Sudah diduga.  Kelakuan Gareng Hok  makin ganas, bukan lagi berani tunjuk tunjuk orang saja, bicara kotor dan mata mendelik melotot mengumbar ucapan sampah seperti biasanya, tapi Gareng Hok  sudah berani menggunakan alat negara untuk menggebuk rakyat rakyat pribumi miskin, dengan menggunakan kekuatan penuh prajurit negara.

Gareng Hok  semakin merasa sombong, bahkan lembaga negara dengan seenak udelnya dihina didepan semua media. Tentu ini bentuk kesombongan nyata, ingin menunjukan bahwa semua dia bisa dia kondisikan. Gareng Hok  lupa dia berkuasa atas belas kasih dan nebeng dari ketenaran petruk yg berjaya pada waktu itu dengan ilmu sirep pencitraannya.

 Tak ada lagi nilai budaya kesopanan yang dicerminkan, Gareng Hok  bisa santai minum bir tanpa rasa takut mencederai umat beragama dan rakyat yang masih menjaga citra kepemimpinan, dan menghargai pantangan.

Kita menyaksikan dengan geram, bagaimana rakyat yang sedang bergelut dengan kesusahan, disingkirkan, tanpa kompromi dan perlakuan yang lebih manusiawi. Tangisan, rintihan, dan air mata yg mengalir dari saudara saudara kita tidak membuat iba Gareng Hok  untuk bisa mengkaji ulang rencana penggusuran dengan terlebih dahulu mengadakan dialog dengan rakyat agar ketemu jalan terbaik yang bijak. Bahkan banyak anak anak sekolah yang sedang ikut ujian harus kehilangan hak mereka untuk belajar dengan tenang, tapi menyaksikan rumah tempat mereka dibesarkan diratakan dengan tanah.

 Gareng Hok  memang makin ganas dan buas, dan kita tidak mendengar komentar Petruk untuk ikut turun tangan membantu Rakyatnya, seolah petruk merestui keganasan gereng Hok. Padahal mereka berdua berani menandatangani kontrak politik dengan rakyat untuk tidak melakukan penggusuran, tapi akan melidungi hak rakyat untuk tinggal dengan menata ulang pemukiman kumuh lebih baik.

 Mengentaskan kemiskinan memang yang paling gampang adalah menggusur yg miskin dan menggerus kekumuhan, menyulapnya menjadi bangunan super mewah dan wah, sehingga terlihat pembangunan seolah berhasil.  lalu kemanakan pribumi yg kehilangan tempat tinggal dan penghasilan?Dengan alasan ditempatkan di rumah susun dan dianggap itu sudah menutupi semua masalah rakyatnya. Tak terpikirkan mereka kehilangan penghasilan, hidup dirumah susun memerlukan biaya yg tinggi, dan akhirnya sekarat dan tak mampu lagi bertahan. . .

Jika kita yang hidup dalam belaian kemudahan, dimanjakan fasilitas, dan setiap hari mungkin kita disejukan udara pendingin dengan makanan cukup, bisa mudah dihinggapi cara berpikir egois, akan gampang berbicara tentang konsep tanpa menggunakan hati, dan langsung menyimpulkan, ini demi ‘pembangunan’. Tapi kita yang masih punya nurani tentu akan empati merasakan jeritan mereka. bayangkan kondisi perut kita dalam keadaan lapar saja, tak akan mempu membuat kita berpikir jernih.

Membangun yang utama adalah membangun manusianya, mensejahterakan ekonominya, bukan sekedar sulap sulapan tanpa memperhatikan kepentingan rakyatnya. Lalu untuk siapa makna membangun?  Konon rakyat yang digusurpun adalah pendukung Petruk dan Gareng   militan, sekarang mereka dibuang bak daun salam, sesudah dimanfaatkan suaranya, dibodohi dengan blusukan, lalu blusukan itu menghasilkan penggusuran yang tragis.

 Petruk asik bermain kodonya, asik dengan pikirannya yang mungkin sudah mendekati gila akut. Karna jika waras, maka tentu akan ingat janji janjinya yg akan membela rakyat kecil sesuai dengan penampilan yg ditunjukannya waktu kampanye untuk menarik perhatian wong cilik. Ternyata Petruk dan Gareng   menjadi sumber malapetaka untuk rakyat kecil dan menjadi pahlawan untuk asing dan konglomerat, anak kesayangannya negeri nenek moyangnya CINA, yang masuk semakin masif menguasai negeri ini.

Lalu, banyak cino ireng, pribumi yang masih mau menjadi centeng, mau menjadi kaki tangan mereka dan masih mabuk pencitraan media. Walau semua tau bahwa media bisa membuat ‘kentut’ Gareng Hok  dan petruk wangi, dan semua kejahatan mereka menjadi legal. Kebuasan bisa diartikan ketegasan, mengobok obok tentara dinilai keberanian, bicara kotor diartikan lugas, dan bahkan minum bir diliput media dianggap wajar. Mabuknya rakyat karna media dikuasai Petruk Gareng   dan kroninya, tidak membuat rakyat yang masih mendukungnya sadar, bahwa sebentar lagi jiwa bangsa ini mati, dan bisa jadi Indonesia kelak hanya tinggal sejarah, dimana pribuminya menjadi budak, pemimpinnya semua bermental jongos menghamba pada pemodal asing dan Cina.

Kita bukan rasis, apalagi membenci pemimpin kita, tapi kita berhak sebagai warga negara menilai ulah para pemimpinnya yang jauh dari harapan kita. Kita benci dengan kebijakannya, kelakuannya, dan kepada arogansinya yang menyengsarakan rakyat banyak.

Lihatlah. . . negeri ini makin dibanjiri pendatang dari Cina, sementara pribumi disingkirkan dari kota, hidup didesa sulit mencari pekerjaan. Bahkan untuk berdagangpun sudah dikuasai mereka sampai ke pelosok pelosok desa. Rakyat kita cuma menangis, berlari dikejar Satpol PP, digusur, dihempaskan, apakah kita bisa mengatakan ‘wajar’ dan menyetujui kelakuan Gareng   dan Petruk seperti ini? Melawan Kezaliman adalah wajib. . . . . . salam

 Eka Gumilar

Ketua Umum Barisan Putra Putri Indonesia

Sumber : kompasiana.com/ekagumilar/13 April 2016

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.896 kali, 1 untuk hari ini)