam berdasarkan hadits berikut.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَبْدَءُوا الْيَهُودَ وَلاَ النَّصَارَى بِالسَّلاَمِ فَإِذَا لَقِيتُمْ أَحَدَهُمْ فِى طَرِيقٍ فَاضْطَرُّوهُ إِلَى أَضْيَقِهِ

“Jangan kalian mengawali mengucapkan salam kepada Yahudi dan Nashrani. Jika kalian berjumpa salah seorang di antara mereka di jalan, maka pepetlah hingga ke pinggirnya.” (HR. Muslim no. 2167)
Fimadani/Tarqiyah
***

Kesimpulan

  • Mengucapkan salam Isam kepada hadirin yang ada muslimnya dan ada non muslimnya, tidak jadi persoalan.
  • Mengucapkan salam Islam kepada hadirin yang tidak ada muslimnya, menurut hadits riwayat Muslim tersebut tidak boleh mengawalinya/ tidak boleh memulai duluan.
  • Yang jadi persoalan adalah mengucapkan salam Islam disertai mengucapkan salam agama selain Islam. Itu dapat mengakibatkan murtad bahkan syirik, pelakunya disebut musyrik menyekutukan Allah Ta’ala dengan lainnya. Karena mengucapkan salam (selain salam Islam) yang berisi ketuhanan yang bertentangan dengan Tauhid, keesaan dan kemahasucian Allah Ta’ala.

Hakekatnya: Mengucapkan salam Islam disertai salam agama selan Islam pada hakekatnya adalah penodaan terhadap Islam secara terang-terangan. Bahkan bila disengaja atau bahkan disengaja agar ditiru, maka berarti punya misi pemurtadan secara massal. Mencontohi praktek salam Islam disertai salam agama selain Islam, resikonya mendapatkan dosa, masih pula memperoleh dosa dari para penirunya tanpa mengurangi dosa para penirunya. Betapa beratnya, menumpuk dosa. Orangnya (yang mencontohi itu) sudah meninggal pun bila ajaran atau contohnya itu masih dilakukan orang, maka tetap masih mendapatkan aliran dosa . Betapa beratnya. Maka sebaiknya para pelakunya (yang mencontohi itu) mengumumkan untuk mencabut dari kesalahannya dan bertaubat. Semoga saja.

HAJ/BR

(nahimunkar.org)

 

 


 

(Dibaca 407 kali, 1 untuk hari ini)