Nahimunkar.com-Jumlah situs seks meningkat tajam. Perkembangan ini tidak dapat dibendung walaupun bermunculan software-software yang dirancang khusus memblokir situs-situs porno. Hanya keshalihan individual yang dapat menekan pertumbuhan situs vulgar.
Situs berita Tempo edisi 20 Februari 2011 melaporkan, Kementerian Komunikasi dan Informatika mengaku cukup kewalahan dengan tingginya frekuensi pengaksesan situs porno di Indonesia. Dalam survey yang dilakukan Kominfo, tiap detik ada 30 ribu halaman situs porno yang diakses pengguna internet di Indonesia.
“Seperti deret hitung dalam matematika, kami potong (blokir) satu, yang muncul malah kian banyak. Jadi bukan kami lamban mengatasi masalah ini, tapi memang cepat sekali tumbuhnya dan SDM kita juga terbatas,” kata Juru Bicara Kominfo Gatot S Dewabrata di Yogyakarta, Sabtu (19/2). Turut hadir duta besar Internet Sehat Internet Cerdas Depkominfo Igor, vokalis grup Saykoji.
Dari penelitian Kominfo, hingga akhir 2009, tercatat ada 400 juta situs porno yang tercatat di dunia maya. Diprediksi tahun ini perkembangan situs porno itu telah semakin banyak dan akan terus bertambah setiap tahunnya.
Jauh hari sebelumnya, situs Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Barat edisi 27 September 2010 mengklaim Pemerintah dalam hal ini Kementrian Komunikasi dan Informatika telah mengklaim berhasil memblokir situs dan konten berbau pornografi sekitar 90% dari total situs dan konten porno yang ada di dunia maya. Menteri Kominfo Tifatul Sembiring mengatakan pemblokiran terhadap situs-situs itu terus dilakukan departemennya dengan memaksimalkan para vendor dan operator seluler yang beroperasi di Indonesia. “Kami terus melakukan pemblokiran, karena perkembangan situs porno juga selalu lebih maju,” kata dia saat menghadiri peringatan Hari Postel di Museum Pos Bandung Senin (27/9).
Tidak jauh berbeda, situs milik majalah besutan Pondok Modern Gontor mengungkapkan, menurut data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesi (APJII), terdapat 25 juta orang yang mengakses internet porno di Indonesia. Bahkan Indonesia menduduki urutan ketujuh dari 10 negara yang para penjelajah internetnya memasukkan kata “s*x” dalam mesin pencari google. Hal ini juga dipengaruhi oleh keberadaan situs porno di dunia maya yang berjumlah ribuan.
Data usia pengakses situs porno yang dirilis dalam Pornography Statistic, menunjukkan bahwa pengakses situs berdasarkan usia 18-24 tahun sebanyak 13,61 persen, usia 25-34 tahun 19,90 persen, usia 35-44 tahun 25,50 persen, usia 45-54 tahun 20,67 persen dan usia 55 tahun ke atas 20,32 persen. Wanita ternyata juga banyak yang menggemari situs porno. Jumlah wanita yang kecanduan situs porno sebesar 17 persen, dan yang mengakses pada saat bekerja sebanyak 13 persen.
Dalam artikelnya yang berjudul Menghadang Bahaya Internet ini, redaktur majalah Gontor juga mengutip survei Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) terhadap 4.500 remaja di 12 kota besar di Indonesia tahun 2007. Hasil survei KPAI  sangat mengejutkan, karena 97 persen responden pernah menonton adegan porno. Dampaknya, sebanyak 93,7 persen responden mengaku pernah berciuman, petting, dan oral sex, serta 62,7 persen remaja yang duduk di bangku SMP mengaku pernah berhubungan intim. Data yang lebih mengejutkan, sebanyak 21,2 persen siswi SMA mengaku pernah menggugurkan kandungan. Na’udzubillah.
Beragam cara sudah dilakukan pihak-pihak yang merasa prihatin atas perkembangan situs porno dan juga jumlah pengakses situs maksiat. Pemerintah sudah melakukan banyak hal seperti dengan menerbitkan UU Pornografi yang belakangan selalu diusik dan dicibir oleh kalangan Sekuleris, Liberalis dan Pluralis. Pemerintah melalui Kominfo, sebagaimana dilansir mediacenter.malangkota.go.id edisi 5 Mei 2013, melalui internet sehat dan aman (INSAN), Indonesia merupakan satu-satunya negara yang memblokir situs porno, dan saat ini sudah 1 juta situs. Sedangkan situs yang ada, saat ini sekitar 3 miliar. “Jika langkah Indonesia ini diikuti oleh negara lain, maka akan lebih maksimal dalam menekan perkembangan situs pornografi. Setidaknya apa yang dilakukan Indonesia ini setidaknya dapat mengurangi situs pornografi setiap tahun,” sambungnya.
Diwartakan situs milik stasiun televisi swasta Nasional SCTV, dalam kanal tekno.liputan6.com edisi 8 September 2012, Konselor Psikologi bernama Zoya Amirin meluncurkan situs seks online berbasis pendidikan. Menurut Zoya, situs tersebut untuk memberi ruang kepada pengakses porno agar berpikir positif, tanpa harus mengunduh video porno. Melainkan mengunduh seks tapi terdapat nilai-nilai pendidikannya yang berdampak positif. “Mengingat pertumbuhan pengakses situs porno di Indonesia sudah masuk kategori empat besar di dunia. Makanya untuk mengimbangi itu, saya pun meluncurkan situs terebut namun berisikan edukasi seks,” kata Zoya Amirin pada peluncuran seks onlinenya, di Jakarta, baru-baru ini.
Dua contoh langkah menghambat pertumbuhan industri website porno tersebut dianggap sebagai langkah utopis oleh sebagian kalangan. Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII) dalam situs thejakartapost.com menyatakan bahwa halangan-halangan teknis akan membuat pemblokiran situs-situs porno di Indonesia hampir tidak mungkin.
Hal ini menjadi jelas karena seberapa pun besarnya usaha yang dilakukan untuk memblokir situs-situs porno yang ada saat ini, nampaknya tidak akan sanggup untuk menekan laju perkembangan teknologi informasi lainnya sehingga memungkinkan juga untuk kembali megakses situs-situs tersebut hanya saja dengan cara yang lain.
Layaknya seorang manusia, bukankah semakin ia ditentang dan menghadapi kesulitan maka ia semakin berusaha untuk mencari jalan lain untuk memperoleh yang diinginkannya? Oleh karena itu, jika memang dalam pribadi manusia tersebut sudah berniat untuk terus mengakses situs porno, maka nampaknya pemblokiran pun juga tidak sanggup untuk mengahalanginya. Teknologi terus berkembang dan bukan tidak mungkin teknologi yang mengatasi teknologi yang dipakai untuk memblokir situs porno akan segera ada dan ketika hal itu muncul, barulah tersadar bahwa semua usaha itu akan sia-sia. Tidak akan permanen karena kemajuan teknologi akan memakan teknologi yang terdahulu.
Data yang tersaji ini bisa disebut kedaluarsa. Perkembangan internet dewasa ini menjadikan data yang baru saja diunggah bisa dianggap kedaluarsa hanya dalam beberapa detik. Kita tunggu riset terbaru mengenai pertumbuhan situs porno di Indonesia. Meningkat tajam ataukah menurun drastis. Kita pasrahkan kepada Allah Ta’ala, tuhan kita semua, semoga para penjaja situs porno bertaubat. (BR)

(Dibaca 1.726 kali, 1 untuk hari ini)