Ada beberapa cerita unik di suatu masjid; salah satu tempat kajian rutinan kami. Tak perlu sebutlah namanya. Alhamdulillah masjid tersebut kini dan insya Allah akan selalu, menyediakan sajian kajian Ahlus Sunnah sepekan lebih dari 6 kali. Audiens yang hadir juga luar biasa, secara kuantitas.

Sedikit pengalaman perdana kami di sana, boleh diceritakan. Kala itu, diundang mengajar. Kami pun sambut gayung mereka. Diplotkan, sekitar 7 seri kajian yang harus kami ampu. Di kajian pertama, alhamdulillah lancar. Selepas itu, beberapa bapak jema’ah meminta kami duduk bersama mereka. Berbincang ramah tamah, tetibanya raut wajah dan atmosfir mulai berubah. Rupanya mereka adalah bapak-bapak yang kurang terima masjid tersebut ‘di-wahabi-kan’.

Agak tersinggung rupanya mereka ini di tengah pengajian, kami singgung satu kelompok: Sufi. Padahal cuma singkat beberapa detik. Mereka tidak terima. Hingga berkata bapak terputih dari mereka, “Kami punya orang penting di sini. Kalau kami mau bubarkan kajian antum, kami bisa. Antum tidak terus lagi ngaji di sini.” Kira-kira begitu. Disambut juga oleh lainnya.

Sementara kami sendiri di pihak kontra. Di sini harus dikondisikan lagi agar jangan sampai jadi gaduh. Mereka adalah dewan lama di masjid tersebut. Sekalipun orang lama, mereka bukan pengurus utama lagi.

Setelah kami kondisikan dan lunakkan bahasa, akhirnya sepakat ke depannya tidak menyinggung aliran lain.

Tentu saja, itu menjadi pengalaman penting untuk lebih berhati-hati di ‘tempat orang’. Kami semakin belajar. Terlebih, itu pertama kali diundang saja, sudah dapat somasi. Mereka begitu benci ikhwan-ikhwan cingkrangan, jenggotan dan perapat kaki barisan shalat.

Atau mungkin, karena kami tampak lebih muda dari pemateri rutinan lainnya di sana, sehingga mereka berani. Atau karena mereka berkelompok, sehingga berani menghadap. Sampai ada di antara bapak-bapak tersebut, mengeluarkan dompetnya dan memamerkan identitas diri, dari perguruan mana dan siapa kyainya. Dengan bahasa lain, ‘loe jangan macem-macem ama gue.’

Apa yang terjadi hingga kini?

Hingga kini, sudah lebih dari setahun, kami selalu Allah perlihatkan; bapak yang paling putih kulitnya tersebut, selalu ikut kajian kami. Kami lihat, shalatnya selalu shaf awal. Beliau memang tidak mau menampakkan dirinya begitu saja. Tapi kami bersyukur, semoga beliau sudah berubah. Masih kami ingat dahulu beliau ancam bubarkan kajian kami, dan kini beliau rutin ikutan. Alhamdulillah.

Ini sekadar cerita; kenangan dan mungkin bisa melembutkan hati. Betul. Di antara hal yang akan Anda kenang: Anda diinterogasi sendiri dan mereka berbilang. Yang menjadi penolong Anda saat itu hanya Allah saja.

Belakangan, kami melihat video rekaman seorang ustadz dipersekusi oleh sekelompok hamba Allah dari ormas tertentu. Terenyuh hati menyaksikan. Posisi sendirian tertekan semisal itu, jika Anda pernah merasakan, maka Anda mengenal rasanya. Tapi kadang manusia perlu merasakan di posisi itu, agar dia tahu kekurangan dan kesalahannya, dan juga dia kembali kepada Allah.

Via Fb Hasan Al-Jaizy Al-Jaizy

(nahimunkar.org)

(Dibaca 615 kali, 1 untuk hari ini)