Tema pembahasan: ‘Alam pikiran dan hayat juang KH Amin Djamaluddin, dilaksanakan Rabu 27 Juli 2022 jam 13.00 hingga selesai, insyaAllah.

Dalam pengumuman disebutkan keynot speaker KH Abdul Wahid Alwi MA, sedang pembicara lainnya dapat disimak di pengumuman di atas.

***

M Amin Djamaluddin gigih meneliti aliran-aliran sesat setelah mendapatkan mandat dari Mohammad Natsir pendiri Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia dan termasuk muassis (pendiri) Rabithah Alam Islami (Liga Dunia Islam) yang bermarkaz di Makkah.

Silakan simak kilasan berikut.

***

Mengenang Pak M Amin Djamaluddin yang Berani Menggarap Masalah Sangat Besar, Aliran-aliran Sesat

Posted on 20 Juli 2022by Nahimunkar.org

 

Pak M Amin Djamaluddin pernah bercerita, dirinya dipanggil oleh Pak M Natsir Pendiri/ Ketua Umum Pertama Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) karena Pak Amin menulis di koran Harian Pelita membantah pendapat Prof Harun Nasution rektor IAIN Jakarta soal filsafat yang muatannya menyimpang dari Islam. Maka Pak Amin tanggapi penyesatan Harun Nasution itu.

 

Dari situ Pak M Natsir mencari-cari pemuda Amin Djamaluddin itu. Kemudian bertemulah, dan kemudian justru diserahi untuk menghadapi harokah haddamah (gerakan-gerakan yang merusak) Islam.

 

Ketika Pak M Natsir mendapatkan laporan aliran Isa Bugis yang menganggap Al-Qur’an bukan Bahasa Arab tapi serumpun dengan Bahasa Arab, hingga mereka memaknakan Al-Qur’an semaunya dan tak percaya mukjizat para Nabi, langsung Pak Amin Djamaluddin ditugaskan melacak ke lapangan. Pemuda ini datang dan menelusuri serta mencari data-data, berkas-berkas dan aneka rangkaiannya. Hingga harus menyampaikan ke Pak M Natsir sebagai hasil dari kerjanya.

 

Demikian pula aneka macam aliran dan faham yang merusak Islam, wajib dia telusuri. Di antaranya aliran-aliran: Inkar Sunnah, LDII, Lembaga Kerasulan, Ahmadiyah. Syiah. Lia Eden agama Salamullah, Mahesa Kurung, Tarekat Naqsyabandi Haqqani, Tarekat Metafisika Kadirun Yahya, NII – Ponpes Al-Zaytun Indramayu, dan lain-lain.

 

Sejatinya, masalah awalnya kenapa sampai Pak Amn Djamaluddin dipanggil oleh Pak M Natsir, karena persoalan pemikiran Harun Nasution itu sangat berbahaya, dan pemikiran semacam itu sudah berlama-lama dihadapi oleh Pak M Natsir sejak zaman penjajahan Belanda sekitar tahun 1930-an. Pak M Natsir dengan nama A Mukhlis berpolemik dengan Soekarno yang kelak jadi presiden Republik Indonesia soal masalah sekulerisme dan lainnya di antaranya di Koran Pemandangan di zaman penjajahan Belanda.

 

Di antara yang dikemukakan Pak M Natsir, problem yang harus dihadapi serius oleh umat Islam adalah pengusung nativisme (kaum adat atau pengusung istiadat nenek moyang yang bertentangan dengan Islam, di antaranya ritual-ritual kemusyrikan minta perlindungan/ keselamatan kepada selain Allah Ta’ala seperti ritual sesajen, ruwatan, sedekah bumi, larung laut, pecah kendi waktu meresmikan ini itu, injak telur waktu pengantenan dan sebagainya), dan kaum yang beliau sebut netral agama (yang kini sering disebut kaum liberal agama, pluralisme agama, sekuleris yang disingkat jadi sepilis: skulerisme, pluralisme agama, dan liberalisme agama). Menurut Pak M Natsir, kaum netral agama ini lebih sulit untuk dihadapi dibanding kaum Kristen itu sendiri, (dalam hal pemurtadan/ kristenisasi). Karena orang Kristen masih bisa untuk diajak dialog, dan kemungkinan bisa menerima argumen kita. Tapi kaum netral agama (liberal) tidak demikian.

 

Ketika ada Harun Nasution yang jadi rektor IAIN menjajakan filsafat yang menabrak Islam dan akan bersifat memberi peluang luas kepada kaum netral agama (liberal) untuk berkiprah merusak Islam, lalu ada pemuda yang tampil membantah Harun Nasution, maka betapa gembiranya Pak M Natsir.

 

Dan itu yang diembankan kepada Pak Amin Djamaluddin untuk dihadapi, bahkan dengan harus menghadapi aneka macam penggerogot Islam yaitu aliran-aliran sesat.

 

Sejatinya, apa yang harus dihadapi oleh Pak Amin Djamaluddin itu adalah perkara besar yang harus digarap oleh departemen khusus tingkat kementerian untuk menyelamatkan agama Allah dari berbagai rongrongan para pembuat kesesatan yang merusak Islam. Bahkan dalam Islam secara tegas digariskan dalam ayat tentang nahi munkar yang digandengkan dengan amar ma’ruf.

 

Ketika pihak perusak seperti pemikiran Harun Nasution yang memberi peluang keliberalan (merelatifkan kebenaran Islam disamakan dengan kebenaran agama-agama lain) diberi peluang secara resmi lewat perguruan Islam se-Indonesia dengan mengganti kurikulumnya dari Ahlussunnah ke Mu’tazilah aliran sesat yang meninggikan peran akal sedemikian rupa dan menganggap Al-Qur’an itu makhluk (padahal jelas Kalamullah, Firman Allah Ta’ala, bukan makhluk), tapi faham sesat Mu’tazilah itu justru dijadikan kurikulum sejak 1985 mengganti kurikulum ahlussunnah di seluruh perguruan tinggi Islam di Indonesia, maka sejatinya penyesatan telah diresmikan secara intensip, dibiayai dan diadakan tenaganya secara besar-besaran dengan mengirimkan dosen2 IAIN ke Barat untuk belajar apa yang disebut studi Islam. Padahal orang-orang kafir di negeri2 Barat tidak mungkin untuk mengajarkan Islam secara sebenarnya, karena mereka sendiri kafir. Harun Nasution dibantu oleh Menteri Agama Munawir Sjadzali dan mantan menteri agama Mukti Ali telah sukses mengganti kurikulum perguruan tinggi Islam se-Indonesia itu dari Ahlussunnah ke aliran sesat Muktazilah 1985, dan dilengkapi dengan para petugasnya serta didirikan sekolah-sekolah paska sarjana untuk S2 dan S3 di berbagai IAIN yang diubah sebagiannya jadi UIN (Universitas Islam Negeri).

 

Lalu yang secara serius menghadapi masalah itu adalah penerus Pak M Natsir yang ditugaskan ke pundak M Amin Djamaluddin, maka secara amanah tugas, betapa berat tugas yang diemban itu. Itu saja baru satu masalah. Maka di antaranya dibantu oleh Hartono Ahmad Jaiz dengan menulis buku berjudul Aliran Dan Paham Sesat di Indonesia dan buku Ada Pmurtadan di IAIN

(maksudnya perguruan tinggi Islam se-Indonesia), terbitan Pustaka Al-Kautsar Jakarta, 2005.

 

Ini yang wajib disadari oleh para ulama dan tokoh Islam, sejatinya yang dihadapi Umat Islam ini perkara amat besar, kita kasihan kepada seseorang dalam hal ini Pak Amin Djamaluddin yang dibiarkan seolah sendirian untuk menghadapi perkara sangat besar itu.

 

Semoga dosa kita semua atas pembiaran macam itu akan menyadarkan kita semuanya lebih2 setelah yang mengemban tugas itu telah dipanggil oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Masing-masing kita akan ditanya di akherat kelak…

 

Washallallahu ‘ala Nabiyyinaa Muhammadin wa ‘ala aalihi waashhabiihi waman tabi’ahu biihsaanin ila yaumid diin.

 

Walhamdulillaahi Rabbil ‘aalamiin.

 

Jakarta, 20 Dzulhijjah 1443H/ 19 Juli 2022

 

Hartono Ahmad Jaiz

(nahimunkar.org).