Berikut ini akan dikemukakan sekilas tentang Tokoh puncak Pondok Pesantren Modern Al-Zaytun Dijebloskan ke Penjara, dan mengenai kesesatan yang diusung oleh pesantren megah di Indramayu Jawa Barat itu.

Tokoh puncak Pondok Pesantren Modern Al-Zaytun Dijebloskan ke Penjara

Kini pemimpin Pesantren Al-Zaytun Indramayu, AS Panji Gumilang, Dijebloskan ke Penjara Indramayu

Menurut putusan kasasi No:665 K/Pid 2014 Tanggal 29 September 2014, Panji dijatuhi putusan pidana hukuman penjara selama 10 bulan. “Jadi dia dieksekusi untuk menjalani hukuman selama 10 bulan,” kata Suparman Kasie Penkum Kejati Jabar.

Tokoh puncak Pondok Pesantren Modern Al-Zaytun, Panji Gumilang, telah dieksekusi oleh tim Kejaksaan Negeri (Kejari) Indramayu.

Petugas menjebloskan Panji Gumilang ke sel penjara Lapas Klas II B Indramayu.

Pria yang kerap dikait-kaitkan sebagai dedengkot kelompok Negara Islam Indonesia (NII) itu terlibat kasus pemalsuan dokumen Yayasan Pesantren Indonesia (YPI).
Kabidhumas Polda Jabar Kombes Pol Sulistyo Pudjo Hartono membenarkan informasi tersebut.

“Telah dilaksanakan eksekusi terhadap Panji Gumilang, Pimpinan Ponpes Alzaytun, Kecamatan Gantar, Kabupaten Indramayu, oleh Kejaksaan Negeri Indramayu,” kata Pudjo via pesan singkat, Selasa (31/3), seperti diberitakan detikcom (31/3 2015).
Kasus pemalsuan dokumen Yayasan Pesantren Indonesia yang menjerat tersangka Panji ditangani Bareskrim Polri pada 2011. Kasus ini bergulir ke meja hijau yang menyeret Panji Gumilang ke penjara.

***

Pesantren Al-Zaytun Indramayu, Pluralisme Agama Alias Kemusyrikan Baru, dan Sapi

Dalam buku Hartono Ahmad Jaiz berjudul Mengungkap Kebatilan Kyai Liberal Cs diungkap pula faham pluralism agama alias kemusyrikan baru yang nyata di Pesantren Al-zaytun Indramayu Jawa Barat pimpinan Panji Gumilang ini. Mari kita simak cuplikannya:

Mengapa gagasan pluralisme agama disebut sebagai gagasan orang dungu? Cobalah simak kejadian berikut ini:

Seorang pemandu tamu Ma’had Al-Zaytun pimpinan AS Panjigumilang di Indramayu Jawa Barat menjelaskan kondisi pesantren megah itu kepada pengunjung dalam mobil ketika mengelilingi pergedungan dan kawasan pesantren ini. Pemandu mengatakan, pesantren ini menerima juga santri-santri yang non muslim. Lalu seorang bocah keturunan India dalam mobil ini bertanya, “Lho kok menerima santri non Muslim Pak, kan ini pesantren?”

“Ya, kami menerima murid yang non muslim pula, karena semua agama itu sama, semuanya dari Tuhan juga. Jadi semua agama sama,” jawab pemandu.

Mobil pun tetap berjalan pelan-pelan. Pemandu masih sering menjelaskan ini dan itu kepada pengunjung sekitar 10-an orang dalam mobil itu. Lalu mobil lewat di depan deretan kandang yang isinya banyak sapi. Bocah keturunan India itu bertanya lagi:

“Pak, itu banyak sapi, untuk apa pak, sapi-sapi itu?”

“Untuk disembelih, dijadikan lauk bagi para santri,” jawab pemandu.

“Lho, sapi kok disembelih Pak. Tadi bapak bilang, semua agama sama. Lha kok sapi boleh disembelih pak?” Tanya bocah keturunan India yang bagi agama dia sapi tak boleh disembelih itu.

Ditunggu bermenit-menit tidak ada jawaban dari pemandu. Adanya hanya diam. Padahal hanya menghadapi bocah yang dibawa oleh bapak dan ibunya dan belum dapat bepergian sendiri itu.

Baru menghadapi bocah saja, orang yang berfaham pluralisme agama alias menyamakan semua agama ini sudah tidak mampu menjawab. Padahal masih di dunia. Apalagi di akherat kelak.

Di dunia ini sudah ada tuntunannya, bahwa agama yang diridhoi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala hanyalah Islam. Yang lain tidak diridhoi. Maka jelas tidak sama antara yang diridhoi dan yang tidak. Yang bilang sama, itu hanya orang-orang yang tak menggunakan akalnya. (Hartono Ahmad Jaiz, Mengungkap Kebatilan Kyai Liberal Cs, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta 2010, halaman 48-49).

(nahimunkar.com)

(Dibaca 46.297 kali, 1 untuk hari ini)