Pertanyaan untuk Menteri Agama Yaqut

Ilustrasi. foto/twitter

Ide atau gagasan Menag Yaqut agar pada setiap acara dibacakan do’a untuk semua agama dengan alasan lebih cepat kabul do’a adalah mengada-ada, tidak memiliki landasan syar’i, serta makna toleransi yang kebablasanItu namanya sinkretisme agama. Yaqut memahami tidak, makna agama bagi pemeluknya ? Keyakinan yang tidak boleh dicampur aduk dengan agama lain. Masing-masing saja.

Kondisi toleransi dalam makna campur aduk ini menggambarkan betapa rendah dirinya umat Islam dalam menjalankan keyakinan agamanya. Pak Menteri Agama sungguh  tak layak menjadi teladan baik fikiran maupun sikap keagamaannya. Meracuni dengan cara pandang yang salah. Tidak ada do’a bareng bareng semua agama. Jika ada acara dimana umat Islam harus mengikuti doa bersama atau bergantian, maka sebaiknya umat membiarkan umat lain berdoa sesuai agamanya. Adapun umat Islam tidak boleh mengikuti, artinya keluar ruangan saja. (by M Rizal Fadillah *,
Jika Doa Semua Agama Dibacakan, Umat Islam Sebaiknya Keluar Ruangan !
Posted on 9 April 2021 by Nahimunkar.org ).

Pertanyaan untuk Menteri Agama Yaqut

Dalilnya mana Pak Menteri Agama Yaqut?

Doa itu adalah ibadah, menurut hadits.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

الدُّعَاءُ هُوَ العِبَادَةُ

“Doa adalah ibadah.” (HR. Tirmidzi no. 2969. Dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani). 

Setiap ibadah itu harus dilandasi dalil yang shahih dan sharih ( benar lagi jelas). Tampaknya Pak Menag Yaqut belum mengemukakan dalil serta contoh dari Nabi, para sahabat, tabi’in dan tabi’it tabi’in.

Yang terdengar sepertinya hanya apologi, ‘apa salahnya’ setiap acara resmi ada doa dari masing-masing agama.

Lafal ‘apa salahnya’ itu tidak cukup menjadi dalil bagi orang Muslim untuk hal ibadah. Karena dalam kaidah fiqih, ibadah itu pada asalnya adalah haram.

Diantara kaidah fiqih yang agung dalam agama ini adalah:

الأصل في العبادة الحظر, فلا يشرع منها إلا ما شرعه الله و رسوله

“Hukum asal dalam ibadah adalah terlarang, maka suatu ibadah tidak disyariatkan kecuali ibadah yang disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya”[1. Al Qawaid Wal Ushul Al Jami’ah, 72].

Simak selengkapnya disini. Klik https://muslim.or.id/28752-kaidah-fiqih-hukum-asal-ibadah-adalah-haram.html

Ketika mengatakan sesuatu mengenai agama apalagi ibadah pada hakekatnya mengatakan hal atas nama Allah. Makanya harus berdasarkan firman Allah atau sabda utusan Allah. Bila hanya berhujjah dengan pikiran belaka, serti kata2 ‘apa salahnya’ dan tidak dilandasi firman Allah atau sabda utusan Allah, maka jurusannya adalah berdusta atasnama Allah.

Karena menganggap suatu amalan sebagai ibadah tanpa ada keterangan dari syariat seolah-olah mengatakan bahwa Allah menyukai dan memerintahkan amalan tersebut padahal klaim ini tidak didasari ilmu (dalil). Allah Ta’ala berfirman:

وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَذَا حَلَالٌ وَهَذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ

Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung” (QS. An Nahl: 111).

Simak selengkapnya disini. Klik https://muslim.or.id/28752-kaidah-fiqih-hukum-asal-ibadah-adalah-haram.html

Tidak boleh menetapkan suatu ibadah dengan selain dari dalil-dali syar’i.

Syaikh Muhammad bin Nashir As Sa’di mengatakan: “Mengenai kaidah ini Allah Ta’ala berfirman:

أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ

Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (QS. Asy Syura: 21).

Simak selengkapnya disini. Klik https://muslim.or.id/28752-kaidah-fiqih-hukum-asal-ibadah-adalah-haram.html

Dari berbagai segi, ide Menteri Agama Yaqut untuk diadakan doa setiap agama pada acara2 resmi itu bertentangan dengan Islam, bahkan menyangkut ibadah yang pada dasarnya ibadah itu sama sekali tidak memerlukan inovasi dari menteri atau siapapun.

Apabila ide itu tetap dilontarkan atau bahkan dipraktekkan, maka ancaman keras pun telah nyata.

Apabila mengadakan doa bersama dengan orang-orang musyrik, maka itu melakukan pelanggaran berat, bahkan ketika diekspose maka menjadi contoh nyata terang-terangan menunjuki jalan keburukan. Sedang dalam hadits telah diancam, orang yang menunjuki jalan keburukan itu mendapatkan dosa, ditambah dengan dosa dari para penirunya tanpa berkurang sedikitpun.

 مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ

“Barangsiapa yang memulai mengerjakan perbuatan baik dalam Islam, maka dia akan memperoleh pahalanya dan pahala orang yang mencontoh perbuatan itu, tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa yang memulai kebiasaan buruk, maka dia akan mendapatkan dosanya, dan dosa orang yang mengikutinya dengan tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.” (Hadits shahih riwayat Muslim NO – 1691).

مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ عَلَيْهِ مِثْلُ وِزْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ

‘Barang siapa dapat memberikan suri tauladan yang baik dalam Islam, lalu suri tauladan tersebut dapat diikuti oleh orang-orang sesudahnya, maka akan dicatat untuknya pahala sebanyak yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi sedikitpun pahala yang mereka peroleh. Sebaliknya, barang siapa memberikan suri tauladan yang buruk dalam Islam, lalu suri tauladan tersebut diikuti oleh orang-orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya dosa sebanyak yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa yang mereka peroleh sedikitpun.’ (Hadits shahih riwayat Muslim NO – 4830).

Apabila tetap ngotot, ancamannya pun cukup berat.

Ancaman keras bagi orang yang mengikuti selain jalan orang mukmin

{وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا } [النساء: 115]

115. dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu[348] dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. (QS An-Nisaa’: 115).

[348] Allah biarkan mereka bergelimang dalam kesesatan.

 

Betapa ruginya bila mereka sampai menjelang ajalnya tidak bertobat dengan taubatan nashuha (murni senar-benarnya tobat).

Apa yang dilakukan dalam hidup di dunia ini akan dibalas di akherat kelak, sesuai dengan amal masing-masing. Maka  penting sekali kita pelihara diri kita dan keluarga kita dari api neraka, jangan sampai ikut orang-orang yang terang-terangan mencampur adukkan yang haq dengan yang batil serta mengikuti selain jalan orang mukmin yang sangat di kecam dan diancam oleh Allah Ta’ala dalam ayat-ayatNya itu.

(nahimunkar.org)

(Dibaca 614 kali, 1 untuk hari ini)