Peringatan Maulid Nabi sebagai Ungkapan Cinta Palsu, Ghuluw, Tasyabbuh, dan Ajang Saling Mencela

 



Assalamu alaikum…..
Peringatan maulid dengan ciri khas berkumpul-kumpul, pembacaan Kitab Al Barzanji selalu saja menjadi ajang saling mencela sesama umat Islam karena umat Islam tidak pernah bersatu di atas tradisi Abu Ubaid ini, malah menjadi terpecah.

Andaikan bukan karena makanan dan uang, tradisi yang mengatasnamakan cinta Rasul ini telah lama punah karena manfaatnya secara syar’i memang tidak ada, jemaah masjid hanya nampak saat perayaan maulid, setelah itu menghilang, korupsi semakin menjadi-jadi, bid’ah dan syirik kian menjamur.


Tradisi peringatan maulid Nabi dengan berkumpul-kumpul dan pesta makan-makan mulai diciptakan oleh Raja Abu Ubaid pada dinasty Fatimah pada Abad ke-4 Hijriyah. Inilah pelanggaran syariat yang pertama, yaitu larangan bertasyabbuh, yaitu ikut-ikutan pada amalan orang-orang kafir.

Sebelum Abu Ubaid membuat pesta perayaan maulid, umat Nasrani telah lama melakukan perayaan Natal setiap tanggal 25 Desember. Perayaan maulid dan natal hanya berbeda istilah, yang kesamaannya adalah:
1. Sama-sama untuk memperingati hari kelahiran Nabi,
2. Sama-sama dilakukan dengan berkumpul-kumpul di tempat ibadah,
3. Sama-sama berisi ceramah,pembacaan kisah Nabi dan lagu-lagu pujian kepada Nabi,
4. Sama-sama berakhir dengan pesta makan-makan,
5. Sama-sama dilaksanakan pada waktu yang tidak pasti,
6. Sama-sama dilakukan tanpa ada dalil yang mensyariatkan dalam kitab suci.


Rasulullah telah mengingatkan umatnya untuk berhati-hati pada tasyabbuh, dan mengatakan “Barangsiapa yang mengikuti suatu kaum maka termasuklah ia bagian dari kaum itu” (HR. Abu Dawud).

Peringatakan maulid Nabi selalu diisi dengan pembacaan Kitab Al Barzanji, yaitu buku sastra yang berisi kisah hidup Nabi yang disajikan dengan ungkapan-ungkapan yang ghuluw (berlebih-lebihan) dan bahkan mengajar umat bershalawat tetapi shalawat bid’ah yang mengagungkan kuburan Nabi, dan berdoa dengan bertawassul kepada orang-orang yang telah mati. Yang pastinya Rasulullah melarang umat Islam bersikap ghuluw terhadap dirinya.


Mengungkapkan rasa cinta dengan melakulan hal-hal yang dilarang atau dibenci oleh orang yang dicintai adalah suatu kedustaan. Cinta sejati adalah melakukan yang diperintahkan atau disukai oleh orang yang dicintai dan meninggalkan yang dibenci atau dilarang oleh orang yang dicintai,
1. Bagaimana bisa disebut mencintai Nabi sedangkan para sahabat dan istri-istri Nabi yang amat mencintai Nabi tidak pernah memperingati maulid Nabi,
2. Bagaimana bisa disebut mencintai Nabi kalau melakukan amalan (bagai meniru) orang-orang Nasrani, padahal Nabi melarang kita tasyabbuh,
3. Bagaimana bisa disebut mencintai Nabi kalau acaranya berisi pembacaan kisah yang ghuluw, padahal Nabi melarang kita bersifat ghuluw,
4. Bagaimana bisa disebut mencintai Nabi kalau melakukan amalan yang diada-adakan Abu Ubaid yang tidak ada perintahnya dari Nabi, bukankah Nabi telah menyatakan “Seburuk-buruk perkara adalah perkara yang diada-adakan, setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat” (HR. Muslim, Abu Dawud).

Allah dan Rasul-Nya telah mengajar kita bagaimana mencintai Nabi sebagai ibadah, yaitu:
1. Mentaati Rasul agar mendapat Rahmat (QS. Ali Imran:132), antara lain “Berpegangteguhlah pada sunnahku dan sunnah khulafaurrasyidin, jauhilah segala perkara baru yang diada-adakan” (HR. Abu Dawud).
2. Bersikap “Sami’na wa atho’na” (mendengar dan taat) terhadap setiap ucapan Nabi. “Apa yang diberikan Rasul kepadamu terimalah dan apa yang dilarangnya bagimu tinggalkanlah (terjemah QS. Al Hasyr:7).
3. Meneladani Rasul, karena Rasulullah adalah Al Quran yang berjalan, suri tauladan bagi orang-orang yang beriman kepada hari akhirat (QS. Al Ahzab:21),.kalau Nabi tidak merayakan maulidnya maka janganlah kita merayakannya.
4. Bershalawat kepada Nabi (QS. Al Ahzab:56),yang tentunya dengan shalawat yang diajarkan Nabi, bukan shalawat-shalawat bid’ah, shalawat untuk kuburan Nabi,
5. Khusus ulama, meneruskan dakwah Nabi untuk menegakkan tauhid dan sunnah Nabi dan membelanya dari bahaya syirik dan bid’ah-bid’ah.
6. Menjaga persatuan umat Islam melalui amalan-amalan sunnah dan tidak bersatu di atas amalan-amalan bid’ah, itulah ahlussunah waljamaah yang sejati, yaitu berjamaah di atas kebenaran, bukan berjamaah di atas kebatilan.


Kini peringatan maulid semakin tidak menentu arah dan tujuannya, karena telah menjadi ajang caci maki sesama umat Islam, maka sudah sepantasnya kita tinggalkan dan kembali kepada Al Quran dan As Sunnah atau masa sebelum Abu Ubaid menciptakan perayaan maulid Nabi.

Tidak ada persatuan dalam Islam kecuali sama-sama kembali ke Al Quran dan dan As Sunnah melalui bimbingan ulama yang paham dan konsistem kepada Al Quran dan As Sunnah.

Alimirhan Mirhan Seekonomi

Ilustrsi foto/ dok net

 

(nahimunkar.org)

(Dibaca 604 kali, 1 untuk hari ini)