Kerugian Pesantren al-Muttaqin Waena Mencapai Rp. 1,6 Miliyar

pesantrn al muttaqin

Bangunan kelas pesantren al-Muttaqin, Waena, Papua yang terbakar, Senin  (sengaja dibakar orang dan diteror) (24/08/2015)/foto hdytllhcom

“Kebakaran yang kedua ini jelas dibakar, meski kita nggak lihat langsung pelakunya tetapi itu jelas dibakar,” tegas Yatiman, Pendiri pesantren di Jayapura Papua ini.

Sebab, kata Yatiman, indikasi adanya pelaku yang mencoba membakar itu dapat diketahui dari rusaknya pagar ponpes yang berupa semak berlapis kawat besi dan berduri. Pagar tersebut, katanya, seperti bekas diinjak oleh seseorang atau disibak dengan menggunakan alat berat.

“Ada pagar ponpes yang rusak karena dilewati pelaku. Kita sedang diteror, ini pesantren dan sepertinya disengaja,” ujar Yatiman, seperti dilansir hidayatullah.com.

Inilah beritanya.

***

Pendiri Ponpes al-Muttaqin Waena: “Kebakaran yang Kedua Ini Jelas Dibakar”

Ahad, 30 Agustus 2015 – 07:00 WIB

“Ada indikasi jelas karena ada pagar ponpes yang rusak karena dilewati pelaku. Kita sedang diteror, ini pesantren dan itu disengaja,”

Hidayatullah.com– Pendiri dan sekaligus pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) al-Muttaqin, Kelurahan Waena, Distrik Heram, Kabupaten Jayapura, Ustadz Yatiman membenarkan jika telah terjadi kebakaran untuk yang kedua kalinya di Ponpes al-Muttaqin yang dipimpinnya.

“Kebakaran yang kedua ini setelah adzan subuh, tetapi kita belum sempat sholat. Kalau pertama itu sesudah sholat, waktu kita dzikir,” kata Yatiman saat dikonfirmasi  hidayatullah.com melalui sambungan telepon, Sabtu (29/08/2015) malam.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Peristiwa kebakaran telah melanda Pondok Pesantren (Ponpes) al-Muttaqin, Keluarahan Waena, Distrik Heram, Kabupaten Jayapura, Papua, Senin (24/08/2015) kemarin. [baca: Bangunan Pesantren al-Muttaqin Papua Dilalap ‘Si Jago Merah’].

Dari informasi yang diterima hidayatullah.com, Selasa (25/08/2015) siang, kebakaran terjadi dini hari sekitar pukul 04.30 WIT. Dari keterangan 2 saksi, Bagas Aranda dan Bintang Kambuaya, yang baru bangun dari tidurnya, lalu langsung pergi ke masjid yang tidak jauh dari kamar keduanya untuk melakukan solat Subuh.

Setelah sampai di masjid, Bagas dan Bintang tidak jadi solat Subuh karena, Bintang meminta kepada Bagas untuk mengantarnya ke kamar mandi.

Namun, saat tiba di depan kamar nomer 2, keduanya melihat adanya asap hitam yang mengepul  keluar dari kamar nomer 2. Sehingga, membuat keduanya meminta bantuan kepada penghuni pesantren al-Mutaqin untuk segera memadamkan ‘si jago merah’ dengan mengunakan ember.

Yatiman menyatakan bahwa belum diketahui secara pasti penyebab dari kebakaran yang terjadi pertama kali tetapi, yang jelas listrik tidak mati saat kejadian sedang berlangsung.

“Kebakaran yang kedua ini jelas dibakar, meski kita nggak lihat langsung pelakunya tetapi itu jelas dibakar,” tegas Yatiman.

Sebab, kata Yatiman, indikasi adanya pelaku yang mencoba membakar itu dapat diketahui dari rusaknya pagar ponpes yang berupa semak berlapis kawat besi dan berduri. Pagar tersebut, katanya, seperti bekas diinjak oleh seseorang atau disibak dengan menggunakan alat berat.

“Ada pagar ponpes yang rusak karena dilewati pelaku. Kita sedang diteror, ini pesantren dan sepertinya disengaja,” ujar Yatiman.

Kendati demikian, kata Yatiman. pihak kepolisian maupun TNI telah melakukan penyelidikan dan pemeriksaan. Dan tokoh masyarakat, juga banyak yang datang ke ponpes al-Muttaqin, termasuk Pemda setempat.

“Semua aparat tersebut satu hari di sini, sore jam 16.30 WIT tadi barusan pulang,” tandas Yatiman.*

Rep: Ibnu Sumari

Editor: Achmad Fazeri

***

Yatiman: Kerugian Pesantren al-Muttaqin Waena Mencapai Rp. 1,6 Miliyar

Ahad, 30 Agustus 2015 – 07:45 WIB

“Saat ini untuk belajar para santri dari 5 kelas yang terbakar itu kami pakai ruangan masjid,”

Hidayatullah.com- Pendiri dan sekaligus pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) al-Muttaqin Waena, Heram, Jayapura, Yatiman menyebutkan kerugian yang dialami Ponpes al-Muttaqin dari peristiwa kebakaran yang pertama kali itu sekitar 1,6 M (5 gedung terbakar,red).

“Saat ini untuk belajar para santri dari 5 kelas yang terbakar itu kami pakai ruangan masjid,” kata Yatiman kepada hidayatullah.com saat dihubungi melalui sambungan telepon, Sabtu (29/08/2015) malam.

Yatiman menuturkan kalau Pemerintah Daerah setempat mau membangun kembali gedung tersebut meskipun realitanya belum taerlihat ada upaya pembangunan, baru sekadar merobohkan bangunan bekas dari kebakaran.

“Kita masih menunggu, mereka mungkin masih sedang koordinasi. Mudah-mudahan segera karena santri-santri kami sudah nggak punya tempat lagi,” ujar Yatiman berharap sekali.

Untuk itu, Yatiman berharap kepada pemerintah setempat dan juga umat Islam di seluruh Indonesia untuk bersedia membantu bagaimana supaya gedung yang terbakar itu bisa segera dibangun kembali. Sehingga, santri-santri bisa tinggal dan bersekolah dengan nyaman kembali.

“Itu harapan pertama kami. Kedua, setelah ini harus ada penjagaan yang ketat, artinya ada pos penjagaan langsung dan itu sudah kami sampaikan,” kata Yatiman.

Ketiga, masih kata Yatiman, karena Indonesia merupakan negara hukum dan harus saling menghormati. Jadi, menurutnya, harus ada pengusutan dan penyelidikan secara tuntas peristiwa kebakaran yang kedua kalinya ini.

“Wa Allahu’alam, apakah pelakunya non muslim atau bukan. Tetapi yang jelas ini sengaja dibakar dan yang dibakar adalah pesantren. Jadi, seratus persen nggak mungkin kalau muslim yang membakar,” pungkas Yatiman.*

Rep: Ibnu Sumari

Editor: Achmad Fazeri/hdytllcom

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.094 kali, 1 untuk hari ini)