P

94PUCUK-JAMBI foto jambiupdatedotcom
94PUCUK-JAMBI foto jambiupdatedotcom

emerintah Kota (Pemkot) Jambi berencana menutup lokalisasi perzinaan Payosigadung pada Senin 13 Oktober 2014.

Untuk itu Polresta Jambi menyiagakan 446 personil kepolisian di lokalisasi Payo Sigadung untuk mengantisipasi pengamanan sebelum dilakukan penutupan.

Langkah berani yang dilakukan Walikota Jambi Syarif Fasha dalam menutup dua lokalisasi Payo Sigadung dan Langitbiru mendapat apresiasi yang luar biasa dari Kementerian Sosial RI.

Direktur Rehabilitasi Sosial Tunasosial Kemensos RI Sony W Manalu mengatakan Kota Jambi merupakan kota pertama di Sumatera yang telah mengambil kebijakan untuk menutup lokalisasi.

Inilah beritanya.

***

Senin, Pemkot Jambi tutup lokalisasi perzinaan Payo Sigadung

JAMBI (Arrahmah.com) – Pemerintah Kota (Pemkot) Jambi berencana menutup lokalisasi perzinaan Payosigadung pada Senin 13 Oktober 2014.

Untuk itu Polresta Jambi menyiagakan 446 personil kepolisian di lokalisasi Payo Sigadung untuk mengantisipasi pengamanan sebelum dilakukan penutupan

Kapolresta Jambi, Kombes Pol Kristono di Jambi, Sabtu, mengatakan, untuk mendukung rencana Pemkot Jambi menutup lokalisasi Payo Sigadung dan untuk mengantisipasi konflik maka polisi ditempatkan di sana.

Penempatan polisi di sana karena banyak pihak yang berkepentingan dengan keberadaan lokalisasi tersebut.

Kristono mengatakan, pihaknya siap mendukung rencana Pemkot Jambi untuk menutup lokalisasi dan pihaknya akan mengerahkan 446 personel untuk pengamanan deklarasi penutupan lokalisasi itu.

“Personel tersebut kita tempatkan mulai dari saat deklarasi hingga pascadeklarasi,” katanya, dikutp dari Antara.

Polresta Jambi sampai saat ini terus melakukan pemantauan terhadap situasi di lokalisasi sebelum dilakukannya penutupan.

“Kita siap mendukung kebijakan pemerintah menutup lokalisasi,” kata Kristono.

Sebelum penutupan tempat pelacuran itu Pemkot Jambi telah melakukan sosialisasi. Meski ada penolakan dari para pelacur, Pemkot tetap akan menutup tempat pelacuran pada Senin (13/10/2014). (azm/arrahmah.com) A. Z. Muttaqin Ahad, 18 Zulhijjah 1435 H / 12 Oktober 2014 07:55

***

Jambi Kota Pertama di Sumatera Tutup Lokalisasi

Senin, 15 September 2014 16:35 WIB

Laporan Wartawan Tribun Jambi, Rida Efriani

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI- Langkah berani yang dilakukan Walikota Jambi Syarif Fasha dalam menutup dua lokalisasi Payo Sigadung dan Langitbiru mendapat apresiasi yang luar biasa dari Kementerian Sosial RI.

Direktur Rehabilitasi Sosial Tunasosial Kemensos RI Sony W Manalu mengatakan Kota Jambi merupakan kota pertama di Sumatera yang telah mengambil kebijakan untuk menutup lokalisasi.

“Kami atas nama pemerintah pusat sangat mengapresiasi pak walikota dengan jajarannya karena Palembang kita sudah berkali-kali bertemu tapi belum sampai ditahap deklarasi seperti ini. Dan yang membuat perda tentang ini diseluruh Sumatera cuma Kota Jambi,” ungkapnya usai mengikuti Apel Ikrar Penutupan Lokalisasi Payosigadung dan Langitbiru, Senin (15/9).

***

Dolly Sukses, Kemensos Siap Tutup Lokalisasi di Jambi

September 11, 2014 –

AKTUALITAS.com : Kementrian Sosial tak pernah berhenti untuk memberikan konsultasi dan memberi bantuan kepada para kepala daerah untuk menutup lokalisasi yang ada di kota-kota di Indonesia. Setelah sukses mendampingi walikota Surabaya dalam menutup lokalisasi Dolly, kini Kemenntrian Sosial (Kemensos) memiliki ‘pasien’ baru, yakni Walikota Jambi Syarif Fasha yang mengkonsultasikan atas rencana Pemerintahan Kota Jambi untuk menutup dua lokalisasi di Jambi.

Seperti diketahui, Walikota Jambi berkonsultasi dengan Kemensos untuk menutup dua lokalisasi di Jambi yakni lokalisasi Payosigadung dan Langitbiru. Kemensos pun mengapresiasi apa yang dilakukan Syarif terlebih setelah ada Peraturan Daerah (Perda) tentang penutupan lokalisasi tersebut dan atas hasil kajian dari tim terpadu yang melibatkan berbagai unsur terkait.

“Kemensos memiliki model penanggulangan lokalisasi yaitu dengan pendekatan panti. Di dalamnya ada pelatihan keterampilan dan non panti yang bermitra dengan kelembagaan lokal,” Ujar Dirjen Rehabilitas Sosial Samsudi, Jakarta, Kamis (11/9/2014)

Kemensos mendukung penuh program-program yang dilakukan oleh Pemkot Jambi untuk menutup lokalisasi. Sebagai bentuk dukungan, penutupan lokalisasi dan inisiasi bisa dilakukan oleh Menteri Sosial seperti di lokalisasi Dolly. Selain itu, juga akan dilakukan pembagian tugas secara proporsional dan saling menguntungkan terkait pemulangan, jaminan hidup serta pengembangan potensi untuk beralih profesi para penghuni lokalisasi.

“Kemensos mendukung bila kelak laan tersebut bisa digunakan untuk kepentingan pendidikan ataupun sarana lainnya, seperti pusat kajian keilmuan dan keagamaan, serta praktik perserta didik dari berbagai sekolah,” ungkap Samsudi.

Kedepannya, bentuk kerja sama yang dilakukan Pemkot Jambi dengan Kemensos bukan hanya sekedar konsultasi. Sebagai wujud nyata mendukung penutupan lokalisasi, Kemensos juga siap mengucurkan dana sebesar 2,8 Miliar untuk menunjang segala kebutuhan untuk penutupan lokalisasi tersebut. Dari anggaran tersebut akan ada 566 orang yang menerima bantuan untuk Modal Usaha Ekonomi Produktif (UEP), Jaminan hidup, dan biaya pemulangan.

Sementara itu, Direktur Rehabilitasi Tuna Sosial, Sonny Manalu mengatakan bahwa kedatangan Walikota Jambi sebagai kelanjutan dari pertemuan untuk membahas rencana penutupan lokalisasi tersebut.

Persoalan penanganan masalah prostitusi termasuk kategori masalah kesejahteraan sosial. Di Indonesia, jumlah lokalisasi masih banyak dengan jumlah WTS-nya lebih dari 10.000 orang yang terbagi dalam beberapa kelas pelayanan bagi para pelanggannya.

Hasil penelitian Kemensos, 80% WTS mengidap penyakit seksual menular, 35% terinfeksi HIV, serta penyakit lainnya. Namun dampak buruk yang lebih mencengangkan yaitu kondisi anak-anak usia dini (5-8 tahun) sudah diperkenalkan dengan praktek ‘hubungan’ orang dewasa seperti kasus yang ada di lokalisasi Dolly.

Penulis : Rizky Ramadhan.

***

Mendukung Penutupan Dolly, Mengingat Bahaya Zina

https://www.nahimunkar.org/mendukung-penutupan-dolly-mengingat-bahaya-zina/

Dalam hadits ditegaskan:

 لَمْ تَظْهَرْ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا إِلَّا فَشَا فِيهِمْ الطَّاعُونُ وَالْأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلَافِهِمْ الَّذِينَ مَضَوْا

Tidaklah kekejian (mesum) menyebar di suatu kaum, kemudian mereka melakukannya dengan terang-terangan kecuali akan tersebar di tengah mereka penyakit Tha’un (wabah pes) dan penyakit-penyakit yang belum pernah terjadi terhadap para pendahulu mereka.” (HR Ibnu Majah nomor 4009, lafazh baginya, dan riwayat Al-Bazzar dan Al-Baihaqi, shahih lighoirihi menurut Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wat-Tarhib hadits nomor 1761).

(nahimunkar.com)

(Dibaca 662 kali, 1 untuk hari ini)