Oleh Hartono Ahmad Jaiz

  • Orang yang jelas-jelas menghina Islam hukumannya adalah hukum bunuh.
  •  Dibunuh karena pendapatnya merusak Islam.
  • Sejarah tahapan menyikapi orang kafir

1069 حَدِيثُ جَابِرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ لِكَعْبِ بْنِ الْأَشْرَفِ فَإِنَّهُ قَدْ آذَى اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَالَ مُحَمَّدُ بْنُ مَسْلَمَةَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتُحِبُّ أَنْ أَقْتُلَهُ قَالَ نَعَمْ قَالَ ائْذَنْ لِي فَلْأَقُلْ قَالَ قُلْ فَأَتَاهُ فَقَالَ لَهُ وَذَكَرَ مَا بَيْنَهُمَا وَقَالَ إِنَّ هَذَا الرَّجُلَ قَدْ أَرَادَ صَدَقَةً وَقَدْ عَنَّانَا فَلَمَّا سَمِعَهُ قَالَ وَأَيْضًا وَاللَّهِ لَتَمَلُّنَّهُ قَالَ إِنَّا قَدِ اتَّبَعْنَاهُ الْآنَ وَنَكْرَهُ أَنْ نَدَعَهُ حَتَّى نَنْظُرَ إِلَى أَيِّ شَيْءٍ يَصِيرُ أَمْرُهُ قَالَ وَقَدْ أَرَدْتُ أَنْ تُسْلِفَنِي سَلَفًا قَالَ فَمَا تَرْهَنُنِي قَالَ مَا تُرِيدُ قَالَ تَرْهَنُنِي نِسَاءَكُمْ قَالَ أَنْتَ أَجْمَلُ الْعَرَبِ أَنَرْهَنُكَ نِسَاءَنَا قَالَ لَهُ تَرْهَنُونِي أَوْلَادَكُمْ قَالَ يُسَبُّ ابْنُ أَحَدِنَا فَيُقَالُ رُهِنَ فِي وَسْقَيْنِ مِنْ تَمْرٍ وَلَكِنْ نَرْهَنُكَ اللَّأْمَةَ يَعْنِي السِّلَاحَ قَالَ فَنَعَمْ وَوَاعَدَهُ أَنْ يَأْتِيَهُ بِالْحَارِثِ وَأَبِي عَبْسِ بْنِ جَبْرٍ وَعَبَّادِ بْنِ بِشْرٍ قَالَ فَجَاءُوا فَدَعَوْهُ لَيْلًا فَنَزَلَ إِلَيْهِمْ قَالَ سُفْيَانُ قَالَ غَيْرُ عَمْرٍو قَالَتْ لَهُ امْرَأَتُهُ إِنِّي لَأَسْمَعُ صَوْتًا كَأَنَّهُ صَوْتُ دَمٍ قَالَ إِنَّمَا هَذَا مُحَمَّدُ بْنُ مَسْلَمَةَ وَرَضِيعُهُ وَأَبُو نَائِلَةَ إِنَّ الْكَرِيمَ لَوْ دُعِيَ إِلَى طَعْنَةٍ لَيْلًا لَأَجَابَ قَالَ مُحَمَّدٌ إِنِّي إِذَا جَاءَ فَسَوْفَ أَمُدُّ يَدِي إِلَى رَأْسِهِ فَإِذَا اسْتَمْكَنْتُ مِنْهُ فَدُونَكُمْ قَالَ فَلَمَّا نَزَلَ نَزَلَ وَهُوَ مُتَوَشِّحٌ فَقَالُوا نَجِدُ مِنْكَ رِيحَ الطِّيبِ قَالَ نَعَمْ تَحْتِي فُلَانَةُ هِيَ أَعْطَرُ نِسَاءِ الْعَرَبِ قَالَ فَتَأْذَنُ لِي أَنْ أَشُمَّ مِنْهُ قَالَ نَعَمْ فَشُمَّ فَتَنَاوَلَ فَشَمَّ ثُمَّ قَالَ أَتَأْذَنُ لِي أَنْ أَعُودَ قَالَ فَاسْتَمْكَنَ مِنْ رَأْسِهِ ثُمَّ قَالَ دُونَكُمْ قَالَ فَقَتَلُوهُ *.

1069 Diriwayatkan dari Jabir r.a, ia berkata: Rasulullah s.a.w bertanya kepada para Sahabatnya: Siapakah yang bersedia untuk membunuh Ka’ab bin Al Asyraf؟ Karena dia telah menyakiti/ menghina Allah dan RasulNya. Maka Muhammad bin Maslamah menjawab: Wahai Rasulullah! Adakah kamu setuju jika aku membunuhnya؟ Beliau menjawab: Ya! Kemudian dia (Muhammad bin Maslamah) berkata: Izinkanlah aku terlebih dahulu untuk memberitahu sesuatu kepadamu. Beliau pun menjawab: Katakanlah! Maka diapun mendekati Beliau dan membincangkan sesuatu. Kemudian Beliau bersabda: Sesungguhnya Ka’ab pernah berhasrat mengeluarkan sedekah, akan tetapi dia menyusahkan kami. Setelah mendengar kata-kata Beliau dia begitu marah sekali. Lalu dia berjanji akan membalas perbuatannya itu. Kebetulan pada masa itu dia begitu akrab dengan Ka’ab. Satu hari dia menemui Ka’ab dan berkata: Aku ingin kamu memberikan kepadaku suatu bentuk pinjaman. Lalu Ka’ab bertanya: Jadi apa yang akan kamu gadaikan kepadaku؟ Dia menjawab: Apa yang kamu inginkan؟ Ka’ab menjawab: Aku ingin kamu gadaikan kepadaku perempuan-perempuanmu itu. Kemudian dia menjawab: Kamu adalah bangsawan Arab, jadi adakah patut aku menggadaikan perempuan-perempuanku kepada kamu؟ Lalu Ka’ab berkata kepadanya: Kalau begitu, kamu gadaikanlah anak-anakmu kepadaku. Maka dia berkata: Aku tidak mungkin menggadaikannya kepadamu, sekiranya aku menggadaikannya kepadamu kami pula akan dicela karena seolah-olah menggadai dua wasak (satu wasak sama dengan enam puluh gantang) tamar saja. Oleh karena itu aku gadaikan senjataku kepadamu. Lalu Ka’ab berkata: Baiklah aku setuju. Lalu dia berjanji kepada Ka’ab bahwa dia akan datang menemuinya dengan ditemani oleh al-Haris, Abu Abas bin Jabir dan Abbad bin Bisyri. Setelah itu mereka berempat pergi menemui Ka’ab pada waktu malam, lalu Ka’ab turun menemui mereka. Menurut kata Sufian, pada pendapat lain menurut kata Amru bahwa isteri Ka’ab telah berkata kepada suaminya itu: Sesungguhnya aku seperti mendengar suara orang yang ingin menumpahkan darah. Setelah mendengar kata-kata isterinya itu, lalu Ka’ab berkata: Tidak! Mereka hanyalah Muhammad bin Maslamah bersama saudara susuannya dan ditemani Abu Nailah. Sebagai memuliakan tetamu, aku harus menemani mereka walaupun pada waktu malam begini. Ketika Ka’ab masih di rumahnya itulah Muhammad (bin Maslamah) menggunakan kesempatan tersebut untuk mengatur rancangan seterusnya. Sesaat kemudian Ka’ab pun keluar, setelah dia ditanya oleh mereka: Aku seperti mencium bau harum pada dirimu. Ka’ab menjawab: Memang! Karena isteriku seorang perempuan Arab yang suka bersolek. Setelah itu Muhammad bin Maslamah berkata kepada Ka’ab: Izinkan aku mencium bau harum pada dirimu. Kaab berkata: Silakan! Maka diapun menciumnya, kemudian dia meminta untuk menciumnya sekali lagi dengan berkata: Kalau boleh aku ingin menciumnya sekali lagi. Lalu dia menghulurkan kepalanya kepadanya, ketika itulah dia mengarahkan kawan-kawannya agar membunuh Ka’ab, maka merekapun membunuhnya. (Muttafaq ‘alaih).

Orang yang jelas-jelas menghina Islam hukumannya adalah hukum bunuh.

Dalam kitab Bulughul Maram dan syarahnya, Subulus Salam pada bab qitalul jani wa qotlul murtad dikemukakan hadits riwayat Abu Dawud dan An-Nasaai, dishahihkan oleh Al-Albani  dalam Shahih Abu Dawud no 3665:

3795 حَدَّثَنَا عَبَّادُ بْنُ مُوسَى الْخُتَّلِيُّ أَخْبَرَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ الْمَدَنِيُّ عَنْ إِسْرَائِيلَ عَنْ عُثْمَانَ الشَّحَّامِ عَنْ عِكْرِمَةَ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ عَبَّاسٍ أَنَّ أَعْمَى كَانَتْ لَهُ أُمُّ وَلَدٍ تَشْتُمُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَقَعُ فِيهِ فَيَنْهَاهَا فَلَا تَنْتَهِي وَيَزْجُرُهَا فَلَا تَنْزَجِرُ قَالَ فَلَمَّا كَانَتْ ذَاتَ لَيْلَةٍ جَعَلَتْ تَقَعُ فِي النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَشْتُمُهُ فَأَخَذَ الْمِغْوَلَ فَوَضَعَهُ فِي بَطْنِهَا وَاتَّكَأَ عَلَيْهَا فَقَتَلَهَا فَوَقَعَ بَيْنَ رِجْلَيْهَا طِفْلٌ فَلَطَّخَتْ مَا هُنَاكَ بِالدَّمِ فَلَمَّا أَصْبَحَ ذُكِرَ ذَلِكَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَمَعَ النَّاسَ فَقَالَ أَنْشُدُ اللَّهَ رَجُلًا فَعَلَ مَا فَعَلَ لِي عَلَيْهِ حَقٌّ إِلَّا قَامَ فَقَامَ الْأَعْمَى يَتَخَطَّى النَّاسَ وَهُوَ يَتَزَلْزَلُ حَتَّى قَعَدَ بَيْنَ يَدَيِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنَا صَاحِبُهَا كَانَتْ تَشْتُمُكَ وَتَقَعُ فِيكَ فَأَنْهَاهَا فَلَا تَنْتَهِي وَأَزْجُرُهَا فَلَا تَنْزَجِرُ وَلِي مِنْهَا ابْنَانِ مِثْلُ اللُّؤْلُؤَتَيْنِ وَكَانَتْ بِي رَفِيقَةً فَلَمَّا كَانَ الْبَارِحَةَ جَعَلَتْ تَشْتُمُكَ وَتَقَعُ فِيكَ فَأَخَذْتُ الْمِغْوَلَ فَوَضَعْتُهُ فِي بَطْنِهَا وَاتَّكَأْتُ عَلَيْهَا حَتَّى قَتَلْتُهَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَلَا اشْهَدُوا أَنَّ دَمَهَا هَدَرٌ *. (أبو داود).

 “Dari Ibnu Abbas ra bahwa ada seorang buta mempunyai ummul walad (budak perempuan yang dipakai tuannya lalu beranak) yang memaki-maki dan mencela Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam . Ia telah melarang ummul walad tersebut, namun dia tidak mau berhenti. Maka pada suatu malam ia ambil satu pacul yang tajam sebelah, lalu ia taruh di perutnya dan ia duduki, dan dengan itu ia bunuh dia. sampai yang demikian kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam , maka sabdanya: “Saksikanlah bahwa darahnya itu hadar.”  (HR Abu Dawud, dishahihkan oleh Al-Albani).

Darahnya itu hadar, maksudnya darah perempuan yang mencaci Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  itu sia-sia, tak boleh ada balasan atas pembunuhnya dan tak boleh dikenakan diyat/ tebusan darah. Jadi darahnya halal alias halal dibunuh.

Juga ada hadits:

 

3796 حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْجَرَّاحِ عَنْ جَرِيرٍ عَنْ مُغِيرَةَ عَنِ الشَّعْبِيِّ عَنْ عَلِيٍّ رَضِي اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ يَهُودِيَّةً كَانَتْ تَشْتُمُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَقَعُ فِيهِ فَخَنَقَهَا رَجُلٌ حَتَّى مَاتَتْ فَأَبْطَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَمَهَا *. (أبو داود).

 

Diriwayatkan dari As-Sya’bi dari Ali radhiyallahu ‘anhu bahwa seorang wanita Yahudi telah memaki/ menghina Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  dan mencelanya, maka seorang lelaki  mencekiknya hingga mati, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  membatalkan darahnya. (HR Abu Dawud, menurut Al-Albani dalam Irwaul Ghalil hadits no 1251 ini isnadnya shahih sesuai syarat Al-Bukhari dan Muslim).

Itu artinya halal dibunuh.

Dibunuh karena pendapatnya merusak Islam

Orang yang menciptakan dan menyebarkan pendapat yang merusak/ menghina, mengingkari ataupun menyelewengkan Islam ternyata dalam sejarah Islam pun dibunuh.

Jahm bin Shofwan  As-Samarkandi adalah orang yang sesat, pembuat bid’ah, pemimpin aliran sesat Jahmiyah. Ia mati (dibunuh) pada masa tabi’in kecil (belakangan). Ibnu Hajar Al-‘Asqolani mengatakan dalam kitabnya, Lisanul Mizan, “Saya tidak mengetahui dia (Jahm) meriwayatkan sesuatu tetapi dia menanam keburukan yang besar, titik.” Jahm bin Shofwan telah dibunuh pada tahun 128H .[1]

Ibnu Abi Hatim mengeluarkan riwayat dari jalan Muhammad bin Shalih maula (bekas budak) Bani Hasyim, ia berkata, Salm (bin Ahwaz) berkata ketika menangkap Jahm, “Wahai Jahm, sesungguhnya aku tidak membunuhmu karena kamu memerangiku (memberontakku). Kamu bagiku lebih sepele dari itu, tetapi aku telah mendengar kamu berkata dengan perkataan yang kamu telah memberikan janji kepada Allah agar aku tidak memilikimu kecuali membunuhmu”. Maka ia (Salm bin Ahwaz) membunuhnya.

Dan riwayat dari jalan Mu’tamir bin Sulaiman dari Halad At-Thafawi, bahwa telah sampai khabar kepada Salm bin Ahwaz sedangkan ia (Salim) di atas  kepolisian Khurasan, (beritanya adalah): Jahm bin Shofwan mengingkari bahwa Allah telah berbicara kepada Musa dengan sebenar-benarnya bicara, maka ia (Salm bin Ahwaz) membunuhnya (Jahm bin Shofwan)..

 Riwayat dari jalan Bakir bin Ma’ruf, ia berkata, Saya melihat Salm bin Ahwaz ketika memukul leher (membunuh) Jahm maka menghitamlah wajah Jahm.[2] 

Hadits-hadits tentang suruhan membunuh orang yang menghina Islam, menghalalkan dibunuhnya orang yang menghina Islam, dan disertai praktek yang dilakukan oleh sahabat-sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  telah jelas. Praktek itu dilakukan pula oleh kalangan tabi’in. Generasi selanjutnya pun mempraktekkannya, hingga Al-Hallaj, tokoh tasawuf sesat dibunuh di Baghdad tahun 309H/ 922M atas keputusan para ulama, karena Al-Hallaj mengatakan anal haqq (aku adalah al-haq/ Allah). Lontaran pendapat Al-Hallaj itu merusak Islam, maka dihukumi dengan hukum bunuh. Maka walaupun ada orang-orang yang mengingkari semua itu, namun kebenaran hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam , praktek para sahabat, tabi’in dan para ulama berikutnya telah membuktikannya.

Sejarah tahapan menyikapi orang kafir

Di antara ayat-ayat Al-Qur’an yang menegaskan suruhan memerangi orang kafir, bersikap keras, dan membenci mereka telah jelas nashnya (teksnya). Meskipun demikian, orang JIL seperti Ulil Abshar Abdalla sengaja ingin menyembunyikannya. Di samping jelasnya ayat-ayat tersebut, para ulama telah menjelaskan pula tentang sejarah tahapan sikap Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam  beserta sahabatnya dalam menghadapi orang-orang kafir. Di antaranya Ibnul Qayyim menjelaskan, yang intinya sebagai berikut:

Pasal  :  Urutan petunjuk dalam melawan kuffar dan munafik sejak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  dibangkitkan sampai meninggal dunia.

“Pertama kali yang diwahyukan Allah kepadanya ialah supaya beliau membaca

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ(1)

dengan atas nama rabb yang telah menciptakan. Itulah awal nubuwwahnya. Dia memerintah supaya beliau membaca dengan nama diri-Nya dan belum diperintahkan pada saat itu untuk bertabligh (menyampaikan).

   Kemudian turun ayat:

 يَاأَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ(1)    قُمْ فَأَنْذِرْ(2)

 Hai orang yang berselimut, bangunlah dan berilah peringatan ! (QS Al-Muddattsir: 1-2).

Beliau diangkat menjadi Nabi dengan firman-Nya اقرأ dan menjadi Rasul dengan firman-Nya ياايهاالمدثر.

Kemudian perintah memberi peringatan kepada kaum kerabatnya yang dekat, kemudian kepada kaumnya, lalu lingkungan sekelilingnya dari bangsa Arab, kemudian kepada Arab Qatibah, kemudian kepada seluruh alam dunia.

Beliau menjalankan da’wah setelah pengangkatnnya sebagai Nabi dan Rasul selama kurang lebih sepuluh tahun tanpa peperangan, dan diperintahkan untuk menahan, sabar, dan memaafkan. Kemudian baru diizinkan untuk berhijrah dan diizinkan pula untuk menyerang, kemudian diperintahkan berperang melawan orang yang menyerangnya. Kemudian diperintahkan untuk berperang melawan musyrikiin sehingga dien ini semua milik Allah.

Kaum kafir yang hidup berdampingan dengan beliau setelah turunnya perintah jihad ini menjadi tiga golongan:

  1. Ahlus Sulhi (perdamaian) dan Hudnah (gencatan senjata).
  2. Ahlul Harbi (yang harus diperangi)
  3. Ahludz Dzimmah (yang di bawah kekuasaan pemerintah Islam).

Dan memerintah kepada Ahlus Sulhi untuk menyempurnakan perjanjiannya. Beliaupun diperintahkan untuk menepatinya selama mereka istiqamah/ konsisten atas perjanjian. Jika ditakutkan di antara mereka ada yang berkhianat, maka perjanjian ditinggalkan. Dan tidak memerangi mereka sampai mereka melanggar perjanjian. Dan memang beliau diperintah untuk memerangi orang yang melanggar perjanjian…”.[3]

(Dikutip dari buku Hartono Ahmad Jaiz berjudul Menangkal Bahaya JIL dan FLA terbitan Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, 2004).

Ilustrasi: voa-islam.com

(nahimunkar.com)



[1] Ibnu Hajar Al-‘Asqolani, Lisanul Mizan, juz 2, halaman 142.

 

[2] Ibnu Hajar al-‘Asqolani, Fat-hul Bari, juz 13, halaman 346.

 

[3] Lihat Ibnul Qayyim, Zaadul Ma’aad fii Hudaa Khairil ‘Ibaad, 2/81 seperti dikutip Dr Sayyid Muhammad Nuh, Manhaj Rassulullah, terjemahan Abu Miqdad Muhammad, Majlis Ta’lim Radio Dakta Bekasi, cetakan pertama, 1998, hal 138-139.

 

(Dibaca 9.517 kali, 1 untuk hari ini)