Persoalan hari ini, negara yang ada bukan hanya sekedar tidak menjaga agama bahkan dapat kita lihat justru menjadi bagian yang merusak kemurnian agama.

Inilah beritanya.

***

Dalam Islam, Negaralah yang Menjaga Kemurnian Agama dari Ajaran Sesat

Jakarta (SI Online) – Didalam aturan Islam, yang menjaga kemurnian agama sesungguhnya adalah negara. Namun persoalan hari ini, negara yang ada bukan hanya sekedar tidak menjaga agama bahkan dapat kita lihat justru menjadi bagian yang merusak kemurnian agama. Demikian dikatakan Ustaz Muhammad Hijrah Dahlan (Abu Saad) saat mengisi pelatihan Relawan Penjaga Kemurnian Agama dan Daulah (RPKAD) di Masjid Abu Bakar Shiddiq, Sabtu (29/11/2014) lalu.

Dijelaskannya, kelompok-kelompok sesat yang merusak kemurniaan ajaran agama seperti Ahmadiyah, Lia Amimudin, Al Qiyadah itu mudah dinilai karena menyimpang dari pokok-pokok ajaran agama. Namun pemikiran sekulerisme, pluralisme, dan liberalisme (Sepilis) yang sudah difatwakan sesat oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) masih nyata ada di tengah-tengah masyarakat karena dibiarkan oleh negara penyebarannya.

“Sekuler adalah pemikiran yang memisahkan agama dari kehidupan. Agama identik dengan akherat sedangkan ideologi identik dengan dunia, kemudian mereka membatasi bahwa urusan akherat hanya sebatas ibadah ritual, begitu masuk kehidupan sosial politik ekonomi itu tidak ada kaitannya dengan agama. Itulah pemikiran sekuler,” terang Ustaz Abu Saad.

Ustaz yang dikenal sebagai pengusaha es pisang ijo ini menambahkan, bahwa selama ini ada tokoh-tokoh yang berpandangan untuk tidak mencampurkan agama dengan politik. “Agama terlalu suci sedangkan politik itu kotor kalau dicampur adukkan maka agama akan ikut kotor. Jadi orang yang berdasarkan pemahaman ini sudah mengetahui bahwa politik itu kotor tapi masih mau menjadi politisi yang kotor,” kata Ustaz Abu Saad.

“Kenapa politik menjadi kotor? karena politik yang dijalankan bukan politik Islam. Jika yang dijalankan politik seperti Rasulullah dan para sahabat maka akan jadi poltik yang suci dan mulia,” tambahnya.

Ia berpesan agar umat Islam tidak berpemikiran Sepilis (sekulerisme, pluralism agama, dan liberalism) karena totalitas kehidupan harus berdasarkan agama agar semuanya bernilai ibadah.

red: adhila, Kamis, 04/12/2014 14:20:58

***

Menipu diri dan membuat kerusakan

 

يُخَادِعُونَ اللّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلاَّ أَنفُسَهُم وَمَا يَشْعُرُونَ ﴿٩﴾

  1. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, pada hal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.

فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَهُمُ اللّهُ مَرَضاً وَلَهُم عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ ﴿١٠﴾

  1. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لاَ تُفْسِدُواْ فِي الأَرْضِ قَالُواْ إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ ﴿١١﴾

  1. Dan bila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.”

أَلا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَـكِن لاَّ يَشْعُرُونَ ﴿١٢﴾

  1. Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. (QS Al-Baqarah: 9-12).

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.040 kali, 1 untuk hari ini)