Tuding menuding kini terjadi cukup seru. Heboh Tabloid Obor Rakyat yang dianggap memfitnah Jokowi-JK apakah dibuat sendiri oleh pihak Jokowi-JK atau pihak sebelah? Sehingga sebenarnya sebelah yang mana yang berbuat, mari kita simak tuduh menuduh yang tampaknya lagi heboh ini.

Inilah tulisan mengenai itu.

***

Akal Bulus JK, Surya Paloh dan Muhamad Reza di Balik Tabloid Obor

JAKARTA (voa-islam.com) – Sungguh permainan politik yang sangat kotor dan penuh dengan akal bulus. Di mana tiba-tiba saja kasus tabloid Obor Rakyat menjadi perhatian khusus dalam proses Pemilihan Presiden 2014.

Pasalnya, hasil cetakan media tersebut, yang belakangan di klaim milik Asisten Staf Khusus Presiden RI Setyardi, ditengarai telah menyebarkan fitnah dan menista Calon Presiden Joko Widodo yang diusung koalisi PDI Perjuangan.

Dan tidak hanya itu, tabloid yang diedarkan di kalangan tertentu itu ditengarai jadi penyebab merosotnya popularitas Jokowi, mantan Walikota Solo dan Gubernur nonaktif DKI Jakarta.

Mari kita ulas, siapa saja di balik tabloid Obor tersebut. Nama Setyardi, di kalangan aktivis mahasiswa ’98 cukup familiar. Pernah menjadi wartawan majalah Tempo dan aktif dalam mendukung pergerakan mahasiswa dalam menghadapi Orde Baru di ujung kekuasaan. Namun, benarkah motivasi tabloid Obor untuk menghancurkan popularitas Jokowi? Jawabnya, tidak!

Peredaran tabloid Obor yang berisikan pembahasan di sosial media dan di angkat ke media cetak untuk lantas disebarkan ke pesantren-pesantren di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur dengan tampilan yang vulgar dan kampungan namun dikemas dalam layout yang menarik sebetulnya dipakai sebagai alat propaganda pasangan Jokowi-JK.

Sebab, semua personal pemain yang berada di belakang penerbitan tabloid tersebut memiliki koneksi dengan Jusuf Kalla dan donatur pasangan Capres dan Cawapres nomor urut 2 tersebut.

Awal karier Setyardi di majalah Tempo menghasilkan pertemanan antara lain dengan Muchlis Hasyim. Muchlis sempat berkarier bersama di majalah Tempo bersama Setyardi.

Dimana keduanya juga sempat mengenyam pendidikan di Bandung. Setyardi di STT Telkom dan Muchlis di Universitas Islam Bandung (Unisba). Keduanya juga sama-sama tidak lulus dari perguruan tinggi tersebut.

Muchlis lantas terbang ke Washington, AS dan menyelesaikan sarjananya di sana. Dan baru kembali ketika dipanggil Surya Paloh, pemilik harian Media Indonesia.

Sekembalinya dari Amerika, Muchlis ditempatkan sebagai redaktur internasional di Media Indonesia dan menjadi orang kepercayaan Surya Paloh. Hingga akhirnya, dia menempati posisi redaktur eksekutif.

Di kalangan wartawan, Muchlis dikenal memiliki lobi-lobi cukup bagus dengan pemilik modal dan penguasa. Dan karena kepiawaiannya itulah lantas berhasil mendirikan media online inilah.com. Sebuah portal berita yang dukungan dananya banyak di cover Muhammad Reza, orang yang dikenal sebagai mafia minyak. Hubungan Muh dan Muchlis sangat dekat seperti kakak dan adik.

Pada Pilpres 2004, Muchlis aktif di Mega Center untuk membantu K.H. Hasyim Muzadi yang pada saat itu menjadi cawapres Megawati. Namun, ketika pasangan Mega-Hasyim kalah, dia meloncat ke Jusuf Kalla.

Kehadiran Muchlis di Istana Wapres atas prakarsa Alwi Hamu, pemilik harian Fajar di Makassar. Dan Muchlis masih terbilang sebagai keponakan dari Alwi Hamu yang merupakan karib keluarga Jusuf Kalla. Saat JK menjabat Wapres, Muchlis didapuk sebagai Press Officer Wakil Presiden.

Saat ini, selain memiliki portal berita inilah.com, Muchlis juga mendirikan Inilah Koran di Bandung dan Bogor. Dia menggandeng wartawan senior Rakyat Merdeka dan pendiri tabloid Indonesia Monitor, Syahrial Nasution.

Syahrial di kalangan wartawan dikenal dekat dengan Presiden SBY. Dan pada Pilpres 2004 menjadi Ketua Media Center SBY-JK. Konon, dana untuk mendirikan Inilah Koran juga berasal dari Muhamad Reza. Muchlis sengaja merekrut Syahrial karena dikenal kritis terhadap isu mafia migas.

Belakangan diketahui hubungan keduanya, merenggang. Muchlis juga melebarkan sayapnya dengan mendirikan Inilah Koran di Bogor dengan merekrut mantan wartawan senior Jawa Pos, Alfian. Dan terakhir mendirikan sebuah percetakan di Bandung.

Nama lain di belakang tabloid Obor adalah Darmawan Sepriossa, alumnus Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung. Dia dikenal cukup dekat dengan para petinggi TNI dan Badan Intelijen Negara (BIN). Wartawan yang biasa ngepos di Mabes TNI dan Polhukam ini berteman baik dengan Setyardi. Darmawan juga punya hubungan cukup baik dengan petinggi partai di PDIP.

Lantas, apa cerita yang dapat diambil dari penggalan kisah orang-orang yang namanya dikait-kaitkan dengan tabloid Obor? Sebetulnya tidak lepas dari permainan transaksi politik dalam rangka membesarkan nama Joko Widodo yang seolah-olah difitnah dan dikerdilkan.

Para dalang di balik tabloid Obor, semuanya berada di pihak Jokowi-JK. Dan motivasi kontra intelijen seperti ini biasa terjadi menjelang pergantian kekuasaan. Setyardi cs hanyalah boneka yang diperalat dan ‘dibeli’ untuk menjalankan misi. Dalang utamanya adalah Surya Paloh, Jusuf Kalla dan Muhammad Reza.

Inilah yang menjadi jawaban atas kegundahan Hasjim Djoyohadikusumo, adik kandung Capres Prabowo. Cawapres Hatta Rajasa yang selama ini dikait-kaitkan dibiayai mafia minyak Muhammad Reza ternyata, cuma isapan jempol. Hingga kini, logistik yang dijanjikan Muhammad Reza untuk menyokong duet Prabowo-Hatta tak kunjung turun.

Rupanya, dana sudah mengalir ke Jokowi yang selalu merajai survey. Sehingga, dengan membesar-besarkan kasus tabloid Obor, popularitas Jokowi yang terus menurun dapat didongkrak kembali dengan strategi memfitnah diri sendiri. [mahardika che/kmpsn]

– See more at: http://www.voa-islam.com/read/indonesiana/2014/06/18/31030/akal-bulus-jk-surya-paloh-dan-muhamad-reza-di-balik-tabloid-obor/#sthash.t6WpfD6c.dpuf

***

JK Yakin “Pihak Sebelah” Jadi Dalang Tabloid “Obor Rakyat”

Rabu, 18 Juni 2014 | 10:43 WIB

KOMPAS.com/ Ahmad Winarno Ratusan eksemplar tabloid obor rakyat dibakar oleh Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Jember, Jawa Timur, Selasa (17/6/2014)

BANGKALAN, KOMPAS.com – Calon wakil presiden Jusuf Kalla yakin auktor interlektualis di balik pembuatan Tabloid Obor Rakyatadalah pihak yang kini menjadi lawannya di pemilu presiden. Meski begitu, Kalla tak menyebut detil siapa pihak yang dimaksudnya.

Kalla menjelaskan, pihaknya sangat dirugikan dengan beredarnya tabloid tersebut. Pasalnya, tulisan dalam tabloid itu sepenuhnya adalah fitnah yang mendiskreditkan calon presiden Joko Widodo (Jokowi).

“Tentunya dari pihak sebelah yang menjadi lawan kami,” kata Kalla seusai berkunjung ke kediaman KH Zubair, pemilik Pondok Pesantren Nurul Kholil, Bangkalan, Madura, Rabu (18/6/2014).

Selain itu, kata Kalla, dirinya juga yakin bahwa ada pemodal besar yang ikut menyokong dana untuk penerbitan Obor Rakyat. Tudingan itu ia lontarkan berdasarkan sebaran tabloid tersebut sangat masif di banyak titik di Pulau Jawa.

“Pasti ada orang besar dari pihak sebelah yang menjadi sponsor, yang berkepentingan dengan berita itu tentunya,” ucap Ketua Umum PMI itu.

Obor Rakyat beredar di sejumlah pondok pesantren di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Tabloid ini berisi hujatan pada Jokowi-JK, tanpa menyebut narasumber dan penulis berita.

Tim pemenangan Jokowi-Kalla telah melaporkan Pemimpin Redaksi Obor Rakyat, Setyardi Budiono, ke Mabes Polri. Setyardi merupakan asisten staf khusus presiden, Velix Wanggai. (baca: Timses Jokowi-JK Laporkan Pemred dan Redaktur “Obor Rakyat” ke Polisi)

Pihak pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajaya siap mendampingi pihak Obor Rakyat dalam proses hukum. (baca: Advokat Prabowo-Hatta Mengatakan Siap Dampingi “Obor Rakyat”)

Penulis: Indra Akuntono
Editor: Sandro Gatra

/ kpscom

(nahimunkar.com)

(Dibaca 10.634 kali, 1 untuk hari ini)