Seorang wanita Rohingya menangis setelah dilarang memasuki wilayah Bangladesh dari wiayah Myanmar


JAKARTA — Warganet melalui petisi pada laman change.org meminta supaya Presiden RI Joko Widodo mengusir Duta Besar Myanmar di Indonesia dan memutuskan hubungan diplomatik dengannya sebagai wujud kecaman dan protes. Hingga pukul 14.30 WIB Jumat (1/9) ini, petisi tersebut sudah mendapat sebanyak 24.246 dukungan.

“Pemerintah Indonesia, melalui Presiden mesti usir Dubes Myanmar dari Indonesia dan putuskan hubungan diplomatik sebagai bentuk kecaman dan protes,” tulis Budi Akbar selaku pembuat petisi dengan judul “Cabut Nobel Perdamaian Aung San Su Kyi” ini.

Budi juga memaparkan dalam laman tersebut, bahwa pemimpin gerakan demokrasi Aung San Suu Kyi pernah berjanji bahwa saat berkuasa, dia akan menghentikan pengejaran terhadap warga Rohingya. Namun ternyata setelah berkuasa melalui partainya yang menang mutlak dalam pemilihan umum 2015, Suu Kyi tidak menghiraukan ethnic cleansing atau pembersihan etnis yang dilakukan oleh militer, polisi, dan kaum ekstremis dan teroris Budha di negara itu.

Suu Kyi, tulis Budi, yang dikenal selama ini sebagai pejuang demokrasi dan hak asasi manusia, menolak untuk menyebut penindasan dan pengejaran serta perlakuan sadis lainnya terhadap warga Rohingya sebagai pembersihan etnis.

“Dia mengatakan bahwa istilah itu terlalu keras. Padahal fakta yang tampak di lapangan adalah tindakan yang ingin membasmi kaum Rohingya,” paparnya di laman change.org.

Dalam paparan petisi itu juga dijelaskan bahwa Aung San Suu Kyi malah membela militer ketika mesin perang Myanmar ini diarahkan ke warga Rohingya yang tak bersenjata. Pemimpin yang mendapat Hadiah Nobel Perdamaian ini mengambil sikap tutup mata terhadap tindakan militernya yang menembaki warga Rohingya yang sedang melarikan diri dari kejaran tentara.

Rep: Umar Mukhtar / Red: Bilal Ramadhan

Mohammad Ponir Hossain/Reuters

Sumber: republika.co.id

(nahimunkar.com)