.

 

  • Insan Mokoginta (seorang Kristolog) menuturkan  berdasarkan penelitian, mengatakan, bahwa di Solo saja, sejak tahun 2010-2012, sebanyak 40.000 orang Islam yang murtad. Sementara itu, di Klaten, sebanyak 23.300 orang Islam yang murtad.
  • Informasi ini menurut Insan Mokoginta, di dapatkan dari Departemen Agama setempat, berdasarkan perkembangan demografis penduduk Muslim di Solo. Di mana jumlah penduduk Muslim semakin menyusut, ucap Insan di rumahnya di Depok, Sabtu, 25,1/2014.
  • Apalagi, Solo sudah dua periode wakil walikota dan sekarang menjadi walikota, yaitu Rudy, seorang katolik. Banyak dukungan dana dari pemerintah kota yang digunakan untuk membangun sarana milik golongan kristen-katolik. Terutama di bidang pendidikan. Sehingga, melalui pendidikan ini, golongan kristen-katolik meningkatkan jumlah pengikut mereka secara signifikan.
  • Di Aceh lebih mengkawatirkan lagi, di mana menurut penuturan seorang pendeta yang sudah masuk Islam, George Panjaitan, yang sekarang belajar agama dengan Prof. Mustafa Ya’cub,yang belajar di Pondok Darus Sunnah, Ciputat, mengatakan orang Aceh Utara yang murtad jumlahnya mencapai 400.000 orang, di empat desa di wilayah itu
  • Padahal, selama ini Aceh dikenal dengan sebutan Serambi Makkah.

 

JAKARTA -Sungguh sangat luar biasa proses pemurtadan kristenisasi di Indonesia. Tetapi banyak umat Islam tidak menyadari bahayanya. Karena, umat Islam sudah habis “dicuci otaknya” dengan ghozwul fikri, melalui media-media milik orang-orang kristen.

Melalui invasi media sekarang umat Islam sudah lumpuh. Kehilangan “ghirahnya” dan “saja’ahnya”, di tengah-tengah maraknya pemurtadan sekarang ini. Sehingga, umat Islam membiarkan terjadinya pemurtadan di mana-mana terhadap umat Islam.

Kristolog terkemuka, Insan Mokoginta, ketika bertemu dengan voa-islam.com, menjelaskan betapa pesatnya pertumbuhan golongan kristen secara kuantitatif. Ini berlangsung lebih cepat sejak zaman awal Orde Baru, di mana  banyak anak keturunan PKI di Jawa, mereka masuk kristen, karena dendam ayahnya atau keluarganya dibunuh oleh umat Islam, di tahun l965.

Bahkan, di era Orde Baru, golongan minoritas  ini berhasil menyusup dan melakukan penetrasi ke pusat rezim Orde Baru, melalui sejumlah tokoh militer, seperti Jendral Panggabean, Laksamana Sudomo, dan Jendral Benny Murdani.

Mereka bukan hanya mempenetrasi militer, tetapi juga masuk ke partai politik, seperti Golkar, diantaranya terdapat tokoh-tokoh kristen, seperti Manihuruk, Cosmas Batubara dan lainnya.

Mereka mendirikan lembaga ‘think-thank’ CSIS (Center for Straregic International Studies), yang menjadi dapur Orde Baru, dan  dipimpinn oleh tokoh katolik, yaitu Hary Tjan Silalahi. Melalui CSIS inilah umat Islam dikebiri habis, selama Orde Baru oleh Jendral Soeharto.

Insan Mokoginta menuturkan  berdasarkan penelitian, mengatakan, bahwa di Solo saja, sejak tahun 2010-2012, sebanyak 40.000 orang Islam yang murtad. Sementara itu, di Klaten, sebanyak 23.300 orang Islam yang murtad.

Informasi ini menurut Insan Mokoginta, di dapatkan dari Departemen Agama setempat, berdasarkan perkembangan demografis penduduk Muslim di Solo. Di mana jumlah penduduk Muslim semakin menyusut, ucap Insan di rumahnya di Depok, Sabtu, 25,1/2014.

Apalagi, Solo sudah dua periode wakil walikota dan sekarang menjadi walikota, yaitu Rudy, seorang katolik. Banyak dukungan dana dari pemerintah kota yang digunakan untuk membangun sarana milik golongan kristen-katolik. Terutama di bidang pendidikan. Sehingga, melalui pendidikan ini, golongan kristen-katolik meningkatkan jumlah pengikut mereka secara signifikan.

Di Aceh lebih mengkawatirkan lagi, di mana menurut penuturan seorang pendeta yang sudah masuk Islam, George Panjaitan, yang sekarang belajar agama dengan Prof. Mustafa Ya’cub,yang belajar di Pondok Darus Sunnah, Ciputat, mengatakan orang Aceh Utara yang murtad jumlahnya mencapai 400.000 orang, di empat desa di wilayah itu.

Peristiwa banyaknya orang Aceh yang murtad itu berlangsung, antara 2006-2007.Jika benar informasi dari mantan pendeta George Panjaitan ini, sungguh sangat luar biasa proses pemurtadan yang berlangsung di Aceh. Padahal, selama ini Aceh dikenal dengan Serambi Makkah.

Organisasi gereja internasional, memang mereka terjun di Aceh saat terjadi tsunami yang sangat hebat, dan meluluh-lantakkan Aceh. Banyak organisasi gereja dengan “cover” LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) bergerak di Aceh, membantu korban tsunami. Mereka yang melakukan kegiatan di Aceh, tidak terlepas dari kepentingan mereka, menyebarkan agama, dan melakukan pemurtadan.

Tokoh dan pendeta kristen-yahudi, Abraham Ben  Elizer Suradi, di tahun 2001, di fatwakan hukuman mati oleh KH.Athian Ali, Bandung, karena selalu menjelek-jelekkan dan menghujat Islam, kemudian Suradi lari ke Amerika, dan meninggal dunia di California, Amerika Serikat, belum lama.

Sejumlah rabbi yahudi, hadir dan memberikan khutbahnya, sebelum Suradi dimasukkan liang lahat, karena jasanya menghujat Islam. Sekarang masih banyak pendeta yang menghujat Islam dengan cara-cara yang sangat keji.

Insan Mokoginta, sebagai kristolog terus melakukan pendidikan kepada berbagai da’i, kerjasama dengan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), di berbagai daerah, seperti di Bandung, Surabaya, Aceh, Manado, dan sejumlah kota lainnya, di Indonesia.

Mengajari para da’i memberikan pengertian kepada umat Islam, agar tidak terjerumus ke dalam agama kristen. Wallahu a’lam. (voa-islam.com)  Ahad, 24 Rabiul Awwal 1435 H / 26 Januari 2014 09:21 wib

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.899 kali, 1 untuk hari ini)