Foto bersama setelah resmi penutupan Dolly dan Jarak di Surabaya Rabu malam (18/6 2014)/ suarasurabaya.net

.

 

  • Terdapat 40 ribu lebih pekerja seks komersial (PSK) yang menghuni lokalisasi di seluruh Indonesia. “Setiap tahun jumlahnya selalu naik,” kata Direktur Rehabilitasi Tuna Sosial Kementerian Sosial, Sonny W Manalu saat berada di Banyuwangi, Jawa Timur, Selasa, 16 April 2013.
  • Tentu saja masih sangat perlu upaya untuk memberantas pelacuran yang telah berlangsung lama itu. Bahkan di Indonesia  tercatat oleh Kementerian Sosial ada 183 lokalisasi pelacuran yang belum ditutup. – See more at: https://www.nahimunkar.org/menyambut-penutupan-lokalisasi-dolly/#sthash.9CWFdjJn.dpuf

 Meski sempat ditentang ribuan warga dan para penghuninya, kawasan lokalisasi Dolly dan Jarak mulai malam ini secara resmi ditutup oleh Pemkot Surabaya dan Pemprov Jawa Timur. Penutupan ditandai dengan deklarasi yang digelar warga Putat Jaya dihadapan Salim Segaf Al Jufri, menteri Sosial di Islami Centre, Rabu (18/6/2014).

Kementerian Sosial, kata Mensos Dr Salim Segaf Al Jufri, sejak tahun 2012 memang fokus untuk membantu daerah dalam membebaskan wilayahnya dari prostitusi. “Kita serius berantas ini, Tiongkok saja tidak ada lokalisasi, masak kita sebagai masyarakat beragama membiarkan adanya lokaliasi,” ujarnya.

Menteri dari PKS ini menambahkan  penderita penyakit menular karena seksual di Indonesia makin banyak di Indonesia.

“Anak terlantar ada 4 juta anak. Belum lagi lansianya, dan mereka yang tinggal ditempat tidak layak huni. Kalau seluruh daerah tidak bangkit bersama mengentaskan pmks (Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial ), pemerintah pusat akan kualahan,” katanya.
Inilah beritanya.

***

Dolly dan Jarak Resmi Ditutup

Laporan Fatkhurohman Taufik | Rabu, 18 Juni 2014 | 21:07 WIB

suarasurabaya.net – Meski sempat ditentang ribuan warga dan para penghuninya, kawasan lokalisasi Dolly dan Jarak mulai malam ini secara resmi ditutup. Penutupan ditandai dengan deklarasi yang digelar warga Putat Jaya dihadapan Salim Segaf Al Jufri, menteri Sosial di Islami Centre, Rabu (18/6/2014).

Deklarasi sendiri digelar sebagai tanda alih fungsi wisma menjadi rumah biasa serta alih profesi para wanita harapan (PSK) menjadi wanita biasa.

Selain disaksikan langsung Menteri Sosial, deklarasi kali ini juga dihadiri oleh Soekarwo, Gubernur Jawa Timur; Saifullah Yusuf, Wakil Gubernur Jawa Timur; Tri Rismaharini Walikota Surabaya; Irjen Polisi Unggung Cahyono, Kepala Polda Jawa Timur; serta beberapa pejabat lainnya.

Dalam deklarasi kali ini, pemerintah juga gelontorkan aneka bantuan baik bagi PSK, mucikari, maupun bagi warga sekitar. Bantuan kali ini berasal dari Kementerian Sosial sebesar Rp7,317 miliar; serta dari Provinsi Jawa Timur sebesar Rp1,555 miliar.

Selain itu, juga ada bantuan berupa kontrak kerja bagi para warga terdampak penutupan ini. Kontrak kerja yang diberikan berupa menjadikan warga sebagai tenaga administrasi di UPTD Griya Wreda milik Pemerintah Surabaya, serta sebagai linmas dan satpol PP.

Total yang malam ini mendapatkan bantuan secara simbolik adalah 311 orang. “Kami bangga atas upaya Bu Walikota dalam mengentaskan warga dari lokalisasi Dolly dan Jarak ini,” kata Salim Segaf.

Kementerian Sosial, kata dia, sejak tahun 2012 memang fokus untuk membantu daerah dalam membebaskan wilayahnya dari prostitusi. “Kita serius berantas ini, Tiongkok saja tidak ada lokalisasi, masak kita sebagai masyarakat beragama membiarkan adanya lokaliasi,” ujarnya.

Hal yang sama diungkapkan Soekarwo, Gubernur Jawa Timur. Menurut dia, penutupan Dolly dan Jarak ini merupakan upaya besar Jawa Timur untuk menutup seluruh lokalisasi yang ada di Jawa Timur. “Dan ini dengan kegigihan Bu Wali, Dolly dan Jarak bisa selesai,” kata dia.

Selain prostitusi, Soekarwo juga berharap pemberantasan kemiskinan juga terus ditingkatkan. Dia mencontohkan di Jawa Timur dari 493 rubu rumah tangga yang sangat miskin, saat ini baru 369 ribu orang yang telah dientaskan dari kemiskinan. “Ini butuh kerja lebih keras lagi. Untuk Surabaya kami yakin Bu Wali konsen masalah ini,” ujarnya.

Sementara itu, meski secara resmi praktek prostitusi ditutup, tapi hingga malam ini warga sekitar lokalisasi masih melakukan protes dengan cara memblokade seluruh akses masuk ke kawasan itu. (fik/rst)

Editor: Restu Indah

***

Mensos Salim Asegaf: Penutupan Dolly Peristiwa Bersejarah

Surabaya (beritajatim.com)  – Menteri Sosial Salim Asegaf Al Jufri mengatakan penutupan lokalisasi Dolly merupakan peristiwa bersejarah.

“Yang hadir disini mengukir sejarah luar biasa. Yang memberi dampak kedepan bagi  pertumbuhan anak -anak,’kata Mensos.

Menteri dari PKS ini menambahkan  penderita penyakit menular karena seksual di Indonesia makin banyak di Indonesia.

“Anak terlantar ada 4 juta anak. Belum lagi lansianya, dan mereka yang tinggal ditempat tidak layak huni. Kalau seluruh daerah tidak bangkit bersama mengentaskan pmks, pemerintah pusat akan kualahan,” katanya.

Ditambahkannya semua yang direncanakan dengan baik pasti semuanya akan berjalan baik. Semoga 3 bulan selesai. “Saya sepakat dan setuju untuk kerjasama sebelum saya lengser, 2-3 bulan kedepan saya akan memberikan perhatian khusus untuk Jatim,”katanya.

Perlu diketahui, deklarasi bertajuk alih fungsi wisma dan alih profesi bagi wanita harapan sekaligus pemberian bantuan secara simbolis dari gubernur jatim ini dihadiri beberapa tokoh agama, Ketua MUI Jatim dan Surabaya, Ketua PWNU Jatim, tokoh masyarakat, forpimda, Kapolrestabes Surabaya Kombes  Setija Junianta, Korem Bhaskara Jaya serta ribuan undangan.

Pantauan beritajatim.com gedung Islamic Center dipenuhi tamu undangan yang menyaksikan peresmian deklarasi surabaya bebas prostitusi. Sementara untuk keperluan pengamanan, Polrestabes Surabaya mengerahkan 1.411 personel, serta sejumlah kendaraan taktis (rantis) sudah terlihat di lokasi seperti mobil water canon maupun truk pengangkut personel dan mobil patroli di sekitar area Gedung Islamic Center.[faf/ted]

Rabu, 18 Juni 2014 21:00:17
Reporter : Alfadila Ema Yunita

***

SELASA, 16 APRIL 2013 | 14:49 WIB

40 Ribu PSK Menghuni Lokalisasi di Seluruh Indonesia

TEMPO.COBanyuwangi – Direktur Rehabilitasi Tuna Sosial Kementerian Sosial, Sonny W Manalu, mengatakan saat ini terdapat 40 ribu lebih pekerja seks komersial (PSK) yang menghuni lokalisasi di seluruh Indonesia. “Setiap tahun jumlahnya selalu naik,” kata Sonny saat berada di Banyuwangi, Jawa Timur, Selasa, 16 April 2013.

Menurut Sonny, dari jumlah tersebut, 7.500 orang di antaranya menghuni lokalisasi di berbagai derah di Jawa Timur. Sonny meminta pemerintah daerah lebih pro-aktif mengurangi jumlah PSK.

(nahimunkar.com)

(Dibaca 3.968 kali, 1 untuk hari ini)