Pertemuan IMF-Bank Dunia yang diadakan di Bali minggu ini, memakan biaya besar. Tak heran banyak pihak yang menentang acara ini, mengingat Indonesia saat ini sedang dilanda bencana yang membutuhkan bencana besar. Pihak oposisi juga meragukan, pertemuan tokoh keuangan dunia ini akan bermanfaat untuk Indonesia.

Oleh: Mata Mata Politik

Tahun ini, Indonesia menjadi tuan rumah pertemuan IMF-Bank Dunia. Acara akbar yang dilangsungkan selama sepekan di Bali itu telah menuai banyak pertentangan bahkan usulan pembatalan. Hal itu karena pergelaran yang menghabiskan hampir 1 Triliun rupiah itu dirasa timpang dengan kondisi pemulihan pasca-bencana Indonesia saat ini.

Seperti yang telah diketahui, gempa dan tsunami telah melanda Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah pada Jumat lalu (28/10). Puluhan ribu korban bencana sampai sekarang masih dalam kondisi yang memprihatinkan. Mengingat hal tersebut, Wakil Ketua DPR RI, Fadli Zon, telah mengusulkan pembatalan acara ini.

“Batalkan saja pertemuan IMF-Bank Dunia di Bali. Utamakan urus Palu dan Donggala. Alihkan dananya yang Rp1 triliun untuk korban, termasuk di NTB,” kata Fadli dilansir akun Twitter resminya @kabarFZ.

Terlebih lagi, kata Fadli, pertemuan IMF-Bank Dunia ini tidak memberi dampak positif bagi perekonomian Indonesia. “Pertemuan tahunan IMF/Bank Dunia tak memberi dampak penguatan rupiah,” cuit Fadli Zon lagi.

Tidak hanya itu, Fadli juga mempertanyakan manfaat yang diterima Indonesia sebagai tuan rumah pertemuan IMF-Bank Dunia ini. “Tak meningkatkan kepercayaan pasar pada kita. Jadi pertemuan itu untuk apa? dan untuk siapa?” ujar Fadli, dikutip dari Detik.com.

Jika melihat dana yang pemerintah Indonesia gelontorkan untuk penyelenggaraan acara tersebut, wajar jika beberapa pihak terkejut. Rizal Ramli, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, merupakan salah satu pihak yang heran dengan total dana yang dihabiskan negara untuk acara internasional itu.

“Nyaris 70 juta dolar, setahu saya kalau ngadain konferensi internasional cukup 10 juta dolar sudah hebat, mewah, karena tugas penyelenggara menyediakan venue, makanan,” kata Rizal Ramli kepada Republika.co.id.

Rizal juga mengatakan bahwa penghematan dana sangat mungkin untuk dilakukan. Penghematan ini sangat perlu mengingat kondisi Indonesia yang sedang di tahap pemulihan pasca-bencana. “Kami sedih, dalam suasana keprihatinan, bencana di Palu, Lombok, kok semangat jor-joran enggak berhenti, semangat kemewahan luar biasa. Kita negara yang lagi susah, lagi banyak bencana,” ujarnya.

Senada, tim pemenangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, yang juga disebut sebagai Koalisi Indonesia Adil dan Makmur, turut menuntut dilakukannya penghematan di acara forum dunia itu. Menyadari bahwa acara tersebut tidak dapat dibatalkan karena telah dipersiapkan sejak lama, koalisi tersebut mengusulkan pengurangan kadar kemewahan pada acara itu.

 “Karena tidak mungkin dibatalkan, Koalisi Adil dan Makmur mengusulkan ke pemerintah untuk menurunkan standar kemewahan pesta pertemuan tahunan IMF dan World Bank,” kata Koordinator Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandiaga, Dahnil Azhar Simanjuntak, kepada Viva.co.id.

Dahnil juga menyuarakan keprihatinan Koalisi Indonesia Adil dan Makmur atas acara mewah itu. “Sangat memprihatinkan bagi Koalisi (Adil dan Makmur), dan memalukan. Kenapa? Karena di tengah bencana justru kemudian kita berpesta pora di Bali,” ujarnya.

Sumber: matamatapolitik.com

(nahimunkar.org)

(Dibaca 398 kali, 1 untuk hari ini)