Permainan Logika Bung Karno

dan Islam yang Tak Dapat Dibendung

Sosio-nasionalisme ditambah sosio-demokrasi kemudian ditambah ketuhanan, bila diperas lagi mejadi gotong royong. Begitulah permainan logika Bung Karno.

BUKAN hanya bangsa dan negara Indonesia yang multi etnik, bahasa dan agama, tetapi sejumlah negara di dunia, termasuk Amerika Serikat juga multi etnik, bahasa dan agama. Namun mengapa di Amerika Serikat dan sebagainya itu tidak ada Pancasila untuk menjadi landasan ideologis bangsanya seperti di Indonesia?

Mungkin karena di Amerika Serikat dan sebagainya itu, tidak ada sosok Kartosoewirjo yang bercita-cita mendirikan Negara Islam Indonesia (NII). Menurut Al Chaidar dalam salah satu bukunya, Kartosoewirjo sudah mensosialisasikan gagasan Negara Islam sejak sebelum kemerdekaan. Bahkan ia sudah pula menyusun teks proklamasi kemerdekaan, yang kemudian ‘diadaptasi’ oleh Bung Karno menjadi Teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945.

Sebenarnya, sebelum hari-hari menjelang Proklamasi RI tanggal 17 Agustus 1945, Kartosoewirjo telah lebih dulu menebar aroma deklarasi kemerdekaan Islam, ketika kedatangannya pada awal bulan Agustus setelah mengetahui bahwa perseteruan antara Jepang dan Amerika memuncak dan menjadi bumerang bagi Jepang. Ia datang ke Jakarta bersama dengan beberapa orang pasukan Laskar Hizbullah, dan segera bertemu dengan beberapa elit pergerakan atau kaum nasionalis untuk memperbincangkan peluang yang mesti diambil guna mengakhiri dan sekaligus mengubah determinisme sejarah rakyat Indonesia… (Al Chaidar : 1999 hal. 65)

Sebagai seorang nasionalis sekular, Bung Karno sudah sejak lama menyadari apa yang dia anggap bahaya dari Pan Islamisme, sebagaimana juga Tjiptomangunkusumo, setidaknya sejak 1928. Nah, untuk meredam ideologi Islam yang begitu kuat, maka diperlukan Pancasila, sebuah konsep yang serba bukan: teokratis bukan, sekular juga bukan, dan sebagainya juga bukan. Ternyata yang serba bukan ini mampu mengalihkan perhatian para tokoh Islam kala itu. Sehingga yang mereka perdebatkan bukanlah substansi perlu tidaknya yang serba bukan tadi, tetapi ribut memperjuangkan agar sila Ketuhanan berada di nomor urut satu, dengan tambahan tujuh kata.

Bung Karno semakin berhasil mengalihkan perhatian ummat Islam dari ideologi Islam, dengan cara mengatakan bahwa Pancasila digali dari nilai-nilai yang hidup di Indonesia. Benarkah demikian? Menurut salah satu sumber, Pancasila tidak bisa dikatakan merupakan perahan dari nilai-nilai yang berkembang di dalam masyarakat Indonesia, dengan beberapa alasan, sebagai berikut:

Alasan pertama, sila-sila yang ada pada Pancasila, persis sama dengan asas Zionisme dan Freemasonry, seperti Monotheisme (Ketuhanan Yang Maha Esa), Nasionalisme (Kebangsaan), Humanisme (Kemanusiaan yang adil dan beradab), Demokrasi (Musyawarah), dan Sosialisme (Keadilan Sosial). Tegasnya, BK, Yamin dan Soepomo mengadopsi (baca: memaksakan) asas Zionis dan Freemasonry untuk diterapkan di Indonesia.

Alasan kedua, agama-agama yang berlaku di Indonesia tidak hanya Islam, tetapi ada Kristen Protestan dan Katolik, Hindu, Budha, bahkan Konghucu. Dari semuanya itu, hanya agama Islam memiliki konsep Berketuhanan Yang Maha Esa (Allahu Ahad). Selainnya, menganut paham dan konsep bertuhan banyak.

Sebelum Islam masuk ke Indonesia sejak tahun pertama Hijriah, penduduk di kawasan Nusantara ini beragama Hindu dan penganut animisme, yang tidak punya konsep Berketuhanan Yang Maha Esa.

Alasan ketiga, pada masa pra kemerdekaan tatanan sosial masyarakat di kawasan Nusantara ini kebanyakan merupakan kerajaan-kerajaan Hindu. Dari sistem monarkis seperti ini, tidak dikenal konsep Musyawarah untuk Mufakat tetapi yang berlaku adalah sabda pandita ratu. Rakyat harus tunduk dan patuh kepada titah sang raja tanpa reserve. Sekaligus, tidak ada demokrasi, karena kedudukan raja dijabat turun-temurun.

Pada masa kerajaan Hindu, tidak ada persatuan, terjadi perpecahan, perebutan kekuasaan dan wilayah. Tidak ada nasionalisme. Lantas, dari mana dasar berpijak BK yang mengatakan bahwa Pancasila adalah hasil perahan dari saripati nilai-nilai yang ada dan hidup di kawasan Nusantara? Nampaknya, BK telah berbohong. Ia malu dikatakan plagiator ideologi. (www.swaramuslim.net Saturday 29th July 2006 08:45:59 AM – 3 Rejab 1427)

Melalui pidatonya yang bersejarah pada tanggal 1 Juni 1945, yang kemudian disahkan sebagai hari lahirnya Pancasila, Bung Karno pernah berkata:

Saudara-saudara! “Dasar-dasar Negara” telah saya usulkan Lima bilangannya. Inikah Panca Dharma? Bukan! Nama Panca Dharma tidak tepat di sini. Dharma berarti kewajiban, sedang kita membicarakan dasar. Saya senang kepada simbolik. Simbolik angka pula. Rukun Islam lima jumlahnya. Jari kita lima setangan. Kita mempunyai pancaindera. Apa lagi yang lima bilangannya?

(Seorang yang hadir: “Pendawa Lima.”)

Pendawa pun lima orangnya. Sekarang banyaknya prinsip –kebangsaan, internasionalisme, mufakat, kesejahteraan dan ketuhanan– lima pula bilangannya.

Namanya bukan Panca Dharma, tetapi –saya namakan ini dengan petunjuk seorang teman ahli bahasa- namanya ialah Pancasila. Sila artinya “asas” atau “dasar”, dan di atas kelima dasar itulah kita mendirikan Negara Indonesia, kekal dan abadi.

Atau, barangkali ada Saudara-saudara yang tidak suka akan bilangan lima itu? Saya boleh peras sehingga tinggal 3 saja. Saudara-saudara tanya kepada saya, apakah “perasan” yang tiga itu? Berpuluh-puluh tahun sudah saya pikirkan dia, ialah dasar-dasarnya Indonesia Merdeka, Weltanschauung kita. Dua dasar yang pertama, kebangsaan dan internasionalisme –kebangsaan dan perikemanusiaan – saya peras menjadi satu: itulah yang dahulu saya namakan Sosio-nasionalisme.

Dan demokrasi yang bukan demokrasi Barat, tetapi politiek-economische democratie –yaitu politieke demoratie dengan sociale rechtvaardigheid, demokrasi dengan kesejahteraan– saya peraskan pula menjadi satu: inilah yang dulu saya namakan Sosio-demokrasi.

Tinggal lagi Ketuhanan, yang menghormati satu sama lain.

Jadi yang asalnya lima itu telah menjadi tiga: Sosio-nasionalisme, sosio-demokrasi dan Ketuhanan. Kalau Tuan senang kepada simbolik tiga, ambillah yang tiga ini. Tetapi barangkali tidak semua Tuan-tuan senang kepada Trisila ini, dan minta satu, satu dasar saja! Baiklah saya jadikan satu, saya kumpulkan lagi menjadi satu. Apakah yang satu itu?

Sebagai tadi telah saya katakan: Kita mendirikan negara Indonesia, yang kita semua harus mendukungnya. Semua buat semua! Bukan Kristen buat Indonesia, bukan golongan Islam buat Indonesia, bukan Hadikoesoemo buat Indonesia, bukan Van Eck buat Indonesia, bukan Nitisemito yang kaya buat Indonesia, tetapi Indonesia buat Indonesia. Semua buat semua! Jikalau saya peras yang lima menjadi tiga, dan yang tiga menjadi satu, maka dapatlah saya satu perkataan Indonesia yang tulen, yaitu perkataan “gotong-royong”. Alangkah hebatnya! Negara Gotong-Royong! (http://bendemataram.blogsome.com/lahirnya-pancasila)

Pada pidato bersejarahnya itu, Bung Karno mengusulkan Pancasila yang terdiri dari lima sila yaitu:

1. Kebangsaan Indonesia

2. Internasionalisme atau perikemanusiaan

3. Mufakat atau demokrasi

4. Kesejahteraan sosial.

5. Ketuhanan

Akan tetapi dalam usulan berikutnya, Pancasila menurut Bung Karno masih bisa diperas lagi menjadi trisila yaitu Sosio-nasionalisme (perasan dari sila pertama dan kedua), sosio-demokrasi (perasan dari sila ketiga dan keempat) dan Ketuhanan (satu-satunya sila yang belum diperas oleh Bung Karno). Bahkan menurut Bung Karno kala itu, dari trisila itu masih bisa diperas lagi menjadi ekasila, yaitu Gotong Royong. Jadi, Sosio-nasionalisme ditambah sosio-demokrasi kemudian ditambah ketuhanan, bila diperas lagi mejadi gotong royong. Begitulah permainan logika Bung Karno.

Barangkali, karena ada sebagian kalangan yang takut kehilangan “ketuhanan” maka Pancasila dianggap masih lebih baik dari ekasila atau trisila. Bahkan akhirnya yang hangat diperdebatkan dan diperjuangkan adalah menempatkan ketuhanan menjadi sila pertama.

Itulah kisahnya. Dan seandainya Kartosoewirjo berhasil memproklamasikan negara impiannya, apakah rakyat Indonesia akan menjadi lebih Islami? Belum tentu juga. Lihat saja ideologi Kartosoewirjo yang secara monumental dan pongah direpresentasikan melalui Ma’had Al-Zaytun di Indramayu, Jawa Barat. Al-Zaytun merupakan institusi di atas tanah dari gerakan bawah tanah NII (Negara Islam Indonesia). Untuk mengetahui kesesatan dan kejahatan NII baca tulisan berjudul NII, Qiyas Batil , dan Menghalalkan Aneka Cara (nahimunkar.com edisi January 1, 2009 8:32 pm).

Pertarungan ideologi antara Kartosoewirjo, Bung Karno, dan Semaun akhirnya dimenangkan Bung Karno. Antara lain karena Bung Karno pandai bicara. Namun demikian, ketiganya adalah satu guru. Mereka bertiga pernah menjadi murid HOS Tjokroaminoto. Hasil didikan HOS Tjokroaminoto ini menghasilkan tiga ideologi yaitu Islam (Kartosoewirjo), Nasionalis Sekular (Bung Karno, dan Komunis (Semaun).

Menurut catatan, HOS Tjokroaminoto merupakan tokoh penting dalam sejarah nasional yang menerima Ahmadiyah Lahore di Indonesia. Beliau menjadi orang Indonesia pertama yang tercatat sebagai angota Ahmadiyah Lahore. Bahkan di tahun 1930, menurut Asvi Warman Adam, HOS Tjokroaminoto menerbitkan tafsir Al-Qur’an dengan dibubuhi kata pengantar dari pimpinan Ahmadiyah di Lahore, India. Artinya, sejak sebelum kemerdekaan, founding fathers kita sudah akrab dengan aliran sesat. Berkenaan dengan Ahmadiyah redaksi nahimunkar sudah beberapa kali menurunkan tulisan tentang itu.

Sampai saat ini pengikut fanatik Kartosoewirjo, Bung Karno, dan Semaun masih eksis. Hanya saja, dua di antaranya dalam format gerakan bawah tanah. Namun demikian, hanya sebagian kecil saja dari rakyat Indonesia yang terkotak-kotak menjadi pengikut setia ketiga tokoh tadi. Sebagian besar rakyat Indonesia dan ummat Islam khususnya, tidak sektarian. Mereka menempatkan ketiganya sebagai sejarah masa lalu.

Namun demikian harus diakui, Pancasila begitu meresap bagi mereka yang selama ini enggan terhadap agama (Islam), misalnya kaum abangan. Di masa orde baru, (zaman Presiden Soeharto 1966-1998), selain ada Pancasila juga ada aliran kepercayaan. Keduanya menjadi rumah hunian yang ideal bagi para kelompok enggan terhadap agama. Di masa ini kita bisa temui seseorang yang kalau ditanya, “kok nggak shalat?” Maka jawaban yang keluar dari bibirnya adalah: “saya penghayat kepercayaan kepada tuhan yang maha esa.”

Meski akhirnya aliran kepercayaan sempat masuk GBHN 1978, namun kemudian ditendang lagi (dihapus) oleh MPR zaman Presiden BJ Habibi 1998. Saat masuk ke GBHN itu aliran kepercayaan sejajar dengan agama-agama, namun dakwah Islam tetap bergerak. Sehingga, aliran kepercayaan yang semula naik pamor menjadi rumah alternatif bagi kalangan enggan terhadap agama, lambat laun redup. Menjadi redup, oleh dedikasi para mujahid dakwah, juga karena sebagian dari mereka pindah saluran menjadi sepilis (sekulerisme, pluralisme agama, dan liberalisme) yang telah difatwakan haramnya oleh MUI 2005. Dan, sepilis kini menjadi rumah ideal bagi mereka yang enggan terhadap agama, dan mereka menyandang faham kiri.

Islam Tidak Dapat Dibendung

Berdasarkan kenyataan sejarah, gerakan Islam sebagai idelogi, tidak bisa dibendung dengan Pancasila, aliran kepercayaan, bahkan sepilis. Modus terbaru yang kini sedang dilancarkan adalah bagaimana orang Islam tetap merasa Islam namun dengan tata cara yang tidak Islami. Atau bahkan seolah sangat Islami, namun bercampur bid’ah dan bahkan melindungi kemusyrikan. (baca, Trend Muslim Bergaya Musyrik, https://www.nahimunkar.org/trend-muslim-bergaya-musyrik/#more-276, 10:39 pm)

Misalnya, dalam berjilbab. Gencar dikatakan bahwa jilbab itu busana khas Arab. Tapi, arus jilbab terus deras mengalir. Berjilbab saat ini tidak seperti di awal 1980-an. Hanya karena berjilbab, cari kerja susah. Kini sudah banyak berubah, meski masih ditemui di sana-sini ada larangan berjilbab tanpa ada alasan yang jelas. Itu pun akan mendapat perlawanan luas dari masyarakat.

Setelah upaya menghambat laju jilbab melalui isu jilbab adalah busana Arab tidak begitu berhasil, maka dibuat modus baru. Misalnya, mensosialisasikan jilbab gaul: dengan jeans ketat bahkan celana legging –lengket mepet bokong, celana potlot–, kaus lengan panjang ketat, dengan tutup kepala sak imprit (ala kadarnya). Yang ini jilbab gaul khas ABG. Paralel dengan itu ada jilbab gaul ala artis, sebagaimana dikenakan Marissa Haque dan sebagainya. Cirinya, penuh warna, ramai asesoris, dan kerudungnya (atau sesuatu yang disebut jilbab) dimasukkan ke dalam busana atau diikat ke belakang. Model ini dipelopori oleh Ratih Sanggarwati (mantan model) yang menjadi motor penggerak jilbab gaul untuk non ABG.

Kini, sedang trend busana gamis dari bahan kaus. Meski tidak transparan dan cukup panjang, namun bahan kaus itu begitu patuh kepada lekuk tubuh si pemakai. Sehingga paduan gamis berbahan kaus dengan jilbab sak imprit tadi, menghasilkan panorama pegunungan. Padahal, dalam kaidah Islam, berbusana yang Islami adalah tidak menghadirkan panorama pegunungan, dan panorama perbukitan di dekat anus.

Membenturkan Pancasila dengan Islam sudah tidak laku. Menjadikan Pancasila sebagai penghambat dakwah Islam, juga sudah tidak laku. Namun, masih ada saja yang melakukan hal itu. Misalnya, Agus Maftuh Abegebriel, salah satu tim penulis SR-Ins yang pernah menerbitkan buku berjudul Negara Tuhan: The Thematic Encyclopaedia di tahun 2004.

Pada berbagai kesempatan, Agus menakut-nakuti kita semua akan bahaya Islam garis keras trans nasional. Di bulan Juni saja, Agus setidaknya sudah nampang di dua stasiun televisi, yaitu Metro TV dan TVRI. Di Metro TV, karena pembawa acaranya cukup cerdas dan menguasai materi, dan mungkin juga sudah kenal cukup mendalam sosok Agus, maka sang pembawa acara (moderator) tidak terlalu memberikan lapak yang luas bagi Agus.

Berbeda dengan pembawa acara di TVRI, masih di bulan Juni, dengan tema Pancasila, Agus diberi lapak yang cukup luas untuk jualan. Masih seperti sebelum-sebelumnya, Agus menakut-nakuti kita dengan adanya bahaya ideologi import yang antara lain dibawa oleh sejumlah ormas tertentu. Ideologi import itu membolehkan kekerasan dan merasa paling benar di dalam memahami dan mempraktekkan agama (Islam). Begitu kata Agus.

Sementara itu, Agus pada saat yang sama sudah merasa paling benar di dalam menghayati agamanya (Islam), menghayati pancasila, dan sebagainya. Dan, jangan juga dilupakan, sebagaimana pendapat di atas, pancasila itu juga ideologi import yang dijajakan Bung Karno dengan kemasan seolah-olah lokal. Menurut Abdullah Patani dalam risalah kecil berjudul Freemasonry di Asia Tenggara, ada persamaan antara sila-sila Pancasila dengan Khams Qanun Zionis, dan azas-azas ideologi negara yang dikemukakan oleh Nehru di India, Dr. Sun Yat Sen di Cina, Pridi Banoyong di Thailand, dan Andres Bonivasio di Filipina. (http://lawalangy.wordpress.com/2007/07/22/asal-usul-pancasila/)

Islam akan terus didakwahkan, akan terus di-syi’ar-kan di mana-mana, termasuk di Amerika Serikat. Masalahnya, di Amerika Serikat boleh jadi tidak ada orang-orang “yang serba bukan” sehingga tidak perlu ideologi yang juga “serba bukan”. Di Indonesia, yang serba bukan justru laku. (haji/tede)