Pesta Mewah dan Bencana

Silakan simak ini.

***

Pesta Mewah dan Bencana


Pesta Mewah dan Bencana

 

Di hari Atta dan Aurel mengadakan pesta mewah yang dihadiri Kepala Negara dan Menhan serta disiarkan TV Nasional, terjadi tabrakan kapal di Indramayu, dimana 17 orang hilang, dan malamnya terjadi banjir bandang di Flores Timur dan hingga hari ini diperkirakan 54 orang meninggal dunia terseret banjir.

 

Sementara hari ini Gunung Merapi sudah berkali-kali erupsi. Mari kita semua instropeksi, mengapa bencana terus-menerus terjadi. Semoga Allah mengampuni mereka yang telah pergi karena bencana, dan menguatkan keluarga yang ditinggalkannya.. Aamiin YRA.

 

Note:

Mungkin ada yang bertanya apa hubungannya pesta mewah dengan bencana? Hubungannya kita semua diingatkan untuk hidup “tidak dihabis-habiskan” dan jangan juga ketidakadilan terus dipertontonkan pada mereka yang tidak peroleh keadilan, karena sejatinya kita semua adalah sama di mata Allah SWT.

 

(By Naniek S Deyang)

Di hari Atta dan Aurel mengadakan pesta mewah yg dihadiri kepala megara dan Menhan serta disiarkan TV Nasional, terjadi…

Dikirim oleh Naniek Sudaryati Deyang pada Senin, 05 April 2021

portal-islam.id, Senin, 05 April 2021 CATATAN

***

Tafsir Al-Isra 16: Penguasa Zalim Penyebab Bencana

  • Jadi azab yang menimpa pada suatu daerah, negeri, pasti terkait dengan kesalahan pembesar negeri tersebut. Tidak mungkin azab yang menimpa suatu negeri karena kedurhakaan pembesar negeri lain. 


Oleh: Dr. KH A Musta’in Syafi’ie M.Ag. . .  
 

{وَإِذَا
أَرَدْنَا
أَنْ
نُهْلِكَ
قَرْيَةً
أَمَرْنَا
مُتْرَفِيهَا
فَفَسَقُوا
فِيهَا
فَحَقَّ
عَلَيْهَا
الْقَوْلُ
فَدَمَّرْنَاهَا
تَدْمِيرًا } [الإسراء: 16]

16. Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya. [Al Isra”:16]

 Ayat sebelumnya bertutur soal kemahakasihan Tuhan yang tidak bakal menyiksa manusia sebelum diutus utusan atau sebelum ada juru dakwah yang berseru keimanan. Mereka yang patuh akan mendapat kebaikan dan yang durhaka bakalan disiksa. 

Lalu pada ayat kaji ini menuturkan, bahwa Allah SWT akan menghajar habis-habisan sebuah kaum karena kezaliman, karena kedurhakaan yang dilakukan para penguasanya. Meskipun ibadah rakyat bagus-bagus, meskipun amal perbuatan mereka sesuai syari’ah agama, tapi kalau para pejabatnya banyak yang mengumbar nafsu, korup, berfoya-foya, maka itu berpotensi turunnya azab atas kaum tersebut. 
 

Terkait turunnya azab tersebut, cukup diambil dua kata kunci pada ayat ini, yakni: mutrafiha (pembesar)
dan fafasaqu fiha (durhaka). Mutraf, mutrafun, adalah kaum jetset, borjuis, pembesar yang bergelimang harta dan hobi berfoya-foya. Derajat sosial yang tinggi dan serba berkecukupan membuat mereka bebas melakukan apa saja. 
 

Sementara kata “fa fasaqu fiha”, menunjukkan betapa kaum mutrafin tadi telah terjerumus kepada kefasikan, kemaksiatan, kedurhakaan. Hal demikian karena pada umumnya, nafsu dan syahwat sangat mendominasi pola hidup mereka, sehingga cenderung abai terhadap kewajibannya sebagai pemimpin, sebagai orang gedean yang mesti memberi contoh kesalehan kepada umat. Di kepala mereka, nafsu hedonis lebih utama ketimbang menunaikan amanah.
 

Dari dua kata ini menunjukkan, bahwa kaum mutrafin itu tidak semuanya mesti hobi berbuat maksiat, tidak semuanya mesti ngumbar durhaka, melainkan cenderung durhaka. Begitu mereka durhaka dan terus dalam kedurhakaan, maka langit bersikap lain: fa haqq ‘alaiha al-qaul“. Barulah Allah SWT memutuskan untuk layak diazab. Azab turun beneran dengan volume top, “fa dammarnaha tadmira“, dihancurkan sehancur-hancurnya. 

Beberapa kata dalam ayat kaji ini penting dianalisis. Pertama, kata qaryah, artinya: perkampungan atau bangsa. Kata ini menunjukkan ruang tertentu, daerah atau negeri tertentu, tidak bias dan umum. Jadi azab yang menimpa pada suatu daerah, negeri, pasti terkait dengan kesalahan pembesar negeri tersebut. Tidak mungkin azab yang menimpa suatu negeri karena kedurhakaan pembesar negeri lain. 
 

Kedua, “amarna” mutrafiha. Qira’ah lain, “ammarna” pakai tasydid. Amara, artinya memerintahkan, menyuruh. Sedangkan “ammara”, artinya menguasakan. Allah memberi negeri tersebut penguasa yang mutrafin. Jadi, salah satu tanda ketidak sukaan Tuhan terhadap suatu negeri, yaitu ketika Allah memberi mereka pemimpin yang mutrafin. Pengertian pemimin mutrafin tidak saja tertumpu kepada top leader, presiden, melainkan juga pada para pembantunya, menteri dan sebagainya. Kadang bupatinya bagus, tapi para kepala bagiannya brengsek. []
@geloranews
16 Januari 2021

https://www.nahimunkar.org/tafsir-al-isra-16-penguasa-zalim-penyebab-bencana/

(nahimunkar.org)


 

(Dibaca 290 kali, 1 untuk hari ini)