MUI: Memang harus saling menghormati. Cuma siapa yang dihormati? Tentu mayoritas dong. Saat bulan puasa, minoritas tentu harus menghormati mayoritas yang berpuasa

Warung-Masih-Tutup

Ilustrasi Google Image

Inilah beritanya.

***

Pernyataan Menag Lukman Resahkan Umat, DPR Minta Penjelasan

Jakarta, HanTer – Komisi VIII DPR RI meminta penjelasan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin soal pernyataan di Twitter tentang tidak perlunya memaksa rumah makan tutup pada bulan suci Ramadhan.

“Dalam rapat kerja Komisi VIII DPR RI dengan Menteri Agama RI, Selasa, kami meminta penjelasan Menteri Agama terkait kicauannya di Twitter mengenai kewajiban orang yang berpuasa untuk menghormati orang yang tidak berpuasa sekaligus tidak boleh memaksa rumah makan ditutup pada Ramadhan,” kata Ketua Komisi VIII Saleh Partaonan Daulay lewat keterangan tertulisnya yang diterima di Jakarta, Selasa (9/6).

Saleh menilai pernyataan itu meresahkan umat Islam yang sebentar lagi memasuki bulan suci Ramadhan.

Anggota Komisi VIII, kata dia, menerima banyak pengaduan masyarakat tentang kegelisahan mereka terhadap pernyataan tersebut.

Dalam penjelasannya, lanjut Saleh, Menteri Agama mengatakan bahwa kicauan Twitter tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan toleransi umat beragama.

Lukman menyatakan umat Islam sebagai penduduk mayoritas di Indonesia sudah sepantasnya menghormati orang yang tidak berpuasa karena berbeda keyakinan.

“Menag mengatakan pernyataan itu ditujukan kepada dua pihak. Pertama, umat beragama lain yang memang tidak diwajibkan berpuasa karena perbedaan keyakinan. Kedua, kepada umat Islam yang tidak berpuasa karena secara syariat memang dibolehkan untuk tidak puasa seperti perempuan yang berhalangan dan orang yang sedang musafir,” kata Saleh.

Mendengar penjelasan itu, kata Saleh, beberapa anggota Komisi VIII meminta pernyataan diklarifikasi ke media agar tidak menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Sebagai seorang menteri, Menag diminta untuk memberikan pernyataan yang menyejukkan dan dapat dicontoh oleh umat.

“Kalau orang yang berpuasa dituntut menghormati yang tidak puasa, dikhawatirkan bisa melebar ke ranah lain seperti orang yang shalat diminta menghargai orang yang tidak shalat, orang yang berzakat diminta untuk menghargai yang tidak berzakat dan seterusnya,” katanya.

Menurut Saleh, sebaiknya Menteri Agama memberikan klarifikasi terhadap pernyataan tersebut karena tidak semua pernyataan yang diniatkan untuk kebaikan dimaknai baik oleh masyarakat. Apalagi isu seperti itu dinilai sensitif terutama menjelang bulan suci Ramadhan.

(ruli) Di Publish Pada Tanggal : Selasa, 09 Juni 2015 21:32 WIB

http://nasional.harianterbit.com/

***

Selasa, 09/06/2015 14:18 WIB

Ketum MUI Sarankan Warung Makanan Ditutup Saat Ramadan

Yudhistira Amran Saleh – detikNews

Jakarta – Ketua Umum MUI Din Syamsuddin memberi saran soal polemik warung makanan di siang hari di bulan Ramadan. Menurut dia, sebaiknya di saat Ramadan warung ditutup. Hal itu dilakukan untuk menghormati mereka yang berpuasa.

“Eloknya warung tutup. Menghormati yang berpuasa. Memang harus saling menghormati. Cuma siapa yang dihormati? Tentu mayoritas dong,” jelas Din di Cikini, Jakarta, Selasa (9/6/2015).

Din memberi penjelasan, saat bulan puasa, minoritas tentu harus menghormati mayoritas yang berpuasa.

“Karena yang mayoritas berpuasa, tolonglah ditutup. Karena bisa mengganggu. Maka oleh karena itu saling menghormati,” tambah dia.

“Dan bagi pedagang-pedagang muslim jangan takut kehilangan rejeki. Insya Allah setelah buka puasa malah rejekinya banyak. Kayak Warung Makan Sederhana (Padang). Rizkinya Insya Allah bertambah. Walaupun kepada umat Islam yang berpuasa, kita jangan manja. Kita perkuat saja keimanan kita. Idealnya buat saya sih tutup,” tegas dia.

Tapi Din juga menegaskan, bila ada warung yang tak ditutup saat Ramadan juga jangan dirusak. Tetap hormati saja.

“Tapi kalau ada yang nggak mau menghormati nggak usahlah diserang,” tutup Din.

(ndr/mad)

***

Buruknya keadaan

Ada peringatan yang perlu diperhatikan, yaitu buruknya keadaan, di mana pendusta justru dipercaya sedang yang jujur justru didustakan, lalu pengkhianat malah dipercaya. Dan di sana berbicaralah ruwaibidhah, yaitu Orang yang bodoh (tetapi) berbicara mengenai urusan umum. Itulah yang diperingatkan dalam Hadits:

حَدِيث أَنَس ” أَنَّ أَمَام الدَّجَّال سُنُونَ خَدَّاعَات يُكَذَّب فِيهَا الصَّادِق وَيُصَدَّق فِيهَا الْكَاذِب وَيُخَوَّن فِيهَا الْأَمِين وَيُؤْتَمَن فِيهَا الْخَائِن وَيَتَكَلَّم فِيهَا الرُّوَيْبِضَة ” الْحَدِيث أَخْرَجَهُ أَحْمَد وَأَبُو يَعْلَى وَالْبَزَّار وَسَنَده جَيِّد , وَمِثْله لِابْنِ مَاجَهْ مِنْ حَدِيث أَبِي هُرَيْرَة وَفِيهِ ” قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَة ؟ قَالَ الرَّجُل التَّافِه يَتَكَلَّم فِي أَمْر الْعَامَّة “( فتح الباري).

Hadits Anas: Sesungguhnya di depan Dajjal ada tahun-tahun banyak tipuan –di mana saat itu– orang jujur didustakan, pembohong dibenarkan, orang yang amanah dianggap khianat, orang yang khianat dianggap amanah, dan di sana berbicaralah Ruwaibidhoh. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, apa itu Ruwaibidhoh? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Orang yang bodoh (tetapi) berbicara mengenai urusan orang banyak/ umum. (Hadits dikeluarkan oleh Imam Ahmad, Abu Ya’la, dan Al-Bazzar, sanadnya jayyid/ bagus. Dan juga riwayat Ibnu Majah dari Abu Hurairah. Lihat Kitab Fathul Bari, juz 13 halaman 84  ).

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.978 kali, 1 untuk hari ini)