Aksi penolakan pembangunan masjid di Papua/ foto sangpencerah


Persekutuan Gereja Menolak Pembangunan Masjid di Jayawijaya Papua

Pihak Gereja perlu melek dan sadar, siapa yang berjuang

Pihak Gereja perlu melek dan sadar, siapa yang berjuang dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari Penjajah. Bukankah pihak gereja merupakan pihak yang disusui penjajah Belanda? Kenapa justru sekarang nglunjak dan intoleran?

Juga Bung Tomo yang memimpin perjuangan 10 November 1945 di Surabaya, mengumandangkan Pekik Allahu Akbar.

Penyusu penjajah, kini intoleran, kenapa?

Data pihak gereja itu penyusu penjajah, ada di bagian bawah.

Inilah berita tentang intolerannya pihak gereja.

***

Persekutuan Gereja Menolak Pembangunan Masjid di Wamena Papua

Persekutuan Gereja Gereja Jayawijaya (PGGJ) menegaskan penolakanya terhadap pembangunan tempat ibadah Umat Islam berupa Masjid Raya di Jayawijaya.

Penolakan ini disampaikan pada rapat koordinasi antar Forum Kerukunan Umat Beragama(FKUB) Kabupaten Jayawijaya Pemda dan Persekutuan Gereja-Gereja Jayawijaya di gedung Ukumiarek Asso, kamis(25/2/2016).

Dalam pertemuan tersebut Pendeta. Abraham Unirwalu, S,Th mengungkapkan bahwa Umat kristiani menolak secara tegas pembangunan masjid agung Baiturahman.  Abraham mengklaim ada 15 gereja di kabupaten Jayawijaya dan telah dirumuskan dalam 9 pernyataan sikap.

Inilah 9 pernyataan sikap Persekutuan Gereja Gereja Jayawijaya terkait pembangunan masjid Baiturahman yang telah ditandatangani oleh 5 pendeta pengurus PGGJ di Wamena, tertanggal 25 Februarti 2016.

  1. Seluruh dominasi gereja di kabupaten Jayawijaya meminta pemda jayawijaya mencabut/membatalkan ijin membangun masjid Baiturahman wamena.
  2. Panitia pembangunan masjid harus menghentikan pembangunan.
  3. Menutup mushola/ masjid yang tidak memiliki ijin bangunan.
  4. Dilarang pembangunan masjid baru di Kabupaten Jayawijaya
  5. Dilarang menggunakan toa/pengeras suara saat sholat, karena sangat mengganggu ketenangan masyarakat.
  6. Dilarang menggunakan busana ibadah, jubah dan jilbab di tempat umum.
  7. Hentikan upaya menyekolahkan anak- anak Kristen Papua di Pesantren.
  8. Hentikan mendatangkan guru-guru kontrak non kristen.
  9. Demi keharmonisan kenyamanan, dan keamanan agar dilaksanakan dengan penuh rasa tanggung jawab.

By: islamedia/Minggu, 28 Februari 2016

***

Pihak Gereja perlu melek dan sadar, siapa yang berjuang

Pihak Gereja perlu melek dan sadar, siapa yang berjuang dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari Penjajah. Bukankah pihak gereja merupakan pihak yang disusui penjajah Belanda? Kenapa justru sekarang nglunjak dan intoleran?

Lihat betapa banyaknya gereja disusui oleh penjajah Belanda dengan dana yang besar. Dana yang jauh sangat berlipat-lipat dibanding terhadap Islam. Bisa disimak data berikut:

Subsidi dalam tahun (jumlah f – Gulden)

———————————————————————————–

Agama     1936       1937      1938          1939

————————————————————————————

Protestan  686.100   683.200      696.100       844.000

Katolik    286.500   290.700      296,400       335.700

Islam       7.500     7.500        7,500         7.600

___________________________________________________________

Sumber: Staatsblad 1936: No. 355 hal 25, 26; 1937 No. 410, hal 25,26; 1938: No. 511, hal 27,28; 1939: No. 593, hal 32, dikutip Deliar Noer, Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942, LP3ES, cetakan II, 1985, hal 39.https://www.nahimunkar.org/kristenisasi-di-indonesia-dan-rekayasa-snouck-hurgronje-2/

***

Bung Tomo: Pekik Allahu Akbar, Sukarno, dan Mahasiswi Nakal

Pimpinan Redaksi Panjebar Semangat, Moechtar (90) menceritakan pengalamanya saat bertemu Bung Tomo, di Surabaya, Jawa Timur, 24 Oktober 2015. TEMPO/Aris Novia Hidayat

TEMPO.CO, Jakarta – Siaran radio berisi pidato Bung Tomo pada seputar Pertempuran Surabaya 10 November 1945 menjadi kenangan Moechtar, mantan Pemimpin Redaksi  Panjebar Semangat, majalah berbahasa Jawa yang terbit di Surabaya. Ia kini berusia 90 tahun, lahir di Pacitan 22 Februari 1925.

Kini, Moechtar tinggal di Pucang Asri, Kota Surabaya dalam posisi banyak berbaring akibat pernah jatuh sehingga tulang belakangnya trauma.  Daya ingat Moechtar masih kuat, meski sekali-sekali ia perlu waktu lama untuk mengingat  sesuatu. Dalam situasi  yang tak menentu sehingga sekolah libur, Moechtar yang saat itu sekolah di Yogyakarta, mengungsi ke Kediri. “Saya ke tempat paman saya yang bernama Soedjito. Ia menjadi  Kepala Dinas Pekerjaan Umum di Kediri,” kata Moechtar, Ahad 22 Oktober 1945.

Selama tinggal di rumah pamannya ini,  Moechtar  punya kegiatan yang hampir rutin tiap hari. Ketika jarum jam menunjuk jam lima petang,  Moechtar mendapat  tugas untuk mengeluarkan radio merk Philips yang berbentuk kotak, dari kayu. Moechtar menggambarkan, siaran itu dimulai dengan memutar lagu berjudul Tiger Shark. Lagu ini karya Peter Hodykinson yang dinyanyikan oleh kelompok Hawaiian Islanders.

Menurut Moechtar,  setelah intro Tiger Shark, suara berganti ke teriakan Bung Tomo memuji kebesaran Tuhan.  “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar,…” Lalu, suara berapi-api Bung Tomo bergema. Suara lantang berpidato ala Bung Karno inilah yang menurut Mochtar, menjadi daya tarik. Menurut dia, banyak orang yang merinding mendengarkan Bung Tomo membakar semangat untuk perang melawan penjajah. “Saya saja merinding mendengarkannya,” kata Moechtar.  Menurut dia, tema besar pidato Bung Tomo tiap hari tentang melawan penjajahan.  Materinya berbeda, bergantung pada situasi yang terjadi saat itu.

Menurut  Moechtar, siaran itu adalah siaran langsung, bukan dari hasil rekaman yang diputar ulang.  Yang menunjukkan siaran itu merupakan siaran langsung, Bung Tomo menyampaikan perkembang terakhir, yang dari hari ke hari berbeda situasinya. “Memang isi pokoknya adalah mengajak pemuda dan rakyat Indonesia untuk bersatu dan tidak gentar melawan penjajah,” kata Moechtar.

Sebelum mengakhiri pidato, kata Moechtar, Bung Tomo kembali meneriakkan, “Allahu Akbar…” Setelah suara Bung Tomo hilang, lagu Tiger Shark kembali terdengar. Lagu ini sekaligus menutup mata acara siaran pidato Bung Tomo.

Selanjutnya: Ketika peristiwa…..

Ketika peristiwa 10 November 1945 pecah, Moechtar telah kembali ke Yogya untuk melanjutkan sekolah.  Di Yogyakarta, situasi juga tidak aman. Ia balik ke Pacitan. Setelah Class Action II yang berakhir, pada tahun 1950,  Moechtar  hijrah ke Surabaya ikut saudaranya yang tinggal di Surabaya.  Kebetulan ketika perang masih berkecamuk di Surabaya, sejumlah saudaranya mengungsi dengan cara balik ke kampung halaman di Pacitan. Setelah situasi tenang, mereka kembali ke Surabaya.

Moechtar bersama rombongan keluarga besarnya, pergi ke Surabaya dengan naik kapal milik Belanda dari Pacitan dan mendarat di Surabaya. “Kami mengitari setengah pulau Jawa dari selatan Jawa menuju pelabuhan di utara Pulau Jawa, di Surabaya,” kata Moechtar.

Semula, Moechtar berniat menjadi guru. Sebuah profesi yang menurut dia terhormat dan berwibawa. Tapi, tawaran menjadi guru ketika itu tidak untuk penempatan di Surabaya, tetapi di Bondowoso. Moechtar menolak tawaran itu, dan memilih bertahan di Surabaya. Ia bersama saudaranya sempat tinggal di Pasar Besar Wetan, di Surabaya. Kini, tidak jauh dari Tugu Pahlawan Surabaya.

Lewat interaksi dan perkenalan dengan sejumlah orang di Surabaya, pada tahun 1951 Moechtar menjadi wartawan untuk media bernama Harian Umum. Ia bekerja di media ini hingga tahun 1968. Ketika menjadi wartawan inilah, Moechtar kenal dengan Bung Tomo. Perkenalan pertama Moechtar dengan Bung Tomo terjadi pada tahun 1950, ketika wartawan Surabaya melakukan liputan mewawancarai tokoh di Tugu Pahlawan Surabaya.  Wawancara itu di lapangan terbuka. Moechtar tidak ingat persis ketika itu sedang wawancara apa, dan siapa tokoh itu.

Melalui Asmanu, kolega sesama wartawan di Surabaya, Moechtar diperkenalkan ke Bung Tomo. Semula, ia mengenal Bung Tomo dari suaranya saja. Karena kesamaan profesi, Moechtar kenal langsung dengan Bung Tomo. Kesan pertama Moechtar melihat dan kenalan dengan Bung Tomo adalah, ternyata Bung Tomo berbadan kecil tapi tubuhnya padat. Ia tak menduga orang yang di radio terdengar bersuara gagah dan menggelora, ternyata secara fisik tubuhnya kecil. Bung Tomo, kata Moechtar, adalah tipe orang yang ramah dan hangat.  “Sejak itu, dalam beberapa kesempatan, saya bertemu Bung Tomo,” kata Moechtar.

Selanjutnya: Mengkritik Soeharto, Sukarno, dan Mahasiswi Nakal

Bung Tomo  tak takut mengkritik Presiden Sukarno dan juga Presiden Soeharto. Menurut Sejarahwan Rushdy Hoesein, Sutomo sebenarnya mendukung pemerintahan Sukarno. “Tapi Sutomo antikomunis sehingga berseberangan dengan Sukarno,” kata Rushdy. Bung Tomo, ujar Rushdy, ikut mendukung dan menyemangati aksi unjuk rasa mahasiswa penentang komunis pada 1965-1966.

Terhadap pemerintahan Soeharto, kata Rushdy Hoesein, Bung Tomo awalnya mendukung. Tapi belakangan, Sutomo menilai pemerintahan Orde Baru tak berpihak pada rakyat dan malah berkiblat pada konglomerat. Maka, pada 1 April 1978, Bung Tomo ditahan di Penjara Nirbaya, Pondok Gede, Jakarta Timur, karena vokal mengkritik pemerintahan Soeharto.

Tak hanya terhadap pemerintah yang berkuasa, Sutomo juga mengkritik para mahasiswa. Terutama, soal gaya hidup para mahasiswi. Dalam surat untuk Senat Mahasiswa Universitas Indonesia pada 18 April 1963, Bung Tomo—saat itu juga berstatus mahasiswa Fakultas Ekonomi UI—mempertanyakan kabar banyak mahasiswi bersedia menjadi wanita penghibur demi mendapatkan duit.

By: nasional.tempo.co/Senin, 09 November 2015 

(nahimunkar.com)